
Tiga bulan kemudian
Usia kandungan Ghina sudah memasuki empat bulan. Wanita itu semakin cantik, dengan perut yang sudah menonjol, apalagi ada calon dua baby di dalam perutnya.
“Pagi, Bumilku yang cantik,” sapa Edward, wajah pria itu sudah condong ke depan dan kembali mencium lembut bibir istrinya.
Sang istri menyambut kecupan hangat sang suaminya, lembut tanpa menuntut. Karena semalam suaminya sudah buka puasa, setelah di nyatakan aman oleh dokter kandungan.
“Hubby.........,” ucap Ghina, setelah melepas pagutannya.
“Makasih sayang untuk semalam, kamu semakin hot aja.....bumilku ini,” ujar lembut Edward dengan tatapan penuh dambanya.
“Aku kan milikmu hubby, jadi harus hot untuk suamiku ini,” goda Ghina, sambil menunjukkan perutnya yang menonjol.
“Tapi dede gak pa-pakan waktu daddy tengokin?” sambil mengelus perut buncit istrinya.
“Semalam hubby kan mainnya lembut sesuai saran Dokter,” ucap Ghina.
“Sayang, boleh gak ngulangin lagi kayak semalam,” manja Edward, tangannya sedikit meremas buah dada kesukaannya.
“Mulai deh hubby.....messumnya,” celetuk Ghina.
“Hubby gak lihat, kita berdua sudah rapi kayak begini. Hari ini hubby kan ngadaiin acara empat bulanan di hotel. Semua keluarga besar sudah berkumpul. Hubby lupa ya?”
Sesuai tradisi di keluarga Edward dan Ghina, ketika usia hamil empat bulan, maka akan di adakan pengajian. Kali ini Opa Thalib dan Edward mengadakan syukuran empat bulanan, dengan mengundang seluruh keluarga besar dari kampung, sama persis ketika Edward dan Ghina menikah.
Edward mengaruk-ngaruk kepalanya yang tidak gatal,” Bukannya lupa sayang, tapi kamu tuh selalu terlihat menggoda.....apalagi semenjak perut kamu menonjol, tambah sexy,” rayu Edward.
“Sudah hubby gak usah merayu aku lagi, nanti kita telat kalau hubby merayu terus.”
“Aku kan merayu istriku sendiri, sayang.” Pria itu mengambil gelas yang telah berisi susu di atas meja.
“Sayang, diminum dulu susunya,” pinta Edward sambil menyodorkan gelasnya.
“Makasih suamiku yang ganteng,” Edward hampir setiap hari tak absen membuatkan susu buat istrinya, sesibuk apapun, pagi malam Edward menyempatkan untuk membuatnya.
“Barang-barang yang mau dibawa sudah siap semuanya sayang, nanti malam kita ikut menginap di hotel,” ujar Edward sambil melihat koper yang sudah di rapikan oleh istrinya.
“Udah semuanya hubby,” jawab Ghina, sembari meletakkan gelas kosongnya di atas meja.
“Ya sudah kita berangkat sekarang,” pinta Edward, pria itu langsung menggandeng tangan istrinya.
“Hubby sudah bilang ke Pak Jaka, untuk segera menyusul ke hotel sekalian sama pelayan yang lain. Ikut acara syukuran,” Ghina kembali mengingatkan suaminya.
__ADS_1
“Sudah sayangku, bumilku yang cerewet ini, yang suka merepet,” jawab Edward gemas.
“Syukurlah takut hubby lupa.”
Siapa yang tak suka punya nyonya mansion sebaik Ghina, majikan yang begitu peduli dengan para maid. Di satu sisi Ghina menjadi majikan yang bijaksana dan disegani, tapi di satu sisi bisa menjadi teman, karena wanita itu suka membaur dengan para maidnya. Hal yang sangat dikagumi oleh Edward, istrinya bisa menghargai seseorang serta tak pernah merendahkan, tidak pernah membeda bedakan walau sudah menjadi isti seorang predir.
Sekarang mobil mewah yang membawa Edward dan Ghina sudah meninggalkan mansion, dan melaju menuju hotel.
“Sayang, kayaknya makan itu enak deh,” ujar Edward menunjuk ke gerobak cilok ketika mobil mereka terjebak macet.
“Hubby yakin mau makan itu?” tanya Ghina, kayaknya sindrom hamil simpatik yang di dera Edward belum hilang, hanya mual dan muntahnya saja sudah mulai berkurang. Sekarang lebih suka minta makan yang aneh-aneh, yang jarang di makan oleh Edward.
“Iya sayang, kayaknya aku kepengen banget,” ungkap Edward.
“Pak tolong mobilnya menepi sebentar ya, saya mau beli cilok dulu,” pinta Ghina ke pak sopir.
“Baik Nyonya.”
“Jangan sayang yang beli, biar Ferdi aja yang beli,” pinta Edward.
“Ferdi, turun dulu sebentar belikan saya cilok pakai bumbu kacang yang banyak, terus saus sambelnya yang banyak,” titah Edward.
“Baik Tuan,” jawab Ferdi.
“Sayang...........,”
“Kebiasaan sekarang kalau makan pakai saus sambel yang banyak, gak ingat apa kata dokter.....hubby gak boleh makan yang pedas-pedas,” mulailah sudah mulut istrinya merepet, tangannya mulai mencubit perut suaminya.
“Tapi sayang.......,”
“Gak pakai tapi tapi sayang, mau di suntik lagi sama dokter.....masih gak kapok juga.....,” perut suaminya masih di cubit cubitnya.
“Sakit sayang.....jangan di cubit.....lagi,” mohon Edward dengan wajah mengemaskan.
“Jadi beli gak nih Tuan, Nyonya?”
“Beli, jangan pakai saus sambal,” ujar Ghina.
“Please sayang, pakai sedikit saja saos sambelnya,” mohon Edward dengan manjanya.
“Gak boleh, kalau masih kekeh.....gak usah beli aja,” bibir Ghina mulai mencebik.
“Ya udah aku ngalah, gak usah pakai saus sambal. Udah sana cepetan beliin, Ferdi,” tapi wajah Edward cemberut.
__ADS_1
Akhirnya Ferdi keluar dari mobil, dan segera membeli cilok buat tuannya yang lagi ngidam.
Ghiba kembali mencodongkan dirinya ke suaminya “aku tuh melarang hubby demi kesehatan hubby, mengingatkan kondisi perut hubby. Udah jangan cemberut dong, nanti gantengnya hilang,” goda Ghina, selama hamil wanita itu harus menghadapi suaminya yang terkadang manja, suka olokkan.....benar benar bawaan di kembar.
Cup.
Cup.
Wanita itu mengecup kedua pipi suaminya biar cemberutnya kabur, dan benar seketika itu juga Edward meraih tengkuk istrinya, kemudian melummat lembut bibir istrinya. Wanita itu pun menyambutnya.
“EEhmmmm .........,” deheman panjang dari bibir Ferdi, melihat tuan dan nyonya nya saling berpagutan, membuat Ferdi dan sopir jiwanya panas membara.
“Gangguiin orang aja nih Ferdi,” gerutu Edward ketika melepaskan bibirnya yang masih menyesap bibir sexy istrinya.
“Mau kasih ciloknya, Tuan,” jawab Ferdi tanpa dosa, yang telah mengganggu aktivitas hot tuannya.
Ghina hanya bisa tersenyum tipis, melihat suaminya yang selalu mencuri bibirnya di mana pun berada.
Kesal dengan Ferdi, tapi tetap di terima ciloknya. Pria itu langsung membuka plastik yang berisi cilok, dan segera menyantapnya dengan tusukan ,lalu menyesap bumbu kacangnya langsung dari plastiknya.
“Emmm.......ini enak banget sayang,” begitu lahap Edward makan cilok.
Sedangkan Ghina hanya bisa tertawa melihat suaminya, yang sedang makan makanan yang biasa dia makan waktu jaman sekolah.
“Kok sayang malah ketawaiin aku?”
“Lucu lihat hubby makan cilok, secara hubbykan CEO makan cilok dalam plastik gak ada keren-kerennya......ha....ha......” terkekeh kecil Ghina.
“Sayang jangan di ketawaiin dong, aku kan malu......,”
“Lucu hubby, coba lihat tuh di kaca.....bibir hubby celemotan sama bumbu kacangnya......ha..ha..., aduh gak kuat lihat hubby lucu wajahnya,” geli sendiri si Ghina.
Edward langsung melirik ke kaca mobil dan benar saja pinggiran bibirnya sudah ada bumbu kacang yang menempel.
“HA....HA....HA.....” benar saja kata Ghina lihat wajahnya sendiri jadi aneh dan lucu.
Duh benar-benar si calon daddy baby kembar ada-ada aja kelakuannya.
__ADS_1