Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Terluka


__ADS_3

“Kenapa Honey, kamu tidak terima uang bulanan yang saya berikan, apa kurang cukup?” tanya Edward sambil menaikkan alisnya.


“Mmmm......kurang sayang,” jawab enteng Kiren.


“Seharusnya honey bersyukur atas apa yang diberikan suami, banyak uang bukan berarti untuk dihambur hamburkan. Jika honey merasa kurang, sebaiknya cari suami yang loyal atau mungkin lebih kaya dari saya,” jawaban telak lagi dari Edward buat Kiren.


Selama 1 tahun Kiren tinggal di mansion Edward, Kiren di kasih uang saku sebesar 30 juta di luar gaji sebagai karyawan Edward di perusahaannya.


Belum lagi kalau sedang jalan-jalan ke mall, Kiren selalu minta di belanjakan tas atau baju bermerk, dan itu hanya sesekali di belikan Edward. Entahlah Edward bilangnya cinta dengan Kiren, tapi dia tidak terlalu royal dengan Kiren. Dan Kiren tahu sekali perihal tersebut, tapi tetap bertahan menjalin hubungan dengan Edward.


Tapi Kiren tampaknya tidak sadar dan tidak tahu dengan pola Edward. Ketika menikah dengan Kiren, uang mahar yang diberikan Edward hanya 50 juta, sedangkan cincin nikahnya hanya senilai 50 juta. Sedangkan ketika menikahi Ghina, uang mahar yang diberikan Edward sebanyak 200 juta dan cincin yang bertahta berlian seharga 200 juta. Sungguh berbeda jauh antara menikahi sang kekasih dan sang tumbal.


Kiren, Ayah Bowo dan Bu Sari terlihat kurang menikmati makan malam. Gara gara ayah Bowo membahas masalah uang.


“Saya permisi dulu, silahkan ayah dan ibu melanjutkan makan malamnya,” pamit Edward, bergegas ke kamarnya untuk bebersih dan berganti pakaian.


“Ini gara-gara ayah yang membahas masalah usaha ayah di Bandung. Cukup kelakuan Ayah..... jangan dibawa bawa ke suami Kiren. Kiren sudah cukup menahan perasaan ketika dulu saat mengajak pacar ke rumah, ayah selalu bicarakan masalah uang, akhirnya mereka meninggalkan Kiren. Kiren gak mau kehilangan suami Kiren. Kiren mau hidup bahagia sama Kak Edward!” ucap Kiren kesal, lalu meninggal ruang makan untuk menyusul Edward.


🌹🌹


“Sayang.......maafkan aku ya.” Kiren memeluk tubuh Edward yang baru saja keluar dari kamar mandi, yang hanya menggunakan handuk di pinggangnya.


“Mmmm....” gumam Edward.


Kiren mengecup dada Edward yang terlihat berotot, menyesapnya hingga meninggalkan bekas.


“Saya ingin pakai baju dulu.....honey."


“Sayang.......kita main lagi yuk,” goda Kiren yang hasratnya mulai naik.


“Tidak hari ini, saya ingin istirahat.” Edward mengecup bibir Kiren sebentar lalu pergi ke ruang walk in closet.


Kiren menghentakkan kedua kakinya, setelah dapat penolakan dari Edward.


🌹🌹


“Non Ghina......”

__ADS_1


“Non Ghina......” panggil Ria dan Tia dengan nada pelan agar tidak terdengar orang lain.


“Tia.....non Ghina kok belum jawab ya. Gimana ini......non Ghina belum makan dari siang!” cemas Ria.


Samar samar Ghina mendengar suara Ria, akan tetapi dia tidak mampu menjawabnya. Tubuhnya lemas dan terasa menggigil. Dia hanya bisa menatap pintu gudang.


“Mbak Ria........tolong Ghina,” ucap lirihnya hampir tidak bisa di dengar oleh siapapun.


“Sakit Mam.....” meringis kesakitan menahan rasa sakit di punggungnya, buliran air bening mulai menetes di ujung matanya.


“Ria......mending kita menghadap Tuan Besar saja, apa pun resikonya....ini tidak boleh di biarkan. Sama saja kita mendukung Tuan Besar berbuat kejahatan,” tegas Tia.


“Kamu gak masalah, kalau nanti sampai di pecat?” tanya Ria.


“Rezeki.....Allah yang mengatur, tapi urusan menolong itu tugas sesama manusia.”


“Baiklah kita menghadap Tuan Besar.”


Ria dan Tia menuju ke kamar Edward, untuk meminta izin membuka pintu gudang dan melepasnya dari kurungan Edward.


Sebelum mereka berdua menuju lantai 2 di mana kamar Edward berada, ternyata mereka bertemu saat Edward ingin masuk ke kamar tamu yang di tempati Ghina.


“Ada apa Ria...?”


“Anu.....Tuan Besar......mau minta izin.....bisa bukakan pintu gudang. Non Ghina belum makan dari siang,” dengan wajah yang sedikit ketakutan.


“Siapa yang menyuruh kamu kasih makan buat Ghina,” tegur Edward.


“Maaf Tuan Besar, mengurung seseorang adalah tindakan kejahatan. Jika memang non Ghina ada salah dengan Tuan, sebaiknya jangan di kurung. Mohon maaf bukan maksud saya menggurui Tuan Besar,” ucap Tia langsung menundukkan kepalanya.


Edward baru teringat kalau dia sudah mengurung Ghina dari siang hingga sekarang sudah jam 9 malam.


“Panggil Pak Jaka, saya tunggu di depan gudang. Dan kamu Ria bawa makanan ke gudang,” titah Edward, dia bergegas ke gudang untuk memastikan keadaan Ghina, dan berharap Ghina memohon ampun dan maaf ke dirinya.


“Baik Tuan,” Ria dan Tia segera ke dapur, untuk menyiapkan makan malam.


Tak menunggu waktu lama, Edward sudah berada di depan pintu gudang, lalu di susul Pak Jaka dan Ria.

__ADS_1


“Buka....!”titah Edward kepada Paka Jaka untuk membuka pintu gudang.


Sekejap suasana dalam gudang hening seperti tidak ada suara, cahayanya pun tidak terlalu terang. Pintu telah terbuka, Edward langsung masuk di ikuti Ria yang membawa nampan berisikan makanan dan minuman.


“GHINA.....!” pekik Edward melihat tubuh Ghina meringkuk di lantai tak bergerak.


PRANK....


Nampan yang ada di genggaman Ria terlepas jatuh ke lantai.


“Da-----da-rah Tuan...!” tubuh Ria gemetaran lihat bercak da-rah di lantai.


“GHINA.....!” pekik Edward sambil menepuk pipinya yang terasa dingin. Tangan Edward pun terkena da-rah saat memegang punggung Ghina.


“Pak Jaka, cepat suruh sopir siapkan mobil sekarang juga!” Edward langsung mengendong Ghina ala bridal style, dengan mata yang mulai memerah.


Pak Jaka sudah lari duluan, untuk segera tiba di bagasi mobil.


Dengan langkah cepatnya Edward bergegas ke depan mansion lewat jalan samping agar lebih cepat, Ria hanya bisa mengikuti langkah Tuan besarnya.


Mobil sudah siap di lobby mansion, Edward langsung masuk dan memangku tubuh Ghina yang sudah tak sadarkan diri.


“Tuan...izinkan saya ikut,” pinta Ria.


“Masuklah...”Edward memberikan izin untuk Ria. Ria masuk dan duduk di samping supir.


Selama perjalanan menuju rumah sakit terdekat, Edward menatap lekat wajah pucat istrinya, kedua netranya menyusuri mata Ghina yang memiliki bulu mata lentik, hidung mancung dan bibir yang terlihat sexy yang pernah dia cium.


“Ghina...,” bisik Edward dengan lembutnya, tanpa terasa air matanya jatuh ke pipi Ghina. Didekapnya tubuh Ghina yang masih terasa dingin, seakan menyalurkan kehangatan ke tubuh Ghina. Tanpa di sadari wajah Ghina sudah tertumpu di ceruk leher Edward karena dekapannya.


Seketika dirinya berdesir, merasa hangat ceruk lehernya bersentuhan dengan bibir Ghina, seakan dia mendapat kecupan  dari Ghina.


Ria yang tanpa sengaja menengok ke bangku belakang, tersentak kaget melihat Edward mencium bibir Ghina yang sedang tak sadarkan diri. Walau sah sah saja buat mereka yang sudah jadi suami istri.


 Kalau Tuan Besar mencium non Ghina, berarti Tuan Besar punya perasaan sama non Ghina. Tapi kenapa di kurung di gudang......batin Ria.


30 menit berlalu, mobil mewah Edward sudah berada di lobby UGD rumah sakit. Para Medis sudah menyiapkan brankar pasien.

__ADS_1


Edward dengan cepatnya, mengendong dan merebahkannya dengan hati hati di atas brankar.


“Segera di tindak!” titah Edward pada salah satu dokter yang sudah menunggu kedatangannya, setelah ada pemberitahuan dari Pak Jaka.


__ADS_2