
Melihat sisi ranjang Ghina terlihat lapang, dia naik ke atas ranjang, ikut berbaring di samping Ghina dan menghadap ke arah wajah Ghina.
Di pandangnya wajah Ghina lekat lekat, bibir sensualnya terlihat sedikit terbuka karena sudah tertidur pulas membuat jemari Edward menyentuhnya.
Dilabuhnya kecupan hangat di kening Ghina, begitu lama, sebagaimana dia waktu melabuhkannya ketika selesai ijab kabul.
“Kau milikku.......sampai kapan pun kau milikku, tidak seorang pun bisa memilikimu selain diriku......dan kau tak akan bisa pergi dariku.......sampai kapan pun,” gumam Edward dengan nada pelan. Menyentuh lembut pipi mulus si putri tidur yang semakin cantik, dengan tatapan hangatnya.
Entah ada dorongan apa, Edward mencium bibir Ghina yang sedikit terbuka, lidahnya mulai menyelusup dan menjelajahi rongga mulut Ghina, menyesap lidah Ghina dengan lembut. Menyesap semua lipatan bibir Ghina dengan hasrat yang tak terbendung. Begitu manis yang Edward rasakan, ketika bibirnya menyatu dengan bibir Ghina, ingin di ulang dan di ulang terus.
Tangan Edward menarik pinggul Ghina agar lebih menempel ke dirinya. Sesekali salah satu tangan besarnya meremat pinggul Ghina ketika lummatan bibirnya mulai terasa panas walau tidak ada perlawanan dari Ghina.
Rupanya obat yang di minum Ghina sebelumnya benar benar membuat dirinya tidak sadar, akan apa yang terjadi di dirinya. Memang obat yang di berikan Dokter agar si pasien bisa beristirahat tenang, tapi ini sungguh terlalu nyenyak tidurnya.
Mencuri ciuman Ghina, membuat sensasi berbeda untuk Edward sendiri. Tidak perlu Ghina membuka baju, atau tanpa busana, gairahnya sudah datang tak terelakkan. Jari jemarinya leluasa merangkul pinggang Ghina. Gesekan tubuh dirinya dengan Ghina, membuat dirinya tegang serasa ada yang ingin di keluarkannya. Berbeda saat malam panasnya dengan istri tercintanya Kiren, yang sebelumnya dia di rangsang oleh Kiren terlebih dahulu.
“Eeeugh.......,” suara era-ngan keluar dari bibir Edward, tak henti hentinya dia menyesap, melummat dan memberikan gigitan kecil di bibir Ghina, seakan akan haus akan ciuman. Padahal dia sering melakukannya dengan Kiren, dan sekarang malah bisa lebih intim lagi dengan Kiren setelah sah jadi istrinya, tapi dirinya tidak menginginkannya dengan Kiren, saat ini.
“Aaah......saya benar benar tak bisa berhenti.......Ghina,” gumamnya setelah melepas bibirnya dari bibir Ghina, dengan napas yang tersengal sengal. Jarinya mengelus bibir Ghina dengan belaian lembut. Sepertinya tanpa di sadari bibir Ghina sudah menjadi candu sejak awal Edward mencium Ghina.
Bibir Ghina terlihat membengkak akibat ulahnya. Senyum puas terukir di wajah tampan Edward.
“Permisi Tuan Besar, maaf mengganggu,” sapa Ferdi yang tiba tiba sudah hadir, dan berdiri tak jauh dari ranjang Ghina.
Edward tersentak dengan kehadiran Ferdi, dia menoleh ke arah Ferdi “kalau masuk biasakan mengetuk dulu!” tegur kasarnya. Kesal ketahuan sedang mencumbui Ghina.
“Maaf Tuan, lain kali tidak saya ulangi. Ini ada beberapa dokumen penting yang harus di tanda tangani malam ini juga, karena sudah di tunggu.”
Dengan berat hati Edward beranjak dari ranjang, meninggalkan Ghina, dan rencana dia gagal, “di ruangan saya aja!” di ambilnya jas dia, dan keluar dari kamar Ghina. Merasa belum tuntas, kepalanya jadi pusing.
Habis ngapaiin Tuan??? Tadi siang marah marah, sekarang sembunyi sembunyi cium Ghina. Makanya kalau cinta bilang dong jangan diam diam aja.......dasar Bos yang aneh
Melihat Tuan Besarnya sudah keluar dari kamar, Ria buru buru masuk kembali dan mengambil ponsel yang di sembunyikannya.
Lalu mengecek hasil rekamannya, bola mata Ria seketika membulat, mulutnya langsung di tutup dengan salah satu tangannya. Bagaimana bisa dia merekam adegan mesra Tuannya bersama istri pertamanya.
Ria segera mengecek kondisi Ghina, nyatanya masih tertidur pulas, akan tetapi dia bisa melihat bibir Ghina terlalu merah dan sedikit bengkak.
Dengan jari lincahnya Ria mengirim rekaman video tersebut kepada seseorang.
Tring.....nada pesan masuk
__ADS_1
✉ 0812×××××××××
Hapus rekaman yang tadi kamu kirim dari ponsel kamu, jangan sampai Ghina tahu hal itu. Begitu juga dengan foto yang kamu kirim kemarin.
Menerima pesan seperti itu, Ria segera menghapus video dan beberapa hasil jepretan dia yang di ambil secara sembunyi. Cukup dia dan orang yang memberi perintah tahu hal ini. Buat Ghina sepertinya tidak perlu tahu apa yang dilakukan Edward.
🌹🌹
Pagi menjelang.....
“Pagi, mbak Ria...,” sapa Ghina saat membuka matanya di pagi hari. Sepertinya Ghina tidak merasakan sesuatu yang terjadi di dirinya semalam.
“Pagi juga Non Ghina, bagaimana badannya sudah terasa fit?”
“Lumayan mbak Ria.”
“Kalau begitu mbak bantu Non buat bebersih dulu yuk, biar tambah cantik, wangi.”
“Ah mbak Ria bisa aja.”
Sepintas Ghina menoleh ke arah nakas, terlihat ada buket bunga tulip tergeletak “Mbak itu buket siapa?”
“Gak tahu Non, mbak juga baru lihat tadi pagi.
Ghina meraih buket bunga tersebut, “cantik sekali bunganya, saya belum pernah lihat secara langsung bunga tulip itu seperti apa. Pasti bunga ini mahal harganya ya, mbak.”
Semoga lekas sembuh
“Tidak ada nama pengirimnya mbak, hanya ucapan semoga lekas sembuh,” ujar Ghina.
“Yo wiss Non anggap aja buat Non Ghina, jika sewaktu waktu ada yang cari bunganya tinggal kasih aja ke pemilik aslinya.”
“Iya lah mending begitu saja.” Ghina mengelus bunga tulip tersebut, dan menghirup wangi bunga tulipnya.
“Ayuk Non, kita ke kamar mandi......setelah itu sarapan. Biar segar badannya.”
“Iya mbak Ria.” Ghina nurut saja. Ria membantu Ghina ketika tubuhnya di bersihkan, penuh ke hati hatian agar lukanya tidak terkena. Selesai bebersih, Ria menyiapkan sarapan Ghina yang telah di antar oleh bagian gizi rumah sakit.
“Silahkan makan Non.....”
“Makasih mbak.”
__ADS_1
TOK.....TOK.....TOK
“Ya masuk......!” seru Ria dari dalam.
Ferdi dengan membawa bungkusan plastik masuk ke kamar.
“Selamat pagi Non Ghina, Ria,” sapa Ferdi.
“Pagi juga Pak Ferdi, sarapan yuk..,” tawar Ghina yang sedang sarapan sendiri.
“Kebetulan saya mengantarkan sarapan buat Ria.” Ferdi memberikan satu bungkus untuk Ria.
“Makasih Pak Ferdi,” diraihnya bungkusan tersebut.
“Saya numpang sarapan di sini ya,” ujar Ferdi.
“Oooh.....silahkan Pak Ferdi,” jawab Ghina.
Ferdi menyantap sarapannya duduk di sofa, salah satu tangannya memegang ponselnya yang sedang video call dengan Tuan Besarnya.
Edward melihat Ghina yang sedang menyantap sarapan paginya, begitu juga dirinya yang sedang menikmati sarapan pagi sambil menatap Ghina dari ponselnya.
“Permisi......selamat pagi, ada kunjungan dokter ya,” sapa perawat pendamping Dokter Irfan.
“Selamat Pagi...cantik,” sapa Dokter Irfan.
“Selamat Pagi juga Pak Dokter," balas Ghina
"Sedang sarapan ya....silahkan di lanjutkan dulu, tanggung sudah mau habis." ujar Dokter Irfan
“Maaf ya Pak Dokter.” Ghina buru buru menyuap dan menghabiskan sarapannya.
“Uhuk.......uhuk......uhuk,” efek makan terburu-buru akhirnya keselak.”
.
.
Untuk Kakak Reader yang Cantik dan Ganteng, saya tambah up bab nya lagi hari ini. Terima Kasih ya buat hadiah, like, ❤, vote dan komentarnya.
Stay tune ya
__ADS_1
Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹