
Australia
Edward tengah berdiri di hadapan Opa Thalib, napasnya terlihat naik turun.......dan wajahnya mulai memerah karena menahan emosinya.
“Maksud Papa apa semua ini!” seru Edward dengan menghempaskan amplop coklat pemberian Opa Thalib ke meja kerjanya.
“Kamu tinggal tanda tangani surat itu, dan hubungan antara kamu dengan Ghina, akan resmi bercerai,” ujar tegas Opa Thalib.
“Kenapa papa tega menyuruhku menanda tangani surat perceraian ini, dan ini kenapa Ghina sudah menanda tangani surat ini, pasti papa kan yang memaksa Ghina!” Edward meraup wajahnya dengan kasar, tidak habis pikir ketika papanya datang membawakan surat cerai, yang sudah ada tanda tangan Ghina.
“Kamu tuduh papa tega, lebih tega kamu menyiksa istri kamu sendiri. Satu hal lagi, papa tidak pernah memaksa Ghina menanda tangani surat ini, ini kerelaan dia sendiri yang ingin berpisah dengan kamu......suami kejam!”
“Papa tidak pernah bertanya tentang perasaan Edward selama ini.”
“Apa yang harus papa tanyakan padamu lagi, atau jangan jangan kamu mau bilang kalau mencintai Ghina, bullshits......itu sudah lewat. Suami kalau memang mencintai istrinya tidak akan menyakit fisik dan hatinya, dan tidak akan menikah lagi dengan perempuan lain!!”
“Pah, itu masa lalu......Edward mengaku salah Pah. Saya telat menyadarinya.....”
Oma Ratna yang berada di antar papa dan anaknya, hanya bisa memandang dan mendengarkan perdebatan mereka berdua.
“Papa...........pokoknya Edward tidak akan menanda tangani surat cerai ini atau menalak Ghina, sebelum papa mempertemukan Edward dengan Ghina. Saya yakin jika selama ini papalah yang telah menyembunyikan istri Edward!” ujar Edward.
Aku tak ingin bercerai!!!!
“Ck.........kamu sebut istri......halu aja kamu,” decak Opa Thalib.
“Kalau papa tidak bisa mempertemukan Edward dengan Ghina, hari ini juga Edward akan kembali ke Indonesia, dan akan mencari Ghina sampai ketemu,” Edward langsung mengambil ponselnya yang berada di atas meja kerjanya, untuk memesan tiket pesawat.
“Tunggu.....!” Opa Thalib menghentikan pergerakan Edward. Edward langsung berbalik badan dan kembali berhadapan dengan papanya.
“Papa tidak akan memaksa kamu lagi untuk menanda tangani surat cerai ini, tapi ada syaratnya!”
“Syarat apa?” Edward mengerutkan keningnya.
“Selama tiga tahun kamu harus mengurus perusahaan papa di sini dan jangan coba-coba kembali ke Indonesia selama tiga tahun itu, setelahnya kamu boleh kembali ke Indonesia.”
“Ini sama saja papa menjauhkan Edward dengan Ghina, sama saja itu berpisah!” celetuk Edward.
“Ya kalau begitu kamu tanda tangani saja surat cerai ini, lalu carilah Ghina. Bukannya sama saja.....tetap berpisah juga!” balas ketus Opa Thalib.
“Lagi pula Papa memberikan tawaran yang terbaik buat kamu, selama tiga tahun Ghina tidak akan bisa menikah dengan pria mana pun, karena kamu belum menanda tangani surat cerainya walau Ghina sudah menanda tanganinya.”
Edward terlihat berpikir, mencerna omongan Opa Thalib.
__ADS_1
“Selama tiga tahun itu tatalah hidupmu lebih baik, pikirkan langkah ke depan. Mantapkan lagi hati kamu, tujuan hidup. Jadikan masa lalu buat pelajaran kamu,” ujar Opa Thalib.
Maaf nak belum saatnya kamu mencari Ghina, biarkan Ghina menyelesaikan kuliahnya.
“Kelamaan Pah, bagaimana kalau enam bulan,” nego Edward.
"Tidak bisa, kalau kamu tidak setujui, silahkan tanda tangan suratnya,” Opa Thalib menolak permintaan Edward, bersikekeh pada pendiriannya.
Wajah Edward tampak menyelidik Opa Thalib...
“Edward minta nomor rekening Ghina, Pah....sekarang juga!” pinta Edward penuh keyakinan, duga pria itu pastinya papanya tiap bulan memberikan bantuan untuk Ghina.
“Loh kok jadi minta nomor rekening,” heran Opa Thalib, dengan permintaan putranya.
“Edward tidak mau di sebut suami yang tidak tanggung jawab sama istrinya, saya mau memberikan nafkah buat Ghina, jika papa tidak mau memberitahukannya. Lebih baik sekarang juga Edward balik ke Indonesia,” ancam balik Edward.
“Jadi kamu setuju akan di sini selama tiga tahun?” tanya sekali lagi.
“Kali ini saya akan menuruti kemauan Papa, tapi Edward harap papa bisa memberikan nomor rekening Ghina. Biarkan Edward yang ambil alih tanggung jawab papa selama ini!” tegas Edward.
“OKE jadi kita deal nihhh,” ujar Opa Thalib.
“Deal.....Pah,” balas Edward walau sejujurnya kecewa tidak bisa mencari Ghina secepatnya.
“Thanks Pa....” Edward memeriksa ponselnya dan langsung ke aplikasi mobile bankingnya...
Rp. 250.000.000,00
Berhasil di kirim.....
Dalam waktu yang bersamaan, tubuh Ghina gemetaran melihat saldo di mesin atm masuk dana sebesar Rp. 250.000.000,00
“Wah Opa kayaknya salah transfer ini, kenapa bisa lima kali lipat.......atau jangan-jangan buat lima bulan,” pikir positif aja si Ghina.
Tapi faktanya di bulan berikutnya dan seterusnya, Ghina menerima jumlah yang sama. Dan uang itu hanya di simpan di rekening banknya.
🌹🌹
Tiga tahun kemudian.....
Yogyakarta
Mobil dengan merk sejuta umat berwarna silver tampak terparkir rapi di parkiran hotel A, dari pintu kemudi mobil keluarlah wanita dengan setelan kerjanya......begitu cantik dan memesona.
__ADS_1
Dengan menggunakan sepatu high heelsnya serta salah satu tangannya menjinjing tasnya, wanita itu melangkah dengan anggun menuju lobby hotel A.
“Selamat pagi mbak Ghina,” sapa bell boy.
“Selamat pagi mas Junet,” balas Ghina.
“Selamat pagi mbak Ghina,” sapa resepsionis hotel.
“Selamat pagi juga mbak Indri,” balas Ghina.
Dua tahun yang lalu, tepatnya saat kuliah masuk semester lima. Opa Thalib dan Oma Ratna mengunjungi kediaman Ghina, luar biasa kaget wanita itu.
Opa Thalib dan Oma Ratna juga tidak kalah terkejut melihat perubahan Ghina, sudah menjadi bisnis woman. Opa Thalib dan Oma Ratna menyempatkan ke Toko Kue Gina’s, dan mencoba beberapa macam cake.
Ketika mereka bertiga bertemu tidak ada pembahasan tentang Edward sedikit pun, hanya membahas kuliah dan bisnis yang Ghina jalankan. Wanita itu pun segan untuk menanyakan keadaan Edward. Tidak mau merusak suasana pertemuan dengan penuh kebahagiaan, karena sudah dua tahun tidak berjumpa.
“Ghina, sudah waktunya kamu bergabung di perusahaan Opa,” pinta Opa Thalib.
“Tapi Ghina belum selesai kuliah, Opa,” jawab Ghina.
“Gak pa-pa, nanti akan ada orang Opa yang akan membimbing kamu. Opa berharap kelak bisa mengurus salah satu usaha Opa, ujar Opa Thalib.
“Jam kerjamu akan menyesuaikan jadwal kuliahmu, jadi kamu jangan terlalu khawatir.”
Tanpa banyak berpikir lagi, Ghina menyetujui permintaan Opa Thalib. Berawal sebagai staf keuangan, sekarang wanita itu sudah menjabat sebagai manajer keuangan di salah satu hotel milik keluarga Thalib di Yogyakarta.
Gadis kecil itu sudah bertransformasi menjadi seorang wanita yang memesona, wanita karir, bisnis woman.....sekarang toko kuenya sudah berkembang pesat dan memperkerjakan tiga puluh orang. Dan jangan salah wanita itu masih menjadi model, di kala waktunya pas dengan tawaran Tante Feby, wanita itu segera meluncur ke Jakarta. Begitulah kehidupan Ghina dalam waktu tiga tahun ke belakang.
.
.
🌹🌹
Ayo siapa yang pengen Edward ketemu dengan Ghina. Lalu kalau jadi ketemu bagaimana reaksi Edward melihat Ghina setelah empat tahun tidak bertemu? Tinggalin komentarnya ya Kakak Readers......
Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹
Sekalian ya Kakak reader, mau promo novel karya author Tinta Rachel, mampir ya
__ADS_1