
Selepas Edward pergi, Ghina menyantap sarapan yang sudah di siapkan oleh pria itu, ada beberapa hidangan yang tersaji di meja makan.
Habiskan makanannya ya, biar cepat sehat.....istriku. Jangan lupa di minum vitaminnya, sudah aku siapkan di meja makan.
I love you, my wife
Secarik kertas berisikan pesan dari Edward tergeletak di meja makan. Membuat wanita itu terkekeh kecil ketika membacanya.
“Kenapa Om Edward sekarang so sweet banget ya.........jadi geli sendiri lihatnya,” gumam Ghina sendiri di sela menyantap sarapannya.
Semenjak pertemuannya kembali Edward selalu menunjukkan beberapa perubahan yang belum pernah wanita itu temukan selama ini, sisi yang sangat berbeda. Edward begitu memuja wanita itu, walau sering dapat penolakan dari Ghina.
Edward pria yang pertama kali Ghina sukai, pria yang pertama kali yang mencium dirinya, yang memeluk dirinya, tapi pria yang pertama kali juga yang sudah menoreh luka di dirinya. Wanita itu mengulum senyum tipis, teringat akan masa lalu, dan membandingkan akan masa sekarang, yang tengah di hadapi wanita itu yaitu perasaannya sendiri.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya, sesuai pesan dari Edward. Wanita itu minum vitamin yang sudah di siapkan oleh Edward. Kemudian Ghina melanjutkan untuk mandi dan siap-siap kerja.
🌹🌹
Ruang Kerja Ghina.
“Selamat Pagi, mbak Ghina....” sapa Ani sang asisten.
“Pagi juga Ani, kamu bawa apa?” tanya Ghina, melihat tumpukan kertas yang di bawa oleh Ani.
“Biasa mbak Ghina, butuh approve dari mbak Ghina,” ujar Ani sambil meletakkan berkas yang dibawanya ke atas meja Ghina.
“Oke deh, nanti saya cek dulu ya......,” jawab Ghina.
“Siap mbak Ghina. Mmmm..........mbak, saya boleh tanya sesuatu gak, tapi ini masalah pribadi?” tanya Ani.
“Masalah pribadi apa ya?” tanya balik Ghina, dengan menaikkan salah satu alisnya.
“Begini mbak cuma mau tahu kebenarannya dari gosip yang beredar dalam dua hari ini di hotel.”
“Gosip apa yang sudah beredar?” Kepo juga Ghina.
“Memangnya betul mbak Ghina istrinya Pak Presdir?”
“OOh gosip itu toh, iya saya istrinya Pak Presdir, memangnya kenapa?” Ghina mengakui apa adanya.
“Kapan nikahnya mbak, padahal selama dua tahun mbak Ghina kerja di sini kita gak pernah lihat mbak Ghina sama Pak Presdir bersama?” tanya Ani udah kayak wartawan aja.
“Kisahnya panjang Ani, yang jelas kami sudah menikah empat tahun yang lalu. Dan lagi pula buat apa saya umbar-umbar tentang kehidupan pribadi saya. Karena sekarang sudah tahu, ya saya mengakuinya. Sudah jelaskan Ani,” ujar Ghina.
“Sudah cukup kok mbak Ghina, maklumlah mulut orang di luarkan berbeda-beda menanggapi gosip yang beredar,” balas Ani.
“Ya terserah mereka saja, mulut orang tidak bisa kita rem Ani, tinggal bagaimana kita menyikapinya saja. Dan tidak perlu di ambil pusing.”
“Betul mbak Ghina, kalau begitu saya kembali ke meja dulu,” pamit Ani.
“Ya...Ani.”
__ADS_1
Ghina kembali dengan aktivitas kerjanya di ruangan.
Derrt.........Dertt.......
0812××××××××× calling
“Siapa yang telepon ya....” gumam Ghina melirik ponselnya yang berbunyi.
0812××××××××× calling
Dengan nomor yang sama ponsel Ghina kembali berdering.
“Halo.....,” sapa Ghina.
“Assalamualaikum.....istriku,” balas Edward.
“Walaikumsalam.....oh ternyata Om toh.”
“Memang kamu kira siapa yang telepon?”
“Ya kali aja babang tampan William Levy yang telepon, jadi semangat terima teleponnya. Eeh ini yang telepon malah si OM OM!” gerutu Ghina.
“Om.... Om begini masih suami kamu, cintaku......sayangku. Kalau dekat udah aku cium kamu,” ujar gemas Edward.
“Iiih lebay amat sih.......ada apa Om telepon?”
“Honey lagi ngapain sekarang? Bisa nyusul ke hotel IG sekarang, temanin aku rapat karyawan di sini,” pinta Edward.
Terdengar helaan napas panjang Edward, kecewa Ghina tidak bisa menemaninya.
“Ya sudah kalau tidak bisa di tunda pekerjaannya. Jangan lupa makan siangnya jangan telat ya. Nanti aku usahakan pulang cepat,” ujar Edward.
“Iya Om Edward, sudah dulu ya teleponnya.”
“Ya.......love you,”
“Mmmm........” gumam Ghina.
“Baru tadi pagi ketemu, sekarang udah telepon,” gumam Ghina sendiri, sambil memutuskan sambungan teleponnya.
Waktu terus berlalu, sangking wanita itu sibuk dengan pekerjaannya...sampai tidak tahu jika sudah waktunya makan siang.
TOK.....TOK.....TOK
“Ya......,” sahut Ghina.
“Mbak Ghina, di restoran ada Pak Rafael ingin bertemu sama mbak,” ujar Ani.
“Loh kok tumben dadakan datangnya, biasanya mas Rafael telepon kasih kabar,” ujar Ghina.
“Tadi saya tidak sengaja bertemu Pak Rafael di lobby, katanya telepon mbak Ghina, gak bisa.”
__ADS_1
Ghina segera melirik ponselnya”oooh wis mati ponselnya, lupa di charger.....ya sudah nanti saya ke bawah. Makasih ya infonya...,”
“Ya sama-sama mbak Ghina.”
Ghina mengambil dompetnya, dan turun ke bawah menuju restoran untuk bertemu dengan Rafael.
Ketika wanita itu masuk ke restoran, terlihat Rafael dengan senyum manisnya menyambut kedatangan Ghina.
“Apa kabar Ghina, sudah sehatkah?” sapa Rafael.
“Baik mas Rafa, sudah lebih baik dari pada kemarin.”
“Ini.....untuk wanita cantikku,” ujar Rafael sambil memberikan buket bunga mawar putih.
“Untukku......benarkah!”
“Iya benar, biar tambah sehat,” Rafael mengulum senyum hangat di wajah tampannya.
“Terima kasih atas bunganya mas Rafa....,” ucap Ghina.
“Sama sama.”
“Mas Rafa sudah pesan makanan?”
“Saya sudah pesan makanan buat kita berdua, sesuai selera kamu,” ujar Rafael.
“Ooh.......makasih kalau begitu.”
Rafael menatap wajah Ghina dengan intensnya,”Ghina, benarkah kamu sudah menikah?” akhirnya Rafael sudah tidak tahan untuk tidak bertanya langsung pada Ghina, setelah pengakuan Edward jika Ghina adalah istri yang pergi meninggalkannya.
“Iya mas Rafael, empat tahun yang lalu saya pernah menikah dengan pria yang mas Rafael kenal, pria yang pernah menikahi Kiren.....mungkin mas Rafael kenal juga dengan Kiren. Saya menikah dengan Om Edward, baru dua minggu menikah........kami sudah berpisah.”
“Jadi kamu sudah berpisah dengan Edward! Lalu kenapa Edward bilang jika kamu istrinya?” tanya Rafael.
“Kami belum mengurus perpisahan secara negara, selama ini.”
“Kenapa selama ini kamu tidak pernah cerita jika sudah pernah menikah?” cecar Rafael.
“Saya tidak perlu mengumbar masalah pribadi mas, bukannya mas Rafa sudah mengenal saya dengan baik. Kita berteman apa adanya, tidak mengungkit masalah yang begitu dalam. Lagi pula buat apa saat itu saya menceritakan tentang masalah rumah tangga dengan pria lain, tidak bijaksana rasanya jika saya menceritakannya.”
“Tapi ini hal yang sangat mengejutkan ketika Edward bilang kamu adalah istrinya. Sedangkan setahu saya Edward menikah dengan Kiren.”
Rafael menghela napas panjang, sebelum melanjutkan ucapannya.
“Tahukah kamu....Ghina......saya sangat mencintaimu selama tiga tahun ini. Berpisahlah secara resmi dengan Edward, dan menikahlah denganku,” pinta Rafael.
Edward sudah berdiri dengan gagahnya, tatapan kedua matanya mulai berapi-api. Rahangnya sudah mulai mengeras, dan kedua tangannya sudah terkepal kuat.
bersambung
__ADS_1