
Edward dan Ghina akhirnya keluar juga dari kamar, dan menghampiri Opa Thalib dan Oma Ratna.
Wajah Ghina terlihat masam dengan Edward.
“Duduklah kalian berdua,” pinta Opa Thalib.
Ting...Tong
Bell kamar berbunyi.....
“Sebentar Pah, Edward bukakan pintu dulu.....takutnya pesanan sarapan buat kita yang datang,” ucap Edward. Opa Thalib hanya menganggukkan kepalanya.
Edward membukakan pintu, dan benar seorang pelayan mengantarkan troly makanan, dan pria itu minta segera di sajikan langsung di meja makan.
“Pah, sebelum kita bicara....sebaiknya kita sarapan dulu. Kasihan istri Edward, kata dokter tidak boleh telat makan, nanti pingsan kayak kemarin sore,” ungkap Edward.
“Pingsan.....” Oma Ratna mengulang kata, sambil menaikkan salah satu alisnya.
“Ayo nak, Oma gak mau lihat kamu pingsan lagi,” ajak Oma Ratna, sambil menarik lengan Ghina, agak turut ke meja makan.
“Ya Oma,” jawab Ghina menuruti Oma Ratna.
Ghina duduk di samping Oma Ratna, sedangkan Edward duduk di samping Opa Thalib. Ghina terlihat canggung dengan suasana pagi ini, setelah mereka berdua kepergok oleh kedua orang tua Edward, sedangkan Edward terlihat santai.
“Sayang, ini sudah aku siapin buat kamu,” ujar Edward sambil menyodorkan piring makan yang sudah terisi.
“Gak usah Om Edward, buat Om saja.......saya bisa ambil sendiri,” jawab Ghina menolak.
Edward sepertinya tidak mau ditolak oleh Ghina, pria itu beranjak dari duduknya sambil memegang salah satu piring yang di tolak oleh Ghina. Di ambilnya piring kosong yang berada di hadapan Ghina, di gantinya dengan piring yang tadi dia bawa.
“Makanlah, aku tidak suka di tolak,” ucap Edward, dan kembali duduk ke tempat semula.
“Dasar tukang pemaksa,” ketus Ghina dengan nada pelan.
Oma Ratna dan Opa Thalib melihat interaksi anaknya dengan Ghina, sambil menyantap sarapannya.
Suasana sarapan terlihat hening hanya suara denting sendok dan garpu yang bergesekan dengan piring makan, Opa Thalib belum buka suara.....membiarkan mereka berempat menikmati sarapan pagi dengan tenang.
__ADS_1
Sarapan pagi selesai, Opa Thalib meminta mereka semua kembali duduk di ruang tamu.
Ghina kembali duduk di samping Oma Ratna, walau tadi sempat Edward memaksa agar duduk di sampingnya, tapi langsung ditepis wanita itu.
“Edward, Ghina setelah kalian berdua papa dan mama pergoki kalian berdua, kami meminta kalian rujuk kembali dan akad nikah ulang.....agar pernikahan kalian semakin jelas setelah sekian lama berpisah. Lagi pula pernikahan kalian secara negara masih sah jadi cukup akad nikah saja,” ujar Opa Thalib.
“Baik, Pah..........Edward juga bermaksud seperti itu,” jawab Edward sambil menatap Ghina.
“Tidak Opa, saya tidak setuju dan menolak dengan permintaan Opa. Lagi pula tidak ada yang terjadi sesuatu dengan saya dan Om Edward,” tolak Ghina dengan tegas.
“Ghina tapi kalian berdua tidur berduakan semalam, pasti terjadi sesuatu hal, dan Oma tidak mau terulang lagi. Demi hal tersebut, lebih baik kalian berdua rujuk kembali,” ujar Oma Ratna.
“Ya kami berdua memang tidak sengaja tidur di ranjang yang sama Oma, tapi hanya tidur......tidak melakukan hubungan,” jawab Ghina.
“Tolong Opa dan Oma jangan memaksa Ghina untuk rujuk dengan Om Edward, setelah sekian lama berpisah. Saya saja baru bertemu dengan Om Edward kemarin pagi!” terdengar rasa putus asanya.
“Tapi aku ingin kembali rujuk dengan kamu, Ghina...,” balas Edward.
“Om Edward terlalu mudah berkata rujuk, Om Edward terlalu egois......tidak memikirkan perasaanku. Kita baru kemarin bertemu Om, tidak secepat itu aku menerimanya. Apa Om ingin kembali menyiksaku, aku takut Om.. menerima dan mendengar kata rujuk secepat itu.”
“Ketika aku dengar Om panggil aku ....sayang....aku teringat mbak Kiren memanggil Om Edward seperti itu, ketika Om Edward mengecup pipiku, aku teringat Om Edward sering berciuman dengan Kiren di depan mataku.........sakit Om........aku belum bisa,” ungkap Ghina, matanya mulai berkaca-kaca.
“Ghina........kamu mau ke mana?” tanya Edward kembali cemas. Ghina kembali masuk ke kamar mengambil tas dan sepatunya, diikuti oleh Edward.
“Sayang........mau ke mana, aku tidak izinkan kamu ke mana-mana,” pinta Edward.
“Om Edward cukup, jangan sok perhatian. Jujur sikap Om edward yang tiba-tiba lembut sungguh mengejutkan buat aku.......dan tolong jangan memaksa untuk aku menerima Om Edward kembali.”
“Sayang......lihat aku....bilang padaku, bagaimana caranya agar kamu mau menerimaku, apakah di hatimu tidak ada rasa suka untukku, walau sedikit saja?” tanya Edward sambil menghalangi Ghina yang akan keluar dari kamar.
“Andaikan dulu Om Edward sedikit lembut dan tidak kasar, mungkin aku masih menyukaimu,” ungkap Ghina.
DEG
Hati Edward berdenyut, dan sedikit nyeri......semua berawal dari masa lalu.
“Bukankah setiap orang bisa berubah Ghina, orang jahat di masa lalunya, bisa berubah menjadi orang baik ke depannya. Tidak selamanya orang jahat akan selalu menjadi orang jahat," ujar Edward.
__ADS_1
Edward mulai berlutut di hadapan Ghina dan memegang salah satu tangan wanita itu. “Maafkan atas masa laluku yang menyakiti hatimu. Memanggilmu dengan kata sayang, bukan maksud untuk mengingatkan masa laluku dengan Kiren, maaf jika hal itu membuatmh teringat kembali, aku sungguh tidak tahu.”
“Menciummu, memelukmu adalah ungkapan rasa cinta dan sayangku untuk istriku, Ghina Farahditya. Tolong berikan aku kesempatan untuk bisa meyakinkan dirimu, bahwa aku sungguh sungguh mencintaimu, dan tidak ingin berpisah lagi.” Ungkap tulus Edward.
“Beri aku waktu Om Edward, untuk mencerna semuanya. Ini tidak mudah Om Edward buatku...” jawab Ghina sambil menatap Edward yang masih berlutut di hadapannya.
“Dan biarkan aku membantumu, untuk memudahkanmu,” pinta Edward.
“Hufh..........” Ghina menghela napas panjang, sepertinya pria yang sedang berlutut, benar-benar bersikeras.
“Bangunlah Om, aku ingin pulang ke rumah.......badanku masih terasa lemas,” pinta Ghina sambil menyentuh bahu Edward.
“Istirahatlah di sini, biarkan aku mengurusmu layaknya suami,” pinta Edward, kemudian pria itu bangkit dari berlututnya.
“Tidak, aku mau istirahat di rumah,” Ghina mulai melangkahkan kakinya.
“Kalau begitu aku antar pulang ke rumah,” pinta Edward secara baik-baik.
“Tidak, aku bawa mobil sendiri, jadi bisa pulang sendiri,” tolak Ghina.
“Jangan menolak Ghina, kalau kamu menolak, terpaksa aku kurung kamu di kamar ini!” Edward buru buru mengunci kamar.
“Baiklah.......” jawab terpaksa Ghina, dari pada di kurung di kamar hotel, walau sebenarnya tempatnya nyaman. Tapi tetap lebih nyaman rumah.
Edward tersenyum hangat, ketika Ghina memperbolehkan untuk mengantar Ghina pulang.
“Pah, Mah........sepertinya lain kali kita sambung pembicaraan lagi. Saya mau antar Ghina pulang ke rumah, badannya masih lemas,” ucap Edward, ketika mereka sudah keluar kamar. Dan Opa Thalib dan Oma Ratna masih berada di ruang tamu.
.
.
next.........mulai berjuang....
__ADS_1