Perjodohan Masa Kecil

Perjodohan Masa Kecil
bab 103


__ADS_3

"kamu perempuan yang kuat Tere, aku harap kamu baik-baik saja di sana. jika terjadi sesuatu kepada mu aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Steve dan putra mu nanti nya."batin Tama, Charlotte yang melihat suaminya tengah melamun melambaikan tangan nya di depan wajah sang suami.


"sayang, apa yang sedang kamu pikirkan dari tadi aku panggil tapi kamu cuek saja?"tanya Charlotte dengan menyipitkan matanya menatap ke arah Tama yang sedang tersenyum kikuk mendengar perkataan dari sang istri.


"aku hanya memikirkan keadaan Tere sayang, aku benar-benar merindukan nya."jawab Tama lirih, Charlotte ikut sedih mendengar nya.berpisah dengan kakak ipar nya hampir dua tahun membuat nya merindukan sosok kakak ipar nya.


"aku ingin melihat keadaan kak Tere, sayang."


"kita tidak bisa pergi ke sana sayang, terlebih lagi usia kandungan kamu dan aku khawatir terhadap mu jika kita nekat pergi, aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada kalian berdua."


"iya aku tahu, tapi setelah Daddy sampai di sana kamu harus segera menelepon mereka dan menanyakan tentang kondisi kak Tere."


"iya, apa kamu ingin pergi jalan-jalan sayang?" tanya Tama, Charlotte berpikir sejenak untuk memikirkan tentang tempat yang ingin dia datangi.


"eumm boleh, tapi aku bingung dengan mau jalan kemana sayang."


"kalau begitu ayo kita pergi, kamu bisa memikirkan nya di jalan nanti nya."ujar Tama seraya membantu istri nya untuk berdiri dan memeluk pinggang Charlotte dari samping, mereka segera memasuki mobil yang sudah berada di depan pintu.


"sayang, aku ingin ke pantai."


"baiklah sayang, sesuai keinginan mu."ujar Tama dan meminta sang asisten untuk pergi ke villa pribadi nya yang berada di dekat pantai.


membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sampai di tempat tujuan mereka, selama di dalam perjalan Charlotte tertidur pulas di dalam dekapan sang suami.

__ADS_1


"enghh, sayang apa kita sudah sampai?"tanya Charlotte yang masih betah menutup mata nya dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


"sudah sayang."


"kenapa tidak membangunkan ku?"tanya Charlotte dengan cemberut, Tama tersenyum kecil melihat tingkah sang istri.


"maaf sayang, aku tidak tega untuk membangun kan mu."jawab Tama sambil mencium kening Charlotte berkali-kali dan berharap sang istri luluh dan tidak marah lagi.


"sayang, aku lapar!"seru charlotte, sejak hamil dia Marasa lapar tiap jam nya. Tama mengangguk kan kepalanya seraya tersenyum lebar.


"mau makan apa sayang?"tanya Tama sambil mengusap kepala Charlotte dengan kasih sayang dan kemudian ia mendekapnya erat.


"eumm bagaimana kalau kita makan-makanan seafood."jawab charlotte yang sudah membayangkan berbagai hidangan seafood yang akan ia makan nantinya, sedangkan Tama tertawa kecil melihat sang istri yang sedang melamun itu.


"baiklah, ayo kita pergi, di dekat sini ada restoran seafood yang enak."ujar Tama dan meminta sang supir untuk kembali melajukan mobilnya untuk mencari restoran seafood di dekat villa pribadi nya.


walaupun mereka hanya sebatas sepupu, mereka memiliki ikatan tersendiri.


"ada apa sayang?"tanya Charlotte yang melihat raut wajah suaminya yang terlihat tegang dan gelisah.


"tidak ada sayang."jawab Tama dengan berkilah, Charlotte tentu saja tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh suaminya itu, ia lebih memilih untuk diam dan tidak bertanya lagi mungkin sang suami tidak ingin menambah Beban pikiran untuk nya pikir nya.


kini mereka sudah berada di dalam restoran di dekat pantai yang kebetulan menyediakan berbagai hidangan seafood, Charlotte memakan nya dengan lahap sedangkan Tama hanya memakan sedikit saja.

__ADS_1


setelah selesai makan mereka kembali ke pantai, pantai dimana banyak kenangan antara Tama dengan para sepupunya termasuk Tere. saat ini mereka berdua tengah duduk di pasir sambil menatap lautan, Tama mengernyitkan keningnya saat melihat wajah Tere di depan nya. Tama menggelengkan kepalanya, tidak mungkin yang ia lihat itu nyata.


cukup lama mereka berdua duduk sambil menikmati keindahan pantai, Charlotte memeluk erat tubuh Tama. ia masih tidak percaya jika dirinya menikah dengan sahabat masa kecil nya, bahkan dulu mereka terbilang tidak akur karena suka berantem dan suka menjahili satu sama lain.


"sayang"Panggil Charlotte


"iya."


"tempat nya sangat indah, lain kali kita ajak yang lainnya juga ya, pasti mereka akan suka apalagi kak Tere, dia kan paling suka tempat yang tenang seperti ini!"


"kamu tahu sayang, tempat ini adalah tempat yang paling di sukai oleh Tere selama di Jerman."


"benarkah?"


"iya, bahkan Tere tidak pernah mau pulang jika sudah berada di sini. Tere dari kecil memang menyukai tempat yang seperti ini, dan di sini banyak sekali kenangan bersama dengan nya maupun dengan keluarga ku yang lainnya."


"apa kak Tere dari kecil orang nya sudah seperti saat ini?"


"Tere saat kecil sangat berbeda dengan yang sekarang, Tere dulu sangat ceria, mudah tersenyum, banyak berbicara, jail, nakal, suka bercanda dan tomboi tapi Tere yang sekarang seolah bukan dirinya yang dulu, mungkin sikap dan sifat nya berubah karena sikap keluarga besar lain terhadap nya atau mungkin karena ia memiliki tanggung jawab besar sebagai penerus keturunan keluarga gristovert selanjutnya."


"hmm menjadi anak pertama di dalam keluarga memang tanggung jawabnya sangat berat, saat aku melihat kak Steve terkadang juga kasihan karena ia lebih banyak belajar dari pada bermain dan apa kamu juga seperti itu dulu sayang?"ujar Charlotte sambil mendongakkan kepalanya.


"iya tidak jauh berbeda dari Steve." jawab Tama sambil mencium kening Charlotte, tanpa mereka sadari dari kejauhan terlihat ada seseorang yang tengah menatap mereka dengan penuh kebencian. Tama dan Charlotte yang sama-sama merasa jika ada yang memperhatikan mereka segera mencari keberadaan orang itu tetapi tidak menemukan apa-apa di sana.

__ADS_1


"apa mungkin hanya perasaan ku saja?" batin mereka berdua bersamaan, Tama berusaha untuk tetap tenang walau sebenarnya ia merasa gelisah karena merasa akan ada bahaya yang mengincar mereka saat ini. Charlotte pun merasa tidak nyaman jika harus berlama-lama di pantai, perasaan menjadi tidak karuan saat ini.


"sayang, kita pulang yuk."ajak Charlotte, Tama mengangguk kan kepala nya. Tama terus menggenggam tangan Charlotte dengan erat. saat baru sampai di depan mobil barulah ia lepas kan tangannya.


__ADS_2