
"aku tidak mungkin membalas perasaan mu terhadap ku Nile, semoga dengan kita tidak bersama lagi, kamu bisa mencari kebahagiaan mu sendiri."batin Tere, ia tahu jika Nile selama ini menyukai dirinya, tapi ia memilih untuk tetap diam saja.
"apa yang harus aku lakukan sekarang, kamu benar-benar ingin membuat ku menjauh darimu Tere," batin Nile, ia menyandarkan tubuhnya di tembok.
Steve dan Tama saling pandang, sepertinya pikiran mereka sama saat ini.
mungkinkah Tere mencintai Nile selama ini, dan dia tidak bisa menolak permintaan kedua orangtuanya untuk menikah dengan Steve.
jika Steve memikirkan tentang itu membuat hati nya terluka, jika benar orang yang ia cintai ternyata mencintai orang lain.
mereka di kejutkan saat Tere tiba-tiba saja yang ingin berdiri, beruntung ada Steve di sampingnya sehingga bisa menahan Tere untuk tetap duduk. terakhir mereka bertemu Tere masih duduk di kursi roda,
Tere menepis tangan Steve dengan pelan,
ia segera turun dan melangkah keluar kamar nya, tentu saja mereka terkejut saat melihat Tere bisa berjalan kembali.
"Tere, kamu mau kemana?"tanya Steve yang mengimbangi langkah kaki Teresa, papa derent yang melihat Tere sudah bisa berjalan tersenyum bahagia, tapi sepertinya ada yang janggal dengan putri nya.
"ada apa ini?"tanya papa derent kepada mereka semua,
"Nile, kemana pa?" bukannya menjawabnya justru Tere melayangkan pertanyaan kepada papa nya, papa derent mengangkat sebelah alisnya saat mendengar perkataan dari Tere.
"mungkin di dalam kamar nya sayang," jawab papa derent, Tere berlari ke arah kamar tidur Nile, ia juga mengetuk pintu kamar Nile.
Nile yang melihat kedatangan tere pun terkejut bukan main,Tere segera menarik tangan Nile dan membawa ke ruang tamu.
"kalian mau kemana?"tanya papa derent dengan menatap wajah Tere dengan lekat,
__ADS_1
"cari makan pa, Tere ingin makan sesuatu."jawab Tere
"kamu bisa menyuruh seseorang sayang,"ujar papa derent dengan tersenyum kecil.
"tidak pa? Tere mau makan di luar bersama dengan Nile, lagi pula Tere sudah lebih baik."jawab Tere dengan tersenyum lebar, ia sempat melihat ke arah Steve yang sekarang ini sedang cemburu pada Nile.
"tapi sayang ini sudah malam lho,"seru papa derent namun tidak di hiraukan oleh Tere,
"Nile,temani aku cari makanan" ujar Tere yang mengabaikan perkataan dari papa derent.
"biar saya yang membelinya nona, apa yang ingin anda makan nona?"jawab Nile seraya bertanya kepada Tere tentang makanan yang ingin dia makan, ibu hamil yang satu ini sangat susah di tebak kemauannya.
"aku ingin makan di tempat nya langsung Nile, jika kamu tidak ingin menemani ku tidak masalah. aku bisa pergi sendiri,"ujar Tere dengan melepaskan pegangan tangan nya,
"sayang tolong jangan keras kepala! kamu baru saja sadar sayang jadi tolong jangan membuat masalah baru lagi. jika sampai kakak kamu tahu, kamu pasti akan di hukum nya nanti."seru papa derent, setidaknya dengan memakai nama keponakan nya,putri nya akan tetap berada di dalam rumah.
"apa kamu sedang ada masalah Nile?"tanya papa derent saat melihat raut wajah Nile yang terlihat lesu tidak seperti biasanya.
"tidak tuan, saya hanya memikirkan tentang perkataan nona waktu di kamar."jawab Nile, papa derent merasa bingung tentang apa yang di obrolkan oleh putri dan asisten pribadi nya.
"tentang apa?"
"hanya tentang kontrak kerja saya dengan nona saja tuan,"jawab Nile dengan jujur, ia berusaha tetap tenang walau di dalam hati merasakan sakit.
"apa kamu ingin memperpanjang kontrak kerja kamu Nile?"tanya papa derent dengan menatap wajah Nile yang terlihat murung.
"tidak tuan, nona meminta saya untuk kembali ke keluarga saya tanpa menunggu kontrak kerja habis,"jawab Nile dengan jujur dan itu membuat papa derent terkejut mendengarnya, jika Nile berhenti dari pekerjaannya, itu akan membuat nya kesusahan untuk mencari pengganti nile untuk menjadi asisten pribadi nya Tere,
__ADS_1
sepertinya ia harus berbicara mengenai ini kepada putri nya.
"saya harap kamu masih bekerja dengan Tere, Nile, saya akan kesusahan mencari pengganti mu, jika kamu berhenti bekerja."ujar papa derent yang mengutarakan isi pikiran nya.
"saya tidak bisa menolak ke inginan nona, tuan. setelah sampai di Jerman,saya akan kembali ke keluarga saya."jawab Nile dengan tenang, ia selalu menghargai keputusan Tere apapun itu! walau sebenarnya ia sendiri juga tidak bisa meninggalkan Tere sepenuhnya.
"tolong pikirkan kembali Nile, saya selalu mempercayai kamu untuk menjaga putri saya dari awal pertama kamu bekerja dengan Tere, saya sudah mempercayakan nya kepada kamu! saya masih belum bisa percaya dengan orang-orang yang sedang bekerja dengan Tere saat ini."ujar papa derent, ia tidak mungkin melepaskan asisten pribadi putri nya begitu saja, apalagi selama ini Nile yang menemani Tere dari titik terendah nya saat bekerja.
"saya akan pikirkan kembali tuan."jawab Nile, obrolan mereka terhenti saat melihat Tere turun bersama dengan Vincent.
"Nile, tolong temani Tere pergi, anak ini tidak akan diam sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan."ujar Vincent datar, ia juga melirik ke arah Tere yang berdiri di samping nya.
adiknya ini memang sangat keterlaluan,
bisa-bisa dia membangun kan nya hanya meminta izin untuk keluar dari rumah hanya demi makanan.
"baik tuan Vincent,"jawab Nile dengan sopan.
"sama pergi, dasar pengganggu. orang lagi enak-enakan tidur di bangunkan, untung saja kakak sayang sama kamu, kalau tidak udah kakak kandang kamu,"ujar Vincent dongkol, Tere hanya tersenyum melihat ekspresi kesal dari kakak sepupunya,
"jangan lama-lama di luarnya, segera pulang jika sudah mendapatkan makanan yang sedang kamu inginkan."timpalnya dan kembali kedalam kamar nya untuk melanjutkan tidurnya yang sudah terganggu oleh sang adik.
"sayang, ajak sekalian suami kamu, kalian bisa sekaligus jalan-jalan."usul papa derent sedangkan Tere hanya diam saja, ia lebih baik menarik tangan Nile agar segera pergi dengan nya.
papa derent menggeleng kan kepala saat melihat raut wajah putrinya yang cuek kepada suaminya, mungkin putri nya masih marah terhadap suaminya. papa derent memberikan kode agar Steve segera menyusul Tere dan Nile yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Tama, Charlotte, Leo dan Clarissa juga pergi bersama, mereka sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama dengan pasangan mereka dan ini membuat kesempatan bagi mereka berempat.
__ADS_1