
walau awalnya Valerie tidak ingin menerima Nile, tapi ia juga harus memikirkan tentang masa depan putra nya. dia tidak ingin egois dan membuat putra nya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah, cukup dirinya saja yang tidak mendapatkan kasih sayang dari keluarga nya.
"mereka keluarga ku! tidak perlu khawatir." ujar Nile saat melihat ekspresi wajah Valerie saat menatap keluarga nya.
Valerie membungkukkan tubuhnya, lalu ia meraih tubuh sang putra nya yang masih sakit dan sepertinya tidur nya semakin pulas saat berada di dalam gendongan Nile.
"kakak tidak sedang bercanda sama kami kan! kapan kakak nikah?" tanya lucas sedang kan sang mama menghampiri Valerie yang tengah menatapnya anak laki-laki tersebut.
"tidak, kami belum menikah"jawab Nile dengan tegas, bahkan tatapan matanya tidak bisa lepas dari putra nya, tanpa tes DNA Nile juga sudah yakin jika dia adalah putra nya.
"siapa nama nya sayang?" tanya mama Nile dan tersenyum lembut saat melihat wajah putra nya di diri anak kecil itu.
"Victor nyonya,"jawab Valerie yang masih memeluk putra nya yang masih tertidur, bahkan putra nya tidak terganggu sama sekali dengan obrolan mereka yang sedikit keras.
"nona Valerie, ada telepon untuk anda?."seru asisten pribadi Valerie, dan menyerahkan ponsel miliknya kepada nona besar nya.
"iya hallo," ujar Valeri setelah mengambil ponselnya.
"hallo nona, ada masalah di kantor dan anda di minta tuan besar untuk datang membantu." ujar seseorang dari sebrang telefon dengan sopan.
"katakan padanya aku tidak akan pulang, biarkan anak-anak kesayangan nya yang mengurus masalah ini. apa menurutmu aku bodoh sampai harus kembali lagi? apa rencana dia kali ini, menjodohkan ku kembali dengan orang-orang tidak berguna seperti mereka, atau meminta ku untuk membuang putra ku." jawab Valerie dengan sinis, orang di sebrang telepon pun bisa terdiam mendengar perkataan dari nona besar nya.
"katakan padanya dari awal sampai sekarang dia tidak pernah ada untukku, maka jangan pernah meminta ku untuk berkorban banyak untuk perusahaan nya. aku bukanlah putri nya, aku hanya anak yang di telantarkan oleh nya dan di panggil untuk pulang jika dia sedang membutuhkan ku, apa menurut nya aku bisa diperdaya begitu saja?"
setelah selesai berbicara Valerie mematikan telepon nya secara sepihak bahkan ia sampai ingin melempar handphone itu jika tidak segera menyadari jika putra ada di dekatnya.
__ADS_1
"jika mereka menelepon kembali, katakan kepada mereka jika aku sedang sibuk dan tidak ingin di ganggu! dan satu hal lagi selidiki ada masalah apa di perusahaan sampai dia membutuh kan ku, aku ingin kamu mencari informasi sampai sedetail mungkin. apa kamu mengerti," ujar Valerie tegas dan dingin, jika benar ada masalah dia akan membantu nya secara diam-diam.
"baik nona saya mengerti." ujar asisten pribadi nya,
disisi lain
"kamu dari mana saja Tere?" tanya papa derent dengan kesal,
"maaf pa! tadi Tere sedang kerumah sakit."jawaban Tere tentu membuat keluarga nya terkejut bukan main.
"apa kamu sedang sakit sayang?" tanya mama Victoria yang mengkhawatirkan keadaan putrinya satu-satunya, dan sepertinya Tere juga belum menyadari jika tamu nya sudah datang
"tidak ma! justru Nile sedang di rawat sekarang ini."jawab Tere dengan tersenyum, saat Tere menatap lurus pandangan nya bertemu dengan kedua orang yang ingin dia hindari selama ini.
"awalnya baik tapi setelah melihat kalian menjadi tidak baik."jawab Tere dengan ketus, bahkan sang kakak melotot kearah nya saking tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh Tere.
"duduk lah sayang."perintah papa derent dengan lembut,
"uncle, apa kami bisa mengobrol sebentar bertiga?"
"tentu saja, kalian bisa mengobrol di halaman belakang rumah."jawab Vincent dengan tenang, Tere memutar matanya malas setelah melihat senyuman sang kakak
"kalau begitu kami permisi," pamit salah satu pria itu dengan sopan dan menarik tangan Tere ke arah belakang.
kini mereka bertiga sudah berada di belakang tapi bukannya mengobrol justru mereka hanya saling diam dengan tatapan yang berbeda.
__ADS_1
Tere tetap tidak mengatakan sesuatu kepada mereka, yang kini Tere pikirkan justru tentang seseorang yang akan datang untuk mengusir kedua balok es ini tapi justru yang di tunggu tidak kunjung datang juga.
sesekali Tere melirik jam tangannya, ia masih setia menunggu kedua pria itu mengatakan nya terlebih dahulu.mereka bertiga berlarut-larut dalam pikiran mereka masing-masing
tanpa mereka sadari bahwa sekarang ini mereka semua sedang di awasi oleh keluarga dari Tere, mereka ingin mengetahui tentang pembicaraan Tere dengan dua pria itu!
tapi sayang nya yg mereka tidak juga mengatakan sepatah kata pun.
"tidak menyangka jika kamu adalah cucu dari grandma,"ujar Philip dengan bersedekap tangan.
"ya sama seperti mu, aku juga tidak menyangka bisa bertemu kembali dengan kalian berdua lagi!."
"datang lah ke rumah, kami sudah cukup lelah dengan pertanyaan dari mami setiap hari nya tentang diri kamu."ujar Reno, ia menatap lekat wajah Tere yang seperti nya memang banyak perubahan pada dirinya,
"jangan menatap ku seperti itu atau aku akan mencongkel kedua bola mata mu itu," ketus Tere, sedangkan sang papa sudah khawatir dengan apa yang di katakan oleh Tere kepada tamu mereka dan akan membuat mereka menjadi marah, tetapi sepertinya pemikiran mereka semua salah dan justru kini mereka melihat Philips dan Reno justru tertawa terpingkal-pingkal mendengar perkataan dari Teresa.
"kamu tidak pernah berubah Tere! tapi itu yang kami suka dari diri kamu dari dulu."ujar Philips, Steve yang mendengar nya menjadi cemburu bahkan ia memegang kuat pundak Tama maupun Leo untuk melampiaskan rasa cemburunya dia.
"katakan apa yang kalian inginkan?" tanya Teresa to the poin, kini wajah nya mulai serius begitu juga dengan Philips dan Reno.
"kami sudah katakan tadi Tere! pulang lah mami sama papi merindukan mu, setiap hari mereka selalu menanyakan kabar kamu, mereka ingin bertemu dengan kamu sebagai ganti rugi tentang perjodohan ini yang ternyata kamu sudah menikah!" jawab Reno dengan jujur, ia sudah cukup lelah saat pulang dari kantor dan langsung mendapatkan pertanyaan tentang Teresa.
"aku akan pulang tapi tidak sekarang ini, aku masih mempunyai urusan yang cukup penting untuk dua hari kedepannya."ujar Tere dengan lembut, bahkan pandangan nya tidak sengaja bertemu dengan Steve dan dengan segera Tere mengalihkan pandangan nya.
"kami akan menunggu kedatangan mu Tere, ayo masuk tidak baik ibu hamil seperti kamu di luar terlalu lama."ujar Philips dengan menarik pelan tangan Teresa dan di ikuti oleh Reno yang berjalan di samping nya .
__ADS_1