
pria itu pun membawa pergi Tere dan memindahkan nya untuk di rawat dalam rumah nya, setelah ia memberikan bukti-bukti bahwa ia adalah keluarga nya baru dokter Sivia mengizinkan nya.
setelah selesai mengurus prosedur rumah sakit, ia membawa bergegas membawa Tere pergi dan akan merawatnya sendiri di rumah. Vero beserta istrinya tidak mengetahui jika Tere di bawa pergi karena mereka tidak menginap di rumah sakit.
pagi harinya
keluarga banedict dan keluarga Alexander tengah di sibukkan dengan rencana mereka yang akan pergi ke Italia bersama Steve dan keluarga Tere,
setelah selesai berkemas mereka bergegas ke bandara tanpa sarapan pagi mereka semua sudah pergi dan membuat penjaga rumah maupun pelayan kebingungan melihat tuan mereka yang terburu-buru.
"ayo dad, Charlotte sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kak Tere." seru charlotte, sedangkan para sepupu nya kebingungan dengan mereka, dan mereka memilih ikut ke Italia untuk melihat secara langsung sosok istri yang selalu mereka banggakan.
"iya sayang, antar kan kami ke bandara." ujar Dady Mike kepada salah satu supir pribadi nya,
mereka pun bergegas untuk ke Bandara, begitu dengan Steve yang tak kalah senang dan sama seperti keluarga nya sendiri, ia tidak sempat sarapan. sedangkan papa derent menggeleng kan kepala melihat sikap putra sahabat nya sekaligus menantu nya,
perjalanan menuju bandara cukup padat pagi ini, bahkan mereka terjebak dalam kemacetan. charlotte mendengus kesal karena kemacetan, mereka sudah pergi sangat pagi tetap saja mereka terjebak kemacetan.
saat mobil mulai berjalan kembali Charlotte sangat senang, ia menatap ke sekeliling nya entah mengapa ia selalu melihat kakak iparnya yang tengah tersenyum ke arah nya,
Steve, papa derent, mama Victoria, dan Greyson telah tiba lebih dulu, karena jarak di antara rumah papa derent tidak terlalu jauh.
papa derent terkejut saat melihat rombongan Mike yang tiba, bahkan saudara-saudara yang lainnya juga ikut.
Steve pun tidak kalah terkejutnya, mereka seperti bukan ingin menjemput Tere pulang tapi seperti keluarga yang ingin melakukan piknik bersama. Steve menghela nafas panjang dan setelah itu masuk ke dalam bandara dan masuk ke tempat khusus pesawat pribadi nya berada.
mereka semua pun masuk kedalam pesawat di dalam perjalanan menuju Italia mereka tertidur pulas karena tadi malam mereka semua tidak bisa tidur hingga pagi tadi, bahkan mereka lupa jika mereka belum sarapan pagi sama sekali.
setelah perjalanan yang panjang kini mereka tiba di Italia, Steve bergegas pergi ke rumah sakit tempat Tere di rawat, begitu juga dengan keluarga yang lainnya. bahkan ada yang mengeluh karena tidak istirahat sama sekali setelah sampai di Italia,
Steve berjalan tergesa-gesa saat masuk ke dalam rumah sakit, ia terkejut saat bertanya kepada resepsionis di rumah sakit yang mengatakan jika Tere sudah di bawa pulang oleh keluarga nya.
papa derent yang mendengar nya juga terkejut, siapa yang sudah membawa putri nya dan mengaku sebagai keluarga putri nya.
__ADS_1
sedangkan Dady Mike menelepon Sivia dokter yang menangani Teresa selama tiga bulan ini,
"hallo Sivia kamu di mana?." tanya Dady Mike dengan to the poin,
"di rumah sakit." jawab dokter Sivia dengan singkat.
"aku sudah berada di rumah sakit tempat mu Bekerja, bisakah kamu menemui ku di lobby rumah sakit."ujar Dady Mike
"baiklah tunggu sebentar." seru dokter Sivia dan mematikan panggilan telepon dari Mike, setelah itu ia keluar dan berjalan menuju ke arah lobby tempat Mike berada.
belum sampai di tempat nya Mike, Sivia sudah mendapatkan tatapan tajam dari teman nya itu,
"dimana menantu ku?." tanya Dady Mike dengan dingin
"dia sudah di jemput oleh keluarga nya Mike dan aku tidak mempunyai hak untuk melarang nya."jawab dokter Sivia dengan jujur, tapi ia di kejutkan oleh seseorang.
"keluarga yang mana, saya orang tua Teresa." seru papa derent dengan menahan emosi nya, ia menatap tajam ke arah dokter yang menangani Teresa selama ini.
"apakah putri saya di rawat di sini bersama dengan seorang pria yang juga terluka?." tanya papa derent dengan merendahkan nada bicara nya.
"iya, dia juga di bawa pergi oleh orang itu. dia mengatakan jika pria yang datang bersama dengan putri anda adalah asisten pribadi putri anda." jawab dokter Sivia dengan jujur, walau sebenarnya ia sangat takut melihat tatapan dari papa derent tapi ia berusaha untuk tetap tenang.
"biarkan saya melihat cctv rumah sakit ini, saya ingin melihat siapa orang yang sudah membawa putri saya."ujar papa derent dengan tegas, dokter Sivia menyetujui permintaan dari papa derent setelah mendapatkan persetujuan dari pemilik rumah sakit, ia membawa mereka ke ruangan khusus memantau cctv.
setelah mencari tanggal dan jam orang itu membawa Teresa pergi, mereka melihat seorang pria dewasa yang memakai pakaian rapi berdiri dan sedang berbincang-bincang dengan salah satu dokter di rumah sakit.
tatapan mata papa derent tidak lepas dari pria itu, papa derent membuang nafas panjang setelah melihat siapa yang membawa putri nya pergi tanpa izin dari nya, ia beralih menatap wajah sang istri yang tengah tersenyum ke arahnya.
"terima kasih, kami permisi." ujar papa derent dan pergi dari ruangan itu, sedang kan yang lainnya masih tidak tahu siapa pria yang membawa Tere pergi dari rumah sakit.
setelah keluar dari rumah sakit, papa derent meminta sang istri untuk menelepon pria tadi. dengan sedikit kesal atas apa yang di lakukan oleh orang itu setidaknya membuat papa derent lega jika putri nya tidak di bawa pergi oleh orang asing.
"sayang, cepat telepon keponakan kamu itu." ujar papa derent, sedangkan yang lainnya terkejut mendengar perkataan dari papa derent.
__ADS_1
"iya," jawab mama Victoria dengan singkat, ia kemudian menelepon keponakan nya dan meminta alamat rumah sekarang. setelah mendapatkan alamatnya mereka semua menuju ke sana dengan naik taksi,
cukup lama perjalanan mereka untuk menemui Tere, dan mereka di kejutkan dengan tempat yang mereka datangi, kecuali keluarga papa derent yang sudah tidak terkejut.
"dimana tuan muda kalian?." tanya papa derent, ingin rasanya ia menghajar satu-satunya keponakan dari istrinya itu. ini bukan yang pertama ia membawa Tere tanpa izin dari mereka.
"tuan sedang berada di dalam tuan besar, silahkan masuk." jawab pelayan itu dengan sopan, mereka juga sudah mengenal baik papa derent.
papa derent segera masuk dan berteriak memanggil nama itu dengan keras, sedangkan sang istri hanya diam. lain hal nya dengan Greyson, Greyson justru langsung duduk di ruang tamu dan menyalakan tv.
"Vincent gristovert" teriakkan papa derent memanggil keponakan nya itu,
"tenang sayang,." ujar mama Victoria mencoba untuk menenangkan sang suami yang tengah kesal terhadap keponakan nya.
"selamat datang kembali aunty ku sayang." seru seseorang yang baru datang, ia merentangkan kedua tangannya yang ingin memeluk tubuh aunty kesayangan nya tapi sudah di halangi oleh papa derent terlebih dahulu.
"kenapa kebiasaan kamu tidak berubah hah? bisa-bisa nya kamu membawa adik kamu pergi tanpa sepengetahuan dari kami." bentak papa derent dan ingin melayangkan pukulan kepada keponakan dari istrinya biar jera,
"sorry uncle, aku tidak tahu jika uncle akan datang ke rumah sakit." ujar Vincent yang bersembunyi di belakang tubuh aunty Victoria.
"bagaimana dengan kabar aunty?." ujar Vincent dan mengabaikan keberadaan semua orang yang berada di sana.
"kabar aunty baik sayang." jawab mama Victoria dan setelah itu ia menarik telinga keponakan nya itu,
"ampun aunty, jangan tarik lagi telinga ku. bisa putus nanti aunty." seru Vincent yang merasakan sakit di telinga nya,
"kebiasaan kamu ya." seru mama Victoria yang masih tidak melepaskan tangannya dari telinga Vincent.
"maaf aunty, apa aunty ingin melihat adik?." ujar Vincent dengan mencoba mengalihkan perhatian aunty nya ke Teresa.
"dimana adik kamu?." jawab mama Victoria dengan melepaskan tangannya, Vincent bernafas lega setelah aunty nya melepaskan telinga' nya.
"di kamar aunty, tapi keadaan belum juga membaik." ujar nya pelan, ia tidak ingin membuat aunty nya terkejut mendengar perkataan nya.
__ADS_1