
Setelah kepergian Tere, sang papa yang masih khawatir dengan kondisi tubuh Teresa, sedikit murung. apakah putri nya tidak bahagia, apalagi Tere dan Samuel tidak menegur sapa.
"ada apa uncle?." tanya Tama yang melihat kekhawatiran di wajah uncle nya.
"uncle hanya khawatir dengan kondisi Teresa, Tama. dia sangat pucat tadi!." ujar papa derent yang merasa tidak tenang sejak tadi.
"Tere, bukan anak kecil lagi uncle! aku yakin jika Tere akan baik-baik saja" jawab Tama yang mencoba menenangkan uncle nya.
"hmm"
Tama melihat sekilas ke arah Charlotte, yang sedang mengobrol dengan mommy nya.
hari pun berganti namun masih belum ada kabar dari Tere, dan itu membuat sang papa bertambah khawatir, Tama yang melihat kekhawatiran di wajah uncle juga ikut khawatir. tidak biasanya sepupunya itu tidak memberikan kabar sama sekali.
"Tama?."panggil Charlotte yang tidur di samping nya.
"ada apa sayang, hmm!." tanya Tama dengan menatap wajah Charlotte di depan nya. Tama mendekatkan bi*br nya ke BI*br nya Charlotte.
Tama mencium bi*br Charlotte dengan rakus, dan ia menindih tubuh Charlotte. kini ciuman itu beralih ke leher jenjang Charlotte, dengan nada serak Tama berkata sesuatu kepada sang istri.
"sayang, aku tidak bisa menahan nya lagi, aku ingin memiliki mu seutuhnya sayang." ujar Tama dengan menatap wajah Charlotte yang sedang berada di bawah nya.
charlotte yang tidak tega melihat Tama seperti menahan sesuatu, akhirnya nya ia mengangguk pulan.setelah mendapat kan persetujuan dari sang istri, Tama sangat senang.
"aku akan pelan-pelan melakukan nya." ujar Tama saat melihat sedikit rasa ketakutan di dalam diri sang istri.
__ADS_1
kini mereka pun sama-sama sudah polos, Tama melihat setiap inci tu*buh sang istri yang begitu menggoda. Charlotte yang melihat tatapan mata Tama menjadi malu.
"jangan menatap ku seperti itu!."ujar Charlotte pelan, namun masih bisa di dengar baik oleh Tama.
tak ingin lama-lama Tama pun melancarkan aksinya, dan mencium setiap inci di tubuh Charlotte. pelan namun pasti Tama melakukan penyatuan nya.
"argggghh"
teriakkan Charlotte yang merasakan bagian bawah nya sangat sakit. saat ada yang memaksa masuk ke dalam inti nya.
"Tama, ini sangat sakit." ujar Charlotte dengan mencekam kuat selimut nya. Tama pun mendiamkan nya sebentar, saat Charlotte sudah sedikit tenang, Tama pun memompa dengan sangat cepat, lenguhan panjang terdengar merdu di telinga Tama.
"akhh, ini benar-benar nikmat sayang." sela Tama dengan aktivitas nya.
"akhh"
Tama berbaring dan menarik Charlotte di pelukannya, mereka sangat kelelahan dan tidak membutuhkan waktu lama mereka pun tertidur pulas.
KEESOKAN HARINYA
Tere yang masih belum memberikan kabar sama sekali kepada orang tua nya, membuatnya mereka khawatir. bukan hanya keluarga nya yang khawatir, namun juga seluruh keluarga Steve dan uncle nya.
drt drt drt
"hallo"ujar papa derent dengan seseorang di sebrang telefon genggam nya. papa yang mendapatkan telepon pun menjadi tegang, setelah di matikan dia berteriak memanggil istri dan putra nya.
__ADS_1
"kenapa kamu harus berteriak papa nya teresa! apa yang terjadi."tanya mama Victoria, namun tak ada jawaban dan hanya bisa mengikuti sang suami dari belakang, karena sang suami menarik tangan nya. sedangkan yang lainnya menatap heran dengan sikap derent.
di suatu tempat Steve yang sedang menemani seseorang tidak memperdulikan panggilan telepon dari orang tuanya maupun sang istri.
"lebih baik kamu mengangkat nya Steve, mungkin itu penting?." ujar seorang perempuan yang bersama dengan Steve.
"ini tidak penting."jawab Steve dengan tegas, dan tanpa ada penyesalan di diri nya.
Setelah sampai di rumah sakit, papa derent menuju ke ruangan yang di tempati oleh sang putri. setelah sampai di sana, derent sangat marah karena mendengar perkataan dari sang suster, jika suami putri nya menolak panggilan telepon dari nya.sedangkan mama Victoria berusaha untuk menenangkan sang suami.
setelah kepergian keluarga Tere, mereka masih sangat penasaran tentang sikap derent yang tiba-tiba meninggal kan mereka begitu saja tanpa ada nya suara.
papa derent terus menemani sang putri yang masih belum sadar, ia sangat sedih melihat kondisi tubuh sang putri yang penuh dengan luka.
"emhh"
"Tere, akhirnya kamu sadar sayang."ujar papa derent yang sangat senang melihat sang putri sudah siuman, dan segera memanggil dokter untuk perusahaan nya.
"kamu sedang mencari siapa sayang!." tanya papa derent yang melihat sang putri sedang mencari seseorang.walaupun ia tahu jika sang putri sedang mencari keberadaan sang suami.
"tidak ada pa?." ujar Tere dengan wajah sendu, Steve benar-benar sudah tidak memperhatikan nya lagi.
keesokan harinya
"pa! papa datang saja ke ulang tahun perusahaan ku, Tere akan baik-baik saja disini?." bujuk Tere kepada sang papa.
__ADS_1
"baiklah, papa akan datang. papa pergi dulu ya?" ujar papa derent dengan mencium kening sang putri, selepas kepergian orang tua Tere bergegas untuk mengganti pakaian nya.