Perjodohan Masa Kecil

Perjodohan Masa Kecil
bab 80


__ADS_3

Vincent kembali memeluk Teresa, derent membiarkan nya karena memang putri nya ini akan membantah perintah ataupun perkataan nya tapi tetap Tere lakukan. dan yang hanya bisa mengontrol keras kepala putrinya dari kecil hanya keponakan nya saja karena mereka sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah.


"sayang, bukan nya tadi kamu ingin makan sesuatu ya! kenapa papa tidak melihat makanan satupun yang kamu bawa?"tanya papa derent,


"tidak jadi pa, setelah sampai di sana Tere tidak selera lagi."


"apa yang ingin kamu makan sayang? biar papa yang buat kan untuk mu." tanya papa derent, tapi Tere menggelengkan kepalanya,


"Tere mau tidur saja pa! papa temani Tere ya,"


"baiklah, papa akan menemani kamu atau mau papa ceritakan dongeng sebelum tidur untuk mu sayang?"ujar papa derent seraya bercanda, Tere yang mendengar nya melotot tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh papa nya.


"Tere bukan anak kecil pa!"seru Tere dengan nada kesal, bisa-bisa nya papa nya menganggap dirinya anak kecil. "bahkan dari kecil Tere paling malas mendengar cerita dongeng sebelum tidur."


"siapa tahu saja kamu mau papa menceritakan dongeng, iya kan Vincent!"ujar papa derent dengan beralih menatap kearah keponakan nya yang tengah menahan tawanya agar tidak pecah,


"tentu saja uncle, nanti biar Vincent yang mengantarkan buku cerita nya ke kamar Teresa."jawab Vincent dan justru membuat Tere semakin kesal, ia menginjak kuat kaki Vincent hingga membuat nya Meringis. adiknya ini memang pantang di ajak bercanda,


"huh, emang enak."decak Tere dengan kesal dan menatap tajam ke arah Vincent yang tengah menunduk untuk mengecek kaki yang ia injak tadi.


Vincent menggelengkan kepalanya melihat kepergian sang adik, papa derent tersenyum puas melihat keponakan nya yang sedang kesakitan karena putri nya.


Tere berdiri di balkon melihat pemandangan kota di malam hari, ia menghela nafas berat saat mengingat pertemuan nya dengan varo tadi, sebelum kecelakaan mereka memang sempat bertemu tapi varo tidak mengatakan apa-apa kepada nya jika ia sudah menikah.


"aku tidak membenci mu tapi aku kecewa kepada mu varo! kenapa kamu tidak jujur saja kepada ku, kenapa kamu lebih memilih pergi begitu saja dan meninggalkan luka yang mendalam untuk ku? tapi aku senang melihat mu bahagia bersama dengan nya."

__ADS_1


"semoga kita selalu bahagia bersama pasangan kita masing-masing,"gumam Tere, dia tersenyum lebar saat melihat wajah cemburu suami nya tadi, ia memang tidak bisa marah kepada Steve tapi dia juga harus bisa untuk tidak membuat suami nya itu jera.


"hmm bagaimana dengan reaksi Steve besok ya? sepertinya aku sudah berbuat dosa karena sudah membuatnya cemburu dan marah, tapi sungguh menyenangkan melihat nya cemburu.


entah karena apa aku tidak bisa marah kepada mu, bahkan aku berharap jika kamu yang menemani ku malam ini." gumam Tere pelan, ia memperhatikan jalan dan tersenyum kecil. ia sangat bahagia saat tinggal di rumah tempat ia di besarkan dulu,


banyak kenangan di rumah ini dengan keluarga nya,


"sudah lama aku tidak pulang dan ternyata masih sama seperti dulu, apa grandpa dan grandma sudah bahagia di sana? Tere di sini masih berusaha untuk membuat perusahaan papa semakin maju, tolong doa kan Tere supaya berhasil di setiap perjalanan kehidupan Tere saat ini!" saat Tere tengah melamun, ia di kejutkan oleh seseorang yang memeluknya dari belakang.


"apa yang sedang kamu lihat sayang?"tanya orang itu yang tidak lain adalah Steve, ia memeluk tubuh Tere dengan erat dengan mencium leher sang istri.


"pemandangan kota di malam hari." jawab Tere dengan tersenyum kecil, Steve sangat bahagia istri nya sudah mau berbicara dengan nya dan bahkan Tere juga tidak menolak saat dirinya memeluk nya.


"aku ingin mengajak mu ke suatu tempat besok"


"besok kamu juga akan tahu sayang," jawab Steve yang membawa tere kedalam pelukannya dan tanpa mereka sadari ada beberapa sepasang mata yang melihat mereka berdua yang sedang berpelukan dan bahkan ada yang mengabadikan momen itu untuk di jadikan sebagai kenangan.


"hmm, Steve."panggil Tere dengan suara lembut, ia bahkan mendusel-duselkan wajah nya di dada bidang Steve.


"ada apa sayang?" tanya Steve yang semakin erat memeluk tubuh Teresa dan bahkan ia membiarkan saja apa yang sedang di lakukan oleh istri nya saat ini.


"kamu belum mandi kan,"tanya Tere dengan menatap lekat wajah Steve, hancur sudah momen romantis nya karena pertanyaan dari sang istri.


sedangkan yang tengah menguping pembicaraan mereka berdua sedang menahan ketawa agar tidak ketahuan jika mereka sedang mencuri dengar.

__ADS_1


"kenapa memangnya?" tanya Steve dengan menjajarkan tubuh nya dengan Tere.


"pantas saja bau, sana pergi."seru Tere seraya mengusir Steve dengan lambaian tangan nya,


"hmm, besok saja" jawab Steve spontan dan membuat Tere melotot kearah nya.


"dasar jorok, sana mandi dulu! aku jadi ikutan kotor karena mu."gerutu Tere


"masa sih bau sayang, perasaan wangi." ujar Steve yang tersenyum lebar melihat reaksi dari Tere,


bukannya menjauh dari Tere Steve justru berjalan menuju sang istri, Tere yang melihat nya berjalan mundur.


"Steve, berhenti! sana mandi dulu," perintah Tere sambil menghindari Steve.


"aku akan mandi tapi bersama dengan kamu!" jawab Steve dengan mempercepat langkah nya, dan terjadilah aksi kejar-kejaran di dalam kamar Tere malam ini.


"Steve menjauh dari ku, kamu kotor dan bau." seru tere yang masih menghindari Steve yang tengah mengejar nya, Tere berhenti sejenak untuk menarik nafas dalam-dalam. Steve yang melihat segera menarik Tere ke dalam pelukan nya kembali,


"aku benar-benar merindukan mu sayang." bisik Steve dengan lirih, Tere yang mendengar nya terdiam. ia merasakan seperti ada air yang menetes ke bahu nya dan ia berusaha mendongak kan kepalanya untuk melihat Steve yang ternyata tengah menangis di dalam pelukannya.


"maafkan aku sayang, aku tahu aku salah,


tolong maafkan aku! berikan aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya, jangan tinggalkan aku sayang. aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa mu,"


"kamu pembohong besar Steve, bukan kah kamu berniat untuk menikahi perempuan itu."seru Tere, ia memegang kedua pipi suaminya.

__ADS_1


"karena aku tidak punya pilihan lain sayang."jawab Steve, Tere yang mendengar nya mendengus kesal.


"mandilah dulu, aku ingin istirahat."ujar Tere sambil mencium pipi Steve secepat kilat dan pergi meninggalkan Steve yang tengah terpaku oleh perlakuan dari Tere.


__ADS_2