
kini mereka sudah tiba di rumah sakit, Charlotte terus menggenggam tangan sang kakak begitu juga dengan mommy nya yang sedang menggenggam tangan putra nya di sisi lain.
sampai di rumah sakit Steve segera di masukkan ke dalam ruangan ICU, mau tidak mau Charlotte melepaskan genggaman tangan nya dari sang kakak.
Charlotte sendiri tidak bisa fokus pada orang yang berada di sekitarnya, ia memandang pintu yang tertutup rapat dengan perasaan yang familiar, ia seperti bernostalgia dengan keadaan. Charlotte tersenyum getir dan menundukkan kepalanya saat ia mengingat sang kakek yang dalam posisi seperti kakak saat ini.
Reyhard mendekati derent yang tengah memejamkan matanya, mereka juga ikut pergi ke rumah sakit. bagaimana pun mereka masih ada hubungan, Reyhard duduk di samping derent dan memandang wajah sang kakak yang seperti nya banyak beban.
"kenapa kakak membunuhnya tadi? kita bisa memasukkan nya ke dalam penjara." tanya Dady Reyhard dengan hati-hati, ia tidak ingin membuat kakak nya tidak nyaman dengan nya. derent yang mendengar pertanyaan dari Reyhard, menatap tajam ke arah adik nya itu dengan dingin.
"sudah cukup aku membiarkan nya, jika kamu berada di posisi ku saat ini, apa yang akan kamu lakukan Reyhard?" jawab papa derent dengan dingin dan berwajah datar menatap wajah Dady Reyhard. "kamu bisa bicara seperti ini karena kamu tidak merasakan bagaimana kehilangan seorang anak Reyhard, kedua putra mu tumbuh dengan kasih sayang seorang kakek dan nenek mereka tapi tidak dengan Tere. lalu apa yang kamu mengerti tentang keluarga ku." imbuh nya, putri nya tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua nya dulu, karena mereka lebih menyukai seorang putra dari pada seorang putri.
bahkan hari-hari ulang tahun sang putri, mereka juga tidak datang dan memberikan selamat untuk putrinya dulu. Tere selalu memaksakan senyuman nya saat ia bersama dengan keluarga yang lainnya, walau ia di abaikan oleh kakek dan nenek nya dari pihak papa nya namun Tere tetap diam saja.
dan inilah alasan papa derent mengubah nama belakang keluarganya menjadi nama keluarga sang istri, setidaknya Tere bisa merasakan kasih sayang dari sang kakek dari pihak ibu walau hanya sebentar saja.
Dady Reyhard yang mendengar nya terdiam begitu juga dengan Tama, Reyhard sangat tahu jika kedua orang tuanya dulu sangat tidak menyukai putri sang kakak dan alasan inilah membuat hubungan mereka sempat merenggang.
bahkan kakak nya saat ini memakai nama marga kakak iparnya, derent berdiri dan berjalan ke arah Mike yang tengah duduk di samping putri dan istrinya.
__ADS_1
"maaf aku tidak bisa berlama-lama di sini, kami harus kembali ke new York untuk pengobatan Greyson." ujar papa derent, walaupun ia masih kesal dengan Mike dan juga putra nya tapi ia tetap bersikap biasa.
"apa tidak bisa berobat di sini saja derent? kamu juga baru berkumpul kembali dengan adik kamu, lagi pula Tere juga masih belum bisa di temukan." bujuk Dady Mike, ia sendiri merasa bersalah karena kejadian ini membuat sahabatnya harus kehilangan putri nya.
"tidak Mike, tempat ini memberikan luka yang mendalam bagi kami semua terlebih lagi untuk Greyson. jika kami merindukan Tere, kami bisa kembali lagi ke sini," ujar papa derent dengan menggeleng kan kepala nya, kemudian ia beralih menatap wajah putra nya yang tengah menunduk.
"jika kami tetap di sini, aku khawatir dengan kondisi Greyson. setidaknya saat di sana ia bisa melupakan sedikit demi sedikit kejadian yang menimpa sang kakak."imbuh nya, ia sungguh tidak ingin berada di kota di mana putri nya menghilang dalam kecelakaan.
terlebih lagi kondisi putra dan istrinya yang cukup mengkhawatirkan saat ini.
"Dady, uncle." sapa Leo yang baru datang bersama dengan istrinya, walau ia kecewa dengan Steve tapi ia tetap sahabatnya. ia menyamping kan marah nya.
"Leo pergi jemput grandpa dad,"jawaban dari Leo membuat papa derent terdiam saat melihat sesosok pria paruh baya di belakang tubuh keponakan nya, dengan cepat ia menarik putra dan istrinya untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Mike, kami pergi dulu." pamit papa derent dan segera membawa keluarga kecil nya pergi dari tempat itu, dan membiarkan mereka memandang dengan tatapan yang berbeda-beda.
Leo yang melihat reaksi paman nya seperti itu sudah tidak lagi terkejut, pasalnya uncle dan grandpa nya memang mempunyai selisih dari dulu. Leo memandang wajah Dady Reyhard dengan tatapan memohon agar Dady nya mencegah uncle nya untuk pergi, namun sang Dady memberikan gelengan kepala sebagai jawaban.
"derent bagaimana dengan kabar mu nak?" tanya pria paruh baya itu tidak lain adalah orang tua nya papa derent dan Dady Reyhard.
__ADS_1
"seperti yang anda lihat tuan Alexander!" jawab papa derent dengan dingin, menatap datar ke arah orang tuanya yang cukup membuat nya sakit hati atas perlakuan nya terhadap putrinya dulu.
"apa kamu masih marah kepada papa?." tanya nya dengan lirih, ia aku memang salah karena sudah tidak menganggap cucu perempuan nya sebagai cucunya. hanya karena hal kecil ia meragukan cucu perempuan nya dulu dan itu membuatnya menyesal setelah mengetahui kebenaran nya.
"untuk apa saya marah? itu tidak penting untuk ku, maaf saya permisi."ujar papa derent yang ingin segera pergi dari sana namun lagi-lagi langkah nya terhenti oleh Leo yang menghalanginya.
"menyingkir lah Leo, uncle tidak ingin menggunakan kekerasan kepada mu?." ujar papa derent tegas, ia menatap tajam ke arah Leo yang sekarang sedang berdiri di depan nya.
"no uncle, bagaimana bisa uncle meninggalkan kami lagi? Leo mohon tetap lah tinggal di sini uncle." jawab Leo dengan memohon agar sang uncle tidak pergi lagi, mereka baru saja bisa berkumpul seperti dulu lagi.dan Leo tidak akan membiarkan mereka terpisah lagi.
"pa, Greyson tidak mau pulang ke new York pa! Greyson mau tinggal di sini saja." ujar Greyson yang masih enggan untuk melepaskan pelukannya dari papa derent, ia tidak ingin meninggalkan tempat yang sekarang mereka tinggali.
"tapi grey, kamu tidak akan bisa cepat sembuh jika tetap berada disini! dan lihatlah mama kamu sayang, ia juga sedih setiap berada di rumah." jawab papa derent dengan berjongkok di hadapan putra nya, ia tidak ingin memperlambat proses kesembuhan putra nya yang tengah mengalami trauma.
"kalau begitu kita pindah saja pa, dari rumah itu, dan mencari tempat tinggal yang lainnya. Greyson mohon pa!"ujar Greyson
"baiklah, papa akan menuruti kemauan mu untuk kali ini. kita akan mencari tempat baru yang jauh dari tempat itu." jawab papa derent dan di angguki Greyson dengan sangat bahagia, tapi papa derent tetap berusaha pergi dari keluarga nya yang lainnya.
"ayo kita pulang sayang." ujar nya lagi dengan menggandeng tangan istri dan anak nya dengan erat. Leo tidak bisa menghalangi jalan uncle nya lagi, jika iya tetap memaksa uncle derent tetap berada di sana. iya yakin akan membuat nya semakin tidak nyaman dengan mereka dan Mungin akan membuat uncle nya berubah pikiran dan tetap akan pindah dari Jerman.
__ADS_1