
"tere" teriak derent, saat melihat sang putri pingsan di dekat kamar putri nya sendiri,
"ada apa uncle?"
"Vincent, cepat hubungi dokter." derent mengatakan nya dengan nada khawatir, Steve segera membawa Teresa masuk ke dalam kamar mereka.
setelah dokter datang, ia segera memeriksa kondisi Tere, kondisi tubuh nya kembali drop.
"bagaimana dengan keadaan putri saya dokter?" tanya papa derent dengan cemas, ia tidak bisa berhenti menatap wajah sang putri yang saat ini tengah terbaring di atas ranjang nya.
"keadaan putri anda masih sama seperti yang saya katakan sebelumnya tuan, untuk sementara waktu jangan biarkan putri anda melakukan aktivitas dulu, apalagi kaki nya yang baru saja pulih."
"saya akan memberikan resep obat dan mohon untuk segera membelinya, setelah nona Tere bangun anda bisa memberikan nya."
"terima kasih dokter."
"sama-sama tuan, kalau begitu saya permisi."
Vincent yang melihat keadaan Tere yang semakin drop mengurungkan niatnya untuk mengirim nya pulang ke Jerman lagi, ia rasa adik nya lebih baik tinggal bersama nya sementara waktu sampai Teresa sembuh total.
"kenapa kamu harus menahan rasa sakit mu sendirian sayang? tidak bisakah kamu membaginya dengan ku."batin Steve, ia sedari tadi terus memegang tangan Tere, bahkan saat dokter memeriksa kondisi sang istri ia tidak melepaskan genggaman nya.
"Steve, papa titipkan Tere kepada mu. jika ada apa-apa segera panggil papa." ujar derent, ia tidak tega untuk meminta Steve untuk tidur di kamar lainnya.
"iya pa."
setelah semua orang pergi meninggalkan Steve berdua dengan Tere, ia memegang kuat tangan teresa.rasa takut kehilangan Teresa, kembali menghantuinya.
Saat Steve sudah terlelap dalam tidurnya, Tere terbangun dari pingsan nya. ia mencoba untuk bangun tapi tubuhnya terasa berat apalagi di perut nya seperti ada seseorang yang sedang memeluk nya dengan sangat erat.
__ADS_1
Tere mencoba untuk melepaskan pelukan nya Steve dengan sangat hati-hati, tapi ia mengurungkan niatnya saat tangan Steve semakin mempererat pelukannya.
"mau kemana sayang?"tanya Steve dengan mata yang tertutup,
"mau ke dapur." jawab Tere dengan cepat, bahkan ia masih berusaha untuk melepaskan pelukan tangan Steve, bukannya terlepas justru Steve menarik nya dalam dekapan nya.
"mau ngapain?"tanya Steve yang masih memejamkan matanya,
"ambil makanan."jawab Tere dengan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Steve, Steve yang mendengar nya pun membuka matanya dan menatap wajah istrinya.
"biar aku saja! kamu mau makan apa?"seru Steve seraya bertanya, ia melepaskan pelukan nya dan segera duduk.
"eumm, aku mau ambil sendiri."
"ya sudah, ayo." ujar Steve seraya menggendong Tere ala bridal style, Tere yang tiba-tiba di gendong oleh Steve terkejut dan segera melingkarkan tangannya di leher Steve.
"aku bisa jalan sendiri!"seru Tere tapi tidak di gubris oleh Steve, Tere diam saja saat suaminya tidak menuruti kemauan nya.
setelah selesai makan Tere dan Steve kembali ke kamar mereka, Steve segera mengunci pintu kamarnya agar Tere tidak bisa pergi keluar dari dalam kamar mereka saat ini.
keesokan harinya
semua keluarga sudah berkumpul di meja makan dan tinggal Steve dan Tere saja yang belum juga turun, Vincent menghela nafas berat, biasanya adiknya tidak pernah telat untuk turun untuk sarapan pagi.
derent yang mendengar suara dari arah tangga pun menoleh dan mendapati putri dan menantunya sedang berjalan menuju mereka.
tatapan mata mereka tertuju pada Tere yang duduk di kursi roda dengan ekspresi wajah kesalnya.
"pagi sayang."ujar papa derent dengan tersenyum kecil, sedangkan Tere sepertinya masih kesal karena tidak di perbolehkan berjalan sendiri.
__ADS_1
"Nile, tolong ambilkan sandwich untuk ku." seperti nya Tere lupa jika Nile berada di rumah sakit dan sebentar lagi juga akan berhenti bekerja dengan nya, semua orang terkejut saat Tere memanggil nama Nile di depan mereka.
"sayang,apa kamu lupa jika Nile di rumah sakit saat ingin kembali ke Jerman?" tanya papa derent dengan menaikkan satu alisnya, sedangkan Tere yang mendengar nya pun tersenyum kecut, ia memang lupa dengan Nile yang sudah tidak bekerja lagi dengan nya.
"biar mama ambilkan."ujar mama Victoria, ia sempat terkejut melihat ekspresi wajah putrinya yang tiba-tiba berubah.
"tidak perlu ma, Tere sudah tidak lapar." sudah terbiasa dengan Nile di sisi nya, kini ia juga harus terbiasa tanpa Nile di samping nya. Tere menggerakkan kursi roda nya dan pergi dari tempat nya.
"derent." panggil mama Victoria, ia menjadi khawatir dengan putri nya.
"tidak apa-apa, Tere akan terbiasa tanpa Nile. Tere hanya butuh Waktu untuk membiasakan dirinya tanpa Nile."ujar papa derent, ia kembali melihat ke arah pintu.mereka menyelesaikan sarapan pagi mereka tanpa Tere, tidak lupa Vincent meminta pelayan untuk menyiapkan makanan untuk Teresa.
"huff, siapa yang harus mengganti kan mu sekarang."gumam Tere dengan pelan, akan sangat sulit baginya mencari asisten pribadi seperti Nile.
"makan dulu!" seru Vincent yang sudah berdiri di belakang Tere entah sejak kapan, Tere mendongak ke atas untuk melihat wajah kakak sepupu nya.
"aku belum lapar kak!"
"jangan menyiksa diri sendiri Tere, kamu tidak sendiri sekarang dan ada yang harus kamu jaga saat ini."Vincent mengatakan nya dengan lembut sambil duduk di samping Tere, ia menatap wajah Tere yang seperti nya sedang memikirkan sesuatu. sedangkan Tere yang mendengar nya menundukkan kepalanya dan memegang perutnya,
Vincent tersenyum kecil saat melihat Tere yang sedang memegang perut nya sendiri, dan tidak lupa ia menyodorkan sendok yang sudah terisi dengan makanan.
"aku bisa sendiri kak!"
"makanlah dan jangan banyak bicara." kata Vincent yang tidak mungkin mendengar penolakan dari sang adik, sedangkan Tere menerima suapan dari sang kakak, dan ini membuatnya teringat kejadian yang menimpa nya yang harus di rawat oleh sang kakak seperti saat ini.
dari kejauhan tampak Steve yang mengulum senyum saat melihat Tere yang sudah memakan makanan nya,
"ada apa?" tanya Tama dengan menepuk pundak sahabatnya, Steve menoleh ke arah Tama dan kembali menatap ke arah Tere yang tengah makan.
__ADS_1
"tidak ada," jawab Steve tanpa mengalihkan pandangan nya,