
"kamu harus bertahan sayang, apa kamu tidak kasihan melihat suami mu yang seperti saat ini."batin papa derent, mereka duduk di kursi menunggu sedang kan Vincent sedang mencari informasi tentang dokter yang dulu pernah menangani Tere.
"bagaimana keadaan Tere, dokter?"tanya Steve saat melihat sang dokter keluar dari dalam Ruangan tersebut.
"tuan Steve, sepertinya istrinya anda tidak ingin meninggalkan anda. selamat nona Tere berhasil melewati masa kritis nya dan tadi ia juga sempat memanggil nama anda."ujar dokter yang menangani Tere, baru kali ini ia bertemu dengan pasien yang memiliki tujuan hidup yang kuat bahkan di dalam kondisi kritis sekaligus.
"apa ini benar dokter?"tanya Steve dengan wajah yang bahagia.
"iya tuan, kita hanya bisa menunggu nona Tere sadar dari koma nya."ujar dokter
"apa saya boleh masuk dokter?"
"tentu saja boleh, tapi harus bergantian ."jawab dokter itu dan berpamitan pergi, Steve meminta kedua orang tua sang istri yang pertama untuk melihat keadaan Tere.
Steve berjalan menuju ruangan tempat putra nya di rawat, bahkan wajah putra nya juga sudah tidak terlihat pucat.
"terima kasih sayang, kalian sudah mau bertahan untuk ku."gumam Steve, papa derent yang melihat Steve sedang berdiri di ruangan khusus bayi segera menghampiri nya. ia juga sangat penasaran tentang cucu pertama nya.
"kamu masuklah ke ruangan Tere, biar papa dan mama yang menjaga di sini."ujar papa derent yang melihat wajah sang cucu yang memiliki kemiripan dengan putri nya.
"jangan lupakan Greyson pa, Greyson juga akan menjaga keponakan kecil Greyson!"seru Greyson dengan kesal, sedangkan ketiga orang dewasa itu tertawa kecil mendengar perkataan dari Greyson.
"Steve, tinggal dulu pa, ma, grey tolong jaga keponakan kamu ya."
"oke kak."ujar Greyson dengan semangat.
__ADS_1
"hai sayang"sapa Steve yang sudah berada di dalam ruangan pasien, Steve mencium kening Tere sangat lama.
"terima kasih sayang, karena kamu sudah mau bertahan untuk ku."ujar Steve sambil mengusap pipi sang istri, badan istrinya semakin lama semakin kurus jika di lihat dengan seksama.
Tere merespon perkataan Steve dengan menggerakkan jemari tangan nya, Steve tersenyum lebar saat melihat istrinya memberikan respon saat ia berbicara dengan nya.
"cepatlah bangun sayang, aku ingin memberikan sebuah kejutan untuk mu."bisik Steve tepat di telinga Tere, Steve kembali tersenyum saat mendapatkan respon kembali Dali Tere. Steve dengan hati-hati naik ke atas brankar pasien dan merebahkan tubuhnya sejajar dengan Tere sambil memeluk tubuh istrinya.
"aku benar-benar merindukan mu sayang."gumam Steve yang pada akhirnya ia tertidur pulas di samping Tere. saat papa derent ingin masuk ke ruangan putri nya ia terkejut saat melihat Steve yang ikut berbaring di atas ranjang pasien itu.
ia kembali keluar dan menemui sang istri yang masih di depan ruangan cucu mereka, mama Victoria tersenyum kecil saat melihat wajah cucu nya benar-benar mirip dengan Tere.
"semoga kamu tidak mewarisi sifat kenakalan mama kamu ya sayang."batin mama Victoria.
"kamu benar sayang, tapi aku berharap kenakalan Tere waktu kecil tidak pernah menurun kepada putra nya, atau kita akan dalam keadaan yang mengenaskan nantinya." jawab mama Victoria dengan tertawa kecil,
"haha... kamu benar sayang, Tere waktu kecil sangat nakal dan juga aktif, bahkan ia tidak bisa diam saat makan."timpal papa derent yang mengingat kembali masa kecil Tere, kehadiran cucu pertama mereka membuat mereka menjadi ingat tentang Tere waktu kecil.
"lebih baik kita hubungi Vincent. sayang, supaya ia membawa Greyson kembali, aku tidak tega melihatnya tidur di rumah sakit." ujar mama Victoria dengan menatap wajah putra mereka yang sedang tertidur di kursi tunggu.
"kamu tahu kan sayang, Greyson juga sangat keras kepala jika sudah menyangkut tentang kakaknya, biarkan saja dia di sini dan aku akan meminta pihak rumah sakit untuk menyiapkan sebuah ruangan untuk kita istirahat."ujar papa derent, mama Victoria mengangguk kan kepala nya setuju.
sudah satu Minggu sudah keluarga papa derent berada di Itali, bahkan kondisi cucu mereka juga semakin membaik dan juga sudah sadar dari koma nya juga, sedangkan sang ibu nya masih betah dengan tidur lama nya itu.
Steve keluar dari dalam kamar Tere dan berjalan menuju ke arah tempat putra mereka di rawat.
__ADS_1
"Steve, kamu sudah datang rupanya." ujar mama Victoria yang asyik menggendong cucu nya itu, Steve sendiri belum memberikan sebuah nama karena ia masih menunggu Tere yang memberikan nama untuk putra pertama mereka.
"papa, mama dan Greyson keruangan Tere sebentar."timpal papa derent, mama Victoria memberikan cucunya kepada sang ayah.
Steve tersenyum lebar melihat sang putra di dalam gendongan nya, kebahagiaan nya akan lengkap jika sang istri bangun dari koma nya.
karena hari sudah malam Steve kembali menemani sang istri yang masih betah tidur itu, hati ini cukup membuat nya bahagia bisa bermain dengan putra mereka. Steve merebahkan tubuhnya di samping Tere sambil memeluk nya dan tidak butuh waktu lama ia tertidur pulas.
saat Steve sudah terlelap dalam tidurnya tiba-tiba saja Tere bangun dan membuka matanya dengan perlahan untuk menyesuaikan pencahayaan lampu yang berada di ruangan itu, ia baru menyadari jika ada seseorang yang sedang memeluknya dan mendapati Steve yang tertidur di samping nya.
Steve yang merasakan ada pergerakan kecil segera membuka matanya lebar-lebar saat melihat sang istri yang sedang berusaha untuk melepaskan pelukan nya, Steve menggeleng kan kepala nya dengan cepat.
"apa ini mimpi?" batin Steve bertanya-tanya dan masih membiarkan Tere berusaha untuk melepaskan pelukan nya, Tere menyerah dan terkejut saat melihat Steve sudah bangun dan sedang menatapnya.
Steve mencubit pipi Tere dengan pelan dan membuat sang empunya mengaduh kesakitan.
"aduh sakit, kenapa malah mencubit ku?"tanya Tere dengan kesal, Steve yang mendengar suara Tere segera memeluk tubuh sang istri dengan kuat.
"kamu bangun sayang, aku sangat merindukanmu sayang."ujar Steve sambil mencium seluruh wajah Tere, Tere tersenyum kecil mendengar nya.
Steve segera bangun dan memanggil dokter, papa dan mama Tere sangat terkejut saat melihat dokter yang berlarian menuju ke arah tempat Tere di rawat.
papa derent memutuskan untuk pergi ke ruangan sang putri ia takut jika terjadi sesuatu kepada Tere, saat masuk betapa terkejutnya ia saat melihat Tere yang sudah sadar.
"sayang"panggil papa derent dan segera menuju ke arah putri nya dan memeluknya sangat erat.
__ADS_1