Perjodohan Masa Kecil

Perjodohan Masa Kecil
bab 92


__ADS_3

Tere dan keluarga nya berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk Nile, Nile terkejut melihat kedatangan Tere yang memakai kursi roda lagi.


keluarga Nile sama terkejut nya melihat kedatangan keluarga atasan putra mereka, Tere tersenyum lebar ke arah keluarga Nile dan sepertinya mereka tidak secuek kemarin.


"apa anda baik-baik saja nona? kenapa anda memakai kursi roda kembali?"tanya Nile, kemarin-kemarin Tere sudah bisa berjalan dan sekarang kenapa kembali duduk di kursi roda lagi.


"aku baik-baik saja Nile, dokter meminta ku untuk memakai kursi roda lagi untuk sementara waktu ini." jawab Tere dengan berbohong, jika dia memberitahu yang sebenarnya sudah bisa di pastikan dia akan menolak pergi bersama dengan keluarga nya.


"bagaimana dengan keadaan mu sekarang Nile?"tanya papa derent


"sudah lebih baik tuan,"


"Tere mengatakan jika kamu akan menikah apa itu benar?"


"itu benar tuan, mungkin beberapa bulan lagi." jawab Nile, ia kembali menatap ke arah Tere yang terlihat pucat, sebenarnya ia ingin bertanya lebih tapi ia urungkan.


adiknya Nile melihat kakak menjadi semangat lagi setelah kedatangan Tere, mungkin memang benar mereka sudah terbiasa bersama dan susah bagi mereka untuk melupakan satu sama lain.


"nona Teresa, kita bertemu lagi."


"iya, senang bisa bertemu dengan mu lagi."


keluarga Tere dan Nile sedang asyik berbincang-bincang, Tere memberikan sesuatu kepada Nile sebagai tanda perpisahan mereka.


setelah selesai mereka memutuskan untuk kembali pulang, setelah dari rumah sakit perasaan Tere semakin membaik saja dan terlihat sekarang lebih banyak tersenyum dan tidak melamun lagi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


setelah satu Minggu mereka berada di Italia kini mereka kembali ke Jerman tanpa Tere dan Steve, ia memilih menemani Tere di sana untuk sementara waktu.


sedangkan Nile juga sudah kembali ke Jerman bersama keluarga nya dan calon istri nya.


tidak terasa waktu begitu cepat datang, kini sudah tiga bulan mereka tanpa Tere,


"pagi Dady, mom, kak." ujar Charlotte yang datang bersama dengan Tama,


"pagi sayang."


"kak Steve bagaimana dengan keadaan kak Tere?"tanya Charlotte, setiap menghubungi Tere, Tere selalu sibuk dengan terapi nya dan bahkan mereka tidak berbicara sama sekali.


"masih sama."jawab Steve dengan tersenyum kecil, keadaan Tere belum juga membaik setelah keluarga nya pulang, Charlotte ikut sedih mendengar nya.


"yah lama dong kakak tinggal di Italia nanti."


"tidak juga, tinggal satu bulan lagi bukan Tere melahirkan nya." ujar Steve, walaupun lelah dia sering bolak balik ke Jerman dan Italia, terlebih lagi istrinya sedang hamil dan membutuhkan nya.


"eh iya ya, tapi kalau di ingat-ingat lagi kak Steve belum pernah memberitahu jenis kelamin anak kakak, perempuan atau laki-laki." ujar Charlotte, kakaknya sangat kompak merahasiakan jenis kelamin anak mereka yang bentar lagi mau lahiran.


"masih rahasia, nanti juga akan tahu sendiri setelah bayinya keluar. Steve harus berangkat sekarang dad,"


"hati-hati son,"ujar Dady Mike dengan mommy Clara secara bersamaan.


"titip salam buat Tere ya sayang!" seru mommy Clara,


"iya mom,."


Charlotte dan Tama masih belum memikirkan tentang memiliki anak, apa lagi sang istri masih kuliah dan ia tidak ingin membuat Charlotte putus kuliah nya.


begitu juga dengan Leo dan Clarissa yang masih ingin menikmati masa berdua saja. bukan berarti mereka menunda kehamilan mereka tapi mereka belum di percaya untuk memiliki momongan.


setelah kepergian Steve, kini keluarga nya pergi ke kediaman keluarga gristovert, yaitu derent.

__ADS_1


"ayo sayang." kini mereka telah sampai di rumah keluarga derent, mereka memang sengaja untuk berkumpul di sana dan menghabiskan waktu bersama.


"kenapa kalian baru sampai?" tanya Dady Reyhard kepada besannya,


"biasa." jawab Dady Mike dengan sengaja, Reyhard yang mendengar nya menggelengkan kepalanya.


mereka bersantai di dalam rumah, hubungan antara derent dengan kakek Alexander juga masih sama seperti dulu.


"kalian berempat kapan memberikan kabar bahagia untuk kami?" tanya mommy Laurent, sedangkan para anak muda saling pandang satu sama lainnya.


"kami masih ingin menikmati masa berdua mom, lagi pula kami tidak terburu-buru untuk memiliki anak."jawab Tama,


"sepupu kalian akan segera memiliki momongan, apa kalian tidak menginginkan nya?"


"tentu saja kami mau mom, nanti juga kalau sudah waktu nya akan kami beritahu mom." kali ini Leo yang menjawab nya, sebenarnya bukan maksud mereka untuk menunda kehamilan mereka, tapi belum di kasih saja.


"pa,ma coba lihat ini siapa?" Greyson dengan bahagia memperlihatkan sang kakak yang tengah menelepon nya.


"Tere, bagaimana kabar kamu sayang?" tanya derent, jika di tanya mereka merindukan putri nya atau tidak tentu saja mereka merindukan putri mereka.


"Tere baik-baik saja pa," jawab Tere tersenyum lebar, " Bagaimana kabar papa, mama dan yang lainnya."


"kabar kami semua baik-baik saja sayang."


"kenapa kamu semakin kurus saja sayang?" tanya mommy Clara, Tere tersenyum kecil mendengar nya.


"akhir-akhir ini Tere tidak berselera makan mom, kalaupun makan hanya sedikit." jawab Tere di seberang telepon, Charlotte dan Clarissa juga ikut mendekat untuk mengobrol dengan Teresa.


"kak Tere, beritahu jenis kelamin anak kakak dong." ujar Charlotte dengan lembut, Clarissa pun mengangguk kan kepalanya.


"nanti juga akan tahu sendiri." jawab Tere, Charlotte yang mendengar nya menjadi cemberut. tidak kakaknya, tidak kakak iparnya sama-sama suka main rahasia-rahasiaan pikir nya.


"Tere, waktu nya untuk cek up!" seru Vincent, Tere menoleh ke sumber suara dan mengangguk kan kepalanya.


"pa, ma, dan semuanya, tere duluan ya. sampai jumpa." pamit Tere, dan mematikan panggilan telepon nya.


"derent, apa kamu tidak pernah bertanya kepada keponakan kamu bagaimana kondisi Tere saat ini, aku tidak tega melihatnya yang semakin hari semakin kurus." ujar Dady Mike, ia merasa jika setiap Tere menelepon pasti tubuh nya semakin kurus dan wajah nya juga semakin pucat.


"aku pernah bertanya kepada nya Mike, tapi jawaban nya tetap sama. keadaan Tere masih seperti saat kita pulang."jawab derent, walau sebenarnya ia merasa aneh saat melihat wajah putri nya. tapi ia tepis dengan cepat.


"apa perlu kita datang lagi ke Italia derent?"


"aku ingin nya begitu Mike, tapi Tere selalu melarang kita untuk datang karena tidak ingin melihat kita sedih saat melihat kondisi nya." jawab papa derent, sepertinya ia harus menanyakan kembali keadaan putri nya kepada Vincent. ia selalu merasa jika mereka sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka semua termasuk Steve yang sepertinya ikut membohongi mereka juga

__ADS_1


__ADS_2