Perjodohan Masa Kecil

Perjodohan Masa Kecil
bab 74


__ADS_3

"haha.. Nile, apa kau tahu saat ini wajah mu sangat lucu?" seru Tere dengan tertawa terbahak-bahak, sedangkan Nile menatap kesal ke arah Teresa.


"nona, teman anda itu suka sesama jenis, bagaimana saya tidak takut jika di dekat nya." ujar Nile,Tere yang mendengar nya bukan nya berhenti tertawa, justru semakin kencang tawa nya.


Steve yang melihat sang istri sedang tertawa lepas ikut tersenyum, ia sangat merindukan tawa Tere selama ini.


"baiklah, terserah dengan mu saja! tapi jika aku butuh bantuan kamu harus segera datang ke sini." ujar Tere di saat ia merasa lebih tenang,


"tentu saja nona, asal saya tidak bertemu dengan wanita jadi-jadian itu."jawab Nile dengan tenang dan menyelipkan rambut Tere ke belakang telinga. perlakuan Nile kepada tere membuat mereka semua terkejut.


"kalau begitu saya permisi dulu nona," timpalnya dan mendapatkan anggukan kecil dari Teresa, setelah itu Nile kembali ke dalam kamar nya dan membiarkan Teresa memakai handphone miliknya,


Steve meraih handphone yang berada di tangan Teresa, dan memasukkan nya ke dalam saku celana nya.


Tere menatap garang ke arah Steve, dan mengulurkan tangannya ke arah Steve,


"berikan handphone nya Steve!" seru Tere dengan datar,


"tidak, kamu bisa memakai handphone milik ku?" jawab Steve dengan duduk di tepi ranjang, Tere yang sudah tidak sabar menunggu, ia memilih mencubit perut Steve dengan keras.


"berikan handphone milik Nile sekarang, atau kamu keluar dari dalam kamar ini Steve? jangan sampai aku mengulang kembali perkataan ku tadi " ujar Tere dengan kesal, Steve yang mendengar perkataan dari Tere segera membalikkan handphone milik Nile kepada tere.


setelah menerima handphone nya, Tere segera mengirimkan pesan kepada seseorang, dan meminta bantuannya untuk besok menghadapi kedua balok es itu.


Chaterine tersenyum kecil saat melihat sang kakak yang tidak bisa berkutik lagi jika sudah berhadapan dengan kakak iparnya Teresa,


Tere yang melihat Chaterine tersenyum ke arah nya, menautkan kedua alisnya menatap ke arah Chaterine.


Chaterine yang sadar dengan tatapan Tere segera mengalihkan pandangannya ke arah yang lainnya, ia tidak bisa menatap wajah Tere saat ia sedang mentertawakan sang kakak.

__ADS_1


"belum tidur sayang," seru mama Victoria yang baru datang bersama seseorang, Tere yang melihat nya tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangannya,


"belum ma, nunggu kakak ipar."jawab Tere dengan tersenyum lebar saat istri sang kakak memeluk nya dengan sangat erat,


"bagaimana kabar kakak selama ini? baik-baik saja kan, lalu di mana keponakan aku yang cantik itu kak. apa dia tidak ikut, kenapa Tere tidak melihatnya ikut masuk ke dalam? " tanya Tere bertubi-tubi, sedangkan kakak iparnya menghela nafas panjang, adik iparnya akan bersikap kekanak-kanakan dan manja saat bersama dengan nya.


"kalau tanya itu satu persatu Teresa, kamu ini ya! apa tidak takut jika kakak kamu mendengar nada bicara mu tadi? bisa-bisa kamu di bawa ke tempat pelajaran etika lagi." jawab Sherina dengan gemas dan mencubit pipi Teresa cukup lama.


"kabar kakak baik-baik saja Tere! keponakan kamu sedang tidur di kamar, mungkin dia kelelahan dalam perjalanan menuju pulang tadi." timpal nya dan membuat Tere sedikit lega.


"hmm, kakak semakin cantik saja!" ujar Tere dengan memperhatikan seksama wajah Steve dan kembali beralih menatap ke arah kedua sahabatnya.


"kamu juga semakin cantik Teresa, lain kali berhati-hati lah saat mengemudi mobil. dan kenapa kamu bisa kecelakaan"seru Sherina dengan lembut dan menatap nya dengan tersenyum lebar,


mereka berdua keasyikan mengobrol sampai melupakan keberadaan semua orang, saat Tere melihat Vince yang datang, segera mengubah ekspresi wajah nya, Sherina yang melihat Tere merubah ekspresi wajah nya dengan sekejap mata sudah tahu alasannya.


"ini itu urusan perempuan kak! kakak tidak boleh tahu." jawab Tere dengan memalingkan wajahnya ke arah yang lainnya namun tatapan nya kini bertemu dengan tatapan mata Steve.


"hmm, tidurlah ini sudah malam."ujar Vincent dengan mengecup kening sang adik, ia sudah biasa jika obrolan Antara istri dan adik nya selalu di rahasiakan dari nya, dia pun tidak mempersalahkan nya.


"ini baru jam delapan kak, Tere bukan anak kecil lagi jadi tolong berhenti menganggap ku anak kecil." seru Tere dengan menatap wajah Vincent, ia juga menyingkirkan tangan sang kakak dengan pelan.


"kamu akan tetap menjadi anak kecil di mata kakak Tere, mau kamu se dewasa apapun kamu tetap gadis kecil kakak." jawab Vincent dengan lembut, ia juga mengusap kepala Tere dengan kasih sayang.


"terserah kakak saja lah, aku selalu kalah berdebat dengan kakak." ujar Tere yang mengalah.


"kenapa kamu tersenyum sendiri seperti orang gila?"tanya Vincent dengan menaikkan satu alisnya menatap wajah Tere.


"hehe... rahasia kak, besok aku punya kejutan yang besar untuk kakak. jadi kak kamu harus menyiapkan mental kakak untuk menghadapi nya nanti,jangan sampai kakak terkena serangan jantung besok."jawab Tere dengan tersenyum Devils,

__ADS_1


"lebih baik kamu segera tidur, jangan berpikiran yang tidak-tidak." ujar Vincent sambil memukul pelan pipi Teresa,


"kakak ipar, suami kakak menindas ku." adu Tere dengan menunjuk ke arah kakak sepupu nya,


"tidurlah, supaya cepat sembuh. selamat malam Tere," ujar Sherina dengan lembut, ia harus memisahkan kakak, beradik itu sebelum mereka adu mulut kembali.


"selamat malam kak,"jawab Tere dengan pelan, ia hanya menatap kepergian kakak nya, ia beralih menatap wajah sang mama.


"mama tidurlah, Tere akan baik-baik saja di sini." seru Tere dengan memegang tangan sang mama,


"iya, mama bawakan kue kesukaan kamu."ujar mama Victoria dengan mengambilkan kue buatan nya sendiri,


"terima kasih ma,"


"sama-sama sayang, mama pergi dulu ya sayang. kalau ada apa-apa panggil mama atau papa saja,"


"siap ma, lagian sebentar lagi Nile akan datang ma, biasanya Nile akan menemani aku disini setiap malam."ujar Tere dengan tersenyum kecil.


"baiklah mama ke kamar dulu ya sayang." pamit mama Victoria dengan mencium kening Tere cukup lama.


"iya ma."jawab Tere,


Tere masih mengacuhkan keluarga yang lainnya, bahkan dia tidak peduli jika saat ini Tama sedang menatap nya. Tama berjalan mendekati Tere dan duduk di samping nya,


"kau bodoh Tere, jika kamu sudah tahu dari awal ada yang mengikuti kemana saja kamu pergi kenapa tidak mengatakan apa-apa kepada kami,"ujar Tama dengan memeluk tubuh sepupunya,


"untuk apa aku memberitahu kalian," tanya Tere dengan tenang, ia melepaskan pelukan Tama dengan pelan.


"apa kamu berfikir jika kami tidak akan bisa melindungi kamu Tere?" tanya Leo, ia menatap tajam ke arah sepupunya.

__ADS_1


__ADS_2