Perjodohan Masa Kecil

Perjodohan Masa Kecil
bab 79


__ADS_3

"tolong dengarkan penjelasan dari ku dulu Tere!" seru varo, ia melepaskan genggaman tangan dari istri nya dan berjalan menuju Tere, sungguh ia merasakan luar biasa sakit nya saat melihat Tere menangis di hadapan nya, dulu saat masih bersama dengan nya! Tere selalu menyembunyikan kesedihannya dari diri nya.


"penjelasan apa lagi varo, aku selalu berpikir jika kamu berbeda dengan yang lainnya tapi kamu sama saja dengan mereka semua."teriak Tere dengan menipis tangan varo dengan kasar.


"kamu salah paham terhadap nya Tere!"seru Nessa ia tidak tahan melihat kesedihan di mata sang Suami nya, bukannya mereda justru kemarahan Tere semakin naik pitam setelah mendengar suara dari perempuan itu.


"siapa yang mengizinkan mu menyebut nama ku hah, jangan pernah menyebut nama ku, kau tidak layak untuk itu."ujar Tere dengan nada tinggi, ia bahkan menatap tajam ke Nessa.


"sayang, kita bicara di dalam restoran saja ya!" ujar Steve yang mencoba menenangkan sang istri, walau ia sakit hati saat mengetahui jika suami sepupunya adalah mantan kekasih istrinya yang masih belum bisa di lupakan oleh istrinya sepenuhnya.


perkataan Steve tentunya membuat sepupunya terkejut mendengar nya,


"apa kamu tahu tentang ini semua dari awal Nile?" tanya Teresa bahkan ia tidak menjawab perkataan dari suaminya, jika memang Nile mengetahui semua ini, ia akan sangat kecewa karena Sudah berhasil di bohongi semua orang yang berada di dekatnya dan bahkan mereka semua adalah orang yang ia percayai.


"maaf nona"hanya itu yang bisa Nile katakan, ia tidak tahu harus bangun menghadapi kemarahan Tere nanti nya.


"kamu membuat ku kecewa Nile, kamu orang yang aku percayai justru kamu juga menyembunyikan nya dari ku." seru Tere, ia menghapus air matanya dengan kasar, sudah cukup ia menangis saat ini. tidak masalah baginya, dari kecil ia memang sudah tersakiti oleh orang-orang terdekat nya.


"dia istri kamu Steve?"tanya Nessa kepada sepupu nya, Steve mengangguk kan kepalanya dan tentu saja itu membuat Nessa terkejut bukan main.

__ADS_1


"eumm. kak Tere dia kak Nessa sepupu jauh kami." timpal charlotte, ia sangat pelan mengenalkan Tere kepada sepupunya.


Tere bertepuk tangan mendengar perkataan dari Charlotte.


"kalian benar-benar membuat ku muak."seru Tere dan berlari meninggalkan mereka semua, Steve yang sudah khawatir dengan kondisi Teresa segera mengejar nya tanpa mengatakan apapun kepada mereka begitu juga yang lainnya.


sekencang apapun mereka berlari tetap saja mereka kehilangan jejak Teresa, Steve menjadi kelimpungan mencari keberadaan Teresa kesana kemari, apalagi hari semakin larut.


mereka memutuskan untuk berpencar untuk mencari keberadaan Teresa, sudah dua jam mereka mencari tapi masih belum juga mereka menemukannya. mereka semua memutuskan untuk kembali pulang ke rumah dan di dalam perjalanan pulang mereka berenam hanya diam tanpa berbicara satu sama lainnya, mereka terlalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


setelah sampai Steve segera masuk ke dalam rumah, dan mencari keberadaan istrinya saat ini tapi sayang nya mereka justru di interogasi oleh semua orang karena pulang tengah malam seperti ini.


"apa kamu tuli Nile? di mana princess kecil ku Nile!" teriak Vincent, ia akan bersikap seperti ini jika sudah menyangkut adik nya.


"maaf tuan, saya tidak tahu keberadaan nona saat ini."ujar Nile dengan sopan, ia sudah hafal dengan sifat Vincent yang akan tentramental jika sudah menyangkut tentang Tere.


"kamu bilang tidak tahu Nile! kalian berenam tapi kalian tidak becus menjaga satu orang saja hah,"bentak Vincent, untuk apa mereka ikut pergi Tere jika mereka tidak bisa menjaga adiknya.


"Tere"seru papa derent saat melihat putrinya yang sudah kembali dengan keadaan yang kacau, semua orang melihat ke arah Tere yang tengah berjalan dengan tatapan mata yang kosong. "kamu dari mana saja sayang"tanya papa derent dengan memeluk tubuh putrinya, ia sudah tidak sanggup lagi jika harus kehilangan putri nya.

__ADS_1


"Tere, are you okay"tanya Vincent dengan nada lembut, ia bahkan sampai tidak berkedip melihat keadaan adiknya yang seperti ini.


Tere memeluk tubuh sang kakak dan mulai menangis, memang dari kecil keluarga gristovert selalu mendidik keras Tere, tapi mereka juga selalu memanjakan nya dulu.


"ada apa sayang? katakan kepada kakak, siapa yang sudah berani membuat mu menangis hmm, biar kakak yang akan memberikan pelajaran kepada nya nanti."ujar Vincent, ia bahkan memeluk sangat erat tubuh sang adik, ia memang keras dan tegas kepada Teresa selama ini tapi ia melakukan ini semua karena ia sangat menyayangi sang adik. bahkan ia selalu pasang badan paling depan jika ada yang menyakiti sang adik, ia tidak peduli siapa pun orangnya ia akan selalu membuat perhitungan kepada orang yang sudah menyakiti hati sang adik.


cukup dua kali ia tidak bisa menjaga sang adik, Tere semakin keras menangis dan itu membuat Vincent sangat marah, ia menatap tajam ke arah Nile, Steve, Charlotte, Clarissa, Tama dan Leo.


ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi, ia sendiri tidak pernah membuat sang adik menangis hingga seperti ini, tapi orang luar sudah sangat berani membuat sang adik seperti ini.


"tenang lah sayang, kakak ada di sini." ujar Vincent dengan lirih sungguh ia sangat membenci melihat adiknya menangis di hadapan nya seperti sekarang ini.


"apa kamu ingin makan sesuatu sayang? bagaimana jika kakak yang memasak untuk mu?" tanya Vincent dengan nada yang sangat lembut. Tere mendongak kan kepalanya menatap wajah sang kakak yang tengah tersenyum menatap nya.


"aku masih mau hidup, aku akan langsung di larikan ke rumah sakit jika sampai memakan masakan kakak,"jawab Tere dengan lirih, bukannya marah justru Vincent tertawa keras mendengar perkataan dari sang adik, ia hanya sekali menjahili sang adik tapi justru jahilnya tersebut masih di ingat baik oleh sang adik.


"tidak akan kakak biarkan kamu sakit selama kakak ada berada di dekat mu, hmm."ujar Vincent dengan mencubit hidung sang adik saking gemasnya.


"apa sudah lebih baik sekarang?" tanya Vincent saat melihat sang adik kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang nya. Tere menggelengkan kepalanya, "sudah cukup sayang! baju kakak sudah basah karena air mata mu itu." seru Vincent yang sengaja memancing mood sang adik agar kembali seperti semula, Tere memukul pelan dada sang kakak.

__ADS_1


"kakak sungguh menyebalkan" ujar Tere dengan menghapus air matanya, ia tersenyum kecil saat sang kakak menghapus air mata untuk nya, walau sang kakak selalu bersikap datar tapi sebenarnya sang kakak orang yang penyayang kepada keluarga nya.


__ADS_2