
"apa salah satu dari mereka kekasih mu Tere?"
"tidak, kalau kamu dekati saja mereka! aku mendukungmu." ujar Tere dengan berbisik saat mengatakan yang terakhir.
"mereka berdua memang kriteria ku Tere, tapi mereka semua juga termasuk kok." ujar teman Tere, Tama dan Leo yang mendengar nya segera meninggalkan tempat itu dan pergi ke dalam kamar mereka masing-masing, begitu juga dengan Steve dan Vincent, mereka memilih untuk tidak berada di tempatnya saat ini.
"maaf uncle, seperti nya kami harus pulang dulu. masih ada urusan!" seru Reno, dan segera pergi setelah derent mengangguk kan kepala nya dan di ikuti oleh Philips dari belakang.
Tere yang melihat mereka pergi dengan tergesa-gesa pun tertawa terbahak-bahak, bahkan tawanya itu bisa di dengar oleh, Steve, Vincent, Tama dan Leo yang sedang berada di kamar mereka.
"Tere aku pergi dulu,"pamit teman Tere, Tere mengangguk kan kepalanya.
"thanks ya, besok aku langsung transfer uang nya."
"santai saja, nanti kalau gaunnya sudah selesai aku kabarin."
"oke, jangan lama-lama ya! soal nya bentar lagi mau pulang."
"oke." ujar pria tersebut dan segera pergi, setelah peninggalan teman nya itu, Tere kembali tertawa terbahak-bahak. ia sangat puas bisa mengerjai mereka semua, derent yang melihat sang putri yang tidak berhenti tertawa, akhirnya ia tahu ini memang sengaja dibuat oleh putri nya.
__ADS_1
"apa yang membuat mu sangat senang Tere?" tanya Vincent dengan menatap tajam ke sang adik, Tere terdiam saat mendengar suara sang kakak.
"karena tamu kakak sudah pergi."jawab Tere dengan datar, ia melirik sekilas ke arah Steve yang sekarang sedang menatap ke arah nya.
"grey, ayo tidur! kakak mau tidur dengan kamu malam ini." timpal Tere, ia menarik pelan tangan Greyson yang seperti nya memang sudah mengantuk.
"iya kak."jawab Greyson dengan patuh, ia bahkan senang bisa tidur kembali dengan sang kakak.
"anak itu benar-benar membuat ku pusing." gumam Vincent dan berlalu pergi ke kamarnya untuk istirahat,
saat sudah di dalam kamar sang adik, Tere segera duduk dan menyandarkan tubuhnya di sofa. ia menahan rasa sakitnya dari tadi, ia tidak ingin membuat kedua orangtuanya menjadi khawatir karena kondisi tubuh nya yang menurun kembali.
"iya grey." Tere kembali bersikap biasa, ia berjalan ke arah sang adik dan merebahkan diri nya di atas ranjang tidur, Greyson ikut tidur di samping nya.
"kakak tidak akan pergi meninggalkan grey lagi kan?"tanya Greyson, ia memeluk sangat erat sang kakak.
"tidak sayang, tidurlah! kakak juga lelah hari ini." jawab Tere dengan lembut, ia harus tetap kuat agar sang adik tidak cemas karena nya.
di sisi lain Steve tengah gusar karena Tere memilih untuk tidur dengan Greyson dari dengan diri nya, ia ingin memeluk tubuh Tere saat tidur, ia tidak akan bisa tidur nyenyak jika tidak mencium aroma tubuh Tere
__ADS_1
"ada apa sayang?"tanya Tama, kini mereka berempat tengah duduk di gazebo. Tama ingin menghabiskan waktu nya lebih lama bersama dengan istrinya begitu pula dengan Leo,
"aku heran dengan kak Tere, kenapa dia bisa mengenal waria seperti itu?" gumam Charlotte, jika ia mengingat nya ia menjadi geli sendiri saat mengingat suara pria itu.
"aku juga setuju dengan mu! tapi apa kalian tadi tidak perhatikan wajah kak Tere?" timpal Clarissa, ia sempat merasa aneh saat melihat wajah Tere yang sedikit pucat dan bahkan ia sempat melihat Teresa sempat meringis kesakitan tadi.
"tidak, memang nya kenapa dengan wajah kak Tere?"
"wajah nya seperti orang yang sedang menahan sakit dan juga wajah nya tadi sedikit pucat." jawaban Clarissa tentu saja membuat mereka bertiga terkejut, mereka sama sekali tidak memperhatikan wajah Tere tadi.
"semoga saja kak Tere tidak kenapa-kenapa."ujar Charlotte, jika terjadi sesuatu kepada kakak iparnya, tentu akan membuat sang kakak terpukul kembali dan itu akan membuat nya semakin sedih.
sedangkan di dalam kamar nya, Greyson sudah terlelap tidur dan Tere berusaha bangun dengan memegang kepalanya yang terasa nyeri kembali, Tere berusaha untuk kembali ke dalam kamar nya untuk mengambil obat milik nya, sedangkan Steve sat ini tengah duduk bersama adik dan sahabat nya itu.
Tere berjalan dengan tertatih-tatih sambil berpegangan pada tembok agar diri nya tidak jatuh pingsan. saat hampir sampai tiba-tiba pandangan nya menjadi buram dan sedetik kemudian ia benar-benar terjatuh pingsan.
sedangkan di sana sedang tidak ada orang di dekat nya, papa derent yang tiba-tiba merasakan dada sakit membuat nya teringat tentang sang putri saat ini, entah mengapa perasaan menjadi gelisah.
Steve yang menjadi tegang memilih untuk masuk kedalam rumah, ia melihat ke sekeliling ruangan itu dan tidak mendapati istrinya di sana.
__ADS_1
saat ingin menaiki tangga mereka semua di kejutkan dengan teriakkan seseorang dari atas dan itu membuat steve berubah menjadi panik dan bahkan ia tidak harus berbuat apa lagi.