Perjodohan Masa Kecil

Perjodohan Masa Kecil
bab 88


__ADS_3

"apa cuma ini yang ingin kalian sampaikan kepada ku?"tanya Tere, ia menghentikan langkahnya dan menatap wajah Philips maupun Reno secara bergantian.


"sebenarnya tidak, kita masih punya waktu banyak untuk mengobrol lagi." jawab Reno dengan lembut, ia kembali menatap wajah Tere dan tersenyum ke arahnya.


"ayo masuk."ujar Philips menarik tangan Tere dengan lembut, mereka kini kembali masuk ke dalam rumah begitu juga dengan yang lainnya mereka juga masuk kedalam terlebih dahulu agar tidak ketahuan oleh mereka bertiga jika mereka tadi sempat menguping pembicaraan mereka.


Tere hanya diam saja sambil menatap tangan nya yang saat ini di genggam oleh Philips, ada perubahan sikap di antara mereka berdua dan Tere melihat nya.


setelah sampai Tere melepaskan tangannya dari Philips dan duduk di samping suami nya yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam,


"kenapa cepat sekali kalian ngobrol nya?" tanya Vincent saat mereka sudah kembali duduk.


"memang nya apa yang harus kita obrolin kak! " seru Tere, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Steve, tapi sayang nya suaminya itu sepertinya benar-benar marah.


Tere hanya tersenyum kecil melihat wajah Steve yang cemberut, saat ingin berdiri Steve segera menahan nya dengan memegang pergelangan tangan Tere.


"mau keman?"tanya Steve dengan datar dan dingin, Philips dan Reno saling pandang satu sama lainnya.


"mau kemana saja itu urusan ku, apa peduli mu."ujar Tere dengan menarik tangan nya dengan kasar, Steve menghela nafas dalam-dalam, seharusnya dia yang marah bukan istrinya. bukannya membujuk suaminya tapi justru berbalik marah kepada nya.


"pa, kak, aku tinggal dulu sebentar."


"mau kemana sayang?"tanya papa derent dengan melirik sekilas ke arah tamu nya, Tere yang mengerti tentang lirikan mata sang papa tersenyum kecil.

__ADS_1


"mau cari cogan di luar pa! lagi pula bosen lama-lama lihat yang berwajah datar dan dingin." jawaban Tere membuat sang kakak menatap tajam ke arah nya, bahkan sang suami memberikan tatapan mematikan seperti ingin menelan hidup-hidup Tere saat ini.


"coba saja kalau berani, kakak pastikan akan mematahkan kaki dan tangan kamu nanti!"seru Vincent dan mendapatkan senyuman Devils dari Tere,


"kenapa tidak berani? Tere tinggal memanggil mereka dan mereka akan datang sendiri kesini, apa kakak mau mencoba nya?" tanya Tere dengan menaik turunkan kedua alis nya,


"Tere mau ke depan sebentar pa!"


"anak itu benar-benar bertindak di luar biasa nya,"batin Vincent dengan menggeleng kan kepalanya saat melihat kepergian Teresa.


sepeninggalan Teresa mereka mengobrol kan tentang bisnis mereka masing-masing dan keluarga mereka, dan mereka bertukar cerita banyak tentang Teresa sehingga membuat sang papa dan yang lainnya terkejut saat mendengar nya.


Tere duduk di teras depan membaca buku tentang bisnis sambil menunggu kedatangan teman nya, tidak butuh lama teman nya sudah datang dan Tere segera membawa nya masuk kedalam rumah.


"Teresa gristovert seperti nya perkataan kakak tadi tidak kamu dengar baik-baik hah."teriak Vincent saat melihat sang adik datang bersama dengan seorang pria asing,


mereka tidak tahu saja siapa yang di bawa oleh Tere ke kediaman kakaknya, jika mereka tahu pasti sudah jatuh pingsan terlebih dahulu. Tere tersenyum kikuk mendapatkan pelototan dari sang papa.


"urusan penting yang seperti apa sayang?"tanya papa derent dengan melipat kedua tangannya ke dada,


"emm untuk membuatkan kado untuk pernikahan nya Nile pa!" kilah Tere, ia menjadi tidak enak memakai nama Nile untuk menyelamatkan diri nya dari amukan kedua orang tua nya beserta kakaknya.


"Nile menikah, apa kamu serius sayang?"

__ADS_1


"serius pa! tapi sepertinya tidak dalam waktu dekat ini."


"dengan siapa?"


"dengan Valerie pa! bahkan mereka sudah memiliki seorang anak."papa derent terkejut saat mendengar jika Nile sudah memiliki seorang anak, dan setahu nya selama bekerja dengan Tere, Nile tidak pernah dekat dengan perempuan manapun selain putri nya.


"kamu sedang tidak berbohong kan sayang?."


"tidak ma, serius deh! jika kalian tidak percaya bagaimana kalau besok kita menjenguk Nile di rumah sakit."ujar Tere dan mendapatkan anggukan dari semua orang, Tere pun menarik temannya itu untuk duduk di sampingnya dan melihat beberapa koleksi gaun-gaun yang indah.


padahal niat awal nya hanya untuk membuat mereka terkejut melihat siapa yang bersama nya dan ingin mengusir kedua tamu orang tua nya.


saat ini mereka tengah terkejut mendengar perkataan dari teman nya Tere bahkan Charlotte sampai bergidik ngeri mendengar suara teman kakak iparnya,


"gimana ceritanya kak Tere bisa mengenal makhluk jadi-jadian seperti dia?"batin Charlotte dengan pandangan mata yang sulit untuk di jelaskan, ia masih setia melihat kedekatan antara kakak iparnya dengan pria berlunak seperti dia.


Tere berusaha untuk menahan tawanya saat melihat reaksi mereka semua, apalagi sang kakak yang seperti nya sangat terkejut saat ini.


"apa dia yang dimaksud oleh asisten pribadi nya Tere?"batin Tama, ia menjadi jijik melihat pria gemulai seperti dia dan pada akhirnya dia memilih untuk pergi dari sana bersama dengan Leo sang adik.


"Tere apa kamu yakin dengan pilihan mu?."tanya pria gemulai tersebut, ia tersenyum menatap wajah Philips dan Reno.


"eumm tentu, tapi aku ingin yang lebih elegan dari yang ini."jawab Tere dengan tersenyum kecil,

__ADS_1


"tentu aku akan buatkan sesuai dengan keinginan mu tapi apa kamu tidak ingin mengenalkan mereka kepada ku Tere."ujar pria gemulai tersebut dengan menunjuk ke arah Philips dan Reno, sedang kan yang dimaksud sudah getar getir melihat sikap pria gemulai itu.


"oh, dia Philips dan Reno, mereka juga masih single."jawab Tere dengan sengaja dan membuat kedua pria itu meremang.


__ADS_2