Perjodohan Masa Kecil

Perjodohan Masa Kecil
bab 91


__ADS_3

"seperti nya Tere belum bisa melupakan asisten pribadi nya!" seru Leo yang baru datang, Tama mengangguk setuju. ia melirik ke arah Steve yang hanya diam saja dari tadi.


setelah selesai makan, Tere masih duduk di taman sambil mengingat kembali saat pertama kali pertemuan nya dengan Nile, tanpa ia sadari jika Steve dan sepupunya sudah berada di sampingnya. sedangkan Vincent sudah kembali ke dalam rumah setelah selesai menyuapi sang adik.


"apa yang membuat mu tersenyum?"tanya steve, Steve tersenyum kecil saat melihat wajah kebingungan sang istri yang sekarang ini sudah duduk di pangkuan nya, sedangkan mereka berempat hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah pasangan yang sedang berada di depan mereka.


"sayang, jangan coba-coba untuk memikirkan pria lain atau aku akan menghukum mu." ujar nya sambil memeluk Tere begitu erat, sedang kan Tere hanya diam saja.


"apa kamu sudah lebih baik Tere?" tanya Leo, ia sama hal nya mengkhawatirkan keadaan Tere sepupunya seperti yang lainnya.


"aku baik-baik saja,"jawab Tere tanpa melihat ke arah Leo, ia tersenyum kecut saat mengingat kembali masa sulit yang ia hadapi bersama dengan Nile dan sekarang ia harus bisa melupakan asisten pribadi nya sekaligus sesosok kakak untuk nya.


"apa kamu yakin?"


"iya."


"apa kamu nanti mau ke rumah sakit lagi sayang?" tanya Steve yang masih betah memeluk istrinya dan bahkan ia tidak peduli dengan tatapan mata dari keempat manusia yang berada di dekat mereka.


"eumm iya, aku mau menjenguk Nile dan sahabat ku."jawab Tere, Tere lebih banyak diam nya pagi ini, mereka hampir tidak mengenali nya.


"apa bisa turun kan aku?" tanya Tere dengan tersenyum kecil saat melihat Greyson tengah bermain bersama dengan putri sang kakak.

__ADS_1


"tidak bisa."jawab Steve singkat dan membuat Tere menjadi kesal tapi ia tidak mengatakan apapun lagi.


Tere ikut tersenyum melihat kedekatan antara sang adik dan keponakan nya, ia sangat senang kehidupan dia waktu kecil tidak di adik nya.


Tama melihat ke mana arah pandang sepupunya, cara mereka bermain membuatnya teringat akan di saat mereka masih kecil.


disisi lain Vincent mengatakan sesuatu yang membuat mereka terkejut, Vincent mengambil keputusan seperti ini juga untuk kebaikan sang adik, derent yang mengerti tentang kekhawatiran dari Vincent menyetujui nya.


"Vincent, kamu tahu kan jika Tere keras kepala, dia tidak akan setuju untuk tetap tinggal di sini." ujar derent tegas, walau sebenarnya ia tidak ingin berpisah lagi dari putri tapi apa boleh buat kondisi Tere saat ini benar-benar membuat nya khawatir,


"Vincent akan berusaha untuk membujuk nya uncle, aku tidak ingin kondisi Tere semakin buruk. biarkan dia disini dan menjalani pengobatan nya di sini, setidaknya sampai Tere sembuh. Vincent baru bisa membiarkan nya pulang ke Jerman."ujarnya dengan tegas, ia harus bisa lebih keras kepala lagi dari Tere, jika tidak seperti ini, dia akan Luh begitu saja kepada Tere.


"baiklah, uncle setuju saja dengan keputusan mu."


entah apa yang dia pikirkan sehingga membuat nya terlihat murung begitu,


"ada apa sayang?" tanya papa derent saat melihat sang putri sudah berada di samping nya, Tere hanya menggeleng kan kepala nya sebagai jawaban nya.


"apa kita jadi ke rumah sakit untuk menemui Nile, sayang?"


"iya pa, tapi nanti saja ya, di luar masih panas dan membuat ku malas untuk keluar."jawab Tere, derent tersenyum kecil mendengar nya padahal di ini masih pagi tapi putri nya bilang jika di luar sangat panas, sepertinya putrinya sedang tidak bisa konsentrasi saat ini.

__ADS_1


"ini masih pagi loh sayang, panas dari mana nya?"


"maksud aku bukan cuacanya pa yang panas tapi hati aku yang sedang panas!"seru Tere dan jawaban nya sukses membuat sang papa tertawa terbahak-bahak mendengar nya.


"panas karena apa?"


"tentu saja panas karena melihat wajah kakak yang dingin, memangnya apa lagi." jawab Tere dengan bercanda, entah mengapa perasaan menjadi kacau hari ini. tidak mungkin ia mencintai Nile dan tidak rela jika Nile meninggalkan nya kan.


"masih kepikiran tentang Nile, sayang." ujar derent,tanpa di jawab pun sebenarnya dia sudah tahu jika sikap putrinya pagi ini ada kaitannya dengan Nile yang akan berhenti bekerja.


"mungkin."jawab Tere dengan mengedikkan bahu nya dengan acuh, derent melihat ada kesedihan di mata putri nya dan membuatnya sakit.


"bukan kah kamu bilang jika ini yang terbaik untuk Nile dan keluarga nya sayang."


"Tere tahu itu pa, tapi Tere belum terbiasa saja tanpa Nile, Tere tidak mau egois, mereka juga membutuhkan Nile sekarang ini." jawab Tere dengan menunduk sedih, sudah terbiasa dengan kehadiran Nile dan kini ia harus terbiasa dengan pergi nya Nile.


papa derent menghela nafas dalam-dalam, putri nya memang jarang berbicara dengan nya tapi ia bisa tahu semua kesedihan nya hanya dari mata sang putri.


"kamu pasti bisa sayang,." papa derent memberikan semangat agar putri nya bisa merelakan kepergian Nile mulai saat ini.


Tere hanya tersenyum menanggapi perkataan dari sang papa.

__ADS_1


seperti nya ia harus mulai sibuk dengan pekerjaannya agar tidak memikirkan tentang Nile lagi, mereka masih bisa bertemu di luar kantor jika mereka ingin mengobrol dengan Nile.


tidak hanya Tere yang merasa kehilangan, kini Nile juga merasa kehilangan tanpa ada nya Tere di sampingnya, sudah terbiasa pergi kemanapun hanya berdua saja dan kini justru mereka harus kembali pada kehidupan saat mereka belum bertemu sama sekali.


__ADS_2