
"eumm siapa orang itu pa?"tanya Tere, ia ingin tahu dengan keluarga yang mana nenek nya menjodohkan nya.
"keluarga vernandes sayang."jawab papa derent dengan tersenyum kecil, ia juga sempat melirik ke arah menantu nya yang tengah menatap Tere dengan tatapan tajam.
"oh, kirain keluarga yang mana!" seru Tere yang belum sadar tentang apa yang di katakan oleh sang papa,
"siapa pa?" tanya Tere kembali, ia ingin memastikan sesuatu, semoga tidak sesuai dengan harapan nya.
"keluarga besar vernandes Tere," jawab Vincent dan berhasil membuat Tere membulatkan matanya lebar-lebar.
"wah, kedua grandma ku luar biasa, bisa-bisa nya mereka menjodohkan cucu perempuan mereka yang hanya satu untuk dua pria, sungguh luar biasa." ujar Tere dengan menggeleng kan kepala nya, sedangkan papa derent tertawa kecil melihat raut wajah putrinya yang frustasi karena kedua grandma nya.
"apa kamu mengenal keluarga vernandes sayang?," tanya papa derent dengan menahan tawanya, sedangkan Tere menatap tajam ke arah sang papa.
"tergantung dengan orang nya,"jawab Tere dengan memalingkan wajahnya, satu suami saja sudah bikin pusing apa lagi dua pikirnya.
"tuan muda pertama dan tuan muda kedua, orang yang di jodohkan oleh grandma dengan mu." ujar Vincent, jika di lihat dari ekspresi wajah sang adik sepertinya mereka memang sudah saling mengenal.
"kenapa harus ke dua balok es itu? dunia ini begitu lebar dan kenapa aku harus kembali bertemu dengan mereka sih." gumam Tere pelan tapi masih bisa di dengar baik oleh semua orang, Steve semakin tidak suka dengan obrolan yang ia dengar saat ini.
"sepertinya kamu mengenal baik dengan mereka!" tanya Vincent dengan melipat kedua tangannya dan menyipitkan matanya menatap ke arah Tere, sedangkan Tere tersenyum kikuk.
"kak, aku tidak mau bertemu dengan kedua balok es itu. mereka datang kesini sendirian kan tanpa mami dan papi kan." ujar Tere setelah sadar akan apa yang di katakan,dia buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
sedangkan yang lainnya terkejut mendengar perkataan dari Tere, seperti nya putri nya sudah mengenal baik dengan mereka. sampai-sampai putrinya juga memanggil orang tua dari Philips dan Reno dengan panggilan papi, mami.
__ADS_1
"oh sepertinya kamu mengenal baik dengan mereka,"tanya Vincent semakin penasaran dengan hubungan mereka.
"hehe tidak hanya kenal kak, mereka berdua teman Tere membolos sekolah dulu." jawab Tere dengan tersenyum kikuk, jika dia tidak mengatakan yang sebenarnya bisa-bisa sang kakak akan menyelidiki masa lalu nya dengan detail nantinya.
"kamu satu sekolah dengan mereka dulu, setahu kakak usia mereka selisih tiga dan dua tahun dengan mu,"tanya Vincent
"kakak ini apa lupa? jika adik kakak ini pernah loncat sekolah, lagi pula aku junior mereka waktu sekolah, tere kenal dengan mereka karena kami sering bolos dan sering bertemu."jawab Tere dengan kesal.
"bukan kah ini sangat bagus jika kalian sudah saling mengenal satu sama lain nya,"ujar Vincent dengan mengusap kepala Tere dengan lembut.
"hais, bagus apa nya? sial ia aku ketemu dengan mereka, sudah bagus aku selalu menghindar dengan mereka saat menjalani kerjasama dengan mereka dan sekarang, oh astaga seperti nya di kehidupan sebelumnya aku mempunyai hutang kepada mereka semua."gumam Tere dengan menggeleng kan kepala nya dengan cepat, dan kembali menatap wajah sang kakak sepupu nya.
"kapan mereka akan datang kak?" tanya Tere
"pa! Tere tidak mau bertemu dengan mereka berdua, suruh saja orang lain yang menjadi Tere."ujar Tere dengan tersenyum lebar,
"tidak bisa Tere, kamu tetap harus menemui mereka berdua. jika sampai kakak tahu kamu sedang merencanakan untuk kabur, jangan harap kakak memberikan mu izin untuk kembali ke Jerman,"seru Vincent dengan tegas dan bahkan ia menatap tajam ke arah sang adik.
"apa kamu mengerti Teresa gristovert" timpalnya dengan tegas, sedangkan Tere hanya menganggukkan kepalanya dengan patuh, setelah itu Vincent keluar dari dalam kamar dan kembali ke ruang kerja nya saat ini bersama dengan papa derent.
"ck, bagaimana caranya agar aku tidak bisa bertemu dengan mereka berdua?
haisss kenapa harus bertemu dengan mereka lagi sih, ayo pikirkan dengan cepat caranya Tere!" ujar Tere pada dirinya sendiri, sedangkan yang lainnya menatap aneh ke arah Tere,
"arggg...... aku tidak punya cara untuk menghindari si balok es, grandma kamu membuat kehidupan cucu mu berantakan seperti ini, sepertinya kalian sedang mentertawakan aku di atas sana."ujar Tere dengan mengusap wajah dengan kasar, ia harus berpikir keras untuk mencari jalan keluar dari masalah ini.
__ADS_1
setelah cukup lama ia berpikir, dan akhirnya ia mendapatkan caranya., ia tersenyum kecil saat membayangkan reaksi kedua balok es itu nanti nya.
Tere menekan tombol di dekat tempat tidur nya untuk memanggil Nile agar ke kamar nya dan tidak membutuhkan waktu lama Nile pun datang dan berdiri di samping Tere,
"ada yang bisa saya bantu nona,"tanya Nile berterus terang dan sopan.
"Nile, tolong kamu telepon teman ku itu untuk datang ke sini besok ya."perintah Tere tanpa melihat ke arah Nile,
"apakah teman anda yang itu nona?" tanya nile dengan merinding saat membayangkan teman Tere akan datang dan lebih baik ia tidak terlihat di dekat Tere nantinya.
"menurut mu siapa lagi Nile, yang ada di Italia hanya dia saja kan " jawab Tere dengan tersenyum Devils, Nile yang melihat nya dengan susah payah ia menelan Saliva nya.
membayangkan nya saja sudah membuat nya merinding apalagi jika bertemu dengan nya, bisa saja orang itu akan menelan nya hidup-hidup.
"nona, lebih baik anda sendiri yang berbicara dengan nya."ujar Nile yang sudah tidak mau ikut adil dalam orang itu.
"apa kamu berani melawan perintah dari ku nile?"tanya Tere dengan menatap tajam ke arah Nile,
"tidak nona, tapi jika bersangkutan dengan teman anda yang satu itu tolong maafkan saya nona, saya tidak sanggup melakukan perintah anda."jawab Nile dengan melangkah mundur agar tidak terkena amukan tangan Teresa.
"telepon dia, biar aku yang berbicara dengan nya! kenapa kamu harus takut dengan nya Nile?" perintah Tere sambil bertanya kepada Nile, ia berusaha menahan tawanya saat melihat raut wajah dari Nile,
"nona saya tidak takut dengan nya, hanya merasa jijik saja saat melihat nya. lagi pula saya heran kenapa nona bisa berteman dengan makhluk seperti orang itu? tidak hanya saya saja nona tapi mereka semua juga akan jijik dan geli saat melihat teman nona itu." ujar Nile panjang lebar, lebih baik ia sembunyi dari makhluk astral seperti orang itu dari pada harus melihat wajahnya itu.
"nona besok saya izin mau keluar rumah sampai teman anda pulang," timpalnya sedangkan Tere sudah tidak bisa menahan tawanya dan tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi wajah Nile yang menurut nya sangat lucu.
__ADS_1