
"tidak adik nya, tidak kakak nya sama saja, " gumam Tere pelan dan beralih mengambil laptop nya dan mengecek beberapa email yang masuk.
saat fokus pada laptop milik nya,Tere di kejutkan seseorang yang tiba-tiba memeluk nya.
"kak Tere kan baru sadar, kenapa sudah bekerja?." tanya charlotte, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan kepala di pangkuan Tere.
"kakak tidak bekerja charlotte, hanya mengecek saja." kilah Tere, walau sebenarnya ia memang bekerja tadi, tapi karena ada adik iparnya ia tidak jadi.
"kakak berbohong kan,"seru charlotte, ia memperhatikan wajah Tere yang lebih membaik dari pertama ia sadar tadi.
"tidak."bohong Tere dengan menjawab nya cepat dan tegas.
"kak Tere akan tinggal di rumah Dady kan."tanya charlotte, ia menatap wajah Tere dengan penuh harap.
"kakak akan tinggal bersama dengan orang tua kakak, Charlotte."jawab Tere dengan lembut,
"apa kakak masih belum bisa memaafkan kak Steve?" tanya charlotte sangat tepat, Tere masih enggan untuk bertemu dengan Steve saat ini.
"eumm ya salah satu nya, kakak butuh ketenangan Charlotte. di sana terlalu ramai dan kakak lebih suka dengan suasana seperti di rumah kakak dulu,"jawab Tere, ia sebenarnya tidak tega melihat tatapan mata charlotte untuk nya, tapi di sisi lain nya jika dia tinggal di kediaman Tyson young, pasti keluarga uncle nya juga akan sering ke sana dan bahkan sang kakek juga akan ada di sana karena cucu kesayangan nya tinggal di sana juga.
"tapi jangan lama-lama kak tinggal di rumah orang tua kakak, Charlotte tidak ada teman mengobrol jika kakak terlalu lama." ujar charlotte,
"eumm kakak usahakan ya."jawab Tere dengan lembut dan tersenyum menatap wajah charlotte.
saat mereka sedang asyik mengobrol, mereka di kejutkan dengan kedatangan beberapa orang di sana, ia juga menatap aneh ke arah orang yang baru datang dan pasalnya dia tidak mengenal mereka.
"Teresa."panggil kakek Alexander dan berjalan mendekati ke arah Tere, sedangkan Tere hanya diam dan tidak merespon panggilan dari sang kakek.bahkan pandangan matanya ia alihkan untuk menatap yang lainnya.
"kamu semakin cantik, wajah kamu juga mirip dengan papa kamu." ujar kakek Alexander mencoba untuk mencairkan suasana di antara mereka,
"terima kasih atas pujiannya tuan besar Alexander, ya ini adalah keberuntungan untuk saya karena wajah saya mirip dengan papa saya."ujar Tere, kakek Alexander terkejut saat mendengar perkataan dari Teresa. begitu juga dengan yang lainnya,
__ADS_1
"sayang, kakek Alexander kan juga kakek kamu, kenapa justru memanggil dengan sebutan tuan besar." seru Dady Reyhard, ia bisa melihat ada rona sedih di wajah orang tua nya.
"maaf uncle, dari awal Tere bukan anggota keluarga Alexander, tapi Tere anggota keluarga gristovert. lagi pula Tere juga punya janji dulu kepada seseorang, Tere pernah berjanji dengan seseorang, jika saat Tere melihat Anggota keluarga Alexander yang lainnya, Tere akan bersikap saling tidak mengenal satu sama lainnya, kecuali uncle dan aunty."ujar Tere dengan merebahkan tubuhnya di atas ranjang pasien agar bisa menghindari pertanyaan dari yang lainnya.
"tapi Tere."seru mama Laurent, iya tidak tega saat melihat tatapan mata papa mertua nya tertuju pada Tere,
"maaf aunty, Tere mau istirahat dulu." cegah Tere dengan cepat dan kembali menatap ke arah aunty Laurent.
Tere berpura-pura tidur agar tidak di tanya kembali, tanpa mereka sadari papa derent mendengar semua obrolan mereka.
papa derent tahu jika putri nya masih terjaga dan belum tidur sama sekali, tetapi ia tetap diam dan ingin berbicara dengan keluarga yang lainnya, perasaan marah nya dulu masih ada saat melihat orang-orang yang tidak menganggap putri nya ada.
papa derent berjalan dengan langkah tegas bahkan sesekali ia melirik ke arah Charlotte dengan lembut dan tersenyum.
"sayang."panggil papa Tere dengan mengusap kepala Tere dengan lembut dan mencium kening nya,
"iya pa! "jawab Tere pelan, ia kembali membuka matanya saat mendengar suara sang papa.
"apa ada masalah pa?." tanya papa tere dengan hati-hati.
"tidak ada sayang,"jawab papa derent dengan tersenyum lebar melihat ke arah nya.
"apa papa yakin." seru Tere, ia melihat ada masalah yang dihadapi oleh orang tua tapi apa?.
"iya sayang, semua nya baik-baik saja,"ujar papa derent dengan menyakinkan sang putri nya,
"baiklah"jawab Tere dengan cepat,
Tere memilih diam saat mereka mengobrol, disisi lainnya Tere melirik ke arah jam, ia sendiri tidak ingin memaksa orang tua nya untuk menceritakan semua masalah yang sedang mereka hadapi.
tidak butuh waktu lama Nile juga datang ke kamarnya bersama dengan Greyson, Nile membawakan beberapa yang di butuhkan oleh Tere, yaitu berkas-berkas yang ia butuhkan.
__ADS_1
"kamu baru sadar sayang, tidak boleh bekerja dulu." ujar papa derent dengan tegas.
"pa!."panggil Tere dengan lembut dan tersenyum lebar ke arah papa derent yang tengah menatapnya.
"ada apa hmm?."tanya papa derent yang sudah duduk di dekat nya.
"papa yakin tidak mau memberitahu Tere tentang sesuatu pa." bukannya menjawabnya justru Tere melemparkan pertanyaan kepada papa derent , ia bahkan tidak menghiraukan keberadaan yang lainnya di sana.
"tidak ada sayang." jawab papa derent yang tetap kekeh pada pendiriannya.
"papa yakin, jangan sampai aku mencari tahu sendiri tentang apa yang Lala sembunyikan Dari Tere." ujar Tere dengan menatap lekat wajah papa derent,
"baiklah kamu menang sayang." seru papa derent dengan menatap lekat wajah putri nya, ia menarik nafas dalam-dalam sebelum menceritakan semua nya kepada putri nya.
"sayang, besok akan ada seseorang yang akan datang ke rumah ini untuk bertemu dengan mu." ujar papa derent, sedangkan yang lainnya terkejut mendengar perkataan dari papa derent, begitu juga dengan Teresa.
"siapa?."tanya Tere dengan menaikkan satu alisnya menatap wajah sang papa.
"cucu dari sahabat nenek kamu."jawab papa derent dengan Ter kecil, sedang kan membulat kan matanya dengan sempurna,
"apa papa berniat menikah kan ku kembali dengan cucu Sahabat grandma?."tanya Tere saat sadar arah pembicaraan sang papa.
"tidak sayang, papa sudah memberitahu mereka bahwa kamu sudah menikah dan juga sedang hamil tapi mereka tetap ingin bertemu dengan mu."jawab papa derent yang masih memasang wajah senyum.
"pa, Tere tidak mau bertemu dengan mereka. kenapa harus Tere,"celetuk Tere dengan kesal, bisa-bisa nya kedua nenek nya menjodohkan kan dengan orang berbeda.
"setidaknya temui lah mereka sayang! kamu satu-satunya cucu perempuan di dua keluarga." ujar papa derent,ia sendiri juga bingung dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"hmm terserah papa saja! tapi ini yang terakhir kali nya, Tere tidak mau mendengar soal perjodohan lagi setelah ini, dan Tere benar-benar sudah lelah." Jawab Tere dengan pasrah,
"
__ADS_1