Perjodohan Masa Kecil

Perjodohan Masa Kecil
bab 69


__ADS_3

"Greyson, apa kamu ingin ikut naik ke atas untuk menemui kakak kamu?." tanya mama Victoria yang beralih menatap putra nya,


"tentu saja Greyson akan ikut ma." jawab Greyson dengan cepat, ia berlari menuju ke arah mama nya.


"ayo aunty, Vincent akan mengantarkan aunty ke tempat Tere." seru Vincent dengan berjalan terlebih dahulu, mereka berjalan menuju kamar yang sedikit jauh dari kamar yang lainnya.


baru di depan pintu kamar mereka sudah bisa mencium bau obat-obatan yang sangat menyengat di Indera penciuman mereka.


Vincent membuka pintu kamar itu dan segera berjalan menuju ke tempat tidur tempat Tere istirahat, mama Victoria menjadi sesak nafas saat melihat keadaan putri nya yang terdapat banyak alat-alat medis pada tubuh putri nya.


papa derent duduk di sebelah kiri putrinya, ia menghujani wajah putri nya dengan ciuman, ia sangat senang melihat putrinya yang masih hidup, walau keadaan nya sangat mengkhawatirkan. tetapi mereka tetap bersyukur karena putri mereka masih hidup.


"sayang, ayo bangun. bukankah kamu putri papa yang paling kuat hmmm." ujar papa derent lirih, ia mengusap kepala putrinya yang semakin kurus badan nya.


"bukan kah kamu sudah berjanji kepada papa jika kamu akan menemani papa hingga tua hmm, apa putri papa ingin mengingkari janji nya?." imbuh nya, Vincent melihat ada pergerakan kecil dari tangan Adik sepupunya tersenyum lebar, ia segera memanggil dokter yang menangani Teresa.


Steve yang melihat keadaan Tere yang seperti itu membuat dada nya sangat sakit, wajah pucat dan tubuh istrinya yang sangat kurus membuatnya bertambah merasa bersalah terhadap istrinya.


charlotte memandang wajah Tere dari kejauhan. ia memeluk tubuh Tama saat ia sudah tidak tega melihat keadaan kakak ipar nya.


tidak berselang lama dokter pribadi Vincent sudah datang dan segera memeriksa kondisi tubuh Tere yang masih terbaring lemah,


"bagaimana?" tanya Vincent kepada dokter pribadi nya,


"ini kemajuan yang sangat bagus untuk nya, dia sudah bisa merespons pembicaraan kalian walau dengan gerakan tangan yang pelan tapi ini sangat bagus untuk perkembangan kondisi nya."ujar dokter yang menangani Teresa, sebelum di bawa ke dalam rumah ini keadaan nya sangat memprihatinkan bahkan ia sendiri sempat menyerah setelah melihat rekam medis pasien milik Tere,


"teruslah mengajaknya berbicara agar ia tidak merasa sedang sendirian."imbuh nya setelah itu ia berpamitan untuk pergi.


"Vincent, bagaimana dengan keadaan Nile?."tanya papa derent kepada Vincent, sebelum menjawab nya mereka sudah di kejutkan dengan suara yang keras dari arah pintu. mereka terkejut saat melihat sesosok tubuh yang berdiri di ambang pintu.


"tuan, bagaimana dengan keadaan nona?." tanya Nile, ia sendiri tidak memikirkan tentang kondisi tubuh nya sendiri saat ini,


"masih belum sadarkan diri Nile, kamu istirahat lah Nile, supaya cepat pulih." jawab papa derent, ia menatap sekilas kearah Teresa dan mengatakan sesuatu yang membuat mereka semua terkejut.

__ADS_1


"nona bangunlah, bukan kah anda ingin melihat sendiri proses pembangunan rumah impian anda. jika anda segera tidak bangun, saya pastikan akan menghancurkan bangunan yang sudah hampir jadi itu menjadi rata dengan tanah." ujar Nile, papa derent melihat pergerakan tangan putri nya setelah mendengar perkataan dari Nile.


"nona anda bukan lah orang lemah, tunjukkan kepada mereka semua yang memandang rendah anda, tunjukkan bahwa Anda mampu melampaui mereka dan bukan kah anda pernah mengatakan jika anda ingin membuat orang-orang yang sudah menghina anda bersujud kepada anda nona.


jika mereka melihat anda yang seperti ini bukan kah mereka akan tertawa di atas penderitaan anda nona." imbuh nya, ini kali pertama papa derent mendengar perkataan Nile yang sangat panjang, Nile adalah asisten pribadi Teresa, saat Tere pertama kali mengambil alih perusahaan nya.


lagi dan lagi Tere menanggapi nya dengan menggerakkan jari-jarinya dengan pelan, kelopak matanya juga sedikit bergerak.


Nile memegang kepala nya yang terasa sakit, bahkan badan nya sudah tidak bertema lagi. papa derent yang melihat keadaan Nile segera meminta untuk kembali ke kamar nya untuk istirahat.


walau dengan berat hati Nile meninggalkan ruangan tempat Tere berada,


"uncle, aunty, lebih baik kalian istirahat dulu. aku yakin kalian tidak cukup tidur saat datang kemari." ujar Vincent dan di angguki oleh papa derent,


kini mereka semua telah pergi keluar dari kamar Tere dan hanya menyisakan Steve yang masih berdiri mematung di dekat sofa, dengan perlahan Steve berjalan menuju ke arah Tere berbaring.


iya mendekat ke arah Tere dan mencium kening sang istri dengan sangat pelan, Steve memandang wajah Tere yang masih pucat itu dengan sedih.


kemudian ia memegang tangan Tere dengan erat dan mencium nya beberapa kali dan mengucapkan kata maaf dengan cara membisikkan nya.


"aku mohon sayang bangun lah, kamu bisa menghukum ku nanti setelah kamu bangun. " imbuh nya, Steve meletakkan kepalanya di samping tubuh Tere, Steve memejamkan matanya karena mengantuk.


di sisi lain mereka semua sedang makan bersama tanpa kehadiran Steve, Steve sendiri menolak untuk makan bersama, ia lebih memilih menemani sang istri yang masih belum sadarkan diri juga.


"aku berjanji sayang,akan melakukan apa pun yang kamu inginkan. tapi tolong bangunlah sayang, aku tidak bisa melihat mu seperti ini terus." ujar Steve dengan melabuhkan ciuman di pipi sang istri.


seperti hari-hari sebelumnya mereka menemani dan mengajak mengobrol Tere, tapi Tere hanya merespon dengan pergerakan tangan.


sudah dua Minggu mereka menunggu Teresa Sadar kan diri, dan mereka selalu bergantian untuk menjaga Teresa.


saat mereka sedang mengobrol tentang sesuatu, mereka di kejutkan dengan lenguhan panjang dari seseorang.


"uhhh"pandangan mereka kini justru beralih menatap wajah tere yang masih terbaring di ranjang, papa derent menghampiri putri nya,

__ADS_1


ia terkejut saat mendengar lenguhan itu ternyata dari putrinya.


"eummm, Nile." kata pertama yang Tere ucapkan dengan mata terpejam, dan masih belum melihat sekeliling nya.


"Tere"panggil papa derent dengan pelan, Tere yang seperti nya mendengar kan suara papa nya membuka mata nya dengan perlahan.


"papa"ujar Tere dengan lirih, ia mengulum senyum melihat papa nya yang tengah duduk di samping nya, Tere menatap ke sekeliling dan mendapati keluarga yang lainnya juga bahkan suami nya berada di samping juga.


Tere memalingkan wajahnya saat Steve menatap kearah nya, Tere memandang wajah papa nya dan merentangkan kedua tangannya ke arah sang papa.


papa derent menyambut pelukan sang putri dengan tersenyum lebar ke arah nya,


"pa, bagaimana dengan keadaan Nile?." tanya Tere, ia masih ingat jika Nile melompat bersama dengan nya dan ia yakin jika Nile terluka lebih parah dari nya.


"nile baik-baik saja sayang,"jawab papa derent yang masih memeluk putri nya,


"pa, apa kita sedang di rumah si manja?."tanya Tere setelah melihat ke sekeliling nya. papa derent terkekeh kecil mendengar perkataan putrinya.tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengar perkataan dari Tere,


"siapa yang kamu bilang anak manja hah? baru bangun sudah ngajak ribut ya kamu."seru Vincent dengan tatapan sengit ke arah Tere,


"siapa lagi kalau bukan kakak?."jawab Tere dengan tersenyum kecil,


"sepertinya otak kamu ikut bermasalah Tere, bagaimana jika aku membedah kepala kamu dan mengeluarkan isi nya, sepertinya menarik." ujar Vincent dengan mengancam Tere, bukan nya Takut justru Tere tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari sepupu nya.


"aku baru tahu jika kakak mempunyai sifat spikopat,"seru Tere dan merentangkan kedua tangannya agar di peluk.


"bagaimana dengan keadaan kamu sekarang." tanya Vincent, walau usia nya lebih jauh dari Tere, ia selalu menempatkan dirinya sebagai teman dan bukan seorang kakak.


"sedikit baik."jawab Tere dengan pelan dan melepaskan pelukannya, ia melihat ke sekeliling lagi tapi ia tidak mendapatkan seseorang yang ia cari.


"cari aunty." tanya Vincent dengan tepat dan di angguki oleh Teresa. ia memejamkan matanya saat kepala terasa sakit.


"aunty di dapur sedang memasak untuk Greyson," jawab Vincent dengan meraih obat dan segelas air putih dan memberikan nya kepada Tere, Tere meminum obat itu dengan segera.

__ADS_1


"istirahat lah dulu, aku akan memanggil kan dokter untuk mu." ujar Vincent yang ingin pergi untuk menelpon dokter untuk Tere, sebelum pergi ia mencium kening adik nya itu.


__ADS_2