
"bagaimana jika tuan Steve benar-benar bertindak setelah ini nona?" tanya salah satu anak buah nya, ia tahu jika Steve sudah bertindak mereka tidak akan bisa berkutik. mereka semakin takut saat mengetahui siapa Tere sebenarnya.
"CK, apa yang kalian takuti, hah! Steve tidak bisa melakukan apa-apa terhadap kita saat ini.
lagi pula, aku yakin jika ia tidak mencintai istrinya nya itu.pria sepertinya tidak akan bisa melupakan masa lalu nya begitu mudahnya!." jawab perempuan itu yang tidak lain adalah mantan kekasih Steve yang dulu meninggalkan Steve begitu saja tanpa penjelasan apapun.
"tapi nona! istri dari tuan muda Steve juga bukan orang sembarangan, nona." jawab si A dengan ketentuan yang terlihat jelas di mata nya.
"CK, kalian pengecut." umpat nya kesal lantaran anak buah ketakutan setelah tahu siapa yang mereka celakai.
BRAK
mereka semua yang berada di dalam ruangan terkejut, saat pintu di dobrak oleh Steve. ia sudah cukup diam tapi setelah apa yang mereka lakukan kepada istri nya beberapa Minggu terakhir ini, benar-benar membuat Steve naik pitam.
bukan hanya Steve, tama juga merasakan hal yang sama. ingin sekali ia menguliti orang-orang itu hidup-hidup.
mereka gelagapan saat mengetahui siapa yang sudah berani mendobrak pintu mereka.
wajah perempuan tadi sangat pucat padi dan tidak tahu harus berbuat apa sekarang ini. tiba-tiba nyali mereka menciut saat bertatapan dengan tiga orang yang mendobrak pintu tadi.
"Steve, kenapa kamu bisa kemari?." tanya Della, dengan gugup dan sedikit gemetaran saat melihat Steve yang tengah menatapnya nya dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"jika aku tidak kesini, bukan kah aku tidak akan pernah mendapatkan bukti untuk memasukkan kalian semua kedalam penjara hah." bentak Steve dengan nada dingin dan berwajah datar, kesabaran Steve sudah habis, ia mengepalkan tangannya erat.
"Steve kamu salah dengarkan aku dulu," kilah Della yang berusaha mendekati Steve.
"tidak perlu, semuanya sudah jelas Della dan istri ku lebih baik dari pada kamu, dari segi apapun itu."ujar Steve dengan membedakan mantan kekasih nya dengan istrinya, ia begitu buta dulu, sampai-sampai ia mencintai perempuan ular sepertinya.
Della yang mendengar perkataan Steve, tidak terima begitu saja jika di bandingkan dengan istri nya itu. ia tertawa terbahak-bahak seperti orang gila, karena ingin membalaskan dendam nya ia menjadi senekat ini.
"hahaha..... beraninya kamu Steve, istri kamu lebih mur*Han dari pada aku! dia tidak lebih menjadi pemu*s mu nafs*u saja." bentak Della, Steve yang mendengar perkataan Della menjadi geram, ia menghampiri wanita itu dan tiba-tiba ia menampar sukup keras di pipi Della.
plakkkkk
"jangan pernah menghina istri ku Della!" ujar Steve melayangkan tamparan keras di pipi Della sehingga meninggalkan cap lima jari nya. "dia tidak seburuk kamu, kamu dan dia sangatlah berbeda." imbuh nya dengan mendorong kuat tubuh Della hingga ia terhuyung ke belakang dan terjatuh, ia saja tidak pernah menghina istri nya, tapi orang lain berani menghina istri nya di depan matanya, tentu saja ia tidak terima semua ini.
"perbedaan antara kamu dan Tere itu banyak, Teresa selalu hidup mandiri tapi kamu selalu tergantung pada keluarga. di usia muda ia sudah mengambil tanggung jawab yang besar dengan cara mengambil alih perusahaan keluarga, sedangkan kamu hanya suka menghamburkan uang nya saja dan tidak mau bekerja." ujar derent yang baru datang bersama dengan keluarga nya, ia juga datang bersama dengan orang tua Tama dan Steve.
Steve dan yang lainnya terkejut melihat kedatangan keluarga mereka, derent menghampiri Della dengan langkah tegas. ia mencengkram erat dagu Della dan menghempaskan kasar dan membuat Della terjatuh kembali.
"apa kamu lupa siapa saya Della?."tanya derent dengan dingin,Della menatap tajam ke arah derent yang sedang berada di depan nya.
"cih, kalian semua memang pantas mendapatkan itu semua." bentak Della,ia memerintahkan kepada anak buah agar cepat bertindak namun ia sudah terlambat, anak buah nya sudah di ringkus oleh polisi dari belakang.
__ADS_1
"apa yang kamu inginkan?" tanya derent yang masih dengan tatapan membunuh nya,Della yang mendengar nya tersenyum miring menatap ke arah mereka.
"tentu saja kematian kalian semua." jawab Della dengan menarik mengambil pistol dan mengarahkan nya kepada Steve. "jika aku tidak bisa memiliki mu, jangan harap orang lain bisa mendapatkan mu Steve" teriak Della dan melesat kan tembakan ke arah Steve, Steve tidak sempat menghindari nya, dan tertembak tepat di dada nya.
dor... dor....dor...
setelah melepaskan tembakan ke arah Steve, kini ia kembali mengarahkan tembakan ke arah Charlotte. namun belum sempat ia menembak nya ia sudah di tembak dulu oleh derent.
dor
mereka semua terkejut saat melihat derent menembak Della tepat di kepala nya, dan tidak membutuhkan waktu lama ia pun tewas. setelah semua nya selesai, mereka melarikan Steve ke rumah sakit terdekat.
saat ini Steve mengeluarkan banyak darah akibat terkena tembakan dari Della, mereka tidak pernah berpikir jika Della akan senekat ini.
Charlotte menggenggam erat tangan sang kakak di dalam mobil, ia tidak ingin melihat orang yang ia sayang meninggalkan nya lagi.
"kak Steve jangan tidur, ayo bangun kak!" ujar Charlotte dengan lirih, saat ia melihat mata sang kakak yang hendak terpejam. Steve menatap nanar wajah adik dan mommy nya.
"sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit kak! kakak tahan sebentar lagi ya, Charlotte mohon." imbuh nya di sela tangis Charlotte, Tama memeluk tubuh Charlotte dan mencoba untuk menenangkan sang istri.
"bukankah dengan cara seperti ini kakak bisa bertemu dengan Tere, Charlotte! kakak ingin meminta maaf kepada nya karena kakak tidak bisa menjaga nya dengan baik dan justru kakak menyakiti perasaan nya." Ujar Steve dengan pelan, dengan menahan sakit di dada nya, ia berpikir tidak akan selamat dan akan menemui Tere di sana.
__ADS_1
"kakak ini bicara apa sih, jangan ngomong yang tidak-tidak kak! Charlotte yakin kak Tere masih hidup sekarang." jawab Charlotte dengan kesal lantaran sang kakak yang seperti sudah tidak ingin hidup lagi, demi membuat sang kakak semangat ia membohongi diri nya sendiri dan kakak nya, agar percaya jika Tere masih hidup.
Steve tersenyum getir saat mendengar perkataan dari sang adik, ia tahu jika adik nya hanya ingin menghiburnya saja. Steve tidak menanggapi nya lagi, ia merasakan sakit saat mengingat sang istri yang masih belum diketahui keberadaannya sampai saat ini.