Perjodohan Masa Kecil

Perjodohan Masa Kecil
bab 70


__ADS_3

"papa panggil kan mama dulu ya!." ujar papa derent yang ingin melepaskan pelukan Tere, tapi Tere menggeleng kan kepala dengan cepat.


"papa di sini saja temenin Tere, Tere tidak mau sendiri." seru Tere bahkan ia mempererat pelukannya, walau ada yang lainnya di sisinya. ia selalu merasa aman di dekat sang papa.


"bukan nya kamu sedang mencari mama hmmm."ujar papa derent dengan mengusap kepala Tere dengan lembut, putrinya memang terlihat kuat tetapi sebenarnya putrinya sangat lemah,


"iya, tapi aku mau nya papa di sini temenin Tere."jawab Tere dengan menyembunyikan kepalanya di dada sang papa,


"papa hanya sebentar saja sayang! tidak akan lama," ujar papa derent dengan terkekeh kecil saat melihat putrinya yang tengah menatapnya dengan cemberut,


"ya sudah, tapi tolong nanti bawakan Tere makanan saat datang lagi ya pa, Tere sangat lapar." jawab Tere yang akhirnya melepaskan pelukannya dari papa derent,


"iya nanti papa bawakan makanan nya"seru papa derent, setelah peninggalan papa derent, Tere kembali berbaring dan memejamkan matanya. ia masih enggan untuk berbicara dengan Steve,


"Tere, apa ada yang sakit sayang?."tanya Dady Mike yang entah sejak kapan duduk di samping nya, Tere kembali membuka matanya dan duduk. Steve membantu Tere yang ingin duduk kembali,


"tidak ada dad, Tere hanya merasa pegal saja,"kilah Tere, ia tidak ingin dikasihani oleh orang lain . walaupun sebenarnya ia sedang menahan sakit di kepala dan bagian kakinya.


"kamu yakin sayang." ujar Dady Mike dengan mengusap kepala Tere dengan lembut


"iya Dady, Tere baik-baik saja." kilah Tere kembali, ia melihat ke arah uncle nya dan di sana ada seseorang pria paruh baya yang menatap nya dengan tersenyum,


Tere mengernyitkan keningnya saat melihat sesosok itu, ia merasa pernah melihat nya tapi entah mengapa ia tidak bisa ingat di mana ia bertemu dengan nya.


"sayang." panggil seseorang yang baru datang, Tere tersadar dari lamunannya dan tersenyum lebar kearah nya.


"mama, Tere kangen."seru Tere dengan merentangkan kedua tangannya,


"mama juga kangen sama kamu sayang," ujar mama Victoria dengan memeluk erat tubuh putri nya.


"di mana papa, ma,"tanya Tere yang tidak melihat sang ayah ikut masuk.


"papa kamu sedang memasak makanan untuk mu."jawab mama Victoria dengan mencubit hidung dengan gemas,

__ADS_1


"kakak."teriak Greyson yang baru datang dan langsung berhamburan ke pelukan sang kakak, "kakak baik-baik saja kan," ujar Greyson dengan terisak di dalam pelukan sang kakak.


"kakak baik-baik saja grey! bukan kah kakak pernah berjanji kepada kamu, jika kakak akan menemani kamu, papa dan mama sampai tua, lalu bagaimana mungkin kakak mengingkari janji kakak kepada kalian."ujar Tere dengan lembut,


"jangan nangis lagi ya, adik kakak sangat jelek kalau sedang menangis." timpal nya dengan nada mengejek sang adik, Greyson menatap kesal ke arah kakak nya.


"Greyson, turun dari pangkuan kakak kamu." perintah papa derent dengan membawa minuman dan makanan untuk Tere,


"biar mama yang suapi kamu ya."seru mama Victoria setelah sang suami sudah di dekat mereka,


"tidak ma, Tere mau papa yang suapi." tolak Tere dan menatap ke arah sang papa.


"ya sudah, kamu memang selalu manja kepada papa kamu ketimbang sama mama." ujar mama Victoria dengan sedikit kesal, putrinya akan sangat manja kepada sang papa nya jika dia sedang sakit.


"jangan marah ya ma,"bujuk Tere, dengan memeluk tubuh sang mama, "Tere kangen sama kue buatan mama." ujar Tere


"ya sudah mama buatkan untuk kamu."jawab mama Victoria, ia kemudian mencium pipi sang putri sebelum pergi ke bawah untuk membuat kan apa yang sedang di inginkan oleh putrinya.


"pa, dimana kak Vincent?." tanya Tere yang tidak melihat lagi keberadaan Vincent.


"eummm bubur buatan papa memang yang paling enak."puji Tere di sela makannya, Tere sangat menyukai bubur buatan sang papa.


"benarkah." ujar papa derent, putrinya ini memang sangat suka dengan masakan nya dari kecil, bahkan saat sakit ia tidak ingin memakan masakan orang lain selain dirinya.


"eumm iya." jawab Tere singkat dan kembali menikmati makanan nya sampai habis,


"mau papa ambilkan lagi sayang." ujar papa derent saat melihat makanan nya sudah habis.


"tidak pa, Tere sudah kenyang." jawab Tere dengan menggeleng kan kepalanya,


"papa pilih kasih, kenapa hanya kakak yang dibuatkan makanan saat sakit?." keluh Greyson kepada sang papa,


"karena kamu tidak suka dengan masakan papa, apa kamu lupa itu Greyson?." ujar papa derent dengan menatap wajah putra nya, Greyson cengengesan mendengar perkataan dari sang papa. Tere yang penasaran dengan beberapa orang di sana pun akhirnya bertanya kepada papa derent.

__ADS_1


"eumm pa, siapa mereka?." tanya Tere dengan menunjuk ke arah orang-orang yang asing bagi nya, papa derent mengikuti arah tunjuk putri nya.


"sayang, kamu tidak mengenali uncle."seru Dady Reyhard kepada keponakan nya,


"no uncle, bukan itu maksud Tere! tapi orang-orang yang berada di sebelah uncle." ujar Tere dengan mengalihkan pandangan nya ke arah papa derent,


"kamu tidak mengenali mereka sayang?." tanya papa derent dengan mengernyitkan keningnya,


"tidak pa, wajah mereka sangat asing untuk Tere." jawab Tere dengan jujur,


"Tere, kamu lupa dengan kakek dan juga uncle kamu yang lainnya." tanya Dady Reyhard dengan tatapan yang aneh,


"eumm kalau soal itu maaf, Tere hanya mengingatkan uncle Reyhard, aunty Laurent, Tama dan juga Leo, untuk selebihnya nya tidak ingat." ujar Tere, ia benar-benar melupakan keberadaan keluarga papa nya yang lain selain orang tua Tama.


"kenapa kamu bisa lupa dengan mereka tetapi tidak dengan kami?"tanya Tama dengan heran, Tere mengangkat sebelah alisnya menatap wajah Tama.


"karena aku selalu melupakan keberadaan seseorang yang tidak penting bagi ku, terlebih lagi orang yang tidak menghargai orang tua ku."jawab Tere dengan memalingkan wajahnya setelah tahu siapa mereka, perkataan dari Tere membuat kakek Alexander dan juga dua putra nya yang lainnya terdiam.


"jangan terlalu banyak pikiran sayang, kamu baru saja sadar setelah hampir tiga bulan." ujar papa derent dengan mengusap kepala Tere dengan lembut. Tere mengangguk patuh.


"Nile, kemana pa?." tanya Tere ia berusaha melupakan masa lalunya yang saat ini justru berputar di otaknya.


"nona, apa anda mencari saya?." seru Nile yang tiba-tiba muncul di depan pintu,


"hmm, aku sangat bosan berada di dalam kamar Nile, tolong bawa aku ke taman." ujar Tere, ia tidak peduli dengan tatapan dari suaminya, ia ingin memberikan pelajaran kepada suaminya itu.


"tapi anda baru sadar dari koma anda nona, itu tidak baik untuk kesehatan anda." jawab Nile sopan,


"kamu ingin mematuhi perintah ku atau kamu aku pecat Nile." ancam Tere dan berhasil membuat Nile tidak berkutik lagi. ia menatap ke arah papa derent untuk meminta persetujuan dari nya, papa derent yang melihat nya mengangguk kan kepala nya.


"baiklah nona, tapi kita di sekitar rumah saja ya!." ujar Nile dengan helaan nafas berat, ia memang tidak bisa menang jika berdebat dengan Tere.


"mau kemana." suara seseorang yang baru saja datang, Nile spontan menengok ke arah sumber suara.

__ADS_1


"ke taman."ujar Tere dengan dingin,


"tetap di tempat mu atau ku patah kan kaki kamu Tere." ancam Vincent, adik nya ini memang tidak pernah mau diam walau pun sedang sakit. Tere menatap sebal ke arah kakak nya Vincent, lalu ia memalingkan wajahnya dan mengurung kan niat nya untuk pergi.


__ADS_2