Perjodohan Masa Kecil

Perjodohan Masa Kecil
bab 48


__ADS_3

"kenapa kak Tere tidak memberikan nya langsung kepada kak Steve?." tanya Charlotte, ia sungguh tidak bisa melihat rumah tangga sang kakak hancur begitu saja, apalagi dengan adanya orang ketiga di sisi kakak nya saat ini.


"tidak bisa Charlotte, sekarang ini jalan kami sudah berbeda. biarkan dia bahagia dengan pilihan nya sendiri!." jawab Tere lirih, ia merasakan sesak saat mengingat jika ia menyerahkan surat gugatan cerai kepada suaminya.


"apa Charlotte boleh bertanya sesuatu kak?." tanya Charlotte dengan menyiapkan segala sesuatu yang akan terjadi suatu saat nanti.


"apa?."jawab Tere singkat, kepala nya mulai sakit lagi. bahkan kaki nya juga sama namun ia memilih tetap bertahan di posisi nya, ia tidak ingin memperlihatkan sisi lemah nya kepada orang-orang yang tengah memantaunya saat ini.


"apa kak Tere akan melepaskan kak Steve begitu saja?" tanya Charlotte dengan lirih, ia tahu jika pertanyaan nya ini mungkin akan menambah luka di hati kakak iparnya, namun yang sekarang ia pikirkan adalah menyatukan mereka kembali.


"jika kakak kamu memilih untuk hidup bersama dengan nya! apa aku harus melarangnya Charlotte?" jawab Tere dengan mata berkaca-kaca saat membahas tentang orang yang pernah mengisi hati nya yang penuh kekosongan dengan kasih sayang yang tulus. "untuk apa di pertahankan hubungan ini jika salah satu dari kita sudah tidak memiliki rasa? cinta tidak harus selalu memiliki, asal melihatnya bahagia itu sudah lebih dari cukup bagiku." ujar nya lirih, ingin sekali ia menangis namun tetap ia tahan. Charlotte yang mendengar perkataan dari Tere pun ikut sakit.


"apa kakak membawa surat nya?." tanya Tere dengan memperhatikan mobil yang berada di depan nya yang cukup jauh dari tempat ia duduk saat ini.


"surat itu sudah berada di dalam kamar kamu Charlotte, kakak menaruhnya di saat tidak ada orang di rumah. surat itu berada di bawah meja rias mu," jawab Tere dengan menahan sakit yang luar biasa di kepala nya akibat benturan keras saat kecelakaan waktu itu,

__ADS_1


"aku akan mengambilnya dengan hati-hati kak, jadi kakak tidak perlu khawatir. Charlotte janji akan merahasiakan ini semua dari semua orang, dan Charlotte akan menyerahkan sendiri surat itu saat hanya berdua saja dengan kak Steve." ujar Charlotte mencoba untuk menyakinkan Tere bahwa semuanya baik-baik saja, dan tidak akan terjadi hal buruk yang akan menimpa mereka semua.


"terima kasih Charlotte, kakak berhutang kepada mu!." jawab Tere sedikit lega, ia tidak yakin akan kebenaran yang di sembunyikan oleh Steve dari nya. kesadaran Tere mulai berkurang, ia memegang kepalanya yang terasa sakitnya luar biasa dan semua pergerakan Tere di lihat oleh orang-orang yang sedang mengikuti nya.


"pulang lah Charlotte, ini sudah cukup lama kita di sini, jangan sampai mereka curiga kepada kita?." ujar Tere dengan lirih, mau tidak mau ia harus mengusir adik ipar nya agar meninggalkan nya. ia tidak ingin membuat Charlotte khawatir dan mengasihani dirinya, walau Tere lumpuh ia tidak ingin dikasihani oleh orang lain termasuk keluarga nya sendiri.


"iya kak! kakak berhati-hati lah. Charlotte pergi dulu." jawab Charlotte dan menunggu jawaban dari Tere yang berada di belakang tubuh nya sebelum ia benar-benar pergi dari sana.


"iya, kamu juga berhati-hati lah Charlotte. jangan pernah lihat kebelakang saat kamu pergi atau mereka akan curiga?." ujar Tere, saat ia menyadari jika salah satu dari orang itu berjalan ke arah nya.


orang-orang itu tidak lain adalah orang-orang suruhan dari perempuan yang beberapa waktu ini selalu menemani Steve, ia sangat cemburu terhadap Tere yang mendapatkan kasih sayang dari Steve dan perhatian nya. ia tidak pernah melihat perhatian Steve dulu kepadanya dan ini membuat nya ingin membuat Tere menghilang dari dunia ini.


setelah satu jam Tere masih duduk di tempatnya sepeninggal nya Charlotte, Tere tidak ingin membuat keluarga nya dalam masalah karena dirinya. setelah di rasa cukup, Tere menggerakkan kursi roda nya dengan menahan sakit di kepala nya, kali ini ia keluar lupa membawa obat nya.


dengan susah payah ia sampai di depan mobilnya yang sudah ada asisten pribadi nya di dalam nya, Tere memang menyuruh nya untuk tetap di dalam mobil karena ia tidak ingin di ganggu.

__ADS_1


saat Nile melihat Tere sudah dekat dengan segera ia membuka pintu mobil nya, dan saat ingin membantu nya, Tere dengan segera menolak nya karena ia bisa melakukan nya sendiri menurut Tere.


cukup lama kini Tere berhasil masuk mobil, Nile dengan setia berdiri di samping nona muda nya itu, nile segera memasukkan kursi roda milik Tere ke dalam bagasi mobil, dan segera berjalan masuk ke dalam mobil dan setelah itu ia melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


di dalam perjalanan Tere hanya diam saja, Nile menarik nafas dalam-dalam saat melihat perempuan yang ia kagumi dari dulu kini telah berubah menjadi murung, setidaknya dulu iya masih sempat melihat senyuman seorang Tere yang terkenal dengan dan cuek. ingin rasanya Nile memeluk perempuan yang ia kagumi memberikan ia semangat namun ia tidak bisa, karena ia takut jika itu akan melukai harga diri perempuan itu yang tidak lain adalah Tere.


Nile memang mengagumi sosok Tere dari awal ia bertemu, bahkan sampai sekarang rasa kagum itu berubah menjadi Cinta. namun sayangnya Nile tidak berani mengutarakan isi hati nya kepada Tere, saat Nile tahu jika Tere akan segera di nikah kan kepala orang lain. ia pun merasakan sakit hati namun tidak bisa berbuat banyak,


Nile terus memperhatikan Tere dari kaca spion mobil, jika ia tahu begini akhirnya pasti ia akan menggagalkan rencana pernikahan Tere waktu itu.biarkan dia egois walau hanya sekali saja namun sayangnya ia tidak memiliki kekuatan untuk itu semua.


Nile yang melihat ada beberapa mobil yang mengikuti nya, ia menambah kecepatan nya dan Tere menyadari itu. ia menatap Nile dengan tatapan yang sulit di artikan,


"ada apa Nile?." tanya Tere dengan lembut, pertanyaan dari Tere membuat Nile tersenyum kecil sehingga Tere tidak dapat melihat nya.


"ada yang mengikuti kita dari tadi nona! berpegangan lah nona, aku akan sedikit mengebut." jawab Nile dengan tenang, sedangkan Tere pikiran nya mulai kacau,

__ADS_1


"tenang lah nona, semua akan baik-baik saja.percayalah,"ujar Nile saat melihat raut wajah Tere menjadi pucat dan sedikit ada rasa khawatir di diri nya saat ini. dengan kecepatan tinggi Nile melajukan mobilnya tanpa mendengarkan bunyi klakson mobil dari orang-orang, yang Nile pikir kan saat ini adalah keselamatan Tere.


__ADS_2