
"dimana kakak ipar"tanya Tere dengan to the poin.
"apa seperti ini cara mu berbicara dengan kakak mu hah." jawab Vincent dengan dingin,
sedangkan Tere menggaruk hidungnya yang tidak gatal.
"kakak, dimana kakak ipar ku?" tanya Chaterine dengan manja, sedang kan yang lainnya terkejut melihat sikap manja Chaterine dengan kakak sepupu nya.
"sedang mengobrol dengan aunty, jangan bersikap manja umur kamu sudah tidak cocok lagi."jawab Vincent dengan mengejek adik nya.
"berbicara dengan kakak serba salah."seru Tere dengan mengerucutkan bibirnya, Vincent yang melihatnya bukan nya gemas justru memukul bibir sang adik dengan cukup keras.
"kak Vincent kira-kira dong, sakit tahu."teriak Tere dengan mengusap bibir nya yang terasa sakit.
"jika aku masih melihat nya lagi, bibir kamu tidak hanya kakak pukul tapi kamu harus belajar lagi tentang etika dari nol lagi, mau hmm."ujar Vincent dengan nada mengancam, ia senang jika sang adik bertingkah manja tapi tidak untuk di keluarga gristovert,
"haiss tidak mau, kakak nyebelin."jawab Tere dengan memalingkan wajahnya, setelah pindah dari keluarga Alexander, Tere bersama kedua orang tuanya tinggal di kediaman keluarga gristovert, dari kecil Tere selalu di didik dengan cara seperti seorang putri bangsawan, harus menjaga etika dan sebagainya.
sehingga ia tidak mempunyai waktu bermain seperti anak-anak seusianya, tere satu-satunya cucu perempuan di keluarga Alexander maupun gristovert.
bukan Tere nama nya kalau tidak membangkang waktu ia kecil.
Vincent mencium kening Tere dengan tersenyum lebar, ia menatap wajah Tere sangat lama. setelah menginjak dewasa tere memilih untuk tinggal dengan kedua orang tua nya di rumah yang tidak besar dulu dan mereka membangun perusahaan dari nol tanpa bantuan keluarga gristovert yang lainnya.
"sudah makan." tanya Vincent
"sudah, oh iya kak, teman Tere sebentar lagi akan datang ke Jerman. aku mau pulang ya," jawab Tere dan meminta izin dengan hati-hati, jangan sampai ia di masukkan ke kelas tata Krama lagi itu akan membuatnya frustasi.
"teman yang mana?" tanya Vincent dengan menaikkan satu alisnya menatap wajah Tere.
"hehe itu, eumm gimana bilang nya ya?." ujar Tere yang kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari sepupunya, sedangkan papa derent tersenyum kecil,
__ADS_1
"apa hmm?"
"kakak masih ingat tidak dengan teman Tere yang waktu kecil suka kabur-kaburan dari kakek nya." ujar Tere, dengan tersenyum,
"eumm yang wajah nya dingin dan datar itu." bukan Vincent yang menjawab nya melainkan papa derent.dan di angguki oleh Tere,
"iya pa, aku baru mendapatkan kabar dari nya jika ia akan ke Jerman untuk melanjutkan kuliah nya."ujar Tere dengan antusias menceritakan tentang temannya yang akan datang, mereka memang sudah sangat lama tidak bertemu bahkan mereka hanya mengirim pesan saja dan tidak mengetahui wajah satu sama lainnya.
"kapan kamu di beritahu nya?." tanya papa derent dengan penasaran,
"eumm sebelum kecelakaan yang waktu itu pa." jawab Tere dengan jujur,
"anak kecil yang selalu kamu ajak bermain dulu?." tanya Vincent yang tidak terlalu ingat,
"anak kecil yang kakak maksud itu sekarang pasti menjadi perempuan yang sangat cantik, seperti boneka." jawab Tere dengan tersenyum, ia selalu menganggap temannya itu seperti Boneka karena wajah nya sangat mirip dengan boneka Barbie,
"kapan dia datang?." tanya Vincent kembali, sedangkan yang lainnya hanya menjadi pendengar.
"eumm sepertinya satu Minggu lagi jika di ingat dari terakhir kali kami mengobrol." jawab Tere
"uncle, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepada uncle sekarang." timpal nya dan kini beralih menatap kearah uncle nya, jika obrolan yang ingin ia sampaikan tidak penting, mungkin akan membahas nya di kamar Tere tapi sayang obrolan ini menyangkut adik nya.
"baiklah,ayo."ujar papa derent dengan melangkah ke luar, sebelum pergi ia mengecup kepala Tere.
Tere memandang ke arah sang papa dan kakak nya yang sedang berjalan keluar dengan tatapan yang sulit di jelaskan, Tere membuang nafas panjang,
"kak Tere." panggil Charlotte dengan tersenyum lebar ke arah Tere, Tere mengalihkan pandangan saat dirinya di panggil.
"apa kakak tahu, kakak membuat semua orang khawatir dengan kakak."timpal nya dengan duduk di samping kakak iparnya.
"bahkan ada yang berubah sikap nya setelah kakak Belum di bisa di temukan" bisik Charlotte dan melirik ke arah sang kakak, Tere melihat ke arah pandang Charlotte yang ternyata tertuju pada Steve yang tengah menatapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
"kak Tere akan tinggal bersama dengan kami lagi kan, jika Kakak tidak tinggal bersama kami lagi, setiap hari pasti akan ada yang marah-marah nanti." adu Charlotte sedang kan Tere terkekeh kecil mendengar perkataan dari Charlotte, ia lalu menatap wajah Steve dengan mengangkat sebelah alisnya.
"hmm aku tidak janji," jawab Tere dan membuat Steve maupun Charlotte mengubah ekspresi wajah mereka,
"nona, ini laptop dari tuan Vincent." ujar seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar nya, Tere mengangguk kan kepala.
"bagaimana kalau kamu tinggal sementara dengan aunty, sayang," ujar aunty Laurent.
"no aunty,Tere akan tinggal bersama dengan papa saja,"tolak Tere halus,
Steve mendekati tere, ia sudah tidak tahan lagi untuk memeluk tubuh sang istri yang selama ini ia rindukan, tanpa mereka sadari jika sekarang ini tinggal mereka berdua di dalam kamar itu. mereka meninggalkan kamar itu dengan cepat saat melihat Steve berjalan ke arah Tere
"maaf" ujar Steve lirih setelah sampai di dekat Tere, bahkan ia berjongkok di depan Tere dengan memegang kedua tangan istri nya
"untuk apa?."tanya Tere dengan cuek, suaminya ini harus ia beri hukuman supaya jera dan tidak mengambil keputusan secara sepihak tanpa memberi tahukan nya.
"untuk semuanya, maaf aku sudah membuat mu menjadi seperti ini. seharusnya aku berkata jujur kepada mu waktu itu tapi aku tidak ingin membuat mu terlibat terlalu jauh dalam masalah ku."jawab Steve dengan penuh penyesalan.
"apa kamu belum bisa mempercayai ku waktu itu Steve."tanya Tere dengan menatap tajam ke arah Steve,
"aku mempercayai mu sayang, tapi aku tidak ingin membuat mu terluka karena aku."jawab Steve dengan mencium tangan Tere yang masih ia genggam.
"aku ingin sendiri Steve, pergi lah."ujar Tere dengan menarik tangan nya dengan pelan,
"tolong jangan marah lagi sayang, aku tahu aku salah. kamu bisa menghukum ku dengan cara apapun."seru Steve, ia benar-benar tidak tahan jika di acuh kan oleh istrinya.
"kau yakin Steve," tanya Tere dengan tersenyum Devils, Steve yang melihat senyuman dari istrinya dengan susah payah menelan Saliva nya. tiba-tiba perasaan tidak enak, Steve pun mengangguk pelan.
"keluar lah, aku tidak ingin melihat mu."jawab Tere dengan memalingkan wajahnya saat Steve melotot ke arah nya,
"sayang, tolong jangan menyiksa ku seperti ini." keluh Steve
__ADS_1
"kamu mau aku maafkan atau tidak." ujar Tere dengan cepat saat melihat Steve yang ingin berbicara lagi melalui ekor matanya, dengan berat hati Steve meninggalkan Tere. jangan sampai istrinya bertambah marah kepada nya.
Tere menggeleng kan kepala nya dengan cepat saat melihat raut wajah Steve yang lesu setelah mendengar perkataan nya.