Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
jomblo


__ADS_3

Happy reading...


Hembusan angin yang menyegarkan menyambut Alvin beserta keluarga kecilnya yang baru saja keluar dari bandara. Tidak hanya itu, dari kejauhan Evan yang sudah menunggu mereka melambaikan tangannya.


Pria paruh baya itu berlari kecil dengan tangan terbuka menyambut cucunya yang cantik, Queena. Gadis mungil itu terlihat senang bertemu Opanya. Begitu juga Evan yang tak henti-hentinya menciumi Queena yang kini berada dalam dekapannya.


"Bagaimana kabar orang tuamu, Laura?" tanya Evan.


"Baik, Om. Mereka titip salam untuk semua."


"Ada kabar dari Amiera, Vin?"


"Kuliah Amiera baru mulai pekan depan, Pa. Dia dengan Alena asik belanja," sahut Alvin dengan senyumnya.


"Papa kira kuliahnya udah mulai. Soalnya Papa nggak lihat Amiera ada di foto jalan-jalannya Wira. Malah ada siapa itu yang perempuan, teman kuliah atau pacarnya Rendy."


"Amie, sedang melihat-lihat kampusnya. Jadi nggak ikut jalan-jalan," sahut Alvin.


"Pacar Rendy? Bukannya tu anak jomblo," batin Alvin.


Diam-diam selama ini Alvin mencari tahu banyak hal tentang apa saja yang di lakukan Rendy di London. Menurut informasi yang didapatnya, Rendy tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun juga.


Alvin tahu sejak dulu Amiera menyukai Rendy. Bahkan adiknya itu sampai memusuhi Meydina karena menganggap saingannya. Dan saat mendengar Salman sedang mencari apartemen untuk Amiera, Alvin meminta Mike untuk memilih sebuah penthouse di gedung yang sama dengan Rendy. Dan tentu saja Mike tidak mengetahui alasan dibaliknya.


***


Mobil yang dikemudikan Evan menepi di depan teras rumah Salman. Seorang anak kecil berlari dari pintu besar yang dibukakan Papinya.


"Daddy!" Serunya.


Alvin yang baru menutup pintu mobil langsung menoleh dan merentangkan kedua tangannya sambil berjongkok.


"My Boy! I miss you.."


"Miss you too, Daddy!" ucap anak itu yang tak lain adalah Zein. Alvin memberikan kecupan hampir disetiap centi wajah Zein. Ia begitu gemas melihat wajah putra Maliek yang lucu itu.


"Hai Queena! Cantiknya. Sini sama Uncle," sapa Maliek yang mengangkat Queena ke dalam dekapannya.


"Amar, ana?"


"Ada di dalam sama Fatum. Zein, Papinya diambil Queen lho," delik Maliek.


"Bialin. Kakak punya Daddy," sahut Zein sambil memeluk leher Alvin.


"Yes, that's right!" sahut Alvin.


Maliek membulatkan mata sambil merengutkan wajahnya dan digerak-gerakkan kearah putranya. Zein yang melihat ekspresi lucu Papinya tertawa kecil sambil menyembunyikan wajahnya di leher Alvin.


"Papi jeyek," ujar Zein di sela tawanya.

__ADS_1


"Udah, jelek! Loe nggak dengar anak loe bilang muka loe jelek," hardik Alvin dengan candanya.


"Ish, loe ini. Gue heran kenapa anak gue nempel banget sama loe," ujar Maliek.


"Kan gue udah bilang. Loe lupa ya? Mau gue ingetin lagi?" goda Alvin.


"Iya, gue inget. Nyesel gue kenapa waktu itu nyuruh loe," gerutu Maliek.


Alvin terkekeh dan berlalu meninggalkan Maliek yang memajukan bibirnya. Sementara itu Laura mengulumkan senyum melihat tingkah keduanya.


Di ruang utama, Aldo sedang menemani Amar bermain lego balok di lantai yang beralaskan karpet bulu. Sedangkan Salman menemani Baby Fatum dengan celotehannya.


Queena yang masih dalam dekapan Maliek meronta ingin di turunkan. Gadis kecil itu berlari menuju Amar.


"Amaal.."


Amar yang menyadari kahadiran Queena beranjak sambil membawa lego hasil karyanya. Kemudian diberikannya lego itu pada Queena. Saat lego tersebut dalam genggaman Queen, Amar menghancurkannya. Dan tak lama kemudian, mereka terkekeh bersama.


"Yaa, rusak deh," ujar Aldo dengan ekspresi kecewa yang di buat-buat.


Amar dan Queena kemudian berlarian sambil tertawa karena Aldo yang bergaya seperti raksasa hendak menangkap anak-anak itu.


"Aldo lama-lama pantes ya jadi babysitter," ucap Alvin santai.


"Gue bisa bangkrut kalo dia yang jadi babysitter anak gue," sahut Maliek.


"Aldo gitu lho, gaji dah selangit tapi masih aja jomblo. Heran gue, Liek," ujar Alvin.


"Aku mana bisa nyari pacar, Vin. Waktuku habis buat kerja," sahut Aldo.


"Dengar tu, Yah. Kasian Pak Aldo, kan dia juga pengen nikah," ujar Meydina.


Aldo yang mendengarnya langsung menoleh pada Salman yang menatapnya tajam. Pria itu langsung menyanggahnya, "Tidak, Tuan. Bukan itu maksud saya. Saya hanya menanggapi candaan Alvin dan Tuan Maliek."


Melihat Aldo yang salah tingkah, membuat yang lain menertawakannya. Kecuali Salman tentunya. Tuan dari Aldo itu nyaris tak berekspresi melihat anak buahnya yang kebingungan menjelaskan.


Setelah saling menyapa, Salman menempatkan Queena di atas pangkuannya.


"Adik Fatum cantiknya sama seperti Kakak Queen, ya?" Ujarnya.


Queena mengangguk senang. Ia nampak antusias melihat Baby Fatum yang meresponnya.


Sementara Amar duduk di pangkuan Maminya, Zein masih asik duduk di pangkuan Alvin dan sepertinya tak ingin beranjak dari sana. Putra sulung Maliek itu sibuk menyela percakapan Alvin dan menuntut Alvin mendengarkan celotehannya.


***


Malam semakin larut, dentuman musik yang terdengar semakin memekakan telinga. Riuh suara manusia yang terbuai dosa bersinergi dengan aroma alkohol yang semakin menyengat.


"Sendirian, Bos?" tanya Bobi disela aktivitasnya meracik minuman yang di pesan pelanggan.

__ADS_1


"Iya nih, Bob. Riky lagi ke luar kota. Alvin katanya baru datang, jadi nggak bisa kesini. Dan Maliek, bos besar itu lebih takut sama istrinya dari pada sama singa." Jawabnya.


"Bukan takut, Bos. Tapi karena sayang jadi menghindari pertengkaran. Kan Bos Maliek udah punya anak, masa iya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk," bela Bobi.


"Iya juga sih. Tapi takut juga iya. Istrinya kan anak Singa padang pasir, hehe." Kekehnya.


"Bisa aja nih, si Bos."


Bobi menyodorkan segelas kecil minuman kepada pelanggan tetapnya tersebut. Dan dengan cepat dihabiskan oleh pria itu.


Disisi lain, Alya sedang bersenang-senang dengan teman-temannya. Malam ini ia sengaja datang keacara reunian teman kuliahnya. Ia menggunakan malam terakhir ini untuk berkumpul dengan teman-temannya, karena besok orang tuanya sudah kembali dari perjalanan mereka.


"Alya, nggak salah loe masih jomblo. Ini udah tahun keberapa Al? Calon tunangan nggak jadi loe aja udah punya anak," ujar salah satu temannya memanasi.


"Emang kenyataannya begini mau gimana lagi, heh? Kalau aja tu istrinya bukan anak Al-Azmi, udah gua embat si Maliek," sahut Alya yang sudah mulai mabuk.


"Mending kalau dia mau, Al. Haha," kelakar temannya.


Mendengar teman-temannya menertawakannya, Alya merasa tak terima. Dengan lantang ia kemudian berkata, "Dengar ya! Siapapun cowok yang gue tunjuk saat gue buka mata, dia akan jadi cowok gue. Setuju?"


Mendengar hal tersebut, teman-temannya bersorak. Alya yang sudah dalam pengaruh alkohol, berputar sambil menari-nari dan tentunya dengan kedua mata yang tertutup.


"Mulai, Al! 1, 2, 3..."


"Oke, gue pilih ee,, lo!" seru Alya sambil memegang pundak pria didekatnya.


"Yeah!" sorak teman-temannya.


Alya membuka matanya, sekilas ia tertegun lalu tersenyum.


"Mulai malam ini, loe pacar gue!" Tegasnya, sambil menunjukkan jarinya ke wajah pria itu kemudian ke wajahnya.


"Pacar?" Pria itu mengerutkan keningnya.


Alya mengangguk sangat cepat. Pria itu menyeringai.


"Sepertinya loe udah mabuk? Karena gue ini pacar loe, jadi malam ini loe temenin gue. Oke?" Bisiknya.


Alya mengangguk dengan tampang bodohnya. Ia tidak menyadari kalau saat ini sedang berhadapan dengan legenda casanova di tempat itu.


"Sorry, ya. Gue bawa teman kalian. Silahkan nikmati malam ini. Jangan khawatir, gue yang bayar." Ujarnya sambil menyambar tas milik wanita yang kini bergelayut manja di tangannya.


Teman-teman Alya kembali bersorak. Sepertinya tak ada satupun dari mereka yang perduli dengan nasib Alya. Setelah memberi kode pada Bobi, pria itu membawa Alya keluar dari club itu menuju apartemennya.


 


Hai, readers!


Ada yang tahu siapakah pria yang bersama Alya?

__ADS_1


Pasti tahu dong...😁 Hayoo siapa?


__ADS_2