
Happy reading...
Amiera mengendus bau yang tercium hidungnya. Bau harum maskulin yang terasa asing baginya.
"Apa ini bau parfum pria? Apa, pria! Itu artinya.."
Amiera cepat-cepat membuka kelopak matanya. Ia tertegun saat tatapannya langsung tertuju pada rahang suaminya. Senyum manis terukir di wajah Amiera, menyadari tangan Rendy yang saat ini sedang mendekap pundaknya. Apakah semalaman mereka tidur dalam posisi seperti ini?
Amiera menggerakkan jari telunjuknya menuju hidung Rendy. Pelan-pelan ia bergerak ke atas dan ke bawah membentuk garis vertikal pada tulang hidung pria itu.
Gerakan jari telunjuk Amiera berpindah pada bibir Rendy. Gerakannya mengikuti bentuk bibir milik pria yang sedang terlelap tersebut. Amiera benar-benar bahagia, tidak menyangka dirinya bisa sedekat ini dengan pria yang sejak awal pertemuan sudah mencuri hatinya.
Amiera cepat-cepat menjauhkan jarinya. Ia berpura-pura memejamkan mata saat terdengar gumaman pelan dari bibir Rendy. Rupanya gerakan jari Amiera telah mengusik tidur suaminya.
Rendy pun mengerjap. Ia nampak terkejut menyadari sebelah tangannya sedang mendekap Amiera. Di liriknya pucuk kepala Amiera. Lalu menoleh pada jam yang berada di dinding kamarnya.
Satu helaan nafas dibuang kasar olehnya. Semalam, entah berapa lama ia menahan gejolak dalam dirinya. Dan sekarang, saat pagi menjelang hal serupa juga terjadi.
Mungkin karena dirinya yang belum terbiasa dengan kehadiran Amiera. Gadis cantik ini telah menjadi istrinya. Namun hatinya belum bisa menerima Amiera sepenuhnya.
Pernikahan ini berdasarkan keinginan Tuan Salman. Ia juga melihat Amiera sebatas adik dari Meydina, bukan sebagai seorang wanita. Menurut orang tuanya, cinta bisa tumbuh seiring kebersamaan mereka.
"Kalian harus tinggal satu atap. Satu kamar tidur dan pastinya satu ranjang. Kamu juga harus memberikan hak Amiera atas dirimu, Ren. Dengan begitu cinta akan datang dengan sendirinya," pesan Mama Nura.
Mungkinkah wanita yang kini tengah memeluknya ini bisa membuatnya jatuh cinta? Bukankah pernikahan ini juga mengisyaratkan bahwa Amiera memang jodoh yang diberikan Tuhan padanya?
Entahlah. Yang pasti ini sudah waktunya ia harus bangun. Memulai kembali pekerjaan yang sudah satu minggu lebih ia tinggalkan.
Sementara itu, Amiera yang memang hanya berpura-pura tidur tertegun melihat sesuatu yang menggelembung di bawah sana.
Saat Rendy mencoba menjauhkan tangannya, Amiera melenguh dan menjatuhkan tangan itu tepat di atas bagian yang menggelembung tadi.
"Aww!" pekik Rendy yang hampir terjatuh karena terlonjak.
"Kakak nggak kenapa-napa? So-sorry," tanya Amiera yang juga terkejut.
Rendy menggeleng sambil menutupi bagian sensitifnya. Amiera tersenyum melihat hal tersebut.
"Pengen ya?" goda Amiera. Seketika wajah Rendy merona.
Beruntung deringan ponsel mengalihkan perhatiannya. Rendy berjalan menuju meja kerjanya dan menerima panggilan tersebut.
📱 "Halo!"
📱 "Ren! Ini benar kamu? Kamu nggak kenapa-napa kan?"
Baru saja Rendy akan menjawab pertanyaan di ujung ponselnya, ia dikejutkan oleh Amiera yang memeluknya dari belakang.
📱 "I-iya, aku nggak apa-apa."
📱 "Hari ini kamu ke kantor nggak? Aku jemput ya."
📱 "Nggak usah. Aku akan pergi dengan bus. Udah ya, Sophi. Aku harus mandi. Bye!"
📱 "Rendy, kamu sudah dengar tentang Mark? Pagi ini..."
Tuut... Rendy memutus panggilannya. Ia enggan mendengar apapun perihal pria yang telah membuatnya terlibat sampai sejauh ini.
"Amiera, aku harus ke kamar mandi. Apa kamu tidak akan pergi ke butik hari ini?" tanya Rendy yang merasakan pelukan Amiera semakin erat.
"Sebentar saja," sahut Amiera bergumam.
Rendy hanya terdiam tidak merespon apa-apa.
"Mau kubuatkan sesuatu untuk sarapan? Tapi mungkin aku tidak punya apa-apa di lemari pendingin. Apa kamu suka salad buah?" Tawarnya.
Amiera mengangguk dan melonggarkan tautan tangannya.
"Aku ke kamar mandi dulu," ujar Rendy pelan.
Setelah dari kamar mandi, Rendy langsung menuju pantry. Amiera terduduk menopang dagunya memperhatikan apa yang dilakukan suaminya.
Akhirnya merekapun sarapan bersama. Rendy menikmati kopinya dan Amiera menikmati salad buah buatan suaminya.
***
Amiera tergopoh-gopoh berlari menuju halte bus. Rendy sudah berdiri di halte itu dengan backphone yang dikenakannya.
__ADS_1
Amiera masih sempat tersenyum pada Rendy yang berekspresi datar kala menatapnya. Saat bus tiba, mereka pun naik bersama.
"Kakak akan naik bus jalur yang sama dengan Amie?" tanya Amiera saat Rendy melewatkan bus kedua yang menuju rute perusahaan.
Rendy hanya mengangguk dan benar saja, saat bus itu datang Rendy ikut naik bersamanya.
Amiera melambai saat ia hendak turun dari bus. Seperti biasa, Rendy berhenti di halte setelahnya dan berlari menuju ke kantornya.
"Rendy!" seru Sophia dari arah belakangnya.
"Kamu beneran nggak apa-apa?" tanya Sophia. Mereka berdua masuk ke dalam lift.
"Seperti yang kamu lihat, tidak terjadi apapun padaku. Pelaku sebenarnya juga sudah tertangkap." Sahutnya malas.
"Jadi kamu sudah tahu? Apa itu artinya kamu juga sudah membaca berita pagi ini?"
"Berita apa?" tanya Rendy heran.
"Berita tentang kecelakaan yang dialami oleh Mark."
"Mark kecelakaan?" Rendy merasa semakin heran.
"Iya, beritanya seperti itu. Mobilnya ditemukan jatuh kejurang. Awalnya ada yang mendengar suara ledakan. Dan setelah di ketahui, sidik jari pengemudi yang badannya sudah hancur itu adalah milik Mark." Sophia berkata dengan ekspresi ngeri.
"Aku duluan ya, bye!"
Sophia melangkah menuju ruangannya sementara Rendy menuju ke lantai paling atas. Ruangan Rendy yang baru berdampingan dengan ruangan Mike.
"Apa ini ada hubungannya dengan Tuan Salman dan Tuan Mike?" Batinnya.
Sesampainya di ruangan, Rendy disambut oleh asistennya, Erik. Pria itu menceritakan apa yang baru saja diketahuinya dari media online, tentunya tentang kabar meninggalnya Mark dalam sebuah kecelekaan tunggal.
"Tuan Mike sudah datang?"
"Sudah, Tuan."
"Erik, tolong siapkan semua laporan selama aku tidak masuk. Taruh saja di atas mejaku. Aku akan menemui Tuan Mike," pesan Rendy.
"Baik, Tuan."
Sepanjang langkahnya menuju ruangan Mike, Rendy terus saja menduga-duga alasan dibalik kecelakaan Mark.
"Tuan Mike, apa yang terjadi dengan Mark?"
"Seperti yang diberitakan. Dia mengalami kecelakaan tunggal. Mobilnya jatuh ke jurang dan meledak di bawah," sahut Mike santai.
"Aku tidak percaya begitu saja. Pasti ini ada hubungannya dengan kejadian malam itu kan?" selidik Rendy.
Mike menyeringai. Rendy merasa Mike terlihat berbeda.
"Katakan padaku, aku benar kan? Ini ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Amiera."
"Kalau iya, memangnya kenapa? Aku hanya memintanya melakukan hal yang sama."
"Maksudmu apa?"
"Aku menyuruhnya memasukkan serbuk ke dalam minuman lalu menyuruhnya meminum minuman tersebut. Hanya itu," sahut Mike santai.
"Serbuk apa? Minuman apa?" cecar Rendy.
"Serbuk sianida," sahut Mike enteng.
"Kau gila, Mike! Kau sudah meracunnya," pekik Rendy dengan wajah memucat.
"Aku tidak meracunnya. Dia yang mencampurkan, dia juga yang meminum. Dan asal kau tahu, sebelumnya aku sudah memberitahu serbuk apa itu. Dan kau bisa bayangkan betapa tangannya gemetar saat melakukannya," papar Mike.
Rendy menganga tak percaya dengan ekspresi wajah Mike yang dilihatnya. Sangat santai seolah memang tidak terjadi apa-apa.
"Apa ini perintah Tuan Salman?"
"Tidak. Tuan Salman tidak pernah mendikte anak buahnya harus berbuat apa. Dia hanya memerintahkan agar kami membalas seperti apa yang dia lakukan."
"Tapi kau memberinya serbuk racun, Mike." Rendy menjambak rambutnya sendiri. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Apa kau bisa bayangkan jika sampai terjadi hal yang tidak diinginkan pada Nona Amiera? Bukan hanya Mark, aku dan juga keluargaku harus melakukan hal yang sama."
"Apa?"
__ADS_1
"Jangan main-main dengan Tuan Salman. Dia tidak akan mengampuni siapapun yang menyakiti orang terdekatnya. Sekalipun itu kerabat mantan istrinya," ujar Mike.
"Kerabat mantan istri, apa maksudmu?"
"Paman Nona Amiera. Ku dengar Tuan Salman juga melakukan sesuatu padanya."
Rendy tampak berpikir keras. Dalam hati ia bertanya-tanya, "Siapa paman Amiera yang di maksud Mike. Pamannya yang di Timur Tengah atau Om Anton?"
Tidak lama kemudian pria itu terhenyak mengingat sosok Anton yang berjalan menggunakan tongkat. Apa itu perbuatan mertuanya? Tapi apa alasannya?
"Sebaiknya tanyakan hal itu pada Tuan Alvin atau Nona Amiera. Sekarang kita mulai bekerja. Setelah makan siang kita akan ada pertemuan dengan pemilik proyek hotel yang akan anda pegang," titur Mike.
Rendy mengangguk dan berlalu dari ruangan Mike. Ia masih tidak habis pikir tentang Mark dan juga Anton. Apa mungkin Tuan Salman setega itu pada kakak iparnya sendiri?
***
Sementara itu di butik, Amiera sedang berkutat dengan pekerjaannya. Tadi ia meminta maaf pada Julie karena telah meninggalkan pekerjaannya tanpa kabar apapun juga.
Entah karena tahu siapa Amiera atau memang Julie orang yang sangat baik. Wanita itu dengan mudah memaafkan Amiera tanpa banyak bertanya.
Ketiga rekannya juga tidak banyak bertanya. Mereka bersikap ramah membuat Amiera merasa bersalah.
"Maafkan aku. Beberapa hari ini kalian pasti sangat sibuk."
"Tidak apa. Walau kami sangat sibuk, tapi uang yang kami terima sebanding dengan kerja keras kami," sahut Diana.
Amiera mengernyitkan keningnya. Ia tidak mengerti maksud dari ucapan Diana.
"Nona, seminggu nona tidak masuk kerja, kami di beri upah lembur yang besarnya tiga kali lipat gaji bulanan kami. Karena itu kami ingin berterima kasih," ujar Rey.
"Aku tidak mengerti," sahut Amiera bingung.
"Pria bernama Mike yang memberi kami uang lembur itu. Padahal kami hanya diharuskan menambah 3 jam kerja dari hari biasanya. Dan yang aku dengar pria itu saudara teman Miss Julie," tutur Diana.
"Miss Julie teman Bella?" gumam Amiera.
Notifikasi pesan dari ponselnya mengagetkan Amiera. Raut wajahnya berubah cerah setelah membaca pesan tersebut.
Amiera kembali larut dalam kesibukannya. Hatinya berbunga tidak sabar menunggu jam makan siang tiba.
***
Amiera melangkahkan kaki memasuki sebuah restoran. Ini adalah tempat yang disebutkan Rendy dalam pesannya.
Benar saja, Rendy sudah berada di salah satu sudut restoran itu.
"Sudah lama menunggu?" tanya Amiera sambil mendudukkan dirinya di depan Rendy.
"Belum. Aku juga baru datang," sahut Rendy.
"Pesanlah. Aku tidak bisa lama-lama, karena akan ada pertemuan setelah ini." Ujarnya.
Amiera mengangguk dan memesan makanan untuknya dan untuk suaminya. Senyum bahagia tidak lepas dari wajah cantiknya. Apalagi saat tanpa sengaja memergoki Rendy yang mencuri pandang padanya.
"Amie, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Rendy ragu.
"Tanyakanlah. Tentang apa?"
"Tentang Om Anton. Boleh aku tahu kenapa dia bisa sampai memakai tongkat seperti itu. Apa dia pernah mengalami kecelakaan?"
Amiera terlihat ragu untuk manjawabnya. Ia menatap Rendy kemudian menundukkan kepala.
"Kalau kamu tidak ingin bercerita juga tidak apa," ujar Rendy tidak ingin memaksa Amiera. Karena bisa saja Amiera tidak tahu apa-apa.
"Om Anton seperti itu karena mendapat hukuman dari Daddy." Sahutnya pelan.
"Apa?"
"Om Anton yang menyebabkan Ibu Anita duduk di kursi roda. Bagi Daddy, kaki harus dibayar dengan kaki lagi."
Amiera menunduk sangat dalam.
Rendy tertegun mendengar hal tersebut. Ditatapnya pucuk kepala Amiera yang masih tertunduk.
"Maaf aku menanyakan ini padamu, Amie. Makanannya sudah datang. Ayo, sekarang kita nikmati makan siangnya."
Rendy mangangkat wajah Amiera agar mengahadap padanya.
__ADS_1
"Tersenyumlah. Aku tidak suka raut wajahmu yang seperti ini." Ujarnya.