Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
pernyataan Riky


__ADS_3

Happy reading...


Lalu lalang orang-orang seakan terlihat hanya bayangan dalam langkah Meydina yang gontai. Menyusuri lorong dengan sorot matanya yang kosong, Meydina mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang terdapat di sana.


Penuturan Dokter perihal penyakit komplikasi yang di derita ayahnya seakan menggema dalam pikirannya. Ia tidak menyangka ayah Salman menyembunyikan ini darinya.


Belakangan ini, Salman memang lebih sering berdiam diri di kamarnya. Ia juga sudah lama tidak ke kantor dengan alasan sedang malas. Padahal ia sosok yang dikenal suka sekali menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


Meydina mengusap air matanya yang jatuh begitu saja. Sebisa mungkin ia mencoba bersikap tenang agar nanti tidak terlihat oleh ayahnya.


Dirogohnya posel dan menghubungi seseorang yang sekiranya bisa sedikit memberinya arahan harus berbuat apa.


📱 "Halo, Paman..."


Meydina menelepon Dokter Said. Pada sepupu ayahnya itu Meydina menceritakan semua yang didengarnya. Ia juga mengatakan bahwasanya Salman menyembunyikan penyakitnya dari ketiga anaknya.


Dokter Said mencoba menenangkan Meydina, pasti ada alasan dibalik keputusan Salman. Ia juga menyarankan agar Meydina memberitahu Alvin dan juga Amiera.


Meydina menghela nafasnya. Ia berdehem untuk menetralkan perasaannya.


***


Meydina mematikan mesin motornya. Ia terkejut melihat mobil Riky ada disana.


"Tumben, Pak Riky kesini." Gumamnya.


Meydina menduga-duga maksud kedatangan Riky. Karena pagi ini Maliek berangkat ke luar kota untuk meeting. Dan pria itu tidak biasanya bermain ke rumahnya.


Suara gelak tawa terdengar dari bagian samping rumahnya. Meydina tersenyum melihat Amar yang duduk dipundak Riky mencoba meraih buah kersen yang sudah merah. Alena ada juga ada di sana.


Tidak jauh dari mereka, Ayah Salman duduk di kursi menikmati teh hangat kesukaannya. Ada juga Fatima yang sedang dituntun babysitter-nya.


"Sekarang kakak, Uncle. Amal tulun," pinta Zein.


Amar yang belum mau di turunkan menunjuk-nunjuk buah kersen tersebut. Buah yang sudah dipetik, diberikan pada Alena yang membawa mangkuk di tangannya.


"Auntie, Kakak mau juga. Gantian Amal," rengek Zein.


"Sebentar kakak, kan tadi udah," sahut Amar.


"Sebentar ya Kakak Zein," ujar Riky.


"Amal itu! Sebelah sana banyak yang melah." Pekiknya.


Salman yang sedang menatap cucu-cucunya terkesiap saat ada seseorang yang tiba-tiba melingkarkan tangan di lehernya dan mencium pipinya dari belakang.


"Ayah sedang apa?" tanya Meydina lembut.


"Ayah sedang melihat anak-anakmu, Mey. Mereka menggemaskan," sahut Salman pelan.


"Mami!" seru Zein dan Amar bersamaan sambil melambai. Begitu juga dengan Fatima yang datang dan langsung didekap Maminya.


"Kak Mey," sapa Alena.


"Mami, Amar dapat banyak." Zein menunjuk pada mangkuk yang sedang dipegangnya.


"Oh ya? Mau dong Mami," ucap Meydina.


"Pak Riky kesini bareng sama kamu, Len?"


"Iya," sahut Alena singkat.


"Dia bosan di rumah, jadi aku ajak aja main ke sini."


Meydina menatap heran. Pikirnya, sejak kapan Riky dan Alena akrab.


"Udah ah, Uncle-nya pegal."

__ADS_1


"Kakak belum, Uncle. Sekali lagi," rengek Zein.


"Iya ih, Kak Riky. Tadi bilangnya sebentar."


"Iya, Uncle bohong."


"Hmm, kamu ini ya. Suka lihat aku tersiksa," ucap Riky yang mengacak pelan rambut Alena.


"Emang iya. Ya kan, Kak?"


"Iya. Kok Auntie jadi baik?" tanya Zein polos.


"Memangnya selama ini Auntie jahat?" Alena balik bertanya.


"Iya. Auntie suka cium-cium kakak," sahut Zein.


"Emang nggak boleh?"


"Nggak boleh. Kakak nggak mau. Uncle aja yang dicium," ujar Zein menunjuk pada pipi Riky yang sedang mendudukkannya di pundak.


"Mau dong," sahut Riky.


"Ish, apaan sih Kak Riky?" Deliknya.


"Yee ketahuan suka nyium cowok duluan," goda Riky.


"Enggak, enak aja. Zein kan anak-anak," kilah Alena sambil memukul pelan pada Riky.


"Auntie! Nanti Kakak bisa jatuh," pekik Zein karena Riky terkekeh menghindari pukulan Alena.


"Udah sana," usir Alena dengan wajah yang merona. Riky tersenyum dan berlalu menuruti Zein yang menunjuk beberapa buah yang sudah merah.


Sementara itu, Meydina yang sudah duduk bersama Salman mengulumkan senyumnya.


"Mereka pacaran?" tanya Salman pelan.


"Alena masih sangat muda. Berbeda dengan Riky yang sudah matang," ucap Salman lagi.


"Pak Riky pria yang baik, Yah. Menurut Mey mereka cocok."


"Apa dia seperti menantunya Wira?"


"Setahu Mey tidak. Yang seperti Kak Rafael itu Kak Alvin, Yah."


Salman menyeringai.


"Tapi sekarang mereka jadi laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Alvin dan menantu Wira itu," ujar Salman.


Meydina mengangguk meng-iya-kan. Ia terkekeh saat Zein menolak untuk di turunkan dan memeluk erat kepala Riky. Meydina menoleh pada ayahnya, tatapannya sendu melihat wajah tenang seolah tidak terjadi sesuatu.


***


Sinar matahari yang menjingga, nampak ragu menenggelamkan diri dalam luasnya samudera. Deburan ombak menerpa sepasang kaki yang berlari kecil menghindarinya.


Sepulang dari kediaman Meydina, Riky dan Alena menikmati sunset di tepi pantai yang berada di pinggiran kota. Alena nampak riang karena jarang sekali menikmati saat-saar seperti ini.


"Kak, ayo sini!" Serunya.


Riky yang semula enggan bermain air itupun akhirnya melipat celana panjangnya dan menghampiri Alena. Mereka saling mengejar dan Alena sontak naik ke punggung Riky saat air pasang menerjang hampir mengenai kaki bagian atas.


Sesaat Riky tertegun, namun pekikan Alena menyadarkannya dan ia berlari menghindari terjangan ombak. Gelak tawa Alena pecah saat ia menjatuhkan diri perlahan di atas hamparan pasir. Gadis itu menertawakan Riky yang kelelahan.


"Kaka Riky cemen, gitu aja nyerah." Kelakarnya.


"Kamu itu berat, Len. Rasanya udah seperti mengangkut empat karung beras," sahut Riky dengan nafas yang masih terengah.


"Ih, fitnah. Alena langsing gini kok," delik Alena.

__ADS_1


Riky menatap wajah gadis yang duduk di sampingnya. Alena yang sedang memeluk lututnya sambil menikmati langit yang menjingga.


"Hayo, mikirin siapa?" todong Riky saat melihat Alena menyunggingkan senyumnya.


"Kalau sama pacar suasana begini pasti romantis. Kak Riky pernah?" tanya Alena sambil menoleh.


"Pernah apa?"


"Pernah begini sama pacar Kakak. Duduk berdua di pantai menikmati sunset, kan romantis."


"Kalau cuma duduk sih nggak romantis, Lena."


"Kata teman Lena, romantis kok."


"Romantis itu kalau sambil berpelukan," sahut Riky santai.


"Teletubbies dong," kekeh Alena.


"Kita juga bisa berpelukan, mau?" Godanya.


"Idih, Kak Riky pikirannya kotor. Banyak sampahnya, haha.." Kelakarnya sambil beranjak dan berlari kecil menghindari Riky yang ingin menggapainya.


"Alena! Mau nggak jadi pacarku?" seru Riky yang terdengar samar oleh suara deburan ombak.


"Alena, I love you!" Pekiknya.


Langkah Alena terhenti. Berbalik menatap Riky yang berjalan menghampirinya.


"Kak Riky bilang apa barusan?"


"I love you. Aku suka sama kamu, mau nggak jadi pacarku?" ucap Riky di depan wajah Alena.


Alena menatap tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Perlahan ia merasakan hembusan nafas yang sangat dekat. Kelopak matanya terpejam saat bibir Riky mendarat lembut di bibirnya. Ia mulai terlena saat Riky mulai menggigit pelan dan menarik lembut bibir bawahnya.


"Romantis kan?" Bisiknya.


"Ish." Wajah Alena merona karena malu.


"Muach.. Muach.."


Riky memberinya beberap kecupan kemudian memeluk erat tubuh Alena.


"Apa kita sekarang pacaran?" tanya Alena pelan.


Riky mengangguk pasti.


"Tapi kan Alena belum menjawabnya. Kok Kak Riky main cium aja?"


"Maksud kamu, aku di tolak?" Riky menatap penuh tanya.


"Ya enggak lah," sahut Alena.


"Ih, dasar ya."


Riky mengecup gemas bibir Alena. Namun saat ia mulai akan meraupnya, Alena menghindar.


"Ayo, pulang. Nanti Papa marah," ajak Alena yang menarik tangan Riky.


"Biarin aja Papa kamu marah. Biar sekalian kita dinikahkan," ujar Riky.


"Enak aja. Alena masih muda."


"Teruus, menurutmu aku udah tua gitu?"


"Bukan Alena lho yang ngomong. Haha.."


Riky dan Alena merasa bahagia dengan hubungan yang baru saja mereka jalin.

__ADS_1


__ADS_2