
Happy reading...
Sejuknya semilir angin yang masuk melalui ventilasi dirasa berbeda dari biasanya. Amiera mengerjapkan mata dan menatap langsung ke jendela.
Senyum manis tersungging di wajahnya. Pantas saja terasa berbeda, karena saat ini ia berada dalam kamar di rumah Daddy-nya.
Amiera mengulang ingatannya. Raut wajahnya berubah murung. Ia tidak tahu harus berkata apa atas keputusan Daddy Salman. Lusa, apapun keputusan Rendy akan menentukan jalan hidupnya.
Amiera hanya bisa pasrah. Semalam saat semua telah kembali ke kamar masing-masing, Salman menemuinya. Pendidikannya di London hanya akan berlanjut jika Rendy bersedia menikah dengannya. Itu artinya, jika Rendy menolak pernikahan tersebut maka ia harus merelakan semua impiannya.
Daddy Salman memintanya meneruskan kuliah di kota ini. Pria itu ingin Amiera ada dalam jangkauan dan perlindungannya. Ah, benar-benar seorang ayah yang posesif.
***
Sementara itu di kamar Meydina juga tidak jauh berbeda. Meydina sedang termenung memikirkan apa yang akan terjadi pada Rendy dan juga Amiera. Gerakan tangan yang melingkar di pinggangnya mengagetkan Meydina.
"Kamu lagi ngelamunin apa, Sayang?" tanya Maliek yang mencium tengkuk leher istrinya.
"Kak, kira-kira Rendy akan berubah pikiran nggak ya?" tanya Meydina pelan.
Maliek membuang kasar nafasnya.
"Kamu pagi buta begini udah mikirin dia, Mey." Sahutnya malas. Maliek memperlihatkan ketidaksukaannya.
"Kakak tahu, Amiera itu dari dulu suka lho sama Rendy. Bahkan dulu sampai tidak suka pada Mey. Karena dikiranya Mey pacaran sama Rendy."
"Bukan cuma Amiera, aku juga nggak suka kamu dekat-dekat sama dia. Jangan ngomongin dia, Sayang. Aku nggak suka." Deliknya.
"Kenapa Kak Maliek nggak suka sama Rendy?"
"Karena dia suka sama kamu," sahut Maliek.
Meydina menghela nafasnya. Ia sadar jika menyangkut perasaan pastilah tidak mudah.
***
Pagi ini di rumah keluarga Atmadja. Nura sengaja menyiapkan sarapan kesukaan putra tercintanya. Nasi goreng seafood selalu jadi menu andalan Nura.
Satu persatu anggota keluarga Atmadja menghampiri meja makan. Tidak ketinggalan juga Evan dan Alena yang menginap di sana.
Raut wajah Rendy terlihat cerah melihat hidangan di meja. Lain halnya dengan Alya. Wanita itu masih dengan raut wajahnya yang kesal.
"Lho, kok anak mama yang cantik ini cemberut? Hilang nanti cantiknya," goda Mama Nura.
"Udah dong marahnya, Alya. Toh Rendy juga belum tentu berubah pikiran. Masih ada waktu besok," ujar Papa Wira.
"Dek, awas lho ya kalau kamu berubah pikiran! Pokoknya Alya enggak mau di langkahi. Alya udah malu, Pa. Sejak Maliek menikah, banyak teman Alya yang nyindir ini, nyindir itu. Ngatain Alya jomblo abadi lah. Kan kesel," rengek Alya.
"Ini ada temannya. Sama-sama jomblo," gurau Evan sambil menunjuk pada putrinya, Alena.
"Ya beda lah, Om. Alena kan baru mulai kuliahnya. Kalau Alya?"
"Udah kadaluarsa," sahut Alena santai.
Evan dan Mama Nura mengulumkan senyuman menahan tawa. Papa Wira hanya mengeleng pelan, sementara Alya semakin memajukan bibirnya.
"Tenang aja, Kak. Rendy nggak ada niat menikahi Amiera."
Mendengar hal itu, Alya merasa senang. Kedua orang tuanya saling pandang. Sementara Evan dan Alena memilih diam.
***
Menjelang siang, untuk menghilangkan kejenuhannya Rendy bertemu teman semasa kuliahnya di sini. Siapa lagi kalau bukan Putra dan Beni. Seandainya Meydina belum menikah, mungkin dialah yang akan jadi orang pertama yang diajaknya. Mengingat kepanikan Meydina semalam, membuat Rendy merasa bahagia.
"Hai, Bro! Kenapa muka loe?" tanya Putra heran.
Saat ini mereka bertemu di salah satu rumah makan milik keluarga Putra.
"Biasalah. Bukan cowok kalau belum pernah berantem," sahut Rendy sekenanya.
__ADS_1
"Loe berani juga berantem di negara orang. Wah, pasti loe rebutan cewek bule ya?" tebak Putra.
"Terserah loe deh mau mikir apa. Males gue ngomonginnya juga," sahut Rendy menyeringai.
"Ada kemajuan loe di sana. Jadi playboy loe ya sekarang."
"Playboy kampret."
Keduanya pun terkekeh.
"Eh, Ren. By the way, nanti usaha restoran bokap siapa yang nerusin? Loe di konstruksi, kakak loe kerja kantoran. Sayang kan kalau nggak ada penerus," ucap Putra.
"Nggak tahu ah. Oh iya, Beni mau ke sini kan?"
"Pasti lah. Setiap hari dia kesini. Itu proyeknya! " tunjuk Putra.
Berbeda dengan Putra yang memilih meneruskan usaha kuliner keluarganya, Beni bekerja sebagai arsitek di sebuah perusahaan konstruksi.
Tidak lama kemudian, Beni terlihat melambaikan tangannya dari kejauhan. Pria itu terlihat senang melihat kedua temannya.
"Apa kabar Mister? Hebat loe, udah jadi PM!" Serunya.
Setelah saling menyapa, mereka duduk bersama. Putra menghidangkan minuman kesukaan kedua temannya semasa kuliah.
"Udah lama loe kerja di perusahaan itu?" tanya Rendy.
"Lumayan. Dari sejak lulus kuliah," sahut Rendy.
"Sekarang lagi proyek apa?" Tanyanya lagi.
"Mau buat apartemen empat tower. Ini luas banget lho, Ren. Semua fasilitas publik nanti akan ada di sini."
"Loe nggak akan percaya kalau tahu siapa pemiliknya," sambung Putra.
"Memangnya siapa?" tanya Rendy penasaran.
"Suami Meydina, Maliek Putra Bramasta."
Rendy hanya tersenyum tipis. Mereka bertiga berbincang mengenang masa lalu. Rendy tidak menceritakan pada teman-temannya bahwa saat ini dia mengerjakan salah satu proyek milik ayah Meydina. Entah kenapa hatinya merasa malu pada teman-temannya.
Beni berpamitan lebih dulu. Kemudian meyusul Rendy yang berpamitan pada Putra.
"Ren, loe nggak usah ambil hati candaan Beni. Gue kagum sama loe, udah jadi PM di usia semuda ini. Loe jauh di atas gue dan Beni. So, percaya diri aja. Oke!"
"Loe tenang aja. Gue santai kok orangnya," dusta Rendy.
Setelah meninggalkan rumah makan Putra, Rendy memutuskan untuk menyendiri di sebuah taman kota yang dilewatinya.
Tidak banyak orang di sana. Mungkin karena saat ini bukan akhir pekan. Rendy terduduk di sebuah kursi taman. Ia berharap bisa menenangkan diri di suasana yang sepi seperti ini.
Rendy meraba wajahnya yang masih terasa ngilu. Seringaian terukir di wajah itu.
"Hebatkan dia? Selain pengusaha sukses, jadi menantu Salman Al-Azmi pula."
Kalimat Beni kembali terngiang di telinganya.
"Haruskah gue juga jadi memantu keluarga Al-Azmi? Apa gue bisa setara dengan Maliek Bramasta kalau gue juga menantu keluarga itu?" gumam Rendy.
Pernikahan, apakah itu tawaran yang menguntungkan baginya?
Rendy mulai bimbang. Selama ini ia ingin bisa seperti Maliek, pria yang telah mencuri hati Meydina. Jika tidak bisa melampauinya, setidaknya ia ingin setara dengan putra pemilik Bramasta Corp itu.
Lalu bagaimana dengan perasaannya? Ia tahu Amiera pasti tidak keberatan dengan pernikahan ini. Tapi bagaimana dengan dirinya sendiri? Sanggupkah ia hidup dengan wanita yang tidak dicintai?
Rendy mengacak kasar rambutnya.
"Aww!" Pekiknya pelan saat tanpa sadar mengusap kasar wajahnya yang masih terdapat memar.
***
__ADS_1
Keesokan paginya...
Tidur Rendy terusik suara ketukan pintu dan seruan mamanya.
"Ren! Sudah bangun belum? Ini ada Alvin!" seru Mama Nura.
"Alvin?" Gumamnya pelan.
"Iya, Ma. Sebentar!" Sahutnya.
Setelah beberapa menit, Rendy menemui Alvin di depan belakang rumahnya. Kakak Amiera itu terdengar sedang bersenda gurau bersama Papa Wira.
"Baru bagun kamu, Ren?"
"Iya, Pa. Papa belum ke restoran?" Tanya Rendy sambil duduk di dekat Papanya.
"Lagi nunggu Mamamu," sahut Wira.
"Kak Alvin, sendiri?"
"Iya. Aku sekalian mau ke kantor," sahut Alvin.
Rendy menuangkan teh hangat yang kemudian diberi gula batu yang tersedia di meja itu. Tidak lama kemudia, Nura datang dan kedua orang tua Rendy pun berpamitan.
"Ren, nanti siang loe ke kantor gue ya. Daddy ingin bicara empat mata," ujar Alvin.
Rendy nampak termenung, lalu mengangguk pelan.
"Ren, loe udah ambil keputusan buat besok? Gue nggak bisa maksa loe untuk menerima Amiera. Tapi sebagai kakaknya, gue cuma mau bilang kalau adik gue itu mencintai loe udah lama. Dan keputusan loe besok akan berpengaruh pada karir dan pendidikan Amiera."
"Maksudnya?" Rendy terlihat bingung.
Alvin lalu menceritakan keputusan yang diambil Daddy-nya. Rendy menatap tidak percaya pada apa yang didengarnya. Seberharga itukah putrinya bagi seorang Salman, sampai-sampai pria itu memperlakukannya seperti mutiara yang langka.
Setelah kepergian Alvin, hati Rendy semakin bimbang. Saat menjelang siang, ia pun menuju kantor Salman, yakni gedung perkantoran Al-Azmi Corp.
Ini kali pertama ia menapakkan kaki di gedung itu. Seperti halnya kantor Al-Azmi yang dipercayakan pada Mike di London, kantor ini juga hanyalah kantor cabang. Sebab kantor pusat berada di Timur Tengah dan dipercayakan pada Ahmed Al-Azmi, adik Tuan Salman.
Cukup lama Rendy berada di ruangan itu. Entah apa yang mereka bicarakan. Sesekali Aldo memasuki ruangan tersebut.
Sementara Alvin, ia berada di kantor Maliek. Tentunya bersama Maliek dan Riky.
"Hai, Bro!" sapa Rafael yang baru saja datang.
"Raf, gue nggak lihat loe seminggu kok kayanya loe agak kurusan," gurau Alvin.
"Ya gimana nggak kurus, kerjaannya mikirin Alya. Ya nggak, Raf? Bucin tu dia," timpal Riky.
"Terserah deh, kalian mau ngeledekin gue apa. Vin, bantuin gue dong. Yakinkan om loe kalau gue itu serius sama Alya." Pintanya.
"Ciee, yang disebut nongol tuh. Loe lebih hebat dari jin, Al. Kalau jin kan harus disebut tiga kali baru nongol. Kalau loe, sekali aja udah tring..." Kelakarnya.
Alya yang kebetulan masuk ruangan dengan berkas yang dipinta Maliek tersipu malu.
"Kalo gue jin, gue buat loe mingkem selamanya. Puas loe!" delik Alya.
"Ya, dia marah. PMS loe, Neng?" Kelakarnya lagi.
"Udah, diam loe. Lama-lama gue sumpel mulut loe pake kaos kaki." Rafael terlihat kesal.
"Benar-benar sejoli. Satu marah, eh satunya juga kesamber ikutan marah-marah." Riky tergelak. Dan akhirnya mereka ikut tergelak bersama Riky.
Nah lho, pada bingung kan?
Kira-kira Rendy mau nggak ya, nikah sama Amiera?
Apa sih yang dibicarakan Rendy dengan Salman?
__ADS_1
Sabar, nantikan di episode selanjutnya. Oke😉