Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
check-in


__ADS_3

Happy reading...


"Istri?" gumam Sophia pelan.


Diliriknya Amiera yang tersipu malu dan saling menatap penuh cinta dengan pria yang selama ini jadi incarannya. Dengan kaki yang tiba-tiba terasa lemas, Sophia terduduk masih dengan raut wajahnya yang terkejut.


"Ka-kalian sudah menikah?" tanya owner itu dengan raut wajah heran. Ia tidak menyangka PM yang memegang proyeknya seorang menantu Al-Azmi.


"Iya, Tuan. Belum lama," sahut Rendy sambil melingkarkan tangannya di pinggang Amiera.


"Selamat, Tuan Rendy dan Nona Amiera! Maaf saya tidak mengetahui kabar bahagia ini." Ucapnya yang mulai terlihat canggung.


"Terima kasih. Kami memang sengaja tidak mempublikasikan pernikahan kami," sahut Amiera.


Rendy melirik sesaat pada Amiera. Lirikan yang disertai perasaan menyesal. Beberapa rekan Rendy juga mengucapkan selamat. Kecuali Sophia tentunya. Mereka mulai merasa canggung karena ada Amiera diantara mereka.


"Kamu tidak memberi selamat pada kami, Sophia?" tanya Amiera pada wanita yang nampak lesu di sampingnya.


"Se-selamat untuk kalian," ucap Sophia gugup.


"Terima kasih," sahut Amiera riang.


Sophia melirik wanita yang tanpa canggung memperlihatkan kemesraannya di depan umum. Di matanya sikap Amiera seakan-akan sedang mengejek kekalahannya.


"Sial. Sejak kapan mereka menikah? Apa karena kejadian malam itu Tuan Salman menikahkan mereka? Dasar Mark, sudah matipun masih membuatku susah." Geramnya.


Amiera pamit lebih dulu. Rendy mengantarnya hingga ke mobilnya.


"Terima kasih," ucap Amiera yang menatap haru pada suaminya. Amiera menautkan tangannya di pinggang Rendy.


"Untuk apa, Sayang?" tanya Rendy lembut.


"Karena sudah memberitahukan bahwa Amie ini istri Kak Rendy," sahut Amiera polos.


Rendy menatap gemas pada istrinya. Sebelah lengannya merangkul Amiera dan sebelah lagi mengusap lembut surainya.


"Maaf ya. Aku benar-benar minta maaf." Ucapnya pelan.


Amiera mengangguk dan menengadahkan wajah menatap wajah suaminya. Tidak disangka-sangka satu kecupan singkat mendarat di bibirnya. Seketika wajah Amiera merona dan keduanya pun tersipu malu.


"Nanti di rumah aja ya," ucap Rendy dengan wajah yang tak kalah meronanya.


"Siapa juga yang mau minta lagi?" tanya Amiera dengan tatapan menggoda namun dengan ekspresinya yang malu.


"Udah ah, aku malu." Ucapnya sambil menutup wajah dengan sebelah telapak tangannya.


Amiera terkekeh melihat tingkah suaminya. Ingin rasanya ia menerkam wajah menggemaskan dihadapannya itu dan meluapkan perasaan cintanya. Namun sebisa mungkin rasa itu ia tahan, karena saat ini mereka sedang berada di tempat umum.


"Amie pergi dulu ya? Bye..." Pamit Amiera yang sudah bersiap mengemudikan mobilnya.


"Bye, Sayang. I love you," ucap Rendy pelan namun masih dapat terdengar oleh Amiera.


Amiera terbelalak mendengarnya. Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya lagi.


"Kak, pulang yuk!" Ajaknya tiba-tiba.


Rendy tertegun mendengarnya, namun kemudian ia terkekeh pelan.


"Tahan sampai malam ya, Sayang. Aku masih banyak pekerjaan," ucap Rendy dengan sorot matanya yang berbinar.


"Ya udah sekarang aja. Check-in sebentar di situ," goda Amiera dengan gerakan mata menunjuk ke suatu tempat.


Rendy menoleh ke arah yang ditunjuk istrinya. Ia mengulumkan senyuman mengetahui tempat yang di maksud Amiera adalah sebuah hotel di samping restoran tersebut.


"Nakal ya..." Ucapnya sambil memijit pelan ujung hidung Amiera.

__ADS_1


Keduanya saling menatap. Kemudian Rendy menggeleng pelan mungkin karena berat untuk menolak.


"Oke kalau begitu, nanti malam harus bayar berkali-kali lipat." Candanya. Amiera mengerti ekspresi suaminya. Ia hanya tidak ingin Rendy merasa bersalah.


"Siap, Sayang. Mau berapa ronde pun aku siap beraksi," sahut Rendy menanggapi ucapan istrinya.


"Oke," ucap Amiera sambil mengedipkan sebelah matanya.


Rendy menatap kepergian istrinya dengan perasaan bahagia. Ia bahkan tidak percaya bisa bertingkah konyol seperti tadi.


Di sisi lain, Sophia yang mencuri pandang sedari tadi benar-benar dibuat geram. Tangannya terkepal kuat di bawah meja. Apalagi ia juga mendengar bisikan rekan-rekannya yang memuji keduanya.


***


Di tempat lain, Mike yang ditemani Bella sedang bertemu salah satu klien mereka di loby sebuah hotel. Mereka tampak serius hingga tidak menyadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan keduanya.


Senyumnya tersungging melihat Bella yang tersenyum di kejauhan. Namun tiba-tiba tangannya terkepal saat pria disamping Bella mengusap lembut surai wanita itu.


"Jadi pria itu kekasihnya?" Geramnya.


Pria itu menundukkan kepalanya berjalan menuju meja tempat Mike dan Bella berada. Semakin dekat, tawa renyah mereka semakin terdengar olehnya.


"Oke, deal!" seru mereka sambil mengangkat gelas yang berisi white wine dan langsung menesapnya.


"Oh, maafkan saya!" ucap seorang pria yang tidak sengaja menyenggol lengan Mike.


Pria itu berlalu begitu saja menyembunyikan seringaiannya.


"Kamu tidak apa-apa, Mike?" tanya Bella yang mengusap-usap kemeja Mike yang terkena sedikit tumpahan wine.


"Tunggu!" seru Bella yang sontak menghentikan langkah pria tadi.


"Bella sudahlah," ucap Mike dengan bola mata yang bergerak menunjuk klien mereka.


Bella mengerti maksud Mike. Ia mengurungkan diri menghampiri pria tadi. Tatapannya menatap tajam pada pria yang melanjutkan langkahnya lagi tersebut.


"Sepertinya tidak asing, siapa ya?" Batinnya.


Ujung mata Bella mengikuti langkah pria tadi. Dan betapa terkejutnya ia saat wajah pria itu terlihat olehnya.


"Dave!" Pekiknya dalam hati.


"Jangan bilang dia sengaja melakukannya pada Mike. Dasar menyebalkan!" batin Bella mengumpat.


Bella kemudian mengirimkan pesan pada Dave dan memintanya menunggu di taman yang letaknya di sebelah hotel itu. Setelah urusan mereka selesai, Mike dan Bella mengantar klien mereka sampai tempat parkir.


"Mike, aku masih ada urusan. Kembalilah lebib dulu," pinta Bella.


"Urusan apa? Dengan siapa, Bella? Dan ini masih jam kerja, mobilmu juga ada di kantor."


"Iya, aku tahu. Hanya sebentar saja. Aku bisa kembali ke kantor dengan taksi," sahut Bella.


"Oke. Tapi dengan siapa kamu punya urusan, heh?"


"Ini urusan perempuan. Aku rasa kamu tidak akan berminat mengetahuinya. Please, kali ini saja."


"Baiklah. Aku pergi dulu."


Bella melambaikan tangannya pada Mike yang berlalu meninggalkan tempat tersebut. Setelahnya, Bella bergegas menuju taman untuk menemui Dave.


"Dave, apa maksudmu melakukan hal seperti itu pada Mike?" tanya Bella to the point.


"Mike? Jadi pria itu bernama Mike?" ucapnya dengan ekspresi mengejek.


"Iya. Memangnya kenapa? Kamu sengaja kan melakukannya?"

__ADS_1


"Benar, aku memang sengaja melakukannya. Apa yang sedang kalian lakukan di sini? Bertemu klien sambil minum wine di siang hari. Apa setelah itu kalian akan check-in di hotel ini?"


"Apa, check-in? Kau gila!" umpat Bella.


"Ya aku memang gila dan juga banyak bicara. Bisa saja kan kalian ingin mengulang kejadian di malam saat kamu mabuk? Heh!" Decihnya.


Mendengar hal itu, Bella sampai melongo. Ia tidak menyangka Dave akan mengira Mike sebagai Riky. Pria yang pernah ia ceritakan pada teman online-nya.


"Kamu salah sangka, Dave."


"Oh ya? Kalau begitu dia pria barumu, begitu?" tanya Dave sinis.


Bella memperhatikan ekspresi wajah Dave. Entah kenapa ia merasa pria ini sedang cemburu pada pria yang merupakan saudaranya.


"Dia bukan pria baruku. Dia pria yang aku kenal sudah sangat lama. Bahkan kami tinggal bersama," delik Bella.


"Apa, kalian tinggal bersama?"


"Hmm," angguk Bella.


"Jadi semua yang kamu ceritakan selama ini padaku hanya sebuah kebohongan?"


"Tidak."


"Kalau begitu dimana kakakmu yang kamu bilang sangat ketat mengatur pergaulanmu dengan para pria? Bisa-bisanya dia membiarkanmu tinggal bersama seorang pria," decih Dave.


"Apa urusanmu menanyakan kakakku?" tanya Bella mencoba menahan tawa.


"Tentu saja ada. Aku akan mempertanyakan perannya sebagai seorang kakak. Membiarkanmu tinggal dengan pria tanpa ikatan pernikahan. Dasar tidak bermoral," umpat Dave pelan.


Mendengar Dave mengumpati Mike membuat Bella mulai kesal.


"Memangnya kenapa kalau aku tinggal dengan pria, heh? Lagi pula kami memang tidak boleh menikah," ujar Bella kesal.


"Jadi kamu backstreet dengan pria itu?"


"Tidak. Untuk apa aku backstreet dengan dia?"


"Lalu kenapa kalian tidak bisa menikah?"


"Ya karena kami sedarah. Memangnya di dunia ini tidak ada laki-laki, sampai-sampai mau menikahi saudara sendiri," tutur Bella kesal.


Dave terdiam mencoba mencerna ucapan Bella.


"Sedarah? Jadi maksudmu pria itu..."


"Mike itu kakakku, kau dengar? Dia kakakku! Jadi lain kali jika kamu bertemu dengannya, minta maaf dengan cara yang benar." Tegasnya.


"Aku, dia.. Kalian.." Dave tergagap seolah kehabisan kata.


"Sekarang antarkan aku kembali ke kantor! Atau pria yang kamu bilang tidak bermoral itu akan dengan senang hati merobek mulutmu yang berani mengumpatinya."


"Ba-baiklah. Ayo aku antar kamu kembali ke kantormu," ucap Dave yang terlihat seperti orang linglung.


 


Hai, Readers!


Jika berkenan mampir ya ke karya lain dari author. Ada...


-Jodoh Wasiat Suami (end)


-Pak Dokter, Cintaku (on going)


Terima kasih😊

__ADS_1


__ADS_2