Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
pertemuan tidak terduga


__ADS_3

Happy reading...


Langkah Bella semakin cepat menuju ruangan tempat diadakannya pertemuan. Mike mendadak memberinya kabar kedatangan Tuan Salman pagi ini. Alhasil ia tidak mempunyai persiapan apapun jika nanti Tuannya itu mempertanyakan sesuatu.


"Selamat siang! Maaf saya terlambat." Ucapnya dari ambang pintu.


Semua yang hadir di sana menatap ke arahnya.


"Heh, bagus dia datang terlambat. Setidaknya Tuan Al-Azmi jadi tahu bagaimana dia bekerja," batin Sophia. Pikirnya, jika nanti Amiera sampai mengadukan dirinya pada Tuan Salman, Bella juga akan mendapat teguran karena keterlambatannya.


Bella memang seharusnya pulang kemarin sore. Dan pagi ini dia berada di kantor.


Bella menghampiri meja Salman saat Amiera memanggilnya dengan gerakan tangan. Ia kemudian duduk di dekat Rendy.


"Uncle, apa kabar?" tanya Bella pada Salman.


"Kau masih ingat padaku?" Salman balik bertanya dengan ekspresi datarnya.


"Tentu saja. Aku tidak mungkin melupakanmu," sahut Bella sambil tersenyum.


"Kalau padaku bagimana?" bisik Alvin.


Bella terperanjat.


"Alvin!" seru Bella dalam hati.


Alvin yang tiba-tiba muncul dibelakangnya membuat Bella salah tingkah. Sambil mengulumkan senyum, Alvin berlalu ke kursinya. Pria itu mendudukkan seorang anak kecil disampingnya. Rupanya Alvin baru mengantar Zein ke kamar mandi.


"Bagaimana kabarmu, Bella?" Tanyanya.


"Ba-baik," sahut Bella gugup.


"Tuan, Bella baru kembali dari Cambridge. Dia..."


"Sejak kapan kau membela bawahanmu, Mike?" tanya Salman tanpa menoleh.


"Dan kau, Bella. Apa seperti itu caramu berpakaian?" Salman menatap Bella tajam.


Saat ini Bella mengenakan pakaian casual yang dipadukan dengan jaket, bukan setelan formal. Mike terdiam, suasana jadi sedikit menegang.


"Maaf. Saya belum sempat pulang, Tuan." Sahutnya.


"Dad," ucap Amiera dan Alvin hampir bersamaan.


Salman menoleh pada mereka bergantian. Pria paruh baya itu mengulumkan senyuman.


"Kalian ini, mengganggu kesenanganku saja. Kapan lagi aku bisa memarahinya kalau bukan sekarang. Lihatlah! Sedikit lagi dia akan menangis tapi kalian mengacaukannya," kelakar Salman.


"Aku tidak akan menangis, Uncle. Aku bukan Bella kecil yang akan menangis hanya karena kau menggodaku," sahut Bella.


"Bella, jangan tidak sopan. Panggil 'tuan'," tegur Mike.


"Biarkan saja Mike. Hmm, jadi sekarang kau sudah besar?"


Bella mengangguk sambil tersenyum.


"Lalu kenapa belum menikah?" todong Salman.


Ekspresi wajah Bella seketika berubah. Wanita muda itu hanya tersenyum tipis tanpa menjawabnya. Ia seolah kehilangan kata-kata.


"Berhentilah main-main. Jika sudah ada pria baik yang serius padamu, katakan pada Mike agar dia cepat menikahkanmu."


"Iya, Uncle." Sahutnya pelan.


Salman mengalihkan pembicaraan pada yang lain. Diam-diam Bella melirik pada Alvin lalu pada anak kecil disampingnya.


"Apakah itu putra Alvin?" Batinnya.


***


Setelah jamuan itu selesai, semua staf kembali pada aktivitasnya. Salman dan keluarganya akan diantar Mike ke penthouse Amiera.


Bella kembali ke ruangannya. Ia tidak menyangka akan bertemu Alvin setelah sekian lama. Saat akan memulai pekerjaannya, pintu ruangannya ada yang membuka.


"Kenapa kau tidak mengetuk?" ucap Bella dengan suara meninggi.

__ADS_1


"Alvin." Bella tersentak setelah melihat Alvinlah yang masuk ke ruangannya.


"Jadi aku juga harus mengetuk, Nona?"


"Maaf, ku kira kau Sekretaris atau Asistenku. Silahkan duduk!"


Bella beranjak dari kursi kerjanya. Ia mempersilahkan Alvin duduk di sofa namun pria itu justru tetap berdiri dan menatapnya.


"Ada apa? Oh, iya. Siapa nama putramu?" tanya Bella. Ia menatap Alvin sambil terduduk di ujung meja kerjanya.


"Dia putra adikku. Aku memiliki seorang putri," sahut Alvin sambil tersenyum.


Bella menangkap senyum itu. Ia merasa tidak bisa lagi menahan kerinduannya. Bella berjalan mendekati Alvin lalu memeluknya.


"Aku merindukanmu," bisik Bella.


"Aku juga. Sikapmu masih menggemaskan seperti dulu," sahut Alvin sambil mengusap lembut surai Bella.


Bella membenamkan wajahnya di dada bidang Alvin. Ia seolah terbuai dalam aroma tubuh pria itu.


"Aku sudah menikah, Bella."


Kalimat Alvin menyentak kesadaran Bella.


"Aku tahu," sahut Bella lirih.


"Maafkan aku."


"Kenapa kau minta maaf? Seingatku kau tidak pernah berjanji menikahiku." Bella mendongak menatap wajah Alvin.


"Apa kau sedang dekat dengan seseorang?"


Bella menggeleng.


"Tidak setelah dirimu pergi."


Alvin memeluk erat tubuh Bella. Tidak pernah ada hubungan dan tidak pernah ada cinta di hatinya untuk wanita yang kini dalam pelukannya. Namun harus diakui, Bella sangat berarti baginya.


"Kau mencintainya? Istrimu."


"Dia pasti sangat cantik. Jika tidak, tidak mungkin kau menikahinya."


"Mmm, tentu."


Alvin mengacak gemas rambut Bella sambil tersenyum. Pria itu melepaskan pelukannya. Dan senyumnya membuat Bella merona.


"Kenapa tidak mencoba menjalin hubungan dengan seseorang, hmm? Jangan bilang kau menungguku," goda Alvin.


"Untuk apa aku menunggumu. Mike tidak membiarkan pria terlalu dekat denganku. Kau tidak tahu bagaimana dia. Pria yang mendekatiku dibuat takut olehnya," gerutu Bella.


"Hoh, tega sekali dia."


Terdengar suara pintu diketuk. Setelah Bella mempersilahkan, Mya masuk ke ruangannya.


"Maaf, Nona. Ada yang mencari Tuan Alvin."


"Mencariku? Siapa?" Alvin mengerutkan keningnya.


"Gue, Vin.."


"Riky? OMG! Kok bisa ya gue lupa sama loe? Haha.." Kelakar Alvin.


"Kamu!" seru Bella.


"Kalian saling mengenal?"


"Namamu Bella Anderson kan? Apa ada hubungannya dengan Mike Anderson?" tanya Riky.


"Dia adik Mike," sahut Alvin.


"Kau mengenal Mike?"


"Oh, pantas aku merasa tidak asing dengan namanya. Tentu aku mengenal Mike."


"Wait. Kalian bertemu dimana? Dan loe, Rik. Bukannya loe ada di Cambridge? Bella juga dari sana. Jangan-jangan kalian bertemu disana dan terlibat one night stand?" tuduh Alvin.

__ADS_1


"No!" seru keduanya.


"Gila loe. Emangnya loe sama Laura, one night stand." Decihnya.


"Sorry, loe tahu kan otak gue mikirnya selalu kesana." Kelakarnya. Alvin terkekeh melihat ekspresi wajah Riky dan Bella yang menatap aneh padanya.


Tadi Riky menunggu di lobi karena memang kehadirannya di sana bukan untuk pekerjaan. Saat melihat Amiera dan Tuan Salman, ia menanyakan Alvin. Mike meminta seseorang mengantarkannya ke ruangan Bella.


Sementara itu Mike menepikan mobilnya di pelataran butik. Amiera turun dari mobil dan berjalan menuju butik.


Amiera melihat ada mobil Brian di sana. Itu artinya pria itu pasti sedang bersama dengan Julie. Ia berniat akan meminta izin pulang lebih awal pada Julie.


"Heh, kamu darimana saja! Seenaknya meninggalkan pekerjaan. Apa kamu sudah bosan bekerja di sini, hah! Baru terkenal sedikit saja sudah besar kepala," hardik Diana yang berpapasan dengan Amiera di pintu masuk.


"Bukan begitu, aku tidak sengaja melakukannya. Aku akan minta maaf pada Miss Julie. Menyingkirlah dari jalanku," pinta Amiera. Ia tidak ingin Salman melihat perdebatan mereka.


Namun tidak dengan Diana. Wanita itu seolah sengaja ingin mencecar Amiera karena kesalahannya.


"Tidak sengaja? Kamu tidak sengaja meninggalkan pekerjaan tapi pergi sangat lama. Dasar pembohong!"


"Aku.. Aahh, kau ini. Menjauhlah dariku," pinta Amiera pelan. Amiera menahan kekesalannya karena dari kaca bangunan itu, ia melihat Daddynya mendekati mereka.


"Siapa dia, Amiera?" tanya Salman datar.


Amiera berbalik, wajahnya terlihat kikuk.


"Dia... Temanku," sahut Amiera ragu.


"Teman? Sejak kapan kita berteman? Heh, aku tidak berteman dengan orang sepertimu," decih Diana.


"Apa maksudmu? Memangnya orang seperti apa Amiera?" tanya Salman.


Amiera gelagapan melihat Salman yang awalnya sudah berhenti melangkah, kini semakin mendekati mereka.


"Anda siapa ingin tahu bagaimana Amiera? Dia itu orang yang sombong. Baru terkenal sedikit saja sudah kerja seenaknya," delik Diana.


"Siapa namamu? Apa kau yang bernama Julie Winston?" selidik Salman.


Mike yang menyaksikan dari dalam mobil ingin sekali turun melihat kesalahpahaman tersebut. Namun karena Salman memintanya tetap di mobil menemani Zein, pria itu pun pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Bukan. Tapi aku orang kepercayaannya," sahut Diana berbangga diri.


Salman menatap tajam pada wanita yang merendahkan putrinya tersebut. Lama kelamaan, Diana menyadari tatapan Salman. Ia mulai merasa tidak nyaman dan melirik pada Amiera.


"Amie akan meminta izin pada Miss Julie," ucap Amiera kikuk.


"Minta dia turun menemuiku, Amiera."


"Dad, ini hanya salah paham. Tidak usah memperpanjangnya," ucap Amiera pelan.


"Kalau begitu aku sendiri yang akan menemuinya."


Salman berjalan ke dalam butik. Ia tidak mengacuhkan Amiera yang memintanya untuk menunggu di luar. Di sisi lain, Diana yang belum mencerna sepenuhnya mengikuti mereka dari belakang.


"Dad, jangan membuat keributan di sini. Amie mohon," pinta Amiera.


"Apa seperi itu cara mereka memperlakukanmu selama ini?" tanya Salman masih tetap dengan langkahnya.


"Tidak, bukan seperti itu.."


"Ada apa ini? Tuan, anda ingin bertemu dengan siapa?" tanya Brian yang keluar bertemu mereka di depan ruangan Julie.


"Kau Brian Winston? Dimana kakakmu?" tanya Salman dingin.


Julie yang mendengar suara bariton Salman sagera keluar dari ruangannya.


"Tuan Al-Azmi?"


"Kau mengenalnya, Kak?"


"Tuan, silahkan masuk." Julie tidak menjawab pertanyaan Brian. Ia mempersilahkan Salman dan terlihat gugup.


"Tunggu, Amiera. Siapa pria itu?" tanya Brian yang bingung dengan sikap Julie.


"Daddyku," sahut Amiera yang terlihat bingung harus berbuat apa untuk meredakan amarah Daddynya.

__ADS_1


__ADS_2