
Maaf telat up-nya🙏
Happy reading...
London
Bagi seorang Rendy, cerahnya pagi tak sebanding dengan cerahnya wajah sang istri. Tidak akan pernah bosan ia mengagumi pahatan Sang Pencipta yang sedang terlelap dihadapannya saat ini. Sesekali ia mengusapkan jari di ujung hidung dan juga pipi. Berharap sang istri segera terbangun dari mimpi.
"Selamat pagi, Sayang." Sapanya lembut.
"Pagi, Kak," sahut Amiera yang kemudian memajukan bibirnya.
Rendy tersenyum dan mengecup bibir itu. Amiera memeluk dan membenamkan wajahnya di dada suaminya. Ia selalu suka dengan aroma sabun yang menempel di kulit suaminya.
Beberapa hari ini, setiap pagi selalu seperti itu. Amiera selalu tidur setelah tadi mengeluarkan isi perutnya. Mood-nya membaik setiap kali bangun tidur yang kedua kalinya. Memeluk Rendy yang hanya mengenakan handuk setelah mandi seolah menjadi keharusan bagi wanita yang sedang hamil muda tersebut.
Rendy pun mau tak mau mengikuti keinginan istrinya. Menunggu Amiera terbangun setiap kali habis mandi sebelum mengenakan pakaian kerjanya.
"Kakak sudah mau berangkat?"
"Iya, sebentar lagi ada owner datang ke kantor." Sahutnya.
Dengan enggan Amiera melepaskan pelukannya. Ia tahu suaminya tidak ingin terlambat ke tempat kerja.
"Kakak hari ini ada di kantor?"
"Iya. Mau makan siang bersama?"
Amiera mengangguk senang.
"Nanti aku kabari lagi ya, Sayang." Ucapnya.
Amiera tersenyum tipis dengan kedua maniknya yang menatap lekat pada suaminya. Rendy seolah mengerti arti tatapan istrinya. Ia meraup dan mel*mat lembut bibir Amiera.
"Lagi?" Tawarnya dengan tatapan menggoda.
"Lagi," rengek Amiera.
Sekali lagi Mereka saling menautkan bibir. Bermain sangat lembut hingga hampir saja membangunkan sesuatu di bawah sana.
"Aku harus berangkat, Sayang." Ucapnya pelan sambil mengusap sisa saliva di bibir Amiera.
Amiera mengangguk pelan. Ia tersenyum geli setiap kali Rendy menyingkap pakaian dan mencium bagian perutnya.
Dari tempat tidurnya Amiera memperhatikan suaminya yang tengah mengenakan pakaian di dalam walk-in closet. Rendy sesekali menoleh dan tersenyum padanya.
"Aku berangkat dulu ya," ucap Rendy yang sudah siap sambil mengecup kening dan bibir Amiera.
"Hati-hati."
"Jangan lupa sarapan, Sayang. Kamu sama Baby harus sehat," pesan Rendy.
"Iya. Bye..." Ucapnya dengan wajah yang merona.
"Bye, Sayang!"
Rendy pun meninggalkan Amiera yang masih malas beranjak dari tidurnya.
***
Seperti biasa, Meydina selalu ditemani Uli saat menunggu kedua putranya. Sebentar lagi waktunya istirahat. Meydina sudah mempersiapkan bekal kedua putranya di atas meja.
"Hari ini pulang naik taksi apa dijemput, Mbak?"
"Mungkin naik taksi, Bu Mey." Sahutnya.
"Saya antar pulang ya," tawar Meydina.
"Tidak usah, Bu. Nanti merepotkan."
"Enggak kok. Atau gimana kalau Zeni main ke rumah. Biar bisa main dengan Zein dan Amar."
__ADS_1
"Harus bilang dulu sebelumnya sama Bapak, Bu Mey."
"Oh, gitu ya." Ucapnya pelan.
Bel istirahat sudah berbunyi. Anak-anak keluar kelas dengan pengawasan dari guru-guru mereka. Zein dan Amar bersemangat menghampiri Mami-nya. Begitu juga dengan Zeni yang berjalan tak jauh dengan Bunda Nia.
"Kalau kita apa dulu anak-anak?" tanya Bunda Nia.
"Cuci tangan, Bu Guru," sahut mereka.
"Betul sekali. Ayo kita cuci tangan dulu, jangan lupa pakai sabun ya."
Ketiga anak itu mencuci tangan. Namun saat akan diberi sabun, Zein lebih dulu berlari menuju Meydina.
"Cuci tangannya harus bersih, Zein. Ayo cuci lagi pakai sabun," ajak Bunda Nia.
"Kak. Cuci yang bersih, Sayang."
"Nggak mau, Mi. Bu Gulu, Kakak makannya pakai sendok." Ucapnya sambil mengacungkan sendok miliknya.
"Oh, ya sudah tidak apa-apa. Tapi lain kali cuci tangan harus bersih ya."
"Iya," angguk Zein.
Ketiga anak itu sudah bersiap untuk makan. Meydina tersenyum melihat raut wajah Zenita yang mulai ceria.
"Wah, Zeni hari ini bekalnya ada wortelnya. Hebat, tos sama Bunda. Tos!"
Zenita nampak malu-malu melakukannya.
"Bu Gulu, yang suka woltel kan rabbits ya?" tanya Zein polos.
"Iya. Kelinci makan kesukaannya wortel," sahut Bunda Nia.
"Belalti Zeni, Rabbit. Haha... Rabbit, telinganya panjang." Kelakarnya.
"Kakak Zein. Nggak boleh gitu!" tegas Meydina.
"Maaf ya, Zeni. Zein sama Amar hanya bercanda, Sayang." Meydina merasa malu pada Bu Guru, Zeni dan pengasuhnya.
"Tidak apa-apa, Bu. Namanya juga anak-anak. Mereka punya cara tersendiri untuk mengakrabkan diri. Salah satunya dengan memberikan julukan. Tentunya selama itu tidak berlebihan. Dan sepertinya Zenita tidak tersinggung," tutur Bunda Nia.
Meydina menatap gadis kecil yang dengan lahap menikmati bento bekal sekolahnya. Meydina merasa lega, ia khawatir gurauan Zein melukai perasaan anak itu.
"Bento punya Zein ini gambar apa, Sayang?"
"Pololo." Sahutnya.
"Oh iya, Pororo. Kalau punya Amar apa?"
"Maio," sahut Amar.
"Mario. Mario Bross ya? Lucunya, kumis Mario dari rumput laut. Enak ya, bisa dimakan. Kalau Zeni, apa? Mmm, Hello Kitty?"
"Iya," angguknya pelan.
"Pita wortelnya dimakan ya. Bunda permisi dulu, habiskan makannya. Oke?"
"Oke." Sahut ketiganya sambil mengacungkan ibu jari.
Bunda Nia pun pamit pada Meydina dan Mbak Uli.
Setelah waktu istirahat selesai, anak-anak kembali ke kelas mereka. Biasa jam pelajaran sebelum pulang hanya akan diisi dengan nyanyian anak-anak saja.
Mereka terdengar sangat bersemangat Menyanyikan lagu anak-anak yang tertunya sudah familiar di telinga mereka.
***
Back to London
Baik Amiera maupun Rendy menjalani keseharian mereka seperti biasanya. Hanya saja sejak mengetahui kehamilan Amiera, sebisa mungkin mereka meluangkan waktu bersama lebih lama.
__ADS_1
"Amiera, kita mau makan dimana?" tanya Diana.
"Maaf. Hari ini aku tidak bisa makan bersama kalian. Aku ada janji," ucap Amiera sambil tersenyum.
"Pasti dengan pacarmu, ya?"
Amiera mengangguk sambil mengulumkan senyumnya. Diana dan rekannya yang lain mengira Rendy sebagai kekasihnya.
Saat hendak keluar ruangannya, Amiera mendapat pesan dari suaminya. Sebuah pesan dengan keterangan peta lokasi sebuah restoran ternama.
Di tempat lain...
Di sebuah restoran ternama, suasana nampak cukup ramai. Siang ini restoran itu sudah dipesan untuk acara makan siang bersama beberapa staf Al-Azmi Corp. Mereka mendapat undangan makan siang dari salah satu klien yang merupakan owner proyek yang dipegang Rendy.
Owner itu mengundang makan siang beberapa staf sebagai ungkapan terima kasih atas kasus Alex yang hampir saja meraibkan dana proyek miliknya.
"Terima kasih saya ucapkan khususnya pada Tuan Rendy atas usaha dan kerja kerasnya. Saya kagum sekaligus bangga pada generasi muda seperti beliau."
Suara tepuk tangan dari rekan-rekannya membuat Rendy tersenyum malu.
"Terima kasih," ucapnya pelan.
"Sayang ya Tuan Mike dan Miss Bella tidak bisa hadir. Tapi untung saja Miss Sophia ini ada di tengah-tengah kita." Ujarnya sambil menoleh pada Sophia yang terduduk di samping Rendy.
Setelah dipersilahkan, mereka pun mulai menikmati makanan yang dihidangkan. Rendy merasa risih dengan sikap Sophia yang dianggapnya berlebihan.
Wanita itu tidak segan menaruh lauk di atas piring Rendy juga menuangkan minuman dan meletakkannya di pinggir piring Rendy. Beberpa rekan mereka bahkan ada yang menggoda kedekatan mereka.
"Tuan Rendy, anda dan Miss Sophia terlihat sangat serasi. Jangan-jangan kalian memang ada hubungan. Benar begitu?"
"Tidak. Saya dan Sophia hanya.."
"Kami masih dalam masa penjajakan. Jadi ya masih proses," timpal Sophia cepat.
"Apa-apaan kamu, Sophi?" tanya Rendy pelan.
Sophia tersenyum pada Rendy dan juga pada rekannya yang lain. Wanita itu tidak mengacuhkan pertanyaan Rendy.
"Kenapa malu, Tuan Rendy? Mereka benar. Kalian sangat cocok," ucap Owner tadi.
"Tidak, Tuan. Anda salah paham," ujar Rendy.
Rendy merasa benar-benar risih dengan prasangka dan tatapan mereka. Seorang pelayan menghampiri mereka.
"Permisi, Tuan Rendy Atmadja?" Tanyanya.
"Itu saya," sahut Rendy.
"Nona itu menanyakan anda," ucap pelayan itu sambil menunjuk pada wanita yang tengah melenggang mendekati mereka.
"Amiera, mau apa dia di sini? Dasar pengganggu!" umpat Sophia dalam hati.
"Nona Al-Azmi?" sapa Owner itu yang langsung mengenali Amiera karena merasa pernah bertemu dalam acara jamuan malam itu.
Amiera berekspresi datar melihat pria yang menghampirinya.
"Apa kabar Nona Muda? Kebetulan sekali bertemu anda di sini." Ucapnya lagi.
Amiera yang memang tidak terbiasa dengan rekan bisnis Daddy-nya merasa heran ada yang mengajaknya bersalaman.
"Siapa dia, Kak?" tanya Amiera pelan sambil meraih lengan Rendy yang menghampirinya.
"Tuan ini klien perusahaan, Sayang." Sahutnya pelan namun masih bisa terdengar oleh beberapa orang termasuk Sophia yang menatap heran.
"Sayang? Apa aku tidak salah dengar?" batin Sophia.
"Kalian?" Owner itu terlihat heran melihat sikap Amiera pada Rendy dan juga tatapan Rendy pada putri Tuan Salman itu.
"Perkenalkan, ini istri saya, Tuan. Amiera Al-Azmi," ucap Rendy.
Mereka yang ada di sana terkejut, apalagi Sophia. Bahkan Amiera pun merasakan hal yang sama. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dan mereka terpaku mendengar pengakuan Rendy.
__ADS_1