Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
teman online


__ADS_3

Maaf banyak typo ya🙏😁


Happy reading...


Rendy merasa terkejut saat melihat Amiera masih berada dalam walk-in closet. Awalnya ia berpikir Amiera sudah berada di dapur sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.


Semalam, Rendy mengerjakan pekerjaan di apartemennya. Dan saat kembali ke atas, ia membawa pakaian yang akan dikenakannya esok hari.


Hampir dua jam ia meninggalkan Amiera. Saat masuk ke ruang utama, Amiera sudah tertidur di sofa. Rupanya istri Rendy itu memang tidak terbiasa tidur larut malam.


"Kakak mau ganti baju?" tanya Amiera pada pria yang sedang membelakanginya.


"Iya."


"Bisa tolong keataskan resleting baju Amie?" Pintanya.


Rendy membalikkan tubuhnya. Ditatapnya punggung Amiera yang mulus tanpa cela. Dengan tangan yang bergetar ia berusaha menarik rasleting itu perlahan. Pundak Amiera yang sedikit terbuka tiba-tiba saja membangkitkan g*irahnya.


Amiera terhenyak saat Rendy memeluknya dari belakang dan mengecup pundaknya berkali-kali. Ia menahan geli dengan perlakuan suaminya saat ini.


Kecupan Rendy naik ke tengkuk lehernya. Karena sudah tidak kuat menahan geli, Amiera memutar badannya.


Amiera dan Rendy saling menatap. Tatapan sayu yang menginginkan sesuatu. Amiera merasakan detak jantungnya yang tak beraturan. Bagian perut suaminya yang seperti roti sobek, membuat kedua mata belonya membulat sempurna.


Amiera terperangah merasakan jemari Rendy mengangkat dagunya. Hembusan nafas suaminya semakin terasa seiring wajah Rendy yang semakin mendekat.


Satu kecupan mendarat. Sesaat kemudian mereka saling menatap dengan jarak yang sangat dekat.


Amiera menjinjitkan kakinya agar bisa mencium bibir suaminya. Namun belum juga sampai, Rendy sudah meraup bibir itu.


Bibir Rendy terus bergerak lembut sementara Amiera yang masih tertegun masih menutup rapat bibirnya. Gigitan kecil yang sengaja di lakukan Rendy berhasil menyadarkan Amiera dan membuka bibirnya seakan mempersilahkan lidah Rendy bermain di dalamnya.


Benar saja, seakan tak ingin membuang kesempatan lidah itu menerobos masuk dan meliuk-liuk menjelajahi rongga mulut Amiera. Ciuman lembutpun menghilang, berubah menjadi l*matan yang menggairahkan.


Keduanya mulai menikmati tautan bibir mereka. Sesekali Rendy mengalihkan ciumannya agar Amiera bisa bernafas. Dan kembali menarik lembut bibir Amiera.


"Amiera! Kamu sudah bangun! Amie, Amiera!" seruan Bella terdengar dari luar pintu. Mengejutkan dua insan yang sedang bercumbu.


Keduanya melepaskan tautan bibir mereka. Sesaat saling menatap, lalu terkekeh pelan entah menertawakan apa.


Suara ketukan pintu terdengar semakin keras. Dan pastinya Bella tidak mengetahui Rendy ada dalam kamar Amiera. Bukan hanya Bella, pelayan pun tidak ada yang tahu. Tantunya selain dua pria yang berjaga di depan tadi malam.


"Keluarlah dulu, sebelum Bella mendobrak pintu." Guraunya sambil mengusap sisa saliva di sekitar bibir Amiera.


Amiera tersenyum malu dan memeluk erat Rendy. Setelah itu, Amiera melangkah keluar dari walk-in closet menuju pintu.


Bella menatap wajah Amiera yang terlihat kesal. Tatapannya lalu mengarah pada bibir Amiera yang sedikit bengkak dengan warna lipstik yang memudar.


"Dia ada di dalam?" Tanyanya.


Amiera mengangguk sambil berjalan melewati Bella.


"Apa aku mengganggu kalian?"


Masih dengan ekspresinya, Amiera mengangguk lagi tanpa mengucapkan sepatah katapun juga.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu. Apa dia marah?"


Amiera mengangguk lagi. Seorang pelayan menghampiri Amiera dengan segelas susu yang dibawanya.


"Amiera maafkan aku. Aku janji ini terakhir kalinya aku masuk kesini tanpa permisi. Jangan marah ya. Haruskah aku juga meminta maaf pada Rendy?"


Amiera menoleh pada Bella. Raut wajah Bella terlihat sangat menyesal. Ia pun tersenyum lalu berkata, "Sudahlah, lupakan saja. Dia tidak marah kok. Janji ya, lain kali kalau mau kesini bilang dulu."


"Iya, aku janji. Aku juga tidak mau menonton secara live."


"Maksudmu?" Amiera mengernyitkan dahinya.


"Ya, siapa tahu kalian sedang bermain di sofa saat aku datang."


Wajah Amiera langsung merona. Bagaimana bisa Bella sampai berfikir ke arah sana.


"Selamat pagi, Miss Bella!" sapa Rendy.

__ADS_1


"Selamat pagi, Tuan!"


Amiera beranjak dan mengambilkan kopi yang sedang dibuatkan pelayan. Wajahnya masih merona saat menyuguhkan kopi itu pada suaminya.


"Terima kasih," ucap Rendy pelan.


"Amiera, hari ini kamu ke kampus?" tanya Bella.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Mau ku antar? Kebetulan aku ada perlu di cafe dekat kampusmu," ujar Bella.


"Mau apa kamu sepagi ini?"


"Aku ada janji dengan teman. Eh, kalian pernah punya teman di dunia maya?"


"Maksudmu followers?"


"Bukan. Tapi seseorang yang sering berkirim pesan melalui chats di email kita. Tapi belum pernah bertemu orang tersebut."


"Lalu, pagi ini kamu akan menemuinya?"


"Hmm," angguk Bella.


"Hati-hati penipuan. Bagaimana kalau nanti saat bertemu kamu di hipnotis atau semacamnya," ujar Amiera.


"Tenang saja, aku menggunakan akun yang berbeda dengan akun yang biasa ku pakai."


"Tetap saja kamu harus berhati-hati."


Bella mengangguk pasti. Kemudian Amiera pamit ke kamarnya untuk bersiap.


Bella dan Rendy pun membicarakan tentang pekerjaan. Bella menanyakan tentang proyek Rendy yang baru saja berjalan. Dan Rendy menanyakan perihal PM baru pengganti Mark.


Setelah selesai, mereka bertiga keluar dari apartemen itu menuju lift.


"Wait! Aku juga mau ke bawah," ujar Dave yang ikut masuk ke dalam lift.


"Hai, selamat pagi semua!" Sapanya.


Karena hari ini weekend, Amiera biasa pergi ke kampusnya. Sedangkan Rendy sudah membuat janji akan meninjau langsung ke lapangan bersama asistennya.


Saat Amiera hendak naik mobil Bella, Dave berlari kearahnya dan meminta tumpangan. Melihat Dave manghampiri Amiera, Rendy mengurungkan niatnya menyalakan mesin mobil.


"Bukankah kemarin kamu membawa mobil?" tanya Amiera heran.


"Iya, tapi aku belum punya izin mengemudi. Kebetulan tadi aku mendengar kalian akan ke arah yang sama dengan tujuanku. Jadi bolehkah kalau aku ikut?" tanya Dave.


"Ikut? Hei, Tuan! Apa kamu tidak melihat mobilku ini hanya untuk dua orang?" Bella bertanya dengan suara meninggi. Mobilnya yang dibawa memang bukan mobil yang biasa digunakannya.


"Bella! Amiera biar aku saja yang mengantar," ujar Rendy.


"Jadi maksudmu aku harus mengantar dia?" tanya Bella sambil menunjuk pada Dave.


"Kenapa tidak? Kali ini saja, oke! Ayo, Amie! Kamu bisa ketinggalan kelasmu nanti."


Amiera melambaikan tangannya pada Bella. Ia juga memberi isyarat tangan yang memberitahukan bahwa nanti dia akan menelepon.


Dengan kesal Bella mempersilahkan Dave masuk. Entah kenapa dia tidak suka pada tetangga Amiera itu.


Bella melajukan mobilnya meninggalkan gedung apartemen. Rendy dan Amiera sudah mendahuluinya.


Sepanjang perjalanan, Dave terus saja bertanya ini dan itu terutama mengenai hubungan Rendy dan Amiera yang katanya sudah menikah.


Hampir setengah perjalanan, Bella menepikan mobilnya didekat sebuah halte bus.


"Turun! Kepalaku pusing mendengar ocehanmu," titah Bella.


Dave memasang wajah bingung.


"Kamu bisa naik bus atau juga taksi. Jadi turunlah, karena aku harus segera pergi." Usirnya.


Dave pun akhirnya turun. Ia menyeringai sambil menggelengkan kepala seakan tak percaya telah diperlakukan seperti itu oleh seorang wanita.

__ADS_1


Bella melajukan kembali mobilnya. Rencana kopi darat bersama seorang teman online-nya hari ini harus berjalan tanpa kendala.


Sudah lama mereka berbagi cerita walau tanpa mengenal rupa. Semalam saat temannya itu mengatakan berada di kota ini, mereka pun berjanji akan bertemu.


Bella menepikan mobilnya di cafe yang letaknya tidak jauh dari kampus Amiera. Ia juga membuka pesan dari Amiera yang mengatakan ingin pulang bersamanya. Setelahnya ia turun dan menunggu di salah satu meja di cafe tersebut.


Bella menunggu sambil berbalas pesan dengan temannya itu. Dan Bella sudah merasa tidak sabar saat temannya mengatakan bahwa menurut supir taksi yang membawa temannya ia sudah hampir sampai.


Bella sangat penasaran dengan orang ini. Bahkan di profil pesan chats-nya ia tidak memasang fotonya.


Saat ponselnya berdering, Bella cepat-cepat mengangkatnya.


"Ana?"


Bella menoleh pada suara yang berasal dari belakangnya. Kedua maniknya langsung membulat sempurna melihat siapa temannya tersebut.


"Kau!" pekik keduanya hampir bersamaan.


"Kau pria yang tadi menumpang mobilku? Tetangga Amiera!" seru Bella tak percaya.


"Heh, apa-apaan ini? Jadi ternyata itu kau, Ana? Ah, bukan. Tadi siapa namamu? Bella," ucap Dave dengan nada mengejek.


"Ya, namaku Bella. Anabella, itu panggilan daddy-ku. Dan kau sendiri? Bukankah namamu Dave, bukan Willy?" balas Bella.


"Dave William. Teman-temanku biasa memanggilku Dave atau Willy."


Keduanya pun terdiam. Mereka menjadi sangat canggung. Dave menarik kursi di depan Bella. Ini benar-benar di luar dugaan mereka.


***


Satu jam kemudian...


Bella sudah menunggu Amiera di depan kampusnya. Dari kejauhan ia sudah melihat Amiera yang berjalan menuju mobilnya.


"Hai! Bagaimana pertemuanmu dengan teman online-mu itu?" tanya Amiera saat sudah berada dalam mobil Bella.


"Lupakan saja. Aku tidak ingin membahasnya," sahut Bella malas.


"Kenapa? Oh iya, aku lupa menanyakannya padamu. Dia pria apa wanita?"


"Pria."


"Lalu, apa dia jelek? Kalau tidak, pasti saat ini kau sedang bercerita tentang pertemuan kalian. Misalkan bagaimana reaksi dia saat bertemu atau bagaimana perasaanmu saat bertemu dia secara langsung. Aku Betul kan?"


Bella masih diam. Enggan menjawab pertanyaan yang diajukan Amiera.


"Apa dia sejelek itu sampai-sampai kau tidak ingin membahasnya?" selidik Amiera.


"Sudahlah, Amiera. Kita lupakan saja, oke?"


Amiera mengangguk-anggukkan pelan.


"Baiklah," sahut Amiera pelan.


Amiera melihat-lihat ke bagian luar. Lalu kemudian ia berkata pada Bella, "Tolong berhenti dulu di tempat itu."


"Kamu ingin membeli sesuatu di sana?"


Amiera mengangguk. Dan Bella pun menepi di depan tempat yang ditunjuk Amiera.


"Kamu yang beli ya, please."


"Beli apa?" tanya Bella sambil menatap uang yang disodorkan Amiera.


"Belikan aku pil pencegah kehamilan," ucap Amiera.


Bella mengerutkan keningnya.


"Maksudmu?"


"Ssstt, jangan banyak bertanya. Ayo cepat turun!"


Bella mengambil uang itu dan turun dari mobilnya. Tidak lama kemudian ia sudah kembali dengan obat yang dipesan Amiera.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Amiera. Ia kemudian memperhatikan dengan seksama dus kecil yang di pegangnya sambil membaca aturan pakai yang tertera di sana.


__ADS_2