
Happy reading...
Siang ini cuaca cukup terik. Wira sedang menunggu seorang mitra bisnisnya di salah satu resto miliknya. Hari ini Wira berencana menandatangani kerjasama untuk mempercayakan dana yang cukup besar agar dikelola salah seorang mitranya.
Seorang pria datang menghampiri meja tempat Wira berada.
"Selamat siang, Pak Wira!" Sapanya.
"Selamat siang, Pak Bagas! Silahkan," sahut Wira.
"Terima kasih. Sudah lama menunggu?" tanya mitra Wira yang tak lain adalah Bagas.
"Ah, tidak juga. Saya memang sehari-hari di sini." Sahutnya.
Mereka mulai berbincang ringan dan menikmati makan siang. Saat menunduk akan menyuapkan makanannya, Bagas sesekali nampak menyeringai mendengar antusiasme Wira membicarakan usaha baru yang akan mereka jalani.
Setelah selesai makan siang, mereka mulai pada maksud pertemuan siang ini. Bagas memberikan janji-janji yang menggiurkan tentang prospek dan juga bagi hasil untuk Wira selaku investor.
"Ini silahkan, Pak Wira. Anda tinggal tanda tangan di sini." Ujarnya.
"Oke. Sepertinya anda sudah tidak sabar ya. Saya bahkan belum membacanya," gurau Wira.
"Silahkan dibaca terlebih dulu jika memang anda kurang yakin pada saya," ujar Bagas datar.
Wira merasa tidak enak hati karena beranggapan mitranya itu tersinggung atas ucapannya. Jadi ia memutuskan untuk percaya walaupun mereka baru beberapa kali bertemu.
"Pa!"
Wira yang hendak menandatangani berkas yang sodorkan Bagas menoleh kearah suara yang dikenalinya.
"Rafael? Kebetulan sekali kamu kesini," ujar Wira.
"Rafael? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Dan lagi wajahnya terasa tidak asing. Apa dia salah satu teman Maliek?" batin Bagas.
"Tunggu, Pa. Jangan ditandatangani dulu," pinta Rafael.
"Apa maksud kamu?" tanya Wira dengan raut wajah yang tidak suka.
"Pa, orang ini berniat buruk pada Papa."
"Raf, jangan bicara tidak sopan begitu!" Wira berucap dengan nada yang cukup tinggi.
"Maaf, Pak Bagas. Perkenalkan ini menantu saya. Dia.."
"Putra keluarga Subagja Hotels and Resorts, benarkan?" tanya Bagas.
"Anda mengenalnya?" Wira terlihat heran.
"Tentu, menantu anda salah satu pengusaha yang cukup ternama di bidangnya."
"Kamu dengar itu Rafael? Jangan membuat Papa malu. Pak Bagas ini mitra bisnis Papa yang baru. Jadi kalau kamu tidak bisa bersikap sopan, sebaiknya tinggalkan Papa." Pintanya tegas.
Rafael bisa melihat Bagas menyeringai mendengar ucapan Wira yang seperti itu padanya.
"Jangan, Pa!" Rafael mengambil paksa berkas yang akan ditandatangani ayah mertuanya.
"Rafael!" bentak Wira.
Perdebatan mereka menarik perhatian orang-orang yang ada di resto tersebut. Raut wajah Wira nampak sangat marah. Namun sebisa mungkin ia tidak mempermalukan diri dengan melakukan sesuatu yang di luar kendalinya.
"Berikan pada Papa, Raf!"
"Tidak, Pa. Rafael yakin Papa pasti belum membaca isi perjanjian ini. Iya kan?"
__ADS_1
Wira melirik pada Bagas. Pria itu terlihat gusar.
"Papa sudah membacanya dan sudah setuju pada semua point yang tertera di sana. Sekarang, berikan berkas itu!" Dustanya.
Rafael terlihat kecewa dan akhirnya menyerahkan berkas itu pada Wira. Wira memungut pena bolpoin yang tadi terjatuh. Rafael menatap tajam pada Bagas dan dibalas seringain sinis oleh pria itu.
"Jadi tertanya itu benar itu adalah kamu." Suara bariton seseorang membuat mereka menoleh.
Wira nampak heran melihat tiga orang yang menghampiri mereka.
"Anda berbicara pada siapa?" tanya Wira.
"Pada orang ini!" Pria itu mendorong pundak Bagas dengan kasar.
Bagas nampak terkejut. Begitu juga Wira.
"Tangkap dia!" titah pria itu pada dua pria yang bersamanya.
"Apa-apaan ini! Siapa anda berani melakukan ini pada saya, hah! Lepaskan! Saya tidak mengenal anda," pekik Bagas. Ia meronta saat tangannya ditekuk kebelakang oleh salah seorang pria tadi.
"Anda mungkin tidak mengenal saya. Tapi anda tentu mengenal ayah saya, Tuan Bimo." Ujarnya.
Pria itu mengacungkan beberapa berkas yang dipegangnya dan Bagas terbalalak melihat nama yang tertera di sana.
"Thank you, Raf! Kalau bukan atas informasi dari loe, orang ini nggak akan bisa tertangkap. Dia harus diberi efek jera. Agar tidak semakin banyak pengusaha yang masuk dalam tipu daya dia."
"Sama-sama," sahut Rafael menyambut uluran tangan pria itu.
"Salam buat Maliek ya!" Ucapnya lagi sambil berpamitan.
Bagas mendelik tajam sebelum dibawa paksa oleh dua pria yang ternyata petugas polisi berpakaian biasa. Rafael hanya menyeringai menanggapinya.
Wira nampak belum mengerti dengan apa yang terjadi. Rafael menuntunnya agar duduk di tempatnya semula.
Rafael menceritakan semuanya dari awal ia melihat Wira yang bertemu Bagas dan mulai mencurigainya. Mencari semua informasi tentang Bagas. Sampai minta bantuan Maliek untuk meyakinkan pria tadi agar mau kembali membuka kasus yang sempat ditutup karena Bagas menggunakan nama palsu.
Wira mendengarkan penuturan menantunya sambil membaca berkas yang memang belum ia baca. Wajahnya menegang karena ternyata memang benar adanya. Hampir saja ia kehilangan uangnya secara cuma-cuma.
"Terima kasih, Raf." Ujarnya pelan. Wira masih belum bisa mempercayai kebodohan dirinya sendiri. Begitu saja percaya pada orang yang baru dikenalnya.
"Sama-sama, Pa. Dia memang orang yang pandai bermain kata-kata. Jika kita lengah maka akan sangat mudah terperdaya."
Wira mengangguk. Pria itu mengusap wajahnya.
"Rafael pamit dulu ya, Pa. Masih ada pekerjaan."
"Kamu sudah makan siang?"
Melihat menantunya yang ragu menjawab pertanyaannya, Wira beranggapan Rafael belum makan siang.
"Duduklah. Papa akan minta pelayan menghidangkan makanan untukmu." Ucapnya lembut.
Rafael terduduk, ditatapnya langkah Wira yang menuju dapur restoran tersebut. Ia tersenyum kecil merasa lega karena mertuanya bisa terbebas dari kasus penipuan.
Rafael merogoh ponsel dalam sakunya. Ia kemudian mengirim pesan pada ketiga sahabatnya.
***
London
Amiera, Julie, dan juga Diana berjalan menyusuri jalanan yang berada tidak jauh dari butik. Mereka berencana akan makan siang bersama Bella di sebuah restoran.
Sambil berjalan, Amiera berbalas pesan dengan suaminya. Siang ini Rendy ada di lapangan, jadi mereka tidak mungkin bisa makan siang bersama.
__ADS_1
"Ayo, Amiera! Kita menyebrang," ajak Julie.
"Iya," sahut Amiera dengan tatapannya yang kembali fokus pada layar ponselnya.
Ciiit....
Suara decitan mobil membuat Amiera terpaku. Kakinya bergetar dan hampir saja jatuh tersungkur.
"Amiera, Kamu tidak apa-apa?" Julie dan Diana langsung berlari kearahnya.
"Aku tidak apa-apa. Hanya terkejut," sahut Amiera lemas.
"Kamu yakin baik-baik saja? Aku bisa mengantarmu ke rumah sakit kalau memang diperlukan penanganan."
Ketiga wanita itu menoleh pada pria yang baru saja bicara. Rupanya pria itu pemilik mobil yang hampir menabrak Amiera.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Lagi pula ini kesalahanku. Menggunakan ponsel saat menyeberang. Aku minta maaf," ujar Amiera.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Ini kartu namaku, kamu bisa meneleponku jika perlu sesuatu."
Amiera tidak berminat mengambil kartu nama itu. Namun Diana cepat-cepat mengambilnya.
"Terima kasih," ucap Diana sambil tersenyum.
Ketiga wanita itu berjalan menepi, pria itu berpamitan dan melajukan kembali mobilnya.
"Sepetinya dia bukan orang biasa, mobil sport-nya sangat mewah." Diana menatap laji mobil itu dengan tatapan terpesona. Julie dan Amiera hanya tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Diana.
Di dalam restoran, Bella sudah menunggu. Ini kali pertama ia bertemu Amiera setelah kepulangannya. Bella nampak mengulumkan senyuman menggoda pada Amiera. Wanita itu pasti tahu bahwa Amiera sudah menikah.
Di tempat lain...
Sebuah mobil mewah mamasuki halaman parkir restoran ternama. Seorang pria turun dan melangkah masuk ke dalam restoran.
Di salah satu meja, seorang wanita melambai padanya.
"Hai, Dave! Apa kabar?"
"Aku baik. Bagaimana kabarmu Sophia? Lama sekali kita tidak bertemu," ujar pria bernama Dave itu.
"Aku juga baik. Bagaimana kabar paman dan Bibi?"
"Mereka baik. Mereka menitipkan salam untukmu. Kamu sudah sangat jarang pulang ke rumah ibumu." Ujarnya.
Sophia tersenyum kecut. Dave merupakan sepupu dari pihak ibunya.
"Jadi kamu akan mengambil alih usaha paman di kota ini?"
"Tentu. Kalau bukan aku siapa lagi? Ayahku sudah sering sakit-sakitan," sahut Dave.
"Kamu tertarik bergabung dengan perusahaanku? Ku dengar saat ini kamu juga bekerja di perusahaan besar," ujar Dave.
Sophia mengangguk sambil tersenyum. Mereka pun mulai menikmati makan siang.
"Kamu tinggal dimana?" tanya Sophia.
"Aku tinggal di salah satu penthouse. Nanti aku kirimkan alamatnya. Aku juga belum tahu alamat jelasnya. Baru hari ini aku pindah."
"Baiklah, ku harap kamu betah tinggal di negara ini. Bagaimana bisa kamu mengendarai mabil itu? Aku yakin kamu belum memiliki izin mengemudi."
"Iya, kamu benar. Aku memang belum punya izin. Kamu tahu, tadi hampir saja aku menabrak seseorang. Beruntung terjadi apa-apa padanya. Jika tidak, aku akan mendapat masalah karenanya."
Sophia tersenyum tipis mendengar penuturan Dave, sepupunya.
__ADS_1