
Happy reading...
Setelah menikmati makan malam, Meydina memberikan obat dan meminta Ayah Salman beristirahat. Salman mengajak cucunya untuk tidur bersamanya, namun mereka menolak karena asik dengan mainan yang disediakan kru pesawat.
Beberapa pramugari cantik menemani mereka bermain, tidak terkecuali Baby Arka yang didampingi Papa Rendy. Karena mengantuk, Baby Arka merengek ingin menyusu dan Rendy membawanya pada sang mama yang menatap tajam pada dirinya.
"Genit deh," delik Amiera.
"Genit, sama siapa?" tanya Rendy heran.
"Ya sama mereka." Ujung mata Amiera mengarah pada para pramugari itu.
"Cemburu ya?" bisik Rendy dengan tatapan menggoda. Meremas lembut sebelah p*yudara yang tidak sedang dihisap putranya. Amiera nampak kesal, namun dimata Rendy raut wajah itu sangat menggemaskan.
Di sisi lain, Rafael dengan sabar memijit telapak kaki istrinya. Kebiasaan baru yang akhir-akhir ini sering ia lakukan. Sebelum tidur, Alya selalu memintanya memijat kaki yang sering dirasa pegal.
"Auntie mau beli?" tanya Queena yang sedang menirukan gaya pramugari menawarkan makanan.
"Mau dong, minuman ini berapa?" Alya menanggapi dengan senyuman.
"Auntie, punya Kakak aja. Ini mulah meliah, glatis juga boleh."
"Ih, Zein curang! Nggak boleh rebutan pembeli. Kan masih ada yang lain," protes Queena.
"Pada nggak mau beli, kan udah makan. Auntie Alya ada Baby di dalam pelutnya. Jadi masih lapal, ya kan Auntie? Zein kasih deh buat Baby-nya Auntie, glatis-tis." Tuturnya.
"Punya Queen Uncle yang beli deh. Bisa tolong diberikan ke kursi yang di sebelah sana, Cantik?" Tunjuknya.
Usaha Rafael mengembalikan senyum Queena pun berhasil. Gadis cilik itu mengarahkan langkahnya pada kursi Riky dan juga Alena.
"Uncle, ini dari Uncle yang di sebelah sana. Dibayar ya," ujar Queena.
"Kok dibayar? Ah, ngasihnya nggak ikhlas tuh si Uncle, masa iya ngasih disuruh bayar," keluh Riky dengan raut wajah kecewa.
"Ini aja, Uncle. Glatis," bujuk Zein.
"Zein! Daddy, Zein-nya ganggu terus." Rengeknya.
Alvin dan Laura terkekeh pelan melihat tingkah keduanya. Zein menawarkan jualannya pada Alena.
"Auntie, mau?"
"Boleh, tapi ada syaratnya."
"Syarat?" gumam Riky.
"Apa itu?" tanya Zein dengan raut wajah yang menggemaskan.
"Kakak ganteng mau ya dicium Auntie?" goda Alena.
__ADS_1
"Ih, nggak mau."
"Jangan mau. Auntie bau," cegah Riky dengan telunjuk yang digoyangkan.
"Kak Riky!" pekik Alena sambil menepuk pundak Riky dengan raut wajah yang kesal. Anak-anak berlari, kembali pada Amar dan Fatima yang bermain di tempat tidur kecil yang disiapkan untuk mereka.
"Bercanda, Sayang," ujar Riky lalu memajukan bibirnya.
"Alena kan bau." Deliknya sambil membuang muka.
"Idih marah. Istriku cantik deh kalau lagi marah. Sayang, kamu harum kok." Bujuknya.
"Haah." Alena menghembuskan nafasnya sambil membuka mulutnya.
"Aah, pingsan deh."
"Tuh kan. Kak Riky gitu!" Alena menepuk-nepuk punggung Riky yang terkekeh pelan.
Pasangan itu tidak menyadari tingkah mereka membuat yang lain mengulumkan senyum. Alvin bahkan sampai menggelengkan kepala lalu mengecup pucuk kepala Laura yang bersandar di pundaknya.
***
Hembusan angin gurun yang hangat berpadu dengan angin laut yang dingin. Suasana malam yang gulita menyambut mereka yang turun dari dalam pesawat.
Meydina menuntun Ayahnya sementara para pria lain memangku anak-anak yang lelap dengan tidur mereka. Alena mendampingi Alya, karena Rafael memangku Amar yang terlelap.
"Selamat malam, Tuan!" sapa Sami, orang kepercayaan Salman.
"Malam, Om!" sahut Meydina.
"Semua sudah siap, Tuan. Silahkan," ujar Sami dan hanya dijawab anggukan oleh Salman.
"Hai, Sami!"
"Lama tidak bertemu, Tuan Alvin. Salam, Nona Amiera!" Ujarnya lagi.
"Apa kabar, Sami?" tanya Amiera.
"Baik, Nona."
"Tuan Muda tidur?" tanya Sami saat melihat Zein dalam dekapan Maliek.
"Iya. Sami, pukul berapa besok kita pergi?" tanya Alvin.
"Sesuai keinginan Tuan Besar, Tuan." Sahutnya.
Alvin hanya mengangguk tanda mengerti sambil berlalu menuju mobil yang akan membawa mereka ke hotel.
"Kenapa dia tidak menyapa kita?" bisik Alya pada Alena.
__ADS_1
"Karena dia hanya hormat pada keluarga Tuan Salman," sahut Alena balas berbisik.
"Oh. Kenapa hanya menyapa Zein?" Tanyanya lagi, maklum Alya baru pertama bepergian dengan keluarga Salman.
"Karena Kakak Zein calon tuan selanjutnya," sahut Alena sangat pelan. Ia khawatir pria Timur Tengah yang berpenampilan sangar itu mendengar obrolan mereka.
Malam ini, rombongan Salman akan menginap di hotel. keesokan harinya, mereka akan menggunakan helikopter untuk sampai di tempat tujuan.
***
(Terdapat adegan 21+, silahkan skip bila merasa kurang berkenan.)
Dari kejauhan, deburan ombak terdengar saling bersahutan. Suaranya yang menggema, seakan menghanyutkan penghuni kota dalam pangkuan malam.
Deru ombak itu nyatanya seiring dengan deru nafas dua insan yang sedang kasmaran. Keduanya bergumul saling melepaskan rindu yang sempat tertahan.
"Aku sudah tidak tahan, Sayang. Sekarang ya?" pinta Riky dengan tatapan yang terlihat sayu terhalang kabut nafsu.
Alena yang tersipu malu mengangguk pelan meng-iya-kan. Riky dengan semangat menanggalkan satu persatu pakaian yang ia kenakan. Ia tersenyum menggoda saat Alena menutup wajahnya karena melihat 'rudal' miliknya siap diarahkan pada sasaran.
"Nggak usah ngintip, pelototin aja." Godanya, saat manik Alena terlihat diantara dua jari yang direnggangkan.
Pria itu perlahan menanggalkan piyama yang dikenakan istrinya. Membuat wajah Alena memerah sekaligus bingung harus bagian mana yang ditutupi kedua tangannya.
"Nggak usah di tutupi, Sayang. Aku ini suami kamu," ujar Riky lembut sambil memposisikan dirinya di atas tubuh istrinya.
Riky mendaratkan bibirnya pada bibir Alena. Bibir itu sudah terasa lembut dan basah setelah beberapa kali dijamah.
Alena membuka sedikit kedua bibirnya, membiarkan lidah Riky masuk dan bermain didalamnya. Keduanya saling mel*mat, bertukar saliva sambil meliukkan indera pengecap.
Nafas makin memburu manakala tangan Riky bergerak liar menyusuri tiap jengkal tubuh wanita yang berada dalam kungkungannya. Saat tautan bibir itu terlepas, tatapannya seakan meminta izin untuk memulai pada intinya.
Senyum tipis yang tersungging sudah cukup menjadi jawaban. Riky mulai mengarahkan 'rudal' itu agar tepat sasaran.
"Aah.." Raut wajah Alena yang meringis tak lantas membuatnya merasa kasihan. Perlahan namun pasti ia menekan agar semua bagian masuk ke dalam.
Riky mulai memompa dengan sangat pelan. Memastikan pasangannya merasa nyaman. Ditatapnya manik Alena yang berkaca-kaca. Sambil terus memompa, ia mengecup lembut kedua kelopak mata yang ditutup pemiliknya.
Menit demi menit pun berlalu. Pergulatan yang semula kaku, melembut seiring berjalannya waktu. Riky merasa lega melihat raut wajah Alena yang sudah bisa menikmati tempo permainannya. Walau masih terlihat malu-malu, wanita itu mulai membalas setiap perlakuan darinya.
Kepuasan jelas terlihat saat melihat wanitanya mendapatkan pelepasan. Dengan nafas yang memburu, Riky mempercepat tempo permainan karena sudah tidak bisa lagi menahan sesuatu yang akan keluar.
Lenguhan panjang menjadi akhir permainan. Dengan nafas terengah, ditatapnya wajah cantik yang kelelahan.
"Terima kasih, Sayang." Ucapnya sambil menyelipkan rambut istrinya di belakang telinga. Satu kecupan ia berikan sebelum tubuhnya benar-benar tumbang.
***
Laut yang terbentang dengan warna air yang biru kehijaunan terlihat kontras dengan hamparan pasir putih dibagian tepinya. Gundukan warna hijau dedaunan mengitari sebuah bagunan yang terlihat megah dari kejauhan.
__ADS_1
Meydina terkesiap menyadari bentuk pulau itu. Huruf 'A' merupakan awalan nama ibunya. Diliriknya pria yang duduk tak jauh darinya. Pria itu, sedang menatap ke bawah dengan tatapannya yang menerawang seolah sedang mengenang.
"Anita... Aku kembali ke tempat ini bersama anak kita."