Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
terkejut


__ADS_3

Happy reading...


"Ah, sial! Kenapa tiba-tiba begini?" gerutu Bella. Ia mengemudikan mobilnya keluar dari hotel tempatnya menginap.


Saat melintas di depan hotel, ia melihat sosok pria yang semalam dilihatnya di club. Seprtinya pria itu sedang menunggu taksi.


"Hei, Kau! Sulit mendapatkan taksi di sini. Mintalah pihak hotel memesankannya untukmu," ucap Bella.


Bella akan berlalu, namun pria itu menepuk-nepuk bagian samping mobil Bella.


"Nona, antarkan aku ke stasiun kereta terdekat." Pintanya.


Tidak menunggu pemilik mobil mempersilahkan, pria itu masuk dan duduk di dalam mobil Bella.


"Ayo kita berangkat!" Ucapnya.


"Aku bukan supirmu dan turunlah dari mobilku!" pekik Bella.


"Ayolah, Nona. Ku mohon! Tunggu, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya pria itu, mungkin ia mulai menyadarinya.


"Kalimat yang biasa di ucapkan oleh seseorang yang sok kenal dan membutuhkan bantuan," decih Bella.


Pria itu hanya nyengir mendengar kalimatnya semalam berbalik padanya.


"Turunlah! Aku harus segera ke London. Aku sedang buru-buru!" Pekiknya lagi.


"London? Kebetulan sekali, aku juga mau kesana. Nona, bawa aku bersamamu. Aku akan membayar, asalkan kau membiarkan aku ikut denganmu," ucap pria itu dengan raut wajah memohon.


Bella sangat kesal sekaligus merasa kasihan. Dengan kecepatan tinggi, ia melajukan mobilnya.


"Nona, aku belum mau mati. Pelankan laju mobilmu!" Pekiknya.


"Aish, menyebalkan." Deliknya.


Setelah laju mobil Bella di rasa mulai stabil, pria itu terlihat lega.


"Perkenalkan namaku, Riky. Siapa namamu? Tidak mungkin kan selama perjalanan kita akan diam saja." Ucapnya.


"Namaku, Bella. Bella Anderson."


"Anderson? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu?" gumam pria itu yang tak lain adalah Riky.


"Heh, ada yang mulai sok kenal," sindir Bella.


Riky tersenyum malu dan mengalihkan pembicaraan.


***


London


Dengan nafas terengah Amiera tiba di depan gedung Al-Azmi Corp. Security membukakan pintu untuknya, mungkin karena pernah melihat Amiera sebelumnya.


"Maaf, Nona. Tuan Mike hari ini sedang sibuk. Pemilik perusahaan datang tiba-tiba ke kantor ini," ucap security itu setengah berbisik.

__ADS_1


"Jadi benar Daddy ada di kantor ini," batin Amiera.


"Saya hanya sebentar," ucap Amiera sambil melangkah ke dalam lobi.


Beberapa karyawan terlihat berlalu lalang sambil berbisik. Saat sibuk pun mereka masih sempat membicarakan Daddynya. Dengan menggunakan lift eksekutif, Amiera menuju lantai paling atas.


Keluar dari lift, Amiera berpapasan dengan Sophia.


"OMG, kau benar-benar tidak tahu malu. Apa kau tidak tahu perusahaan ini sedang kedatangan tamu penting? Pergilah! Jangan mempermalukan dirimu di sini," decih Sophia.


"Aku tidak ada urusan denganmu. Jangan menghalangi jalanku!" geram Amiera, karena Sophia mencoba menghalangi langkahnya.


"Aku sudah memperingatkanmu j*lang. Pergilah! Kau tidak pantas di sini!" Sophia membulatkan matanya menatap tajam pada Amiera.


"Kau bilang apa barusan, j*lang?" Wajah Amiera terlihat memerah karena marah.


"Heh! Itulah dirimu yang sebenarnya," decih Sophia.


"Kau!" geram Amiera dengan kedua tangannya yang terkepal.


Amiera yang sudah sangat marah, melihat ada beberapa orang sedang menuju ke arah mereka.


"Daddy!" seru Amiera dalam hati.


Sinar matanya berbinar menatap pria berumur yang sudah lama tidak di jumpainya tersebut.


"Nona?" ucap Mike pelan.


"Amiera," batin Rendy.


"Daddy!" seru Amiera.


Salman tersenyum tipis menatap putrinya. Ia membiarkan Amiera memeluknya dan membalasnya dengan mengusap pelan pucuk kepala Amiera.


Semua orang yang ada di sana terlihat terkejut, tentu saja kecuali Mike dan Rendy. Lalu bagaimana dengan Sophia? Wanita muda itu sangat terkejut. Ia berdiri mematung dengan mulut yang menganga.


"Da-Daddy?" Gumamnya dengan wajah yang memucat.


"Auntie!" seru Zein yang keluar dari ruangan Mike. Zein berlari kecil menghampiri Amiera. Dibelakangnya menyusul Alvin yang menatap lembut pada sang adik.


"Zein? Daddy kesini membawa Zein?" Amiera menoleh pada Salman dan di angguki pelan oleh pria itu.


"Auntie, Kakak kangen!" Serunya.


Amiera memangku Zein dan mencium gemas wajah putra Meydina itu.


"Auntie juga, Sayang! Kak Alvin.."


"Bagaimana kabarmu, Amie?"


"Amie baik, Kak."


Alvin tersenyum lalu mengacak lembut rambut adiknya. Di sisi lain, Rendy diam-diam memperhatikan wajah Zein. Melihat langsung wajah putra Meydina yang pernah dilihatnya saat mereka berbicara melalui video call.

__ADS_1


"Silahkan, Tuan!" ujar Mike.


Salman berjalan menuju lift.


"Auntie, Kakak sudah besal. Tulun, mau jalan cendili." Pintanya.


Amiera menurunkan Zein lalu memegang pergelangan tangannya. Sementata itu, Alvin meletakkan sebelah tangannya di pundak Amiera. Mereka berjalan melalui Sophia yang sudah bergeser mundur dan menunduk hormat pada Salman dan keluarganya.


Salman dan keluarganya memasuki pintu lift eksekutif, sementara Mike dan staf lainnya menggunakan lift karyawan. Mike akan menjamu Tuan Salman di sebuah ruangan khusus di perusahaan tersebut.


Salman sengaja meminta para staf khususnya ikut berkumpul bersamanya. Mereka di minta melaporkan perkembangan pada setiap bagian yang mereka pegang.


"Daddy kenapa tidak memberi tahu Amie? Dan kenapa langsung ke sini?" tanya Amiera pelan.


"Daddy kesini untuk urusan pekerjaan. Tidak ada hubungannya denganmu," dusta Salman.


Amiera terlihat kecewa. Salman hanya mengulumkan senyumnya begitu juga dengan Alvin.


Meja Salman dan keluarga terpisah dengan yang lainnya. Di meja lain, Sophia tidak melepaskan pandangannya dari sosoK Amiera.


"Ren, apa benar Amiera itu putri Tuan Al-Azmi?" bisik Sophia yang sengaja duduk di dekat Rendy.


"Iya. Kamu lihat sendiri kan?" sahut Rendy datar.


"Aku tidak tahu Tuan Al-Azmi punya seorang putri," gumam Sophia.


"Bukan hanya satu, tapi dua. Dan anak kecil itu cucu dari putrinya," sahut Rendy.


"Tuan Rendy, Tuan Salman meminta anda bergabung di meja beliau," ujar Mike yang menghampiri meja tersebut.


"Saya?" Rendy merasa heran. Dari kejauhan Alvin melambaikan tangan memintanya untuk datang.


Rendy menghampiri meja tersebut dan Alvin mempersilahkan Rendy duduk diantara dirinya dan juga Amiera.


"Selamat datang, Tuan!" sapa Rendy canggung.


"Hmm.. Aku tidak menyangka kau akan bergabung dengan kami," ucap Salman.


"Iya, Tuan. Saya juga tidak menyangkanya," sahut Rendy.


Amiera terlihat senang mengetahui Rendy bekerja di perusahaan Daddynya.


***


Di bagian lain gedung itu, Bella yang memarkirkan mobilnya bergegas turun.


"Hei, Kau! Halte bus ada disebelah sana. Pergilah! Kau tidak perlu membayarku."


Bella bergegas masuk kedalam gedung.


Riky memperhatikan gedung tersebut. Ia merasa gedung itu tidak asing.


"Ini, kan..." Gumamnya.

__ADS_1


Setelah melihat nama yang tertera, ia pun kembali bergumam.


"Pantas aku merasa mengenal tempat ini. Ternyata ini gedung Al-Azmi Corp. Tapi wanita tadi, dia masuk kedalam gedung ini? Apa itu artinya dia bekerja di perusahaan ini? Ah, aku tidak percaya ada kebetulan yang seperti ini," gumam Riky dengan ekspresi wajah yang terkejut.


__ADS_2