Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
LDR


__ADS_3

Happy reading...


Hari berganti, dengan berat hati Amiera harus merelakan suaminya pergi. Dengan diantar Alvin, Amiera mengantar Rendy ke bandara.


"Baik-baik di sini ya, Sayang. Tiap hari beri aku kabar. Pagi, siang, sore, malam, pokoknya, every time. Oke!" Ucapnya sambil menatap gemas wajah Amiera dengan kedua tangan yang memegang wajah istrinya itu.


Amiera mengangguk dengan wajah yang sendu.


"Kalau ada apa-apa, bilang sama Kak Alvin atau Meydina. Aku harus check in sekarang," ujar Rendy dengan berat hati. Pria itu mengecup bibir istrinya, tidak perduli dengan orang yang berlalu lalang.


Pada Alvin ia menitipkan Amiera, pria itu berlalu dengan diiringi tatapan istrinya yang berlinang air mata. Berat, tentu saja. Tidak pernah terlintas sebelumnya ia akan berjauhan dengan istrinya yang tengah berbadan dua. Ia hanya bisa berharap, jika saatnya tiba semoga Tuhan mengizinkannya ada untuk menemani istrinya melahirkan buah cinta mereka.


***


Malam semakin larut, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Dalam kesendirian, Amiera merindukan suaminya. Saat merasakan kegalauan hatinya, sesekali terasa pergerakan janin dalam kandungannya. Seolah mengerti dan ingin menghibur hati sang bunda.


Baru saja Ameira akan terlelap namun ia kembali mengerjap. Cahaya masuk ke dalam kamarnya dari arah pintu, lalu kembali hilang karena pintu yang ditutup.


Amiera beringsut dari posisinya, mencoba melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang memang sengaja tidak dikunci karena permintaan anggota keluarga lainnya.


"Kak Mey..."


"Belum tidur?"


"Belum. Kakak sendiri?"


"Cepatlah tidur, ini sudah malam. Tidak baik untuk kandunganmu tidur selarut ini."


Amiera menatap heran pada Meydina yang menyingkap selimut dan naik ke tempat tidurnya.


"Kakak mau tidur di sini?" Tanyanya.


"Iya. Kenapa, tidak boleh? Ini kan juga kamarku," sahut Meydina santai.


Saat ini memang Amiera menempati kamar yang dulu ditempati Meydina setiap kali usia kandungannya sudah memasuki trimester ketiga. Meydina menoleh ada adiknya yang masih menatap penuh tanya.


"Aku akan menemanimu. Siapa yang tahu mungkin adikku yang cantik ini membutuhkanku di tengah malam atau dini hari." Ujarnya sambil membetulkan posisi bantal.


Amiera menatap haru pada Meydina dan berkata, "Terima kasih, Kak."


"Sudahlah, tidak usah berterima kasih. Kita ini bersaudara, sudah seharusnya saling menjaga. Hmm?" Meydina menatap lekat pada Amiera dan tersenyum tipis saat adiknya itu mangangguk meng-iya-kan ucapannya.


"Kak Maliek nggak marah?"


"Nggak laah, yang penting udah dikasih jatah. Hehe.."


Amiera mengulumkan senyum mendengar ucapan Meydina.


"Ayo tidur," ucap Meydina menepuk bantal milik Amiera.


Amiera menurutinya, mereka berbaring saling berhadapan.


"Kakak mencintai Kak Maliek?" Tanyanya.


"Iya, memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Apa Kak Maliek cinta pertama Kak Mey?" Telisiknya.


"Iya. Kakak sebelumnya nggak terlalu paham cinta itu seperti apa. Tapi setiap kali dekat dengan Papinya Zein, perasaan Kakak berdebar dan kalau lagi jauh bawaannya ingat dia terus, hehe." Kekehnya sambil tersipu.


"Kak Maliek memang pria yang baik."


"Kamu sendiri, dulu siapa cinta pertamamu?"


"Mau dengar yang jujur?"


"Iya dong," sahut Meydina.


"Amie pertama kali suka sama cowok ya sama Kak Maliek. Tapi sebatas suka aja," sahut Amiera dengan tatapan mengarah lekat pada Meydina. Ada perasaan takut kalau-kalau Meydina akan marah.


"Terus kalau sama Rendy gimana? Bukannya dulu kamu juga suka sama dia sejak pertama ketemu?"


"Memang iya. Bedanya kalau sama Kak Rendy ada perasaan ingin memiliki. Ya itu, Amie kan dulu suka ngaku-ngaku kalau Amie pacarnya Kak Rendy, padahal bukan, hehe..." Kelakarnya.


"Ya nggak apa-apa, dari ngaku-ngaku akhirnya jadi kenyataan. Malahan bukan hanya pacar tapi jadi istri. Anggap saja pengakuan kamu dulu itu sebagai doa."


"Iya juga, ya. Kak Mey nggak marah kan?"


"Kenapa marah?"


"Tadi Amie bilang kalau Amie pernah suka sama Kak Maliek," sahut Amiera ragu.


"Ya nggak dong, itu kan hak kamu. Yang pasti Kak Maliek cuma cinta sama Meydina seorang. Haha, percaya diri banget ya?" kekeh Meydina.


"Memang benar kok," sahut Amiera.


Amiera mengangguk pelan lalu menatap pada Meydina. Tanpa diduga, Meydina mengusap pucuk kepalanya. Wanita berparas cantik itu seakan ingin menenangkan adiknya.


Amiera tersenyum tipis, mencoba menjemput mimpi indahnya dalam balutan malam yang menenangkan.


***


London


Setibanya di bandara internasional kota London, tatapan Rendy langsung tertuju pada James. Pria itu menawarkan diri untuk menjemput Rendy. Banyak hal yang mereka bicarakan selama dalam perjalanan. Terutama tentang pekerjaan yang beberapa hari ini Rendy tinggalkan.


Sesampainya di depan gedung apartemen, James pamit pulang.


"Terima kasih, James."


"Sama-sama, Tuan. Besok anda akan ke kantor Tuan Mike?"


"Sepertinya begitu. Aku akan meminta asistenku menemuiku di sana."


"Baiklah, Tuan. Selamat beristirahat, sampai jumpa."


Rendy menatap kepergian pria yang dulu pernah menjadi asistennya itu. James masih saja memanggilnya 'tuan' padahal kini ia sudah menjabat sebagai PM seperti dirinya.


Rendy mulai memasuki gedung, tak lupa ia juga menyapa beberapa security yang sudah tak asing lagi baginya. Sesampainya di depan penthouse, ia bertemu Dave yang lebih dulu menyapanya.


"Hai, tatangga! Maaf. Hai, Ren! Bagaimaan kabar Amiera?"

__ADS_1


"Baik."


"Aku dengar dari Bella, bahwa Amiera akan melahirkan di sana. Maaf, aku terlambat mengetahuinya. Jadi tidak sempat mengucapkan perpisahan. Semoga persalinannya nanti lancar," ujar Dave.


"Tidak apa. Terima kasih, maaf ya aku harus masuk." Pamitnya.


Dave mengangguk dan berlalu sambil melambai pelan. Rendy hanya menyeringai melihat sikap tetangganya itu.


Sesampainya di dalam, Rendy menatap ke sekitar. Penthouse itu di rasanya terlalu luas tanpa adanya Amiera. Dengan malas ia melanjutkan langkahnya menuju kamar. Menaruh tas yang dibawanya dan menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.


"Bersabarlah sebentar lagi, Sayang." Gumamnya sambil melirik pada bingkai foto pernikahannya.


Ia baru menghabiskan waktunya dalam perjalanan, tapi rasanya sudah berpisah berbulan-bulan. Semoga saja long distance relationship ini semakin mempererat hubungannya dengan Amiera. Walau terpisah jarak, tidak akan membuat hubungan mereka retak.


***


Suasana dalam ruang meeting terasa mulai menegang saat nada suara Mike mulai meninggi. Membuat siapa saja yang berniat mengkhianati berpikir ribuan kali. Dedikasi pria itu pada Al-Azmi Corp memang pantas diapresiasi. Tidak berlebihan rasanya jika Tuan Salman memberinya kuasa untuk memegang kendali perusahaan ini.


Setelah meeting selesai, kini Rendy yang menerima laporan perkembangan proyeknya. Masih di ruangan yang sama, ia dan juga asistennya berdiskusi membicarakan segalanya.


Suara ketukan pintu sejenak menghentikan pembicaraan mereka. Setelah dipersilahkan, muncul sosok wanita dari balik pintu ruangan itu.


"Ada apa Shopia?" tanya Rendy datar.


"Hari ini kamu akan berada di kantor ini?"


"Iya. Memangnya kenapa?"


"Bolehkah nanti aku ikut bersamamu?"


"Kemana? Aku tidak akan kemana-mana hari ini. Kamu tahu sendiri kan, aku banyak pekerjaan." Sahutnya datar.


"Aku ikut ke apartemenmu. Kebetulan aku ingin menemui Dave, sepupuku." Ujarnya.


"Kamu tidak bawa mobil?"


"Tidak. Mobilku di bengkel. Tadi aku diantar temanku."


"Kalau begitu minta Dave untuk menjemputmu," ujar Rendy malas.


"Aku sudah bilang, tapi dia tidak mau."


Rendy membuang kasar nafasnya.


"Baiklah. Kamu bisa ikut bersamaku."


 


Hai, readers...


Terima kasih sudah mengikuti karya author sampai sejauh ini. Terima kasih atas dukungan kalian, jangan bosan ya...


Mohon maaf masih banyak typo🙏 Maaf juga karena author tidak bisa crazy up. Bukan tidak ingin, tapi apadaya tidak memungkinkan🙏🙏🙏


Semoga kalian tidak bosan mengikuti alur cerita ini.

__ADS_1


Terima kasih😊


__ADS_2