Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
kebersamaan


__ADS_3

Happy reading...


Pekikan suara Zein yang senang bercampur geli terdengar dari bagian belakang kediaman Bramasta. Suara Opa Bram yang menertawakan tingkah Maliek dan dua putranya juga terdengar dari sana.


Hari ini dua putra Meydina benar-benar bersenang-senang dengan Papi-nya. Air kolam yang sengaja dikurangi hingga sebetis orang dewasa membuat ikan-ikan yang berseliweran di dalamnya dengan mudah terlihat.


Zein menjerit sambil tertawa setiap kali ada ikan yang melewatinya. Apalagi jika sampai ada yang menyenggolnya. Putra sulung Maliek itu akan memperlihatkan ekspresinya yang merasa ngeri.


"Kakak jangan cuma berdiri, katanya mau menangkap ikan!" seru Maliek.


"Geli, Pi. Ikannya licin," sahut Zein.


Berbeda dengan sang kakak, Amar sangat antusias mencoba menangkap ikan-ikan tersebut. Ia bahkan sampai beberapa kali tercebur dan membuat Maliek tidak bisa jauh darinya.


Dibagian tepi kolam, Opa Bram yang sedang memangku Fatima terkekeh melihat tingkah kedua cucunya. Fatima yang berada dalam dekapannya memperhatikan ekspresi sang kakek lalu ikut tertawa.


"Belum dapat, Kak?"


"Belum, Mi."


"Mi, lihat Amar dapat!" seru Maliek.


Amar terlihat senang saat memperlihatkan hasil tangkapannya. Apalagi saat melihat Meydina yang bertepuk tangan untuknya.


"Kasih Kakak, Amar! Suruh pegang ikan kakaknya," ucap Opa Bram.


Amar bersusah payah berjalan dalam air sambil memegang ikan yang hanya sebesar dua ibu jari. Maliek mengikutinya sambil membantu Amar melewati ikan-ikan yang ada di sekitarnya.


"Gigit nggak Amar ikannyan" tanya Zein saat Amar memberikan ikan yang dipegangnya.


"Nggak," geleng Amar.


Maliek mengambil ikan itu dan meletakkannya di kedua telapak tangan Zein. Papa muda itu tergelak melihat ekspresi putranya.


"Yeeah!" seru ketiganya saat Zein berhasil menepis rasa takutnya dan menggenggam ikan tersebut.


Namun tiba-tiba ia memekik saat ikannya berusaha melepaskan diri dan terlepas dari tangan Zein.


"Udah, nggak apa-apa. Ayo kita tangkap lagi!"


"Yang besar ya, Pi!" seru Amar.


"Siap. Ayo, Kak! Udah nggak takut kan?"


Zein menggeleng dan ikut sibuk menangkap ikan menggunakan jaring kecil bersama Amar juga Papi-nya.


"Opa, nggak ikut nyebur?" goda Meydina.


"Sini, Opa! Sini!" ajak kedua cucunya.


"Oke, oke! Ahlinya menangkap ikan akan segera datang!"


Meydina yang kini memangku Fatima tersenyum geli melihat sikap ayah mertuanya. Pria paruh baya itu dengan antusias masuk ku dalam kolam ikan.


Mereka tertawa bersama. Sesekali pekikan Zein masih terdengar dan berbalas tawa renyah dari yang lainnya.


Meydina menggendong Fatima ke dalam rumah. Ia menyusui putri kecilnya sambil menemani Mama Resty yang sedang membuat pasta.


"Ada kabar dari Amiera, Mey?"


"Kemarin siang Amie menelepon, Ma. Dia sedang sibuk mengerjakan tugas dari kampusnya."


"Bilang sama Amiera, jangan terlalu capek biar bisa cepat punya momongan."


Meydina tersenyum.


"Tapi sepertinya Amiera belum mau punya momongan, Ma." Ucapnya pelan.


"Iya juga sih. Kalau Mama lihat dia sepertinya terobsesi dengan pekerjaan dan gelar S2-nya. Beda sama kamu," sahut Mama Resty.


"Jelas beda lah, Ma. Jangankan S2, S1 aja Mey enggak. Kak Maliek nggak ngizinin Mey kuliah lagi."

__ADS_1


"Buat apa kuliah lagi? Pusing, Mey. Udah, jadi ibu rumah tangga aja. Nanti kalau anak-anak sudah agak besar, Mama ajak ke arisan teman-teman mama. Mereka asik-asik, Mey. Ada yang suka koleksi berlian, ada yang suka sama barang-barang branded, yang suka minjem uang juga ada, haha.. Pokoknya asik deh."


"Nggak mau ah, ibu-ibu semua."


"Eh, nggak apa-apa. Atau nantikan kamu ada tuh ibu teman-teman Zein sama Amar. Nah, kamu gabung sama mereka. Mama perhatikan kamu nggak punya teman, Mey." Selorohnya.


"Gimana nanti aja deh, Ma. Males ah kalau cuma ngumpul buat ngobrolin yang nggak jelas."


"Ya udah deh terserah kamu. Tapi sayang kan, uang Maliek sama uang kamu yang dari Salman pasti banyak. Buat apa kalau bukan buat bersenang-senang."


"Mulai.. Mama mulai deh ngajarin istri Maliek yang nggak bener. Meydina itu nggak seperti Mama yang suka belanja," ujar Maliek yang menghampiri mereka lalu menuangkan air minum ke dalam gelas.


"Iya, Mama tahu. Meydina itu seperti ibunya," sahut Mama Resty sambil tersenyum pada Meydina.


***


London


Cuaca kota London siang ini cukup terik. Langit yang tak terhalang awan terlihat menawan dengan warna biru-nya yang cerah.


Amiera sedang terduduk di sebuah kursi dengan meja besar yang diatasnya terdapat kertas-kertas yang berserakan. Posisi meja yang terletak di dekat dinding kaca memudahkannya menatap keluar.


Tatapannya mengarah pada pria yang sedang berbicara melalui ponsel dan berjalan mondar-mandir di dekat kolam renang. Sesekali pria itu melirik dan tersenyum padanya.


Suara bel pintu tidak serta merta mengalihkan perhatiannya. Tatapannya masih saja kearah yang sama dengan senyum manis terukir di wajahnya.


"Aku kira sedang melihat apa," decih Bella saat memastikan tatapan Amiera mengarah pada Rendy, suaminya.


"Bella, kamu pernah jatuh cinta pada pandangan pertama?"


"Pernah. Dulu, saat usiaku lebih muda sedikit darimu."


"Pada siapa? Apa yang saat itu kamu lakukan untuk membuktikannya?"


"Pada seorang pria tentunya. Apa Rendy cinta pertamamu?"


Amiera mengangguk cepat.


Bella terdiam lalu menyunggingkan senyuman.


"Saat itu, aku menyerahkan satu-satunya yang kumiliki sebagai pembuktiannya. Kamu mengerti kan?"


"What! Jadi kamu melakukan hal seperti itu?" pekik Amiera dan langsung merendahkan nada suaranya.


"Itu dulu, dan sebaiknya jangan ditiru."


"Apa kamu selama ini mejalani kehidupan yang menganut free s*x?"


"No. Aku tidak seperti itu. Sejak aku berpisah dengan dia aku tidak pernah lagi melakukannya. Memang sih pernah hampir terjadi, tapi aku beruntung karena pria yang bersamaku saat itu pria yang baik." Kenangnya.


"Apa saat ini kamu sedang dekat dengan seseorang?"


"Tidak."


"Lalu bagaimana dengan teman online-mu?"


"Ah, lupakan saja."


Amiera mengerutkan keningnya. Semakin penasaran dengan sosok teman Bella tersebut.


Suara bell pintu lagi-lagi terdengar. Bella dan Amiera saling menatap kemudian mengangkat kedua bahunya sedikit. Mereka berdua sepertinya menduga-duga, siapa gerangan orang yang bertamu ke apartemen Amiera tersebut.


Bella berjalan menuju pintu. Matanya terbelalak melihat di layar monitor Dave sedang berdiri di depan pintu.


"Siapa?" tanya Amiera.


"Pria itu, tetanggamu."


"Suruh saja dia masuk, Bella. Sepertinya dia belum punya teman di sini."


"Kamu yakin? Suamimu tidak akan marah?"

__ADS_1


"Ku rasa tidak akan. Kan ada kamu yang bisa menemani Dave."


Bella hanya tersenyum tipis. Ia pun akhirnya membukakan pintu untuk Dave.


Untuk beberapa saat, Bella dan Dave saling menatap. Mereka merasa canggung antara satu dengan yang lainnya.


"Masuklah, Dave!" seru Amiera.


Dave berdehem dan melewati Bella begitu saja.


"Apa kabar Amiera? Lihatlah, aku bawakan es krim untukmu. Panas begini paling enak makan es krim. Kamu sudah sehat? Kemarin sore aku melihat dokter keluar dari apartemenmu." Ujarnya.


Amiera terperanjak. Ia kemudian melirik pada Rendy yang datang menghampiri mereka.


"Kamu sakit? Sakit apa?" tanya Bella heran.


Amiera meresa gugup namun akhirnya menyahut juga.


"Kakiku terkilir. Kamu tahukan aku terkadang ceroboh."


Bella dan Dave memperhatikan kaki Amiera yang di perban. Hampir saja kepala mereka beradu saat bersamaan membungkuk untuk melihat kaki Amiera yang berada di bawah meja.


"Lain kali jangan terlalu sering menggunakan high heels, Amiera. Itu sebabnya aku tidak terlalu suka yang seperti itu. Lengah sedikit bisa menyebabkan kakimu terkilir," ujar Bella.


"Dia benar," timpal Dave.


Dave dan Bella saling menatap kemudian keduanya membuang muka. Sementara Amiera dan Rendy juga sesaat saling menatap, kemudian mengulumkan senyum mendengar praduga Bella.


Rendy membantu Amiera berjalan menuju sofa. Mereka berempat pun menikmati es krim yang tadi dibawa Dave dan beberapa camilan yang menemaninya.


Untuk beberapa saat kecanggungan Bella dan Dave sirna. Dave yang memang suka sekali bicara tanpa malu membicarakan banyak hal dengan ketiga teman barunya.


"Maaf, ya. Aku permisi dulu. Sepupuku ada di depan. Aku harus pergi dengannya. Lain kali aku akan memperkenalkannya pada kalian."


"Baiklah. Terima kasih es krimnya, Dave."


"Sama-sama. Bye."


Seorang pelayan membukakan pintu untuk Dave. Tidak jauh dari pintu itu, seorang wanita sedang berdiri menghadap pintu apartemennya.


"Hai, Sophia! Sudah lama menunggu?" Dave lalu membuka pintu.


Sophia terlihat heran melihat Dave keluar dari pintu yang lain.


"Itu apartemen siapa?"


"Teman baruku. Kamu ingat aku pernah bercerita tentang seseorang yang hampir saja ku tabrak waktu itu? Ternyata kami bertetangga," tutur Dave.


"Oh. Apa dia orang penting?"


"Entahlah. Aku belum terlalu mengenalnya. Tunggu sebentar ya, aku ganti baju dulu."


Selagi menunggu, Sophia memperhatikan ke sekeliling penthouse sepupunya itu. Ia kagum melihat tata ruang tempat tersebut. Penthouse milik Dave mungkin empat kali lebih besar dari apartemennya.


"Maaf ya, menunggu lama."


"Tidak juga. Temanku juga tinggal di gedung ini. Tapi aku tidak tahu lantai berapa," ujar Sophia.


"Oh, ya? Pria atau wanita?"


"Pria."


"Teman apa teman?" goda Dave.


"Seorang teman yang aku suka sejak kami di Universitas."


"Wah, sepertinya aku harus mengenalnya. Siapa tahu kelak dia jadi pendampingmu."


Sophia tersipu. Setelah Dave selesai bersiap, mereka pun meninggalkan tempat tersebut.


"Lain kali tanyakan padanya, di lantai berapa dia tinggal. Oh ya, apa dia tampan? Jika dibandingkan denganku, siapa yang lebih baik?"

__ADS_1


Perjalanan Sophia kali ini nampaknya tidak akan baik-baik saja. Karena ia bersama dengan sepupunya yang banyak bicara.


__ADS_2