Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
ide gila Maliek


__ADS_3

Happy reading...


Sejak kedatangan Mama Riky, keluarga Atmadja mulai serius membicarakan rencana pernikahan Alena. Walau masih berat melepas putrinya, nyatanya Evan merasa lega karena orang tua Riky sudah menganggap Alena seperti putrinya. Dan setelah diputuskan, Alena dan Riky akan menggelar pernikahan mereka enam bulan dari sekarang.


"Laura, bagaimana kalau kita tinggal dengan Papa setelah Alena menikah nanti," pinta Alvin menghentikan gerak Meydina yang sedang menata sarapan di meja.


"Kalian akan tinggal dengan Om Evan?" tanya Meydina menoleh pada Laura.


"Aku juga baru dengar. Kalau aku sih terserah Alvin," sahut Laura.


Tatapan mereka beralih pada Salman yang baru datang di ruang makan.


"Yah..."


"Itu keputusan yang bagus," ujar Salman datar.


"Daddy tidak keberatan?" tanya Alvin dengan raut wajah senang.


"Tentu saja tidak. Evan itu Ayahmu, Kakek Queena. Setelah adikmu menikah, dia pasti kesepian. Kehadiran kalian di sana bisa menghiburnya. Kalian juga bisa datang kesini kapan saja," tutur Salman.


"Ayah benar. Ayolah, Mey. Tidak usah cemberut begitu. Anak-anak masih bisa bertemu setiap hari di sekolah," bujuk Laura.


"Iya sih. Tapi rumah ini tidak akan seramai jika ada kalian," ujar Meydina sambil menatap ke kolam renang.


Maliek sedang menemani anak-anak yang bermain air. Mereka seolah tidak perduli pada angin pagi yang berhembus membuat bulu roma berdiri.


"Amal, jangan kelual! Nanti dingin lho," pekik Zein sambil berendam di air kolam yang hangat itu.


"Hii.. iya dingin," sahut Amar yang berlari setelah mengambil bola yang dilempar Fatima.


Byurr..


Gelak tawa anak-anak mengiringi tubuh Amar yang terjatuh ke dalam air lalu dengan cepat bangkit kembali. Maliek hanya menyunggingkan senyum sambil menaik turunkan kakinya yang diduduki Fatima di dalam air.


"Dingin, Sayang?" tanya Maliek pada Fatima yang memekik pelan saat kaki Papinya terangkat.


"Dingin. Lagi, Pi.." Pintanya manja.


"Udahan yuk! Bibir Fatum udah hitam begitu." Ajaknya.


"Nggak mau," geleng Fatima.


"Baby, sini! Duduk sama Kakak, panculannya anget!"


"Iya, sini! Mermaid-nya ikut mandi," ajak Queena yang meletakkan boneka barbie-nya di bawah pancuran air.


"Kak, udah yuk!" seru Maliek.


Fatima beranjak menuju ketiga saudaranya yang berada di area pancuran. Pekikak Amar dan Zein terdengar nyaring saat keduanya menepukkan tangan pada permukaan air. Tidak menghiraukan ajakan papinya.

__ADS_1


"Kak!" Maliek mencoba sekali lagi. Karena jika Zein menyanggupi, ketiga adiknya itupun mengikuti.


"Nggak mau, Pi. Kan libul sekolahnya, ya Amal? Kata Bunda ini weekend, Pi. Anak-anak boleh main sepuasnya," sahut Zein yang diangguki cepat oleh Amar.


"Papi tinggal ke dalam sebentar ya. Jangan ada yang lari-lari di pinggir kolam!"


"Iya, Pi!" sahut Zein dan Amar hampit bersamaan.


Maliek mengulumkan senyum melihat Fatima yang memekik kegirangan melihat boneka mainannya mengambang di air. Bapak tiga anak itupun berlalu dan terkekeh pelan melihat pantulan anak-anaknya di pintu kaca.


"Jangan kena Baby, Amal nakal!" seru Zein yang melarang Amar menyiramkan air pada Fatima sembari menyiramkan air pada Amar sebagai balasannya.


"Kalau gitu Kakak jangan dekat Fatum, kan jadi kena." Sahutnya.


Zein menjauhi Fatima yang sedang asik bermain barbie dengan Queena.


"Kak, seluncuran yuk!" ajak Amar sambil menunjuk pada perosotan yang ada di kolam itu.


"Nggak mau ah, dingin. Kakak mau di sini aja. Hmm, anget." Ujarnya, membiarkan punggungnya di bawah salah satu pancuran air.


"Ah Kakak cemen," ejek Amar.


"Bialin, wleee." Balasnya sambil menjulurkan lidahnya dan di balas tepukan di bagian pantat oleh Amar.


Mereka tidak menyadari, ada yang terkekeh melihat tingkah mereka. Dari balik kaca, Salman menatap gemas pada keempat cucunya.


"Obatnya sudah diminum, Yah?" tanya Laura.


"Belum tahu, Yah."


"Bagaimana pembangunan restoran?"


"Baru enam puluh persen, Yah."


"Tidak ada kendala kan?"


"Tidak, samua lancar."


"Syukurlah. Kudengar orang tuamu akan kesini," tanya Salman.


"Rencana sih begitu, Yah. Tapi tidak jadi, katanya nanti saja kalau pembukaan restoran." Sahutnya.


Salman mengangguk-anggukkan kepalanya. Menatap punggung Laura yang berlalu menghampiri anak-anak di luar sana.


"Kenapa Loe, Liek? Cengar-cengir," tegur Alvin.


"Riky udah minta cuti panjang aja nih anak. Masih ada beberapa bulan lagi, udah minta cuti dari sekarang." Sahutnya.


"Mungkin mereka punya rencana mau honeymoon," ujar Alvin.

__ADS_1


"Mungkin," sahut Maliek singkat.


Tiba-tiba saja Maliek tergelak membuat Alvin menautkan alisnya. Begitu juga Salman yang menoleh dan menatap heran pada menantunya.


"Apaan sih, Loe ketawa sendiri?" tanya Alvin.


"Baca nih!" Maliek yang masih terkekeh pelan memberikan ponselnya pada Alvin.


📩 Riky[Bosque.. izinkan asistenmu ini cuti panjang ya, please!]


📨 Me[Cuti? Kan masih lama, masa iya cuti sekarang?]


📩 Riky[Maksud gue nanti, Liek. Ya, please!]


📨 Me[Ya nanti aja izinnya, kenapa harus sekarang? Bilang aja loe mau pamer ke gue kalau loe itu mau honeymoon.]


📩 Riky[Diriku bukannya mau pamer Liek. Tapi diriku ini mau minta 2 tiket pesawat VVIP, hotel, juga akomodasinya pada dirimu. Siapa tahu dirimu berbaik hati mau nge-booking-in buat daku sama Ayangku. Makasih ya sebelumnya, Bosque. Peace!]


📨 Me[Sialan, Loe! Dasar dirimu asisten nggak ada ahlak.]


📩 Riky[Mode ngarep.]


Alvin menyeringai membaca pesan Riky. Ia tahu benar bagaimana Riky. Semua itu tentu hanya candaannya saja. Karena selain pria itu selama ini bekerja, Riky juga anak semata wayang dari keluarga yang kaya.


"Terus gimana? Loe mau kasih nggak?"


"Apanya? Cuti atau paket honeymoon?"


"Ya dua-duanya laah. Mana bisa dia honeymoon kalau nggak ada cuti," sahut Alvin.


"Gue aja nggak honeymoon. Eh, dia mau honeymoon." Maliek menyeringai.


"Eh, Liek. Jangan gitu dong. Bininya kan adik gue."


"Terus, bini gue bukan adik loe?"


"Ya, adik gue. Memangnya kalian mau honeymoon juga? Sadar dong, anak udah tiga." Deliknya.


"Boleh juga ide loe, Vin. Pasti seru kalau bisa gangguin orang honeymoon. Fatima nempelkan sama dia? Zein juga pasti suka kalau gangguin Alena," ujar Maliek dengan ide gilanya.


"Sorry ya, gue nggak ngasih ide itu. Itu ide loe sendiri. Gila loe ya," decih Alvin.


"Kapan lagi kita liburan berempat, Vin. Anggap aja Riky itu si bungsu. Diantara kita, dia yang paling akhir menikah. Pasti menyenangkan kalau bisa liburan bersama. Pakai kapal pesiar atau kita ke private islands, asik kan? Anak-anak kita bisa main di pantai sepuasnya." Tuturnya.


"Jangan cuma berkhayal, wujudkan dong. Kalau kalian memang mau, Ayah akan minta Sami menyiapkannya."


"Wah! Beneran, Yah? Gimana, Vin? Oke nggak?"


Alvin menimbang ucapan Maliek. Daddy Salman memang memiliki pulau pribadi di salah satu negara di Timur Tengah. Pulau yang tidak pernah dikunjungi oleh siapapun kecuali Salman. Karena pulau itu dulu dibeli Salman untuk tempatnya berbulan madu bersama almarhum Anita.

__ADS_1


"Oke," sahut Alvin.


"Sip. Terima kasih, Ayah!" Ujarnya dengan raut bahagia.


__ADS_2