Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
musibah yang menjadi berkah


__ADS_3

Happy reading...


Rendy terkesiap dengan wajahnya yang merona. Ia merasa malu karena ketahuan sedang memperhatikan Amiera. Salah tingkah dan merasa bingung harus mengatakan apa sebagai alasannya. Ia hanya bisa merutuki dirinya yang tidak mampu mengontrol diri.


"Ee.. Aku, aku... Maaf, Amiera. Aku tidak tahan ingin buang air kecil. Jadi tidak sadar masuk begitu saja," ucap Rendy gugup.


Tidak jauh beda dengan Rendy, Amiera juga merasa gugup. Ia kebingungan menutupi dirinya yang tidak mengenakan apa-apa. Beruntung busa sabun dalam bathtub-nya semakin banyak dan Amiera akhirnya membenamkan tubuhnya hingga bagian pundaknya.


"A-aku di kamar mandi luar aja," ucap Rendy tergagap.


Amiera mengangguk pelan dan tersenyum kikuk. Saat Rendy menutup pintu, Amiera beranjak dari dalam bathtub bergegas menuju pintu hendak menguncinya. Namun kemudian, ia memekik saat kakinya yang dipenuhi busa sabun itu terpeleset.


"Aww!" Pekiknya.


Rendy yang baru saja akan membuka pintu kamar terkejut mendengar pekikan Amiera. Ia bergegas berbalik arah dan repleks mendekati istrinya itu.


"Amie! Kamu tidak apa-apa?"


Rendy yang panik cepat-cepat berusaha membangunkan Amiera.


Amiera merasa malu, namun juga merasakan kakinya sangat sakit. Ia meringis saat Rendy membantunya berdiri.


"Kak Rendy jangan lihat, Amie malu." Ucapnya sambil memalingkan wajah Rendy. Busa sabun yang tadi sempat menutupi sebagian tubuhnya perlahan memudar dan hilang begitu saja.


"Ah, sudahlah! Aku ini suamimu. Kamu bisa berjalan? Sebaiknya bersihkan dirimu menggunakan shower."


Dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus, Amiera mencoba melangkahkan kakinya. Namun jangankan melangkah, saat menapakkan sebelah kakinya ia sudah meringis kesakitan.


Rendy pun akhirnya membopong Amiera menuju shower. Dengan bertumpu pada sebelah kakinya yang tidak terlalu sakit, Amiera berdiri dibawah guyuran air. Ia berdiri membelakangi Rendy.


Rendy mengusap-usap punggung Amiera agar sabunnya tidak bersisa. Amiera bisa merasakan tangan Rendy yang bergetar saat menyentuh kulitnya.


Setelah dirasa cukup, Rendy melilitkan handuk sebatas dada Amiera. Sekali lagi Rendy membopong Amiera dengan sangat hati-hati menuju walk-in closet.


Rendy mendudukan Amiera di sebuah kursi. Ia mengeringkan rambut Amiera dengan handuk kecil yang dibawanya. Sesekali ia mencuri pandang pada wajah Amiera yang tertunduk malu.


Bukan hanya Amiera, ia pun merasa malu karena ini merupakan pengalaman pertamanya sedekat ini dengan wanita. Untung saja wanita ini adalah Amiera, istrinya.


"Kakinya masih sakit?" tanya Rendy mencoba mencairkan suasana.


Amiera mengangguk masih dengan kepala yang tertunduk. Rendy mengulumkan senyumnya.


"Aku akan minta Mike memanggilkan Dokter Ortopedi ke sini."


"Jangan," sela Amiera sambil mendongakkan wajahnya.


"Kenapa? Kakimu terkilir dan harus segera diobati. Jika tidak, nanti bisa bengkak dan akan semakin sakit," jelas Rendy.


"Tapi kalau nanti Mike bertanya kenapa aku bisa jatuh, aku harus jawab apa?" tanya Amiera pelan dengan wajah yang kembali merona.


"Ehhem. Kamu bilang saja ini kecelakaan yang tidak disengaja karena kecerobohanmu. Mudahkan?"


"Tapi..."


Amiera terlihat sangat ragu.


"Baiklah, aku akan menelepon rumah sakit dan menanyakan bagian ortopedi. Lalu meminta dokternya datang kemari, oke?"


Amiera mengangguk senang. Setidaknya, ia tidak akan mendengar Mike menanyakan banyak hal padanya.


"Sekarang, baju mana yang ingin kamu pakai?" tanya Rendy sambil membuka beberapa pintu lemari Amiera.


Amiera menunjuk bagian piyama dalam lemarinya. Dan beberapa kali Rendy berdehem saat mengambil pakaian dalam Amiera.


Rendy membantu mengenakan pakaian Amiera. Dimulai dengan mengenakan celana dalam lalu celana piyama. Amiera memegang kuat handuknya dibagian dada.


"Biar Amie saja, Kak." Ucapnya sambil mengambil b*a yang dipegang oleh Rendy.


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan menelepon dokternya dulu."

__ADS_1


Amiera mengangguk pelan. Ia benar-benar merasa malu. Sementara itu Rendy yang berada dibagian luar walk-in closet, mengusap-usap bagian dadanya. Ia seolah sedang berusaha menenangkan jantungnya yang meronta.


Setelah menelepon dokter, Rendy ke luar menemui salah seorang penjaga. Ia meminta penjaga itu untuk menunggu kedatangan dokter itu di luar gedung dan mengantarnya jika sudah ada.


Rendy mengambil air es yang dituangkan ke dalam mangkuk sedang dan meletakkan lap bersih di dalam mangkuk.


Setelah kembali ke kamar, Rendy mengangkat Amiera dan meletakkannya di tempat tidur. Amiera pasrah saat Rendy meletakkan kakinya pada bantal yang di tumpuk.


"Apa itu?"


"Ini air dingin. Sambil menunggu dokter, aku akan mengompres pergelangan kakimu. Apa ada bagian lain yang sakit?"


"Di sini, tapi tidak terlalu sakit." Sahutnya sambil mengusap paha dan bokongnya."


"Perlihatkan nanti pada dokter ya. Aku tidak mau ada memar di sana."


"Apa dokternya perempuan? Aww!"


"Sangat sakit?"


Amiera mengangguk. Ditatapnya Rendy yang sedang mengompres sambil memperhatikan kakinya.


Amiera mengulumkan senyum. Entah ia harus bersyukur atau sebaliknya atas apa yang menimpanya saat ini. Yang pasti, musibah ini menjadi berkah tersendiri pada hubungan mereka.


Seorang pelayan mengetuk pintu, Rendy mempersilahkan dan menyambut kedatangan Dokter Ortopedi itu. Ia memperhatikan dengan seksama saat dokter memeriksa keadaan Amiera.


Rendy seolah tidak memperdulikan raut wajah Amiera yang menahan malu saat dokter itu memeriksa bagian paha dan bokongnya. Rendy juga menawarkan diri memasangkan perban pada kaki Amiera.


Setelah memberikan resep obat, Rendy pun meminta penjaga mengantar kembali dokter tersebut. Ia juga meminta penjaga lain untuk menebus obat dalam resep itu.


"Hai, Tetangga! Siapa itu? Sepertinya seorang dokter," ujar Dave yang baru keluar dari apartemennya. Pria itu menatap punggung dokter yang sedang berjalan menuju lift bersama penjaga pintu Amiera.


"Bukan urusanmu, Dave."


"Tunggu, siapa yang sakit? Amiera?" selidik Dave.


"Sudah ku katakan bukan urusanmu. Dan juga, Amiera itu istriku. Aku tidak suka kamu terlalu akrab atau banyak bicara dengannya. Kamu paham?" tegas Rendy.


"Apa lebih baik?" tanya Rendy saat kembali ke kamar.


"Lumayan," sahut Amiera pelan.


"Tegakkan punggungmu. Aku sudah minta pelayan membuatkan makan malam. Setelah makan, minum obatmu dan istirahatlah."


"Tapi kertas-kertasku masih di meja," ujar Amiera.


"Aku akan membereskannya. Tunggu sebentar ya."


Rendy menyalakan televisi. Ia memberikan remotnya pada Amiera. Dan berlalu meninggalkan kamar itu.


***


Heningnya malam, nyatanya tidak lantas membuat kedua mata Amiera terpejam. Malam ini, tidak ada penghalang lagi antara ia dan Rendy. Dipeluknya pria yang sudah berbuat banyak untuknya hari ini.


Hari ini benar-benar istimewa. Pagi hari diawali dengan ciuman mereka yang hangat dan malam hari diakhiri dengan sikap Rendy yang manis.


Amiera mendongak menatap rahang Rendy dalam keremangan lampu kamar. Pria ini pasti lelah. Tidurnya terlihat sangat lelap.


Amiera mengusap-usap dada Rendy yang degup jantungnya terdengar sangat cepat. Sambil tersenyum ia berkata dengan sangat pelan, "Terima kasih, Kak. Terima kasih atas perhatianmu hari ini. Amie sangat bahagia. Semoga saja kita bisa selalu seperti ini. Berbagi kebahagiaan setiap hari."


Amiera mengeratkan pelukannya. Ia tidak menyadari kedua ujung bibir Rendy terangkat mendengar ucapannya. Rendy melenguh dan balas memeluk Amiera.


***


"Mami, Amal mana!" seru Zein. Sejak bangun tidur, ia berkeliling kamar mencari saudaranya.


"Kakak lupa ya. Amar kan menginap di rumah Opa sama Oma," sahut Meydina yang sedang menghidangkan sarapan yang dibuat koki di rumahnya.


"Oh iya. Kakak mau ke rumah Oma, Mi." Pintanya.

__ADS_1


"Kakak kangen sama Amar?"


"Bukan, Mi. Di rumah Oma kan ada kolam ikan. Kakak mau nangkap ikan," sahut Zein sambil meminum susu hangatnya.


"Hmm, Mami kira kakak kangen Amar."


Zein dengan cueknya menyelupkan biskuit kedalam susunya. Ia tidak menghiraukan wajah Maminya yang pura-pura kecewa.


"Boleh ya, Mi?"


"Boleh apa, Sayang?" tanya Salman yang datang hampir bersamaan dengan Maliek, manantunya.


"Kakak mau main ke rumah Oma, Kek. Kakak mau nangkap ikan," sahut Zein.


"Ih, Papi. Kakak udah gede, nggak sopan." Protesnya saat Maliek mengacak pelan rambutnya.


Maliek terkekeh mendengar ucapan putra sulungnya.


"Kalau udah gede nggak cengeng dong?" tanya Maliek.


Zein menggeleng. Maliek dan Meydina tersenyum melihat Zein yang sedang mengusap wajahnya dengan tisu.


"Kalau begitu, kakek juga mau buat kolam ikan di sini. Sekalian sama kolam renang untuk cucu kakek," ujar Salman.


"Benelan, Kek?" tanya Zein dengan antusiasnya.


Salman mengangguk.


"Yeah! Kakak bisa belenang tiap hari seperti di rumah auntie Amie!" Serunya.


"Zein, bilang sama Kakek apa yang Zein mau ya. Kakek akan berikan semuanya," ujar Salman. Ia kemudian ber-tos-ria dengan cucunya tersebut. Kakek dan cucunya itu terlihat sangat bahagia.


Meydina ingin menyela, namun Maliek segera memberinya isyarat. Maliek mengerti mengapa ayah mertuanya itu terkesan berlebihan terutama pada Zein, putra sulungnya.


Salman memang tidak tahu caranya membesarkan seorang anak. Ia tidak pernah terlibat dalam membesarkan kedua putrinya. Dan kini pria itu ingin menebusnya pada cucu-cucunya.


***


London


Amiera merasakan ada yang berbeda. Tangannya tidak lagi melingkar pada pinggang suaminya. Ia mengerjap, dan merasa kecewa saat mengetahui yang dipeluknya hanya sebuah benda tak bernyawa.


Amiera memperhatiakan ke sekitar kamarnya. Tidak ada Rendy di sana, bahkan di kamar mandi juga.


"Hmm, kenapa dia tidak membangunkan aku? Apa dia sudah berangkat kerja?" gumam Amiera setelah melihat jam di atas nakasnya.


Dengan enggan ia memaksakan kakinya untuk turun dari tempat tidur. Ia ingin ke kamar mandi tapi jika ditekan, kakinya terasa sakit sekali.


"Kamu mau kemana?" tanya Rendy yang datang dengan nampan di tangannya.


Amiera merasa lega sekaligus bahagia.


"Kakak belum berangkat?"


"Berangkat kemana?" tanya Rendy heran.


"Ke kantor."


Rendy menatap gemas pada Amiera dan dibalas tatapan bingung oleh Amiera.


"Kenapa?"


"Ini hari Minggu, Sayang. Ayo, ku bantu ke kamar mandi atau mau ku gendong?"


Blush...


Wajah Amiera benar-benar merona. Sikap Rendy membuat angannya terbang. Dan benar saja, ia merasa tubuhnya saat ini benar-benar melayang.


"Oh My God! Dia memanggilku 'sayang'!" pekik Amiera dalam hati.

__ADS_1


"Sepertinya semalam kamu makan banyak. Pagi ini kamu agak berat," gurau Rendy.


Amiera tersadar dari lamunannya. Kemudian tersenyum dan melingkarkan tangan di leher suaminya. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Rendy. Berharap semoga jarak kamar mandi itu masih sangat jauh agar ia bisa tetap seperti saat ini.


__ADS_2