
Happy reading...
Bella terkesiap melihat Riky ada di sana. Sesaat keduanya saling menatap, kemudian menyunggingkan senyum tipis di wajah.
"Bella, Miss Julie... Apa kabar?" sapa Amiera.
"Baik. Bagaimana kabarmu?"
"Tentu saja baik," sahut Amiera.
Amiera pun menyapa Julie. Ia juga memperkenalkan kedua temannya itu pada anggota keluarga lainnya. Mama Nura dan Alena tentu sudah mengenal Bella.
"Tante! Bagaimana kabar, Anda?" sapa Bella.
"Baik. Kenapa tidak bilang kalau mau kesini? Aduh, Tante jadi malu tidak punya apa-apa untuk disuguhkan."
"Amie juga nggak tahu lho Ma, kalau Bella sama Miss Julie mau kesini."
"Benarkah? Kamu sengaja ya, Ren?"
Rendy hanya tersenyum dan terduduk di samping Amiera.
"Miss Julie ini yang punya butik tempat Amie kerja, Ma."
"Panggil saja Julie, Amiera. So cute..." Pujinya saat menatap wajah lucu Baby Arka.
"Hai, Kakak Zein! Masih ingat Auntie?" tanya Bella.
Zein mengangguk malu.
"Ciee, Kakak malu," goda Alena.
"Hai, Rik!"
"Hai. Bagaimana kabar Mike?" tanya Riky datar.
"Baik. Dia menitipkan salam untuk kalian semua."
Setelah menyapa Baby Arka, Bella menghampiri Riky dan duduk di sebelahnya.
"Hello, Sweetie!" Sapanya pada Fatima.
Fatima hanya tersenyum dan melingkarkan tangannya di leher Riky karena mungkin belum terbiasa dengan orang asing. Seakan mengerti arti tatapan Bella, Riky berucap, "Adiknya Zein."
Bella hanya mengangguk pelan dan menyapa Queena.
"Nona cantik, siapa namanya?"
"Queena, Auntie." Sahutnya.
"Putri Alvin," ujar Riky.
Sesaat raut wajah Bella berubah menegang. Namun dengan cepat kembali ramah seperti sedia kala.
"Mey, bantu Tante di dapur yuk!" ajak Nura.
"Oke. Siap, Tante." Meydina menurunkan Zein dari pangkuannya.
"Kakak main lagi, Sayang," ujar Laura.
"Iya nih. Biasanya juga nggak malu," timpal Alena.
"Sini main sama, Uncle!" ajak Riky, namun Zein menggeleng.
"Mainnya sama Auntie aja yuk!" ajak Alena.
"Hore! Ayo, Kak! Queen, Fatum... Main sama Auntie," ajak Amar yang terlihat bersemangat.
Anak-anak kembali riang dengan Alena yang mengajaknya bermain. Amiera sedang memperhatikan cara Resty menggantikan popok bayinya. Sementara Meydina membantu Nura di dapur.
Rendy, Riky dan kedua tamu mereka mengobrol membicarakan banyak hal. Di sisi lain, Laura dan Alya nampaknya sedang berbalas pesan dengan seseorang di ponsel mereka.
Sesekali Bella memperhatikan Laura. Diakui Bella, wanita di hadapannya itu terlihat cantik dan elegan, pantas saja Alvin menjatuhkan pilihan padanya.
"Amie, mau dibawakan apa sama Alvin?" tanya Laura.
"Apa ya? Nggak ada..." Gelengnya.
"Alvin sama Maliek suruh datang kesini! Kita makan siang bersama. Rafael juga pulang kan, Al?"
"Nggak bisa katanya, Ma. Ada janji sama klien," sahut Alya.
__ADS_1
***
Tanpa terasa, satu jam telah berlalu. Karena Alvin dan Maliek belum juga datang, Nura dan Resty meminta mereka berkumpul untuk makan siang. Meydina dan Laura membiarkan anak-anak makan di beralaskan karpet di depan televisi. Mereka terlihat gembira sambik sesekali menatap pada serial kartun yang mereka pilih.
Sementara itu di meja makan...
"Ayo, Bella! Julie, jangan malu ya. Maaf Tante tidak bisa menjamu dengan baik," ujar Nura.
"Ini sudah cukup, Tante," sahut Julie.
Mereka mulai bergantian menyendok nasi dan lauknya. Rendy dengan telaten menyendokkan nasi dan lauknya untuj Amiera.
"Cukup, Kak. Ini sudah banyak." Cegahnya, saat Rendy hendak menambah lauk di atas piring Amiera.
Setelah Rendy, kini giliran Alena yang menyendokkan makanan. Saat gadis itu akan menaruh sendok nasi, Riky menyodorkan piringnya.
"Mau dong, Sayang." Pintanya.
Alena tersipu sambil mendelik pada Riky. Meydina bahkan tak segan menggodanya dengan berdehem berkali-kali dan ditimpali oleh Rendy dengan suara batuk yang dibuat-buat.
"Udah deh," delik Alena pada Rendy.
"Apaan? Aku batuk beneran kok," sahut Rendy yang kemudian minum air di dekatnya.
Diam-diam Bella memperhatikannya. Raut wajah Riky tidak sedatar biasanya. Pria itu terlihat manis dengan senyum di wajahnya. Binar matanya nampak berbeda saat menatap Alena. Dan panggilan 'sayang' yang baru saja didengarnya, pertanda wanita itu memang spesial bagi Riky.
"Bella, bagaimana kabar tetanggaku yang berisik itu?" tanya Amiera setengah menggoda.
"Dia.. Dia sedang pulang ke negaranya," sahut Bella pelan.
"Amiera, Dave meminta Bella untuk menemui orang tuanya tapi Bella menolak," ujar Julie.
"Kenapa, Bella? Walaupun berisik, menurutku Dave itu pria yang baik. Benarkan, Kak?"
Rendy hanya mengangguk pelan. Bella melirik pada Riky yang kebetulan sedang meliriknya juga. Sesaat Bella terkesiap, karena Riky meliriknya dengan raut wajahnya yang cerah.
"Entahlah. Aku belum yakin dengan Dave," sahut Bella pelan.
"Pasti menyenangkan bila setelah ini kami semua menghadiri pernikahanmu," ujar Resty.
Bella hanya menunduk malu. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak lama kemudian terdengar ada yang membuka pintu. Anak-anak berteriak senang melihat Maliek datang.
"Papi! Lihat, Amar makannya udah mau habis!" seru Amar.
"Kakak juga mau habis, Pi." Zein tak mau kalah. Ia memindahkan sayuran dari piringnya ke piring Amar.
"Kakak!"
"Haha, Amal masih banyak..."
"Curang! Papi, Kakak curang." Rengeknya.
"Kakak, Papi bilang apa? sayurannya di makan," ujar Maliek.
"Nggak enak, Pi. Buat Amal aja," sahut Zein.
"Amar kenyang, Kak. Ini buat Fatum aja." Amar memindahkan sayurannya ke piring Fatima.
"Baby, mau?" tanya Zein yang dijawab gelengan kepala oleh adik kesayangannya.
"Udah, Amal. Baby-nya nggak mau. Buat Queen aja," ujar Zein kemudian.
Maliek hanya bisa memperhatikan dengan tatapan anehnya. Anak-anak itu pada akhirnya hanya bermain dengan makanan mereka.
"Fatum, nggak boleh Sayang." Cegahnya, saat Fatima hendak menyendok makanan yang terjatuh di karpet. Zein dan Amar menjauhkan piring mereka saat Queena hendak meletakkan makanan dalam sendoknya.
"Kok begini sih makannya?" tegur Meydina.
"Kakak, Mi."
"Amal juga," sahut Zein tak mau kalah.
"Iya, dua-duanya. Kakak sama Amar," ucap Meydina.
"Queen juga," ucap keduanya hampir bersamaan.
"Oke, semua deh."
"Fatima nggak, Mi," bela Maliek.
"Iya, Baby enggak ya.." Zein menatap lucu adiknya.
__ADS_1
"Makannya udah belum?"
"Udah!" seru mereka bersamaan.
Meydina mendelik gemas pada mereka dan meminta mereka mencuci tangan. Maliek memangku Fatima dan mencuci tangan putrinya tersebut. Sedangkan Meydina meminta pelayan membersihkan bekas makan anak-anak.
"Kak, kenalkan ini teman Amie. Ini Bella dan ini Julie."
Dua wanita yang diperkenalkan Amiera itu sesaat terpesona oleh Maliek. Namun kemudian mereka mengangguk pelan dan bergantian menyapa suami Meydina tersebut. Seperti biasa Maliek hanya membalas dengan gayanya yang cool.
"Papi mau makan sama apa?" tanya Meydina.
"Apa saja, Mi. Itu juga boleh," sahut Maliek lembut.
"Sini sayang sama Mami. Papi mau makan dulu," ujar Meydina setelah piring untuk Maliek sudah berisi nasi dan lauknya.
Fatima menggeleng dan menatap penuh harap pada papinya. Putri Meydina itu nampaknya masih ingin berada dipangkuan Maliek.
"Sini sama Uncle ," tawar Riky. Pria itu sudah selesai dan beranjak dari tempat duduknya. Karena kebetulan kursi di meja makan itu tidak cukup untuk mereka semua.
Fatima dengan senang hati masuk dalam dekapan Riky. Pria itu terlihat gemas pada putri kecil Maliek tersebut. Ia pun membawa Fatima pada ketiga saudaranya.
"Baby tidur?" tanya Maliek pada Amiera.
"Iya, Kak." Sahutnya.
"Alena, sepertinya Riky sudah ingin punya anak. Tuh lihat, dia senang sekali berada diantara anak-anak. Padahal Tante tahu benar Riky itu bagaimana. Dia sama Maliek udah seperti duo manusia kutub," kelakar Resty dan diamini oleh Alya. Sementara yang lainnya hanya bisa mengulumkan senyum karena segan pada Maliek.
"Mmm, nanti Alena mau ketemu Mamanya Kak Riky." Ujarnya pelan seolah ragu mengatakannya.
"Wah, bagus dong Sayang." Nura terlihat antusias.
"Alena malu, Tante." Ucapnya sambil tertunduk.
"Kenapa malu, Len? Biasa aja, perlakukan orang tua Kak Riky seperti orang tuamu sendiri. Seperti kamu pada Mama dan Tante," ujar Meydina menyemangati.
"Iya, betul. Amie setuju," sahut Amiera.
"Percaya diri, Sayang." Resty menambahkan.
Alena tersenyum haru. Ia akan berusaha memupuk keberanian untuk menemui calon mertuanya. Sementara itu Bella hanya menundukkan wajahnya. Mencoba menyembunyikan perasaannya.
"Papi, Daddy mana? Kok nggak pulang?" tanya Zein.
"Uncle, Kak. Uncle Alvin masih ada pekerjaan, jadi pulangnya nanti."
"Papi udah keljanya, kok pulang?"
"Mami yang minta," sahut Maliek.
"Auntie, minta Daddy pulang." Pintanya pada Laura.
"Barusan Papi Zein bilang apa? Uncle masih sibuk, Sayang."
Zein nampak kecewa.
"Kakak mau apa sama Uncle Alvin?" tanya Maliek sambil mengunyah makanannya.
"Mau main game yang ada di ponsel Daddy, Pi." Sahutnya.
"Game? Game apa? Papi bisa download-kan."
"Benelan, Pi?"
"Iya, tapi ada syaratnya."
"Apa?" tanya Zein penasaran.
"Bilang Uncle Alvin, bukan Daddy." Pintanya.
"Nggak mau. Papi selalu begitu," ucap Zein semakin merasa kecewa.
"Sudah dong, Liek. Nggak apa-apa..." Resty mencoba mengingatkan.
"Iya, Ma. Ini usaha terakhir kok. Kalau Zein nggak mau ya nggak apa-apa. Kak! Sini, Papi belum selesai."
"Nggak mau, Pi." Tolaknya.
"Mau download game nggak?"
"Mau," sahutnya malas.
__ADS_1
"Ini ponsel Papinya bawa. Minta tolong sama Uncle ya," ujar Maliek sambil mengacak pelan rambut putra sulungnya.
"Game apa sih? Uncle mau tahu," tanya Rendy sambil mengajak Zein duduk di sofa. Zein yang sudah terlihat senang itupun menghampiri Rendy sambil menunjukkan game yang diinginkannya.