
Happy reading...
Selama dalam perjalanan ke kantor, tatapan Salman tertuju pada layar ponselnya.
"Jadi, putra Wira juga tinggal di sana?"
"Iya, Tuan. Dan menurut Mike, dia juga salah satu PM proyek yang sebentar lagi akan berjalan."
"Apa itu suatu kebetulan atau bagaimana?" selidik Salman.
"Tentang proyek, sepertinya hanya kebetulan. Tapi kalau tentang tinggal di gedung apartemen yang sama, saya curiga Alvin sengaja melakukannya."
"Alvin?" Salman mengerutkan keningnya.
"Iya, Tuan. Mike memilih penthouse di gedung itu atas keinginan Alvin."
"Kenapa? Apa Alvin tahu putra Wira tinggal di sana?"
"Sepertinya begitu, Tuan."
"Jadi maksudmu, secara tidak langsung Alvin menitipkan Amiera pada pria itu?"
"Saya kurang tahu tentang hal itu. Namanya Rendy, ia juga teman baik Nona Meydina."
"Ya, aku ingat. Cari tahu tentang dia selama di sana. Dan tentang Brian Winston, entah kenapa aku kurang menyukai wajahnya. Apa dia suka bermain wanita?"
"Saya belum tahu, Tuan."
"Kenapa kau belum mencari tahu, hah!" bentak Salman.
"Anda belum memerintahkan saya untuk mencari tahu tentang pria itu, Tuan." Sahutnya membela diri.
"Kau ini Aldo, apa kau baru bekerja denganku? Aku tidak mau dengar alasan bodoh itu lagi, paham!" tegas Salman.
"Paham, Tuan." Sahutnya.
***
Besok adalah hari keberangkatan Zein ke London. Meydina masih berupaya membujuk putra sulungnya agar tidak jadi ikut dengan Kakek dan Unclenya.
Namun sepertinya Zein sangat bertekad. Ada saja jawaban yang dia sampaikan sebagai tanda kebulatan tekadnya.
"Kak... Kalau Mami kangen gimana?"
"Video call aja," sahut Zein datar.
"Kalau Mami ingin cium sama peluk Kakak, gimana? Masa iya Mami cium dan peluk ponsel," ucap Meydina dengan raut wajah yang sendu.
"Mami sayang... Sini Kakak cium, mmuach.. Mmuach," jawab Zein sambil memeluk erat Maminya dan menciumi hampir semua bagian wajah Meydina.
Meydina sampai terkekeh melihat tingkah putranya.
"Udah?" tanya Zein.
"Iya Sayang, sekarang tidur ya. Kalau kakak kesiangan, nanti... Wuuzzz! Pesawat Kakeknya ninggalin Kakak," ucap Meydina dengan gerakan tangan yang menirukan pesawat lepas landas.
"Eh, mau kemana?" pekik Meydina. Zein bukannya tidur malah hendak berlari meninggalkan kasurnya.
"Kakak mau tidur sama Kakek, Mi. Biar pesawatnya nggak ninggalin," sahut Zein berlari keluar kamarnya.
__ADS_1
"Kak, bukan begitu maksud Mami."
"Kakak mau tidur sama Kakek," rengek Zein.
Zein meraih gagang pintu kamar Kakeknya sambil berjinjit, ia masuk dan berlari ke atas ranjang besar milik sang Kakek.
"Zein, mau tidur di sini?" tanya Salman yang baru keluar dari kamar mandi.
"Iya, Kek. Biar nggak ditinggalin pesawat. Kakek cepetan tidur, nanti pesawatnya,, wuzz.. Ninggalin Kakek lho," celoteh Zein menirukan Maminya.
"Oh, ya? Kalau begitu, ayo cepat kita tidur. Kalau kesiangan bisa di tinggalin sama pak pilot," sahut Salman.
Salman menyelimuti tubuh mungil Zein yang tidur disampingnya. Ia tersenyum pada Meydina dan memberi kode untuk membiarkan Zein tidur bersamanya. Meydina hanya mengangguk kecil lalu menutup pintu kamar Ayahnya.
***
Pagi sekali Zein sudah terbangun. Entah ia bisa tidur nyenyak atau tidak semalam. Anak itu berlarian dengan kedua tangan yang terlentang menirukan gerakan pesawat terbang.
Hari ini, Salman berencana pergi setelah sarapan. Meydina sudah mempersiapkan semua keperluan Zein yang kemudian dimasukan ke dalam bagasi mobil oleh Maliek.
Jika Salman dan Alvin di antar oleh mobil yang dikemudikan Aldo, maka Zein di mobil Papinya. Anak itu sempat merengek karena takut ditinggalkan Kakeknya.
Sesampainya di bandara, beberapa pilot yang biasa mengemudikan pesawat Salman datang menghampiri. Begitu juga para pramugari dan pramugara yang menyapa lalu membawakan barang-barang mereka.
Meydina berkali-kali memeluk putranya kemudian melambai saat Zein sudah mulai menapaki tangga menuju pintu pesawat. Walau berat, ia mencoba melepaskan kepergian Zein dengan senyuman.
***
London
Amiera bergegas menuju halte. Dari kejauhan, dilihatnya Rendy yang sudah berdiri menunggunya di sana. Saat Amiera tiba di halte, bersamaan dengan kedatangan bus yang ditunggunya.
Mereka menaiki bus yang sama. Namun saat di halte berikutnya, Amiera merasa heran karena Rendy menggunakan bus yang sama.
"Gue ada perlu di Jalan R." Sahutnya.
Amiera hanya mengangguk-angguk pelan. Jalan R memang berdekatan dengan posisi butik yang ada di Jalan B.
"Gue duluan ya, bye."
"Bye.."
Rendy menatap kepergian Amiera. Bus berhenti di halte yang letaknya tidak jauh dari sebuah butik.
"Jadi disini tempat kerja loe," gumam Rendy, saat bus telah melaju melewati butik tersebut.
Tepat di halte berikutnya, Rendy turun dan berlari menuju perusahaan Al-Azmi Corp.
Hari ini Rendy akan mulai membahas perkembangan rencana proyek yang akan dipegangnya. Tiba di depan gedung, Rendy terlihat terengah-engah.
"Hai, Ren. Kamu dari mana seperti orang habis berlari?" tanya Sophia yang berpapasan dengannya di pintu lobi.
"Aku memang sengaja berlari, biar sekalian olah raga." Sahutnya.
"Lain kali biar ku jemput aja ya," tawar Sophia.
"Tidak, terima kasih. Miss Bella sudah datang?"
"Miss Bella sedang berada di Cambridge. Mungkin besok baru masuk," sahut Sophia.
__ADS_1
"Oh. Aku harus ke ruangan Tuan Mike, sampai jumpa."
Rendy mendahului Sophia masuk kedalam lift dan menutup pintu lift tersebut. Hal itu tentu membuat wanita itu merasa kesal.
***
Cambridge
Suara hentakan musik yang memekakan telinga menjadi ciri khas suasana malam di tempat yang menjadi pelarian sebagian orang untuk melepas lelah. Bella terduduk di salah satu kursi tepat di depan seorang bartender yang sedang meracik minumannya.
"Aku minta satu," ucap seorang pria yang baru saja duduk di sebelahnya.
"Mau coba yang baru, Tuan?" tawar Bartender itu.
"Terserah. Asalkan itu enak." Sahutnya.
Bella yang sedang menyesap minumannya melirik pada pria di sebelahnya.
"Sendiri?" tanya pria itu.
"Kalau iya, apa kau mau menemani?" Bella balik bertanya.
"Kenapa tidak? Kita sama-sama sendiri," sahut pria itu.
Bella memperhatikan wajah si pria.
"Apa kita pernah bertemu? Tapi sepertinya tidak mungkin karena kau orang Asia," ucap Bella pelan.
"Kata-kata yang biasa diucapkan untuk sekedar basa-basi agar lebih dekat. Iya kan?"
"Maksudmu?" Bella terlihat heran.
"'Apa kita pernah bertemu?' Itu kalimat yang umum digunakan oleh orang yang sok kenal, kau tahu itu kan?"
"Heh, dasar pria menyebalkan. Kau pikir kau siapa sebegitu percaya dirinya aku ingin mengenalmu." Decihnya.
***
Seperti biasa, Amiera mengawali pagi dengan berlari menuju halte. Namun kali ini, ia tidak melihat Rendy ada di sana. Kemana pria itu? Sudah pergi ataukah kesiangan?
Amiera tidak sempat berpikir panjang, karena busnya sudah datang. Beberapa hari ini, Amiera merasa risih. Sejak komentar beberapa netizen beredar ia jadi merasa tidak leluasa.
"Bisakah kau berhenti menatapku seperti itu?" delik Amiera pada Diana.
"Apa kau benar putri orang kaya itu?" tanya Diana penuh selidik.
"Menurutmu?"
"Ah, rasanya tidak mungkin. Kalau kau anak orang kaya pasti sedang berbelanja barang branded, bukan bekerja. Aku benar kan, Vey?"
"Entahlah, Nona. Aku tidak tahu," bisik Veya.
"Ah, kau ini," delik Diana.
Amiera hanya bisa menggeleng pelan. Tidak lama kemudian terdengar notifikasi pesan diterimanya.
📩 Daddy
[Temui aku di kantor Mike.]
__ADS_1
"Daddy di kantor Uncle Mike?" batin Amiera terperanjak.
Amiera langsung menelepon, tapi tidak diangkat. Ia kemudian berlari keluar ruangannya dan menuruni tangga lalu menuju keluar butik. Amiera berlari menyusuri jalan. Ia tidak percaya Daddynya ada di negara ini. Mengapa tidak ada yang mengabarinya? Apa ini sebuah kejutan?