Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
sekutu


__ADS_3

Happy reading...


Hari ini, Alvin mendapat giliran membawa Zein untuk jalan-jalan. Karena Amiera merasa tidak enak pada Julie dan rekan-rekannya bila tidak masuk kerja lagi.


Setelah mengantar Amiera, Alvin menjemput Riky di hotel. Hari ini mereka berencana akan membawa Zein ke kebun binatang.


Alvin tidak mengerti mengapa sahabatnya itu menolak menginap di rumah Mike. Padahal menurutnya Mike dan Bella adalah orang-orang yang cukup supel dan juga ramah.


"Enak banget loe ya, liburan teruss."


"Kapan lagi bisa begini. Yaa walaupun tempat liburan gue kali ini mengikuti selera anak kecil. Lumayan lah serasa jadi anak kecil lagi. Mengulang masa indah dahulu kala." Kelakarnya.


Alvin terkekeh mendengar ucapan Riky.


"Eh, tapi tahu nggak. Maliek kerja sendirian lho, kasihan dia. Katanya Alya nggak masuk kerja hari ini," ujar Alvin.


"Oh ya? Kenapa Alya nggak masuk? Ah, bisa aja Maliek bohong. Loe kata siapa?"


"Kata Laura. Tadi Meydina mengantarkan makanan sekaligus mau menemani sampai Maliek pulang karena di kantor dia sendirian."


"Oh, tapi nggak apa-apa lah. Anggap aja gue lagi ngasuh anaknya, haha." Riky tergelak.


"Bisa aja loe," timpal Alvin yang ikut tertawa.


Zein menatap heran keduanya. Anak kecil itu hanya nyengir kuda. Ia tidak mengerti kalau dua pria itu sedang menertawakan Papinya.


***


Di butik, Amiera kembali pada kesibukannya. Gadis itu terlihat fokus dengan sketsa baju yang sedang dibuatnya.


"Nona, Miss Julie memanggil anda."


"Oke. Terima kasih Rey," ucap Amiera.


"Sama-sama, Nona."


Amiera meninggalkan ruangannya. Sedari tadi ia menyadari betul kecanggungan rekan-rekannya.


Julie mempersilahkan Amiera duduk. Sesaat wanita itu menatap sambil tersenyum tipis.


"Bagaimana dengan ayahmu? Aku khawatir beliau tidak mengizinkanmu bekerja di sini lagi."


"Tidak masalah. Daddy memang kebaratan. Tapi setelah diberikan pengertian, daddy memperbolehkan aku bekerja di sini." Sahutnya.


"Aku mengerti keinginanmu yang ingin lebih mengembangkan potensi dan keterampilan diri. Pasti ada sensasi tersendiri bagimu saat bekerja di tempat orang lain dan mendapatkan gaji. Aku juga berterima kasih. Berkatmu dan nama besar ayahmu butikku jadi ramai sekali. Kau tahu, kemarin saat kau tidak masuk, tanganku sampai pegal karena harus menerima pesanan yang sambung menyambung seakan tidak bisa berhenti," papar Julie sambil tersenyum.


"Syukurlah," sahut Amiera singkat.


"Aku berencana akan menambah karyawan di bagian produksi. Karena sampai tiga bulan kedepan kita akan sibuk sekali." Ujarnya lagi.


"Oke. Kau tentu lebih tahu tentang hal itu."

__ADS_1


"Sebagai tanda terima kasihku, bagaimana kalau aku mentraktirmu makan siang, Nona?"


Amiera tersenyum tipis.


"Hanya aku?" tanya Amiera.


"Hoho, baiklah dengan ketiga rekanmu juga."


Amiera mengengguk pelan sambil mengulumkan senyumnya. Ia terkejut saat melihat Julie mengulurkan tangannya.


"Terima kasih dan selamat bergabung di butik kami, Nona Amiera."


"Kau jangan berlebihan, Miss. Perlakukan aku seperti biasanya. Jangan membuatku merasa canggung," pinta Amiera.


Julie mengangguk dan mereka pun bersalaman.


***


Ada pemandangan yang tak biasa dan mengundang beberapa pasang mata untuk memperhatikannya. Seorang pria yang mendudukkan anak kecil di pundaknya dengan mengenakan topi berbentuk binatang di kepalanya.


Disebelahnya, seorang pria lain memegang permen kapas berbentuk kepala kucing dan sebuah balon gas berbentuk harimau yang cukup besar.


Anak itu terlihat bahagia berada di atas pundak sambil memainkan topi lucu dihadapannya. Sesekali, ia disuapi permen kapas dan berceloteh riang seakan sedang mencari perhatian.


Tiba di parkiran, anak itu diturunkan dan mereka bertiga masuk kedalam mobil.


"Huft. Vin, muka gue masih ada kan? Gila, sumpah gue malu banget dilihatin orang-orang."


"Tahu begini, gue sih lebih baik kerja." Keluhnya.


"Norak, loe. Biasa aja lagi, cewek itu justru suka lho lihat cowok yang family man. Loe sih tahunya laptop sama berkas doang. Kawinin tu laptop. Kasihan kan diger*yangin sama cowok jomblo," kelakar Alvin.


"Sialan, Loe! Enak aja," umpat Riky. Alvin hanya terkekeh mendengarnya.


"Boy, sekarang mau makan apa? Pizza atau pasta?" tanya Alvin.


"Pasta!" seru Zein riang.


"Ye... Tos!" seru Riky. Ia dan Zein pun bertosria.


***


Di sebuah restoran yang cukup ternama, Sophia dan Mark sedang makan bersama. Awalnya mereka mengajak Rendy, namun pria itu menolak karena sudah ada janji dengan Mike.


"Amiera itu cantik ya. Seandainya saja aku bisa dekat dengan putri bos besar itu," ujar Mark.


"Kalau kau ingin dekat, ya dekati saja. Rayu dia! Setinggi apapun kastanya, dia tetaplah wanita. Hatinya akan mudah luluh jika kau bisa merayunya," ujar Sophia.


"Mungkinkah?"


"Apa kau sedang meragukan kemampuanmu sendiri dalam merayu wanita? Oh My God! Aku tidak percaya ini. Nyalimu hilang hanya karena dia putri Al-Azmi."

__ADS_1


"Ayolah, jangan meragukan aku. Tidak ada yang bisa menolak pesonaku," ucap Mark berbangga diri.


"Kau jangan sombong dulu. Buktikan ucapanmu dengan mendapatkan Amiera. Bagaimana, kau berani?" tantang Sophia.


Mark terlihat ragu, namun ia juga gengsi bila tidak menyanggupi tantangan Sophia. Selama ini Mark memang dikenal sebagai casanova di kampusnya. Banyak wanita dari kalangan tidak biasa jatuh kedalam pelukan pria bule itu.


Wajah Mark memang rupawan dengan perawakannya yang atlethis. Hal tersebut membuatnya jadi besar kepala dan gonta-ganti wanita.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Sophia. Ia heran melihat Mark senyum-senyum sendiri.


"Aku sedang memikirkan cara bagaimana mendapatkan rusa emas itu." Sahutnya.


Sophia mengerti, rusa emas yang di maksud Mark tentu saja Amiera. Wanita itu menyeringai, ia senang karena akhirnya memiliki sekutu untuk menjauhkan Amiera dari Rendy.


"Perlu bantuanku?" Tawarnya.


"Kau yakin mau membantuku?"


"Kenapa tidak?"


"Kau tidak menyukainya? Kenapa? Ooh, sepertinya aku mengerti. Wanita memang sering merasa iri jika ada yang lebih dari dirinya. Aku betul kan?" tebak Mark.


"Terserah kau mau berfikir apa. Aku hanya ingin dia menjauhi Rendy. Pria itu hanya akan jadi milikku," tegas Sophia.


"Rendy? Rendy Atmadja maksudmu?" Mark tertawa. Sophia menatapnya bingung.


"Iya, benar. Memangnya kenapa?"


"Kau menyukai pria itu? Yang benar saja. Dia itu bersikap sangat dingin pada wanita. Apa yang kau sukai dari dia?" tanya Mark sambil berusaha menghentikan tawanya.


"Justru itu hal yang paling menarik dari Rendy. Sikap dinginnya pada wanita membuatku sangat ingin mendapatkannya. Aku ingin menjadi satu-satunya wanita dalam hidupnya."


Satu-satunya? Mark tergelak, pria itu tidak percaya ada hal seperti itu diantara pria dan wanita. Baginya, pasangan bila sudah merasa bosan dengan sendirinya akan mencari pengganti yang lebih menyenangkan.


"Berhenti menertawakanku, Mark! Apa kita sepakat untuk bekerjasama?"


"Baiklah. Aku pasti akan membutuhkanmu dalam upayaku kali ini."


Mereka bersalaman. Sepakat untuk kerjasama yang menurut mereka saling menguntungkan.


 


Hai, Readers!


Author mau promo boleh ya...


Yang belum mampir ke karya lain dari author, mampir yuk! Ada 'Jodoh Wasiat Suami', kisah pernikahan Anna dan Niko yang tidak biasa.


Mumpung masih anget 😁


Udah tamat kok, episodenya juga nggak banyak.

__ADS_1


Terima kasih. 😊


__ADS_2