
Happy reading...
Cuaca panas di luar cukup terik saat Meydina yang mengendarai motornya membelah jalanan ibukota. Tujuannya saat ini adalah kantor tempat suaminya bekerja. Dengan makan siang yang dibawanya, Meydina berharap bisa meluluhkan amarah sany suami.
"Selamat siang, Bu," sapa security yang ada di sana sambil membukakan pintu.
"Selamat siang, Pak." Sahutnya ramah.
Dari lobi Meydina langsung menuju lift eksekutif. Tidak banyak karyawan yang berlalu lalang karena memang waktunya makan siang. Saat tiba di lantai atas juga suasana sangat sepi. Meydina berharap suaminya ada di ruangannya agar makanan yang di bawanya tidak sia-sia.
Meydina sengaja memutar gagang pintu dengan sangat pelan untuk memberi Maliek kejutan. Namun saat pintu mulai terbuka sedikit, terdengar jelas suara orang yang sedang tertawa.
Meydina tertegun mendengar tawa renyah suaminya bersamaan dengan tawa seorang wanita. Sebisa mungkin ia menepis dugaan buruk tentang mereka.
"Kak Maliek! Oh, maaf sedang ada tamu." Ujarnya sesantai mungkin.
Meydina dapat melihat ekspresi wajah Maliek yang terkejut begitu juga si wanita. Sexy, itu kesan pertama yang ditangkap Meydina saat melihat wanita itu.
"Mey, diantar siapa kesini?" tanya Maliek seolah gugup.
"Sendiri, memangnya kenapa?" sahutnya malas.
Meydina meletakkan makanan yang dibawanya di meja dan menatanya.
"Pak Maliek, tadinya saya berfikir untuk mengajak anda makan siang bersama?"
"Maaf, saya tidak bisa. Kita bicarakan lain waktu, terima kasih."
Maliek mempersilahkan tamunya keluar. Dari ujung matanya Meydina bisa melihat wanita itu enggan untuk melangkah. Saat pintu sudah di tutup rapat, Maliek menghampiri istrinya.
"Sayang, aku bisa jelaskan. Dia itu salah satu klien yang..."
Kalimat Maliek terhenti saat Meydina menatap tajam padanya.
"Yang apa? Yang sangat penting? Sampai-sampai Kak Maliek menerimanya di jam makan siang. Oh iya, dia kan mau ngajak Kakak makan siang, yaa Meydina ganggu dong.." Deliknya.
"Enggak, Mey. Aku memang udah niat nggak akan makan siang," jelas Maliek.
"Terus maunya apa, romantic dinner?" tanya Meydina ketus.
"Sayang, kok kamu punya pikiran seperti itu sih?"
"Terus Mey harus berpikir apa? Di rumah Kak Maliek mengacuhkan Mey, di sini ketawa-ketawa sama perempuan lain. Ya udah, susul aja sana! Paling juga baru sampai lobi," ucap Meydina kesal.
Awalnya Maliek menatap heran pada Meydina yang kini sedang menyendokkan nasi dan lauknya ke piring. Namun satu menit kemudian, pria itu tersenyum tipis.
"Mami cemburu ya?" Godanya.
"Cemburu? Enggak. Kalau Kak Maliek nggak mau makan, Mey makan aja sendiri," gerutu Meydina.
Maliek menatap gemas pada Meydina yang cemberut menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Mi, Papi juga lapar," rengek Maliek.
"Katanya nggak mau makan," ucap Meydina dengan mulut yang penuh makanan.
"Papi cium ya, biar makan bareng..."
"Mana bisa?" delik Meydina.
"Bisa, coba ya.."
"Nggak," tolak Meydina sambil menyuapkan makanan ke mulut suaminya.
__ADS_1
"Udah dong cemburunya," goda Maliek.
"Apa sih? Nggak cemburu juga," sahut Meydina kesal.
"Mey, tadi aku nggak niat makan siang karena mau pulang, Sayang. Makanya aku terima dia di jam makan siang," ucap Maliek.
"Terus, apa tadi ketawa-ketawa?"
"Dia itu adik salah satu teman kuliahku dan kami sedang membicarakannya," jawab Maliek.
"Awas ya kalau bohong! Mey lihat nanti CCTV ruangan ini," ancam Meydina.
"Silahkan, kalau kamu udah nggak percaya sama aku. Tunggu, kamu kesini sendirian?" tanya Maliek yang dijawab anggukan oleh Meydina.
"Aku kan udah bilang nggak keluar tanpa seizinku apalagi sendirian, Mey. Kamu pakai motor kesini?"
"Iya."
"Kamu inginnya apa sih, Mey? Ingin ketemu dokter genit itu lagi, heh? Atau ketemu laki-laki genit lainnya di jalan?"
"Mey kan kesini, ketemu Kak Maliek. Bukan ketemu dokter Andre," sahut Meydina.
"Tuh, kan. Sampai-sampai kamu masih ingat namanya," ujar Maliek semakin kesal.
Meydina bingung harus menjelaskan apa, dirinya sengaja datang kesini agar Maliek tidak marah lagi padanya.
"Kok Kak Maliek tadi nggak pamitan?"
"Aku lagi kesal. Kamu nggak bilang, waktu jalan sama Laura ketemu laki-laki lain."
"Idih, segitunya. Lagi kesal sama Mey, kok Fatima juga kena imbasnya?"
"Makanya aku mau pulang, Sayang. Supaya Mami nggak marah," ujar Maliek sambil mencolek dagu Meydina.
"Udah makan, ngamar yuk!" goda Maliek.
"Nggak ah, Mami janji sama anak-anak nggak akan lama," sahut Meydina kembali menyuapi suaminya.
"Kita pulang bareng aja, biar motor kamu diantar Riky. Semalam di rumah sakit mungkin kurang tidur, kepala rasanya agak berat."
Maliek kembali menatap wanita yang telah memberinya tiga anak itu. Hanya dengan membayangkan ada pria lain yang tersenyum pada Meydina, rasanya Maliek sudah menggila.
***
London
Suasana di butik cukup ramai terutama di lantai bawah. Diana yang sedari tadi mondar-mandir baru bisa duduk santai meregangkan otot kakinya.
Ia menatap Amiera yang dengan santai mengerjakan gaun pengantin yang sebentar lagi selesai itu.
"Amiera, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Bukankah sebaiknya kamu mentraktir makan sebagai tanda perkenalan?"
Amiera membalas tatapan Diana. Setelah melirik pada Asistennya Amiera menjawab, "Boleh. Dengan mereka juga?"
"Oke. Ayo!" Sahut Diana.
Veya terlihat senang sekali begitu juga dengan Rey, asisten Amiera. Mereka pun berjalan beriringan menuju sebuah restoran yang di tunjuk Diana.
"Non, nggak salah kita kesini? Ini kan restoran mahal," bisik Veya pada Diana.
"Sstt, kamu ikuti saja permainanku. Kita akan membuat orang sombong itu merasa malu," bisik Diana. Mereka mengulumkan senyun mereka. Sementara itu, Rey yang mendengar sekilas menatap punggung Amiera yang berjalan di depan mereka dengan tatapan kasihan.
"Pesanlah," ucap Amiera saat pelayan restoran menyodorkan buku menu pada mereka.
__ADS_1
Diana dan Veya saling memberi kode dengan gerak mata mereka. Sedangkan Rey melirik Amiera yang sedang asik dengan ponselnya.
Pelayan menghidangkan makanan pembuka. Sekitar sepuluh menit kemudian, makanan inti yang mereka pesan pun dihidangkan. Binar mata ketiga wanita itu terlihat nyata saat makanan yang belum pernah mereka rasakan tersedia di depan mata.
Ya, baik Diana atau kedua asisten itu belum pernah datang ke restoran tersebut. Mereka sudah tahu restoran itu menghidangkan makanan yang sangat lezat namun juga membuat dompet sekarat.
"Ayo Amiera, makanlah! Ini semua sangat lezat. Kau juga boleh mencoba makanan kami," tawar Diana mencoba tersenyum ramah.
"Terima kasih, Nona. Sudah berbaik hati mentraktir kami makan siang yang enak ini," ujar Veya.
Kedua orang itu memberi kode pada Rey agar mengatakan sesuatu.
"Nona Amiera, terima kasih," ucap Rey canggung.
"Sudahlah. Kalian makan saja," sahut Amiera.
Diana dengan lahapnya menyantap makanan tersebut. Begitu juga dengan Veya. Wanita itu bahkan sampai bergumam karena kelezatannya.
Melihat cara dua orang itu makan membuat Amiera tersenyum jijik. Jika saja mereka bukan rekan kerjanya, Amiera enggan makan dengan mereka.
"Rey, kenapa? Makananmu tidak enak?" tanya Amiera saat melihat Asistennya seperti ragu-ragu menyantap makanannya.
"Kalau memang tidak enak, kamu bisa pesan yang lain," tawar Amiera.
"Tidak Nona, ini sangat enak." Sahutnya.
"Kalau enak, makanlah! Jangan pura-pura tidak mau. Kalau memang tidak mau, berikan saja padaku," ujar Veya.
"Terima kasih, ini sudah cukup." Rey pun mulai menyantap makanannya.
Diana dan Veya tersenyum bahagia. Mereka sudah tidak sabar melihat bagaimana reaksi Amiera yang terkejut saat menerima tagihannya.
Amiera tidak mengerti mengapa Diana dan asistennya terlihat sangat bahagia. Apakah makanan ini yang membuat mereka sebahagia itu?
"Heh, orang-orang aneh." Batinnya.
Setelah makanan penutup dihidangkan, Amiera meminta pelayan membawakan tagihannya. Amiera tidak menyadari ketiga rekannya sedang menanti saat itu tiba. Jika Diana dan Veya sudah bersiap untuk tertawa, maka Rey bersiap untuk merasa iba.
Pelayan datang membawakan tagihan. Amiera yang sudah menyiapkan kartu limited editionnya memperhatikan tagihan tersebut.
Saat pelayan tersebut mengembalikan kartu Amiera. Ketiga rekannya menatap heran.
"Ada apa?" tanya Amiera yang merasa aneh dengan tatapan mereka.
"Tidak ada apa-apa, Nona," sahut Rey tersenyum kikuk.
"Kalian nikmati hidangan penutupnya. Aku akan kembali ke butik," ujar Amiera.
"Iya, Nona. Terima kasih," sahut Rey. Asisten Amiera itu memberi kode pada Veya dan juga Diana.
"Terima kasih," ucap mereka bersamaan.
Mereka bertiga menatap punggung Amiera hingga berada di luar restoran. Diana kemudian memanggil pelayan yang baru saja meninggalkan meja mereka.
"Bisa saya melihat tagihan meja ini?" Ucapnya.
"Tentu," sahut pelayan itu.
Pelayan itu memberikan salinan tagihan yang di bayar Amiera dan berlalu meninggalkan mereka.
"Berapa, Nona?" tanya Veya penasaran, begitu juga Rey yang ikut-ikutan ingin melihatnya.
"Hah!" ucap ketiga wanita itu bersamaan.
__ADS_1
Mereka menatap berkali-kali antara tagihan itu dengan sosok Amiera yang sudah ada di seberang jalan sana. Mereka terkejut mendapati Amiera sanggup membayar tagihan makan siang yang besarnya hampir menyentuh angka satu bulan gaji mereka.