
Happy reading...
Ujung telunjuk mungil Queena bermain di daun telinga Daddy-nya. Gadis cilik itu terkekeh melihat ekspresi lucu Alvin yang mengerjap terkena pantulan cahaya.
Alvin melenguh lalu mendekap putrinya. Gelak tawa terdengar renyah dari Queena yang digelitiki Alvin.
"Daddy, Queen mau video call sama Amar." Pintanya.
"Boleh. Mana ponsel Daddy, sini tolong ambilkan."
Queena beranjak mengambil ponsel Alvin di atas nakas. Setelahnya, Alvin menelepon Meydina.
Meydina memperlihatkan posisinya yang sedang berada di playgroup, sekolah kedua putranya. Tak lama terdengar rengekan Queena yang ingin sekolah di sana juga.
Karena putranya masih di dalam kelas, Meydina meminta waktu bicara pada Alvin. Ia menceritakan kondisi ayah Salman pada kakaknya tersebut.
Alvin tertegun mendengarnya. Tidak lama kemudian, panggilan pun diakhiri.
"Queen sama Nanny dulu ya. Nanti Daddy menyusul, oke."
"Oke, Daddy."
Queena berlari kecil keluar kamar orang tuanya. Laura yang baru keluar dari kamar mandi melihatnya sambil tersenyum. Helaan nafas Alvin membuatnya menoleh.
"Ada apa, Hubby?"
"Sepertinya kita akan kembali dalam waktu dekat ini," sahut Alvin pelan.
"Kembali kemana?" tanya Laura heran.
"Kembali ke rumah Daddy. Tadi Mey mengatakan kalau Daddy sakit, tapi beliau menutupinya." Ujarnya pelan.
"Benarkah? Lalu bagaimana pekerjaanmu?"
"Secepatnya aku akan mencari penggantiku. Kamu tidak keberatan?"
"Tidak. Aku justru merasa senang."
"Tapi sepertinya yang paling senang Queena. Dia sudah tidak sabar ingin berangkat sekolah bersama Zein dan Amar," ujar Alvin tersenyum tipis.
"Iya. Lalu bagaimana pengobatan Daddy?"
"Kami akan membahasnya. Aku akan menelepon Amiera dulu," sahut Alvin. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan berlalu menuju balkon apartemen.
***
London
Suasana bising terdengar mendominasi kota ini. Lalu lalang kendaraan terdengar dari ruangan Amiera yang berada di salah satu gedung di pinggir jalan.
Tidak seperti biasanya, hari ini Amiera terlihat tidak bersemangat. Wanita berpasras cantik itu terlihat sering melamun tidak bisa fokus pada pekerjaannya.
"Amiera, tidak biasanya kamu seperti ini. Apa ada yang kamu inginkan?" tanya Diana.
Amiera sudah memberitahu pada Diana dan rekan-rekannya bahwasanya ia sudah menikah. Dan saat ini, Diana mungkin berfikir bahwa kehamilannya sedang mempengaruhi mood Amiera.
__ADS_1
"Iya, Nona. Mungkin anda ingin saya belikan es krim?" tawar Rey.
"Iya benar, es krim. Mood selalu terlihat baik kalau kamu sudah makan es krim. Rey, pergilah membelinya!" titah Diana.
"Tidak usah. Aku sedang tidak ingin," jawab Amiera pelan.
"Apa Miss Julie ada di ruangannya?" Tanya Amiera.
"Ada. Tuan Brian juga ada," sahut Rey.
"Kalau begitu aku akan menemuinya dulu," sahut Amiera lemas.
Ketiga rekan Amiera saling menatap dengan raut wajah yang bingung. Hari ini semangat Amiera seolah hilang begitu saja.
Amiera mengetuk pintu ruangan Julie. Ia tersenyum tipis mencoba membalas senyuman Brian yang membukakan pintu untuknya.
"Hai, Cantik! Wah, kamu terlihat seksi dengan perutmu yang sudah membesar."
"Kamu sedang memuji atau mengejekku, Brian?" tanya Amiera malas.
"Aku sedang memuji, Amiera. Aku benar-benar suka melihat wanita dengan perut yang membesar." Sahutnya.
"Kalau begitu kencani saja marshmallow girl," ujar Julie asal.
"No. Maksudku bukan gemuk, tapi wanita hamil. Mereka terlihat seksi dengan perut mereka, termasuk kamu. Hmm, aku iri sekali pada Rendy." Ujarnya.
"Lalu, aku yang tidak hamil ini apa tidak seksi? Dari pada kamu iri, lebih baik menikahlah. Dan buat istrimu itu hamil," decih Julie.
"Tentu saja kakak seksi, hehe. Menikah? Ee.. Amiera, apa kamu punya saudari lain? Karena saudarimu pasti sama cantiknya denganmu."
Julie mendelik pada Brian. Ia meminta Amiera tidak menjawab ocehan adiknya dan meminta Brian meninggalkan ruangannya.
"Aku.. Miss, sepertinya aku akan berhenti bekerja." Ujarnya.
"Berhenti, kenapa? Apa suamimu sudah melarangmu? Aku mengerti jika dia melakukan hal itu," ujar Julie.
"Tidak, bukan karena itu. Aku belum membicarakannya dengan suamiku. Tapi mungkin aku akan berhenti bekerja," sahut Amiera.
"Amiera, bukan aku tidak ingin mempertahankanmu. Aku juga mengakui kemampuanmu yang luar biasa. Uang dan keahlian, kamu memiliki keduanya. Jika kamu membuka usaha, pasti akan sangat mungkin untuk meraih kesuksesan dimanapun kamu berada. Sebagai teman, aku akan membiarkanmu melakukan apapun keputusanmu." Tuturnya.
Amiera merasa bingung. Julie salah mengartikan maksud ucapannya. Wanita itu berfikir bahwa ia akan mengundurkan diri karena ingin memiliki usaha sendiri.
Dering telepon membuat Julie menghentikan sementara pembicaraan mereka. Amiera menghela nafasnya merasa bingung harus memutuskan apa.
Satu jam yang lalu, Alvin meneleponnya. Kakaknya itu memberitahu semua yang didengarnya dari Meydina. Alvin juga memberitahukan rencananya yang akan kembali ke sana.
Bagi Amiera, pendidikan dan karirnya memanglah penting. Akan tetapi ada yang lebih penting dari kedua hal tersebut, yakni keluarganya.
Daddy adalah cinta pertamanya. Daddy juga yang sudah melakukan segalanya untuk memenuhi keinginannya. Jadi, bagaimana ia bisa diam saja saat mengetahui keinginan Daddy-nya yang ingin berkumpul bersama ketiga anak dan juga cucu-cucunya?
***
Senja mulai menyapa saat Rendy dan Amiera memasuki gedung apartemen mereka. Dua sejoli itu nampak serasi membuat siapa saja yang melihatnya merasa iri. Tidak terkecuali Dave yang bertemu mereka di tempat parkir. Ia mengekor dibelakang pasangan itu memasuki lift menuju penthouse mereka.
"Hei, Dave! Turunkan pandanganmu," ucap Rendy ketus.
__ADS_1
"Hehe, maaf. Amiera, apa ada temanmu yang bernama Diana?"
"Ada. Dia rekan kerjaku di butik. Kenapa?"
"Bisa minta tolong katakan padanya untuk berhenti menghubungiku. Ya, please." Pintanya.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya sendiri?" tanya Rendy dengan nada yang masih ketus. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang Amiera dan mendekatkan pada dirinya.
"Ayolah, Ren. Masa iya seorang pria bersikap seperti itu. Jatuh nanti harga diriku," delik Dave.
"Kalau kamu tidak melakukannya, berarti kamu sudah memberinya harapan palsu."
"Dia saja yang berharap padaku. Aku tidak menjanjikan apapun padanya," sahut Dave.
"Aku tidak mau. Itu bukan urusanku," ucap Amiera malas.
"Ayolah, Amiera. Aku tidak mau kalau sampai Bella nantinya salah paham padaku gara-gara dia."
"Bella? Memangnya kamu ada hubungan apa sama Bella?" Amiera dan Rendy saling menatap penuh tanya.
"Kalian pacaran?" todong Rendy.
Dave tidak menjawanya. Pria itu hanya cengar-cengir sambil menggaruk tengkuk lehernya, membuat pasangan suami istri itu heran.
Rendy dan Amiera masuk ke dalam apartemen mereka. Sedari tadi ia memperhatikan sikap istrinya yang tidak biasa.
"Ada apa, Sayang?" tanya Rendy yang memeluk Amiera dari belakang.
Amiera menyandarkan tubuhnya dan tersenyum membalas tatapan suaminya. Ia bahkan sampai tertawa pelan saat merasakan hembusan nafas Rendy yang membuatnya kegelian. Satu kecupan didaratkan Rendy pada bibirnya, sekali lagi Rendy menanyakan hal yang sama.
"Kak.."
"Hmm. Apa, Sayang?"
"Bagaimana kalau Amie pulang?"
"Pulang kemana? Ke rumah ayahmu?"
Amiera mengangguk pelan. Rendy mengusap lembut perut Amiera sambil bertanya, "Ada masalah apa?"
"Amie ingin melahirkan di sana. Ada Kak Mey yang bisa menemani Amie. Ada Daddy, dan pastinya disana juga ada Mama Nura. Boleh ya, Kak." Pintanya penuh harap.
Rendy menatap dalam pada kedua manik istrinya. Amiera terlihat gugup dengan tatapannya.
"Katakan yang sebenarnya, Sayang. Mata indahmu itu tidak bisa berbohong padaku."
Amiera tersipu sambil menunduk. Ia pun mengatakan alasan lain dibalik keputusannya tersebut.
Rendy pun mengerti. Ia memahami bagaimana perasaan istrinya. Rendy meminta waktu. Karena bagaimanapun ia harus mengurus segalanya sebelum Amiera meninggalkan kota itu. Terutama masalah pendidikan Amiera. Dan melahirkan adalah alasan yang tepat untuk mengambil cuti dari kampus Amiera.
"Bagaimana dengan kakak?"
"Aku akan pulang sebulan sekali. Tidak apa kan?"
"Tapi itu terlalu lama."
__ADS_1
"Bersabarlah sampai proyekku selesai. Setelah itu, aku akan benar-benar kembali dan berkumpul bersama dengan kalian." Ucapnya sambil mengecup perut Amiera.
Amiera menatap haru pria yang tengah mengajak bicara bayi dalam kandungannya itu. Satu harapannya saat ini yaitu kesembuhan Sang Daddy.