Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
kesepakatan


__ADS_3

Happy reading...


Dalam keadaan terhuyung dengan sebelah matanya yang meremang, pria itu melihat dua pria tegap berkaos hitam menghampiri dirinya. Saat kesadarannya belum sepenuhnya kembali, seorang pria memukulkan tinjunya lagi.


"Aarrghh, ampun! Ampun!" Pekiknya.


Salah satu dari mereka menginjak tangan pria itu.


Amiera merasa ngeri dengan apa yang dilihatnya.


"Sudah, hentikan!" seru Amiera. Ia tidak ingin kejadian ini berbuntut panjang.


"Tapi, Nona."


"Apa kau tidak mendengarku? Carikan aku taksi, sekarang!" titah Amiera.


Amiera mencoba mengendalikan perasaannya. Ia bersyukur bisa selamat dari pria itu, namun bodyguard bayangan yang mengikutinya terlalu kasar dalam menyelesaikan masalahnya.


Ia merasa miris saat seorang dari mereka menyeret pria itu ke lobi apartemen dan terlihat memperingatkan security gedung itu. Amiera tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika masalah ini sampai ada yang mengetahui. Apalagi jika sampai ada yang melapor pada pihak yang berwajib.


Pandangan Amiera menatap kesekitar jalanan kota London. Gadis itu melihat sisi lain kota ini di malam hari.


Air mata Amiera menetes saat membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa saja menimpanya malam ini. Sekarang ia mulai mengerti mengapa sang daddy selalu mengkhawatirkan dirinya yang memutuskan untuk hidup mandiri.


"Terima kasih, Dad." Gumamnya dalam hati.


***


Matahari sudah mulai naik, namun seorang gadis masih terlena di tempat tidurnya. Dirinya ingin menikmati weekend ini dengan bermalas-malasan di rumah.


"Alya! Aduh, aduuh... Anak gadis kok malasnya nggak ketulungan!" seru Mama Nura.


Mama Nura membuka gorden kamar putrinya yang langsung mendapat protes dari pemilik kamar tersebut.


"Mama! Silau. Tutup lagi! Alya mau istirahat, Ma." Pekiknya sambil merengek.


"Ayo bangun, antar Mama!"


"Sama Papa aja deh, Alya malas." Tolaknya.


"Papamu harus ke restoran."


"Minta antar Om Evan atau Alena," usul Alya yang kembali membenamkan wajahnya di atas bantal.


"Benar ya, kamu nggak mau. Hmm ya udah deh beli buat Alena aja," ujar Mama Nura yang hendak berlalu meninggalkan kamar Alya.


"Emang mau dibeliin apa, Ma?" tanya Alya yang kini sudah terduduk.


"Ada deh," sahut Nura yang meneruskan langkahnya keluar kamar sambil mengulumkan senyuman.


"Iih, Mama gitu. Apa dulu dong, Ma?" Alya turun dari tempat tidurnya dan bergegas menyusul Mamanya.


"Katanya mau istirahat?" sindir Mama Nura.


"Nggak jadi, hehe. Tadi Mama mau beliin apa?" tanya Alya penasaran.


Mereka menuruni tangga dan menuju ruang makan.


"Ma.. Mama tadi mau beliin apa buat Alya," rengek Alya.


"Kamu ini kenapa sih, manjanya nggak hilang-hilang. Kalau kamu ingin sesuatu ya tinggal beli. Kan kamu punya uang," ujar Mama.

__ADS_1


"Alya kan ingin yang gratis," sahut Alya sambil memajukan bibirnya.


"Jadi kamu mau nganter mama karena ada imbalannya, gitu?"


"Yaa kan kalau dibeliin masa iya nolak," sahut Alya santai.


"Makanya punya suami. Minta beliin sama suami kamu. Kamu itu Al, Al. Jangan kan punya suami, pacar aja kamu nggak punya. Iya kan?"


"Mama sok tahu. Alya punya pacar, Ma," sahut Alya kesal.


"Oh, ya? Siapa? Kenalin dong sama Mama. Bawa kesini, biar kenal juga sama Papa kamu." Mama Nura terlihat antusias.


Alya melirik pada sang mama lalu berucap, "Ada deh."


Alya dengan santai menikmati roti isi buatan Mamanya. Ia pura-pura tidak mengerti arti tatapan Mama Nura yang penuh tanda tanya.


"Kamu bohong ya," tuduh Mama.


"Enggak. Alya serius," jawab Alya sambil mengunyah makanannya.


"Siapa coba Mama mau tahu."


"Tadi Mama mau beliin apa untuk Alya?"


Mama Nura mendelik pada putrinya yang tidak mau mengalah itu. Karena rasa penasarannya lebih besar, ia pun mengalah.


"Mama mau beliin heels buat kamu," sahutnya pelan.


"Yang mahal boleh ya, Ma?" tawar Alya dengan semangat.


"Iya, iya. Asal kamu janji bawa pacar kamu itu ke rumah, besok." Tegas Mama.


"Besok? Kok besok?" protes Alya.


Alya menghela nafasnya. Ia tidak tahu harus bicara apa pada Rafael agar bersedia datang ke rumahnya. Di sisi lain, Mama Nura tersenyum bahagia.


***


London


Sinar mentari pagi yang mengintip dari ventilasi seakan mengajak Amiera untuk menikmati hari. Wanita muda yang sudah terjaga sedari tadi menatap malas ke luar kamarnya.


Bayangan kejadian tadi malam benar-benar merusak moodnya pagi ini. Terdengar suara ketukan sekaligus lengkingan suara Bella dari luar kamarnya.


Bella semalam datang ke apartemennya tidak lama setelah ia tiba. Wanita itu hampir semalaman berceloteh tanpa tahu peristiwa yang baru saja dialami Amiera.


Amiera belum terbiasa berbagi cerita pada Bella. Entah itu tentang pekerjaannya atau kejadian yang dialaminya selama tinggal di negara ini.


"Amiera! Kau sudah bangun? Ayo kita sarapan, ini sudah siang!" pekik Bella.


Hampir saja Bella mengetuk kepala Amiera jika ia tidak segera menahan gerakan tangannya. Wajah malas yang diperlihatkan Amiera membuat Bella merasa gemas.


"Hmm. Ayolah, Nona. Aku iri dengan wajahmu itu, kau terlihat cantik bahkan dengan rambutmu yang acak-acakan," ucap Bella.


Bella menggandeng tangan Amiera menuju meja makan. Namun sebelum itu Amiera mencuci wajahnya di wastafel yang ada di sana.


"Hari ini aku akan mengantarmu ke kampus. Kau tidak keberatan?"


"Terserah. Aku sedang malas berdebat," sahut Amiera.


"Baiklah kalau begitu, satu jam lagi kita berangkat."

__ADS_1


"Hey! Aku yang menentukan," protes Amiera.


"Tapi aku yang akan mengemudi," sahut Bella santai.


"Kalau begitu aku pergi sendiri."


"Ah, baiklah. Kita akan berangkat saat kau sudah siap," ujar Bella yang terlihat mulai kesal.


Amiera menyeringai melihat ekspresi Bella yang seperti itu.


***


Di bagian lain gedung apartemen itu, seorang pria baru saja turun dari mobilnya. Ia melangkahkan kaki menghampiri security yang sedang berdiri.


"Permisi, Amiera tinggal di lantai berapa?" Tanyanya.


"Amiera, siapa?"


"Amiera, salah satu penghuni apartemen ini. Aku melihatnya beberapa hari yang lalu dia masuk kesini," ujarnya.


"Maaf, Tuan. Tidak ada nama itu di sini. Saya cukup tahu nama-nama penghuni di apartemen ini," sahut security itu.


"Kau yakin? Kurasa dia baru di sini. Dia orang asia."


"Tidak ada, Tuan. Saya yakin."


"Brian?"


"Hai, Ren! Kebetulan..."


"Ada apa? Kau mencariku atau ingin menemui seseorang di sini?" tanya Rendy heran.


Brian adalah salah satu teman satu tim basket yang dikenal Rendy saat mereka masih kuliah.


"Iya. Tapi security ini bilang dia tidak tinggal disini. Padahal saat itu aku jelas-jelas melihat dia berjalan denganmu masuk kesini."


"Oh, ya? Siapa?"


"Namanya Amiera. Dia salah satu karyawan di butik kakakku."


"Amiera?" gumam Rendy sambil melirik security itu.


"Tidak ada nama itu di sini, Tuan. Penghuni terbaru yang menempati penthouse adalah Tuan Mike." Sahutnya.


Rendy tidak mengerti mengapa security itu bersikeras.


"Apa maksudmu wanita yang turun denganku dari bus?" tanya Rendy.


"Iya, benar. Dia yang aku cari," sahut Brian.


Sekilas Rendy melihat Bella yang sedang berkendara melintas di depan gedung. Wanita itu nampak sedang tertawa dengan seseorang.


"Apa Miss Bella sedang bersama Amiera?" batin Rendy.


"Ren, kamu tahu kan dia tinggal di lantai berapa," tegur Brian karena Rendy seperti sedang melamun.


"Tidak, kau salah. Aku kebetulan satu bus dengannya dan dia menanyakan seseorang di apartemen ini. Dan aku memintanya menanyakan langsung pada security. Karena tidak mungkin mengenal mereka satu persatu kan?" sahut Rendy.


"Begitu ya. Oke, terima kasih. Kau mau kemana? Mau ku antar?" tawar Brian.


"Tidak usah, terima kasih. Aku lebih suka naik bus."

__ADS_1


Brian pun meninggalkan gedung apartemen. Rendy bisa melihat security itu bernafas lega. Ia tidak tahu mengapa pria itu bersikap seperti tadi. Tapi pasti ada alasannya dan itu untuk kebaikan Amiera.


"Tapi Brian tadi bilang apa? Amiera bekerja di butik? Benarkah?" batin Rendy. Pria itu menyunggingkan senyumnya masih tidak percaya dengan yang sudah didengarnya.


__ADS_2