Permainan Takdir 2

Permainan Takdir 2
prasangka


__ADS_3

Happy reading...


Dari kaca jendela, Amiera melihat mobil Mike menepi. Setengah berlari Amiera menuju tangga. Sampai-sampai Amiera tidak mengacuhkan Julie yang berpapasan dengannya.


Julie menatap heran dan melangkah menuju kaca.


"Mike?" gumam Julie.


Walaupun tidak mengenal secara personal, Julie tahu pria yang terlihat sedang bersikap hormat pada Amiera adalah Kakak sahabatnya, Mike Anderson.


"Jadi ternyata memang benar Amiera adalah putri Al-Azmi, pengusaha itu." Gumamnya lagi.


Amiera yang merasa kurang nyaman dengan sikap Mike menarik lengan pria itu ke salah satu sisi butik tersebut.


"Uncle, ada apa kesini?" tanya Amiera sambil celingukan. Ia tidak ingin ada karyawan yang melihatnya.


"Nona, sebaiknya kita bicara."


"Ssstt, pelankan suara Uncle. Nanti saat istirahat siang Amie akan menemui uncle. Amie janji," ujar Amiera.


"Tapi, Nona."


"Uncle," rengek Amiera.


Mike merasa tak enak hati.


"Baiklah. Nanti saya akan menjemput Nona."


"No, no! Amie akan kesana, uncle tunggu saja. Oke," pinta Amiera.


"Baiklah, terserah Nona." Sahutnya pasrah.


Sepeninggalnya Mike, Amiera kembali pada pekerjaannya. Namun konsentrasinya hilang karena banyaknya hal yang ia pikirkan. Ia pun keluar dari ruangannya menuju ruangan Julie.


"Masuklah." Suara Julie mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk.


"Miss," sapa Amiera.


"Amiera, ada apa?"


"Miss, bolehkan saya meminta izin keluar sebentar?" tanya Amiera ragu.


"Mau kemana?"


"Saya ada perlu, sebentar saja."


Julie menatap sekilas pada Amiera.


"Baiklah. Tapi jika ada sesuatu, kau bisa menghubungiku."


"Terima kasih. Saya permisi," pamit Amiera.

__ADS_1


Julie mengangguk sambil tersenyum. Tidak lama kemudian, Julie melihat Amiera yang menyebrangi jalan dari kaca jendela. Ia mengernyitkan kening, melihat ada beberapa pria berpakaian hitam mengikuti Amiera dari kejauhan.


"Siapa mereka? Apa mereka orang suruhan Mike?" Gumamnya.


***


Amiera yang baru saja tiba kantor Al-Azmi Corp, dengan nafas terengah menuju lift eksekutif.


"E-e-e, memangnya siapa kamu mau naik pakai lift itu?" Lengkingan suara seseorang membuat Amiera menoleh.


"Kamu?"


"Amiera? Heh, ngapain kamu di sini?" tanya Sophia sinis.


"Bukan urusan kamu," jawab Amiera ketus.


"Eh, ini orang. Di tanya baik-baik jawabannya seperti itu," gerutu Sophia.


"Lepas nggak? Kejepit pintu lift baru tahu rasa." Amiera menatap tajam pada pergelangan tangannya yang pegang Sophia.


Sophia yang melihat seringaian Amiera cepat-cepat melepaskan genggamannya. Ia takut jika Amiera menutup pintu lift itu.


"Bye.." Amiera melambai sambil menyeringai.


"Dasar j*lang. Dia ke atas pasti mau ketemu Tuan Mike. Ahaa, kalo aku dapat video mereka terus aku sebarin atau aku bisa gunakan video itu untuk menekan Tuan Mike, pasti seru. Dengan begitu, aku bisa mendapatkan semua yang aku mau." Gumamnya.


Sophia pun menuju ruangan Mike di lantai paling atas gedung tersebut. Hari ini Bella tidak mengajaknya keluar, wanita itu mengajak sekretarisnya, Mya.


"Heh, mereka pasti sedang melakukan sesuatu. Kalau tidak, untuk apa dua orang itu berdiri di sana. Dasar murahan, bermuka dua. Ah sial, aku tidak bisa mendapatkan video mereka," batin Sophia bermonolog.


***


Di kediaman Evan Atmadja malam ini kedatangan tamu istimewa. Siapa lagi kalau bukan menantu dan cucumya yang cantik Laura dan Queena.


Malam ini keluarga kecil Alvin menginap di rumah itu. Alena tentu sangat senang bisa bermain dengan sambil mengobrol dengan kakak iparnya.


"Vin, kamu tahu Rafael dan Alya menjalin hubungan?" tanya Evan. Ia dan putranya sedang menikmati udara malam di teras depan.


"Tahu, Pa. Memangnya kenapa?"


"Kemarin dia datang ke rumah Wira. Dan Ommu itu tanpa basa-basi langsung menolaknya. Kasihan dia, Vin. Papa bisa melihat kesungguhan dari matanya," tutur Evan.


Alvin terdiam mendengar penuturan Papanya. Bukan hanya Evan, dirinya juga bisa melihat perubahan besar dari sahabatnya itu.


"Pa, apa yang membuat Om Wira menolak Rafael? Dan bagaimana reaksi Alya?"


"Om mu itu tahu bagaimana kehidupan Rafael yang suka bermain wanita. Saat pernikahanmu dulu, dia mendengar obrolan kalian dan kamu tahu, dia mewanti-wanti Papa agar berhati-hati terhadap pria hidung belang seperti Rafael. Katanya jangan sampai Alena tertarik pada pesona pria seperti itu."


"Dan Alya?"


"Alya tentu saja mempertanyakan keputusan Wira. Sepertinya mereka berdebat. Entah bagaimana sekarang, Papa belum menanyakannya lagi."

__ADS_1


Alvin kembali terdiam, ia memikirkan sikap Alya. Apakah Alya berniat serius dalam hubungannya dengan Rafael? Apa yang bisa ia lakukan untuk membantu sahabatnya itu?


***


London


Sepulangnya dari kantor Mike, Amiera mencoba kembali fokus pada pekerjaannya. Ia ingin membuktikan pada Daddynya keseriusannya dalam berkarya.


Di ruangan Julie sedari tadi pelanggan bergantian datang. Sebagian dari mereka datang karena ingin pakaiannya dirancang khusus oleh Amiera.


Julie meminta Amiera untuk bersabar mengikuti keinginan pelanggannya yang banyak permintaan. Beberapa dari mereka bahkan meminta untuk berfoto dengan wanita cantik itu. Seperti biasa, Amiera hanya menjawab seperlunya.


"Selamat sore, Cantik!" suara Brian memecah kesunyian ruangan Julie. Amiera dan Julie sedang sibuk mendiskusikan rancangan baju yang pas untuk pelanggan mereka.


"Brian? Bukankah kau mengatakan tidak akan menjemputku? Sudah ada supir di bawah," tanya Julie heran.


"Aku bukan akan menjemput Kakak. Aku kesini mau menjemput Nona Cantik ini," sahut Brian pada Amiera.


"Aku? Tidak, terima kasih." Amiera menggelengkan kepalanya.


Brian cukup terkejut, ternyata Amiera berani menolaknya di depan Julie. Padahal wanita itu jelas-jelas mengetahui bahwa dia merupakan adik Bosnya.


"Benar-benar sombong," batin Brian.


Saat Amiera fokus pada goresan pola yang digambarnya, Brian memberi isyarat pada Julie untuk membantunya. Julie yang mengerti maksud adiknya, dengan berat hati menurutinya.


"Amiera, biarkan Brian mengantarmu pulang. Aku khawatir karena saat ini sudah mulai petang," pinta Julie.


Amiera menyempatkan diri menoleh ke luar jendela. Memang benar, senja sudah menyapa langit kota London. Amiera teringat kejadian malam itu, dan ia pun menyanggupi permintaan Brian untuk mengantarnya pulang.


***


Sementara itu, sejak mendengar laporan kejadian yang menimpa Amiera, Salman tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pria berumur itu diliputi rasa khawatir pada anak gadisnya.


Salman mulai kewalahan dengan sikap Amiera yang mulai keras kepala. Padahal sebelumnya, anak itu selalu menuruti keinginannya tanpa membantah. Tapi sekarang, Salman bahkan membayangkan hal-hal mengerikan yang bisa kapan saja terjadi pada putrinya itu.


"Ah, Amiera. Apa kau akan menyiksa Daddymu di hari tuanya? Apa aku harus selalu mengkhawatirkanmu? Sudah ku bilang tidak mudah hidup sendiri di negeri orang. Kau ini, benar-benar..." Gumamnya kesal.


Salman meraih ponselnya untuk menelepon Aldo.


📱 "Aldo, dua hari lagi kita ke London. Persiapkan keadaan pesawat sebaik mungkin," titah Salman.


Tanpa menunggu jawaban Aldo, Salman sudah menutup panggilannya. Memastikan sendiri kondisi Amiera mungkin bisa membuat Salman sedikit tenang.


 


Hai, readers...


Terima kasih atas dukungan kalian. Mohon maaf masih banyak typo 🙏


Happy weekend... 🤗

__ADS_1


__ADS_2